
Mengenal Fatim.
Sehari sebelum Akbar pulang ke Jepang, ia menyempatkan untuk jalan dengan Fatim terlebih dahulu, hari itu juga Fatim akan mengingatkan Akbar tentang pertemuan pertama kalinya dulu saat bersama Akbar. Dengan membawa foto mereka sesaat selesai melakoni teater.
Akbar sengaja menjemput Fatim kerumahnya, karena laki-laki yang baik itu, ketika mengajak putri orang lain, harus izin ke orang tuannya dan menjemputnya dirumah, lalu pulang juga harus di antar kerumah dan berpamitan.
"Assallamualaikum" Salam Akbar.
"Waalaikum sallam, eh Akbar ya" Kata Fikri.
"Iya Om, Fatimnya ada? Hari ini, saya akan mengajak Fatim jalan-jalan sebentar. Karena besok, saya harus kembali bekerja. Dan nanti sore harus berangkat" Kata Akbar.
"Oh, itu to. Kenapa Fatim nyuci pagi, ternyata mau pergi sama Akbar ya, di tunggu ya. Biar saya panggilkan" Kata Fikri.
Fikri pun masuk untuk memanggilkan Fatim, sedangkan Akbar duduk di sofa depan menunggunya. Pesan dari Niki memecah suasana groginya.
"Kapan Abang kembali?"
"Nanti sore baru berangkat Dari sini, mungkin aku akan istirahat sehari di rumah. Ada apa?" Tanya Akbar.
"Miss you" Goda Niki.
"Aku juga, kamu tunggu aku ya. Tapi aku harap setelah aku sampai di Jepang, jangan ada yang menggangguku, Indonesia-Jepang kan jauh, aku butuh istirahat" Balas Akbar.
__ADS_1
"Yey, ku tunggu ya honey"
"Bagaimana caranya aku ngomong sama Niki ya, hah bingung aku" Kata Akbar dalam hati.
Setelah itu, Fatim dan Pak Fikri pun keluar, Akbar meminta izin untuk membawa Fatim keluar sebentar, dan Pak Fikripun mengizinkan mereka keluar.
Di jalan, Akbar terus saja membuat lelucon untuk Fatim, dan bercerita banyak tenyang dirinya saat di Jepang. Akbar juga menceritakan para sahabatnya yang ada disana.
"Dari tadi, Abang sebut nama Niki! Pasti Niki orang istimewa nya Abang ya!" Tanya Fatim.
"Emm, sebentar!" Kata Akbar memberhentikan mobilnya di tepi jalan.
"kamu mau yang jujur, atau yang bohong!" Kata Akbar.
"Niki itu, dia sahabat aku juga. Tapi aku suka padanya, tapi ketika aku menceritakan perasaan ini ke Syakir dan Kak Ais. Mereka bilang bahwa rasa sukaku ini hanyalah sebagai rasa kekaguman saja. Jika kamu berkenan, bantu aku untuk menerimamu di hatiku ya. Karena aku dan dia juga tak mungkin bersama" Kata Akbar dengan mengehal nafas panjang.
Fatim tersenyum,
"Bang, kejujuran Abang ini membuat aku sangat bangga sama Abang. Gak ada salahnya jika kita menyukai seseorang, tapi jika Abang ingin aku membuat Abang jatuh hati padaku. Aku gak janji, karena cinta itu datangnya dari hati Abang sendiri, bukan dari perhatianku saja." Kata Fatim.
"Lalu, apa kamu pernah jatuh cinta? Atau menyukai seseorang?" Tanya Akbar.
"Kalau jatuh cinta sih belum, tapi kalau menyukai seseorang..... ini orang yang aku sukai sampai sekarang" Kata Fatim menunjukkan foto dirinya dan Akbar saat menggunakan pakaian India, saat mengikuti teater waktu SD.
__ADS_1
"Tunggu, anak kecil yang cowok ini kan?" Kata Akbar.
"Iya, itu Abang. Kita pernah bertemu Bang sebelumnya" Kata Fatim.
"Kamu yang jadi Jodha?" Tanya Akbar.
Fatim mengangguk.
"Serius? Kamu yang jadi Jodha saat itu? Yang nyuri bekal pemberian Kak Ais, dan malah memakannya habis nangkring di pohon? Itu kamu?" Tanya Akbar belum percaya.
"Iya, hehehe. Kok yang diingat kejelekanku sih Bang? " Kata Fatim.
"Tunggu!! Itu kamu? Beneran?" Tanya Akbar.
"Iya Bang, ini aku Jodha. Aku ganti nama panggilan karena masuk SMP, di SMP nama depan mesti jadi nama panggilan kan?" Kata Fatim.
"Masya Allah, maaf ya aku gak tau? Soalnya Jodha yang waktu itu pethakilan banget gak lemah lembut gini. Tapi kamu sudah tau kalau aku ini Akbar, Akbar yang sama dengan anak cowok di foto ini?" Tanya Akbar.
Lagi-lagi Fatim hanya mengangguk.
"Ya Allah Ya Kariim, aku gak nyangka loh, senengnya. Bener gak nyangka" Kata Akbar.
Akbar pun mengajak Fatim melanjutkan jalan-jalannya lagi, hingga sampai waktunya harus pulang, karena Akbar harus pulang ke Jepang. Mereka juga melanjutkan obrolan saat mereka melakomi teater itu.
__ADS_1