
Sepertiga malam, Syakir sudah terbiasa bangun di waktu itu. Ternyata Ika juga sudah bangun di jam yang sama.
"Alhamdullillahilladzi ahyaanaa ba'da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur, eh kamu juga udah bangun?" Tanya Syakir.
Ika hanya tersenyum,.
"Mau jama'ah atau sendiri-sediri?" Tanya Syakir.
"Jama'ah juga boleh" Jawab Ika.
Setelah bergiliran wudhu, akhirnya mereka sholat malam berjama'ah. Mereka juga bertadarus berdua. Setelah selesai melaksanakan sholat dan tadarus, mereka mulai saling bercerita tentang kehidupannya masing-masing.
"Kamu hafal semuanya?" Tanya Syakir.
__ADS_1
"Belum semua, jika Ustad tidak keberatan membimbingku. Insyaallah aku akan melanjutkan hafalanku Ustad" Kata Ika.
"Itu sudah pasti, kamu kan istriku. Sudah kwajibanku membimbingmu bukan?" Kata Syakir.
Ika tersipu malu mendengar perkataan Syakir tersebut. Ia tidak menyangka jika Syakir bisa menyesuaikan dengan dirinya yang pendiam dan belum banyak ilmu.
"Aku baru tau, kalau Ustad memiliki saudara kembar" Kata Ika.
Mereka berdua duduk di karpet dan bersandar di sebelah ranjang.
"Aku memiliki Kakak perempuan yang luar biasa. Banyak orang bilang, kalau Kakak perempuan itu tidak sehebat Kakak laki-laki. Tapi Kak Ais beda, dia adalah sosok Kakak idaman bagi semua adik menurutku" Kata Syakir menunjukkan foto masa remaja mereka.
"Ini aku, Abang dan Kabir. Abang ini adalah anak dari Kakaknya Mama, dia anak Om sandy. Tapi sejak bayi, Abang di rawat oleh Mama, dan menjadi Kakak laki-laki aku dan Kabir" Kata Syakir lagi.
__ADS_1
"Lalu Kabir, dia lebih tua dariku 3 menit, dulu dia gembul, suka makan. Paling jahil juga, gak nyangka kalau dia sekarang menjadi perwira. Tapi kata Mama, sebelum ada aku dan Kabir. Mama pernah hamil tapi keguguran. Mungkin kalau mereka ada, rumah ini akan semkin ramai" Kata Syakir mengelus-elus foto lama itu.
"Lalu, yang empat ini siapa?" Tanya Ika.
"Yang ini Kak Clara, dia Kakaknya Abang. Dia tinggal di Swiss, jadi dia gak datang di acara pernikahan kita. Dan ini, Delia ini Seto, sepupuku dari pihak Mama. Mereka anak dari adik-adik Mama. Yang ini, pasti kamu tau dong, dia Masku, anaknya Pak Dhe Ikhsan" Kata Syakir.
"Aku suka foto-foto di album ini. Kalian terlihat sangat akrab. Bahkan di setiap foto, tak jarang kalian saling berpelukan dan bergandengan tangan" Kata Ika.
Lalu Ika juga bercerita tentang dirinya. Ia bukanlah anak kandung dari Kyai Syaiful ternyata. Melainkan anak sambung dari almahrum istri kedua Kyai Syaiful. Hubungan antara kakak-kakak tirinya juga dengannya juga tidak semudah seperti persaudaraan Leah dengab Glenca dan Amara. Hanya Sholihin lah yang selalu menyayanginya.
Ika mulai meneteskan air matanya, Syakir tidak tega melihatnya menangis pun langsung memeluk Ika dan membiarkan Ika menagis di pelukannya.
"Sejak penghulu mengucapkan kata SAH, kau sudah resmi menjadi milikku, aku yang akan bertanggung jawab untukmu. Jadi janganlah lagi kamu mengingat masa lalu yang akan membuatmu bersedih ya. Aku ingin hubungan kita di dunia ini berakhir dengan bahagia, berpisah bukan karena orang ketiga atau karena perbedaan. Tetapi aku ingin kita berpisah disaat aku tak lagi mampu berdiri dan bernafas untukmu.” Kata Syakir membelai wajah Ika.
__ADS_1
"Astaghfirullah hal'adzim" Ucap Ika.
Ika langsung melepaskan diri dari pelukan Syakir. Ia masih belum siap untuk bersentuhan dengan suaminya itu. Bahkan jantungnya kini berdetak semakin kencang ketika Syakir membelai wajahnya. Pipinya langsung memerah, dan membuatnya gugup.