
Malam itu serasa canggung di antara Syakir dan Ika. Kekonyolan yang Akbar ajarkan kepada Syakirpun tidak bisa ia lakukan jika sudah berada di dekat Ika.
"Udah selesai mandinya?" Tanya Ika.
"Udah kok, mau langsung tidur?" Tanya Syakir.
"Hah?" Kata Ika.
Ika ini walau umurnya sudah 19 tahun tapi masih polos. Ia tidak pernah keluar dari pesantren, belajarpun di madrasah yang ada di pesantrenya. Bertemu laki-laki hanya dengan Abi dan Kakaknya saja. ia tidak memiliki saudara sepupu laki-laki. Tapi tetap sesekali ia bertemu dengan lawan jenis, dan itupun salah satu santri di pesantrennya.
"Kok Hah sih? Mau langsung tidur atau mau ngapain lagi?" Tanya Syakir mendekati Ika, duduk di sampingnya.
"Emm itu, kita tidur aja gimana? Aku ....aku...." Kata Ika gugup.
"Udah ah jangan gugup begitu, ayo tidur aja! Kamu pasti capek kan? Kamu sebelah sana aja ya, biar aku yang di sebelah sini" Kata Syakir.
"Iya Ustad" Jawab Ika malu-malu.
Syakir dan Ika langsung menarik selimut dan hendak tidur, merebahkan badan mereka perlahan dan segera tidur. Tiba-tiba dari luar ada yang mengetuk pintu sangat keras dan berteriak memanggil Syakir.
__ADS_1
"Ck, si Abang dan Kabir ini ngapain lagi sih, udah tau orang capek ya mau tidur. Masih aja di gangguin" Kesal Syakir.
"Biar aku saja yang buka Ustad, jika Ustad sudah sangat lelah, bisa istirahat dulu" Kata Ika.
"Gak usah, biar aku aja. Yang ada mereka nanti malah menggodamu" Kata Syakir turun dari ranjang.
Dengan sedikit ngomel seperti ibu kos, Syakir pun membuka pintu dan mendapati Akbar dan Kabir sudah berada di depan kamarnya dengan wajah seperti orang setelah gajian.
"Mau apa?!" Tanya Sykair jutek.
"Wah galak banget deh yang mau malam pertama hahahaha" Tawa Akbar dan Kabir.
"Gitu amat, baru juga masuk kamar udah capek aja. Kita mau ambil tenda, ada noh di atas almari" Kata Akbar.
"Buat apa?" Tanya Syakir heran.
"Buat mancing! Ya buat camping lah Ucup!" Kata Kabir.
"Camping? Astaghfirullah ini masih di dalam rumah, dan ini sudah malam juga. Mau camping dimana sih?" Tanya Syakir.
__ADS_1
"Udah gak usah kebanyakan tanya. Ambilin dulu lah!" Kata Akbar.
"Tunggu!" Kata Syakir masih jutek.
Setelah Syakir memberikan tenda kepada Akbar dan Kabir, ia pun kembali masuk ke kamarnya. Heran dengan tingkah tidak jelas dari kedua saudaranya itu.
Sebenarnya, Akbar dan Kabir mendirikan tenda itu, karena mereka di usir oleh Ruchan dan Sandy dari kamarnya. Karena tidak ingin terlibat dengan Mamanya, akhirnya mereka memilih untuk mendirikan tenda di taman depan rumah.
Malam itu, ternyata ada Jamil juga yang siap membawakan makanan untuk mereka. Jamil ini anak kesepian, orang tuanya jualan dari siang hingga tengah malam. Dan lebih mementingkan karyawannya dari pada menggunakan tenaga Jamil.
Sejak mengenal Akbar, Kabir dan Syakir. Ia jadi sering ke pesantren dan terkadang bercengkrama dengan Farhan dan Ruchan.
"Assallamualaikum, nih aku bawa bakso buat kita makan" Kata Jamil.
"Waalaikum sallam, weleh-weleh. Asyik nih, di dalam juga masih ada daging. Sekalian masak-masak yuk" Ajak Kabir.
"Boleh juga tuh" Kata Akbar.
Mereka bertiga pun mendirikan tenda di taman kecil di depan rumah Ruchan. Untung saja, langit mendung juga malam itu. Menikmati suasana malam di depan rumah, mendengar suara sahut-sahutan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang di lantunan oleh beberapa santri di pesantren.
__ADS_1