Suara Hati

Suara Hati
Bab.27


__ADS_3

"Assallamualaikum" Salam Akbar.


"Waalaikum sallam" Jawab Pak Fikri.


Pak Fikri membukakan pintu untuk Akbar, dijelaskanlah apa tujuan Akbar datang kerumah, tetapi Pak Fikri malah menanyakan hal saat Fatim di Jepang.


"Oh ya, sambil menunggu Fatim siap-siap, saya mau tanya dong, itu saat di Jepang. Fatim ngrepotin kamu gak ya? Kok dia juga pulang sendiri, katanya ada hal yang harus diurus mendadak" Kata Fikri.


"Ternyata Fatim gak cerita yang sebenarnya. Berarti aku masih ada harapan!" Kata Akbar dalam hati.


"Kok malah diam sih Akbar ini" Kata Pak Fikri.


"Ayo Bang, aku udah siap. Ayah, Fatim pamit dulu ya, Assallamualaikum" Salam Fatim serta mencium tangan Pak Fikri.


"Permisi dulu ya Pak, Assallamualaikum" Salam Akbar.


"Waalaikum sallam, hati-hati di jalan ya. Jangan pulang malam-malam, kalau belum siap menikah hehehe " Kata Pak Fikri.


Suasana di dalam mobil sangat canggung, Akbar bingung mau bicara mulai dari mana, ia pun membawa Fatih ke pantai dan akan mengungkapkan apa yang akan ia katakan nanti di sana.


"Kita mau kemana?" Tanya Fatim.


"Pantai"Jawab Akbar.

__ADS_1


"Tapi aku gak bawa baju ganti Bang, pulang dulu yuk ambil baju" Ajak Fatim.


"Kita gak usah main air, nikmati aja pemandangan pantai. Kamu suka seafood?" Tanya Akbar.


"Suka banget" Kata Fatim.


"Baiklah, kita makan seafood sepuasnya hari ini" Kata Akbar.


Perjalanan kali ini agak lama, mancet juga. Padahal hari kerja biasa, namun pengunjung pantai tetap banyak. Dari buah kesabaran yang dimiliki Akbar, akhirnya mereka berdua sampai di pantai. Sebelumnya mereka berfoto-foto ria, dan berjalan-jalan sebenatar.


"Ahh, kita bikin kesepakatan dulu" Kata Fatim.


"Apa itu?" Tanya Akbar.


"Wah judi, itu gak baik lho Tim, aku gak mau. Bagaimana kalau yang kalah harus menyatakan perasaannya dengan jujur" Kata Akbar.


"Itu mah sama aja, ok dua duanya deal. Bagaimana? Etss jangan di jawab, Abang pesan aja sekarang" Kata Fatim.


Fatim memang bukan gadis lugu pada umumnya muslimah lain. Namun cara bicaranya sangat lembut, dia juga lucu juga. Jika sudah mengenalnya pasti akan seru berteman dengannya.


"Wah sudah datang nih pesanan kita. Hahaha ini makanan pedas, emang kamu kuat?" Tanya Akbar.


"Kuatlah, menghadapi ke plin plan an Abang aja kuat kok. Masa ini cuma cabai gak kuat." Kata Fatim.

__ADS_1


"Wah mak jleb. Dah ayo mulai" Kata Akbar.


Mereka berdua pun mulai makan dan bertaruh, siapa yang kuat pedas dan panas, maka dialah pemenangnya. Dan akhirnya,


"Alhamdulullah, aku menang. Siapa suruh Abang bergaya sok kuat, belum habis setengah aja udah k.o gitu, gak kuat pedes gak usah sok nantangin Bang" Kata Fatim.


"Aw, aduh.. " Rintih Akbar


"Abang, Abang kenapa? Tuh kan, udah aku ingatin. Kalau Abang gak kuat pedes jangan makan pedes, Abang sih gini, aku belum lancar menyetir, gimana pulangnya?" Kata Fatim panik, sambil memgangi perut Akbar.


"Cie panik, belum muhrim loh, udah berani pegang-pegang perut aja nih. Suka?" Goda Akbar.


"Abang bercanda? Ih gak lucu!" Kesal Fatim.


"Males sama Abang!! Assallamualaikum!!" Kata Fatim segera pergi.


"Waduh ngambek, jangan pergi dulu dong. Mbak ini ya, ambil aja kembaliannya!!" Kata Akbar menyusul Fatim yang sedang merajuk.


"Kembalian apa? Orang uangnya pas gini, hufft anak muda jaman sekarang" Kata Ibu pemilik warung.


Fatim terus saja kesal, pipinya merah menahan malu, karena saat Akbar pura-pura sakit, ia tidak sengaja menyentuh perut Akbar, walaupun tidak bersentuhan kulit langsung, namun saat itu wajahnya dekat sekali dengan Akbar.


"Haduh, malu, malu! Astaghfirullah hal'adzim" Kesal Fatim.

__ADS_1


__ADS_2