Suara Hati

Suara Hati
Bab. 61


__ADS_3

Sesampainya disana, semua orang tertawa melihat tingkah konyol dari putra putri pesantren itu, membuat Ruchan menepuk jidadnya dan menyandarkan kepalanya ke bahu Ikhsan.


"Haduhh Astaghfirullah hal'adzim, mereka ini anak-anak siapa! Umur udah tua kelakuam bocah semua, terutama si Kakak dan Rifky itu jan" Kata Ruchan.


"Aku juga lupa mereka anak dan keponakan siapa Han" Jawab Ikhsan.


Mereka berlima pun duduk, dan Aisyah segera ke aula sebelah, yang di khususkan untuk tamu perempuan. Karena semua sudah berkumpul, acara ungkapan hati yang sudah ada sejak zaman Leah dan Ruchan muda, harus mereka tetapkan juga di pernikahan Syakir dan Ika.

__ADS_1


Kali ini Aisyah yang mengawali ungkapan hatinya.


"Assalamualaikum Warrohmatullahi Wabbarokatuh, Hey Boy, Ustad kecilku yang ganteng, hari ini kamu gagah sekali. Aku baisa terlihat sok mengatur dan menyebalkan sesekali bukan? Tapi kakakmu ini diam-diam mengagumi. Kamu, adik laki-laki kecilku yang sebenarnya kubanggakan sepenuh hati. Sejak kecil hingga sekarang, kau selalu ada di bawah tekananku, maafkan Kakakmu ini yang selalu meminta kesempurnaan darimu Syakir. Sekarang kau sudah dewasa, menikahi gadis yang sangat cantik pula. Tugasku mengaturmu sudah selesai, kini aku hanya akan mengawasimu ketika kamu mulai jauh dariku dan bersama istrimu. Adik baruku Zulaikha, selamat datang, aku sangat bahagia atas pernikahan kalian, semoga pernikahan kalian sakinah, mawaddah dan warohmah hingga ke jannah ya, wassallamu alaikum" Kata Aisyah menyeka air matanya, dan Leah pun memeluk Aisyah.


Bukan hanya Aisyah dan Leah yang terharu akan ungkapan hati Aisyah, semua para tamu dan pasangan pengantin juga terharu mendengar ungkapan Aisyah.


"Assallamualaikum My brother, Barakallahu lakuma wa barak alaikuma Selamat menempuh hidup baru my brother, saat ini kamu telah menjadi imam yang memiliki sebuah amanah serat tanggung jawab  yang amat besar untuk istrimu dan anak- anakmu nanti. Tetaplah memiliki semangat besar untuk senantiasa membahagiakan istri dan anak- anakmu nanti. Semoga Allah selalu menjagamu dan memberikan keberkahan dalam pernikahanmu.” Kata Akbar.

__ADS_1


"Kita gak bisa ngerjain Jamil bersama lagi dong, dia harus banyak di kasih pelajaran agar gak amacam-macam dengan adik kita Ceasy" Sambung Akbar.


"Lah aku di gowo-gowo? Ooo panci kok" Kesal Jamil.


"Syakir, masih ingat saat kau menyusulku ke Jepang, waktu itu aku begitu merindukamu dan berencana menelfonmu, tapi kau tiba-tiba hadir ke ruanganku dan membawakanku Martabak kesukaanku, aku merasa saat itu benar-benar sangat terharu, Mama, Abi. Terima kasih kalian telah memberiku seorang adik seperti Kabir dan Syakir. Dan seorang putri Singa seperti Kak Ais" Akbar sudah tidak mampu menahan emosinya, ia pun tiba-tiba duduk dan memberikan mic nya kepada Syakir.


“Assallamualaikum warrohmatullai wabbarokatuh, Barakallah Kembaranku, 20 tahun kita tidak pernah terpisahkan, tumbuh bersama-sama, melewati semuanya bersama-sama. Kita juga terpisah selama 6 tahun, dan tiba-tiba kau sudah menikah saja, jujur aku masih ingin menghabiskan waktu bersamamu lebih lama lagi. Semoga selalu di berikan kebahagiaan ya kembaran ku, semoga saja Allah selalu menuntun kamu dan istri beserta dengan anak- anakmu kelak menuju cinta Allah. Semoga kamu di berikan anak- anak yang sholih dan sholihah dimana mereka nanti dapat membahagiakan kedua orang tua dan menuntun kamu dan istri ke surga, Amin.” Bukan Kabir tidak memiliki rasa kasih, itu semua karena Kabir tak mampu mengungkapkan apa yang tengah ia rasakan selama ini.

__ADS_1


Sejenak semuanya diam, Kabir dan Akbar mulai meneteskan air matanya, entah kenapa hari itu merasa kehilangan sesuatu, karena yang mereka dengar, Syakir sudah mempersiapkan rumah sendiri untuk ia tinggali bersama istrinya setelah pernikahannya. Yang akan menjadi lebih sulit lagi untuk ngumpul bersama-sama seperti dahulu sejak kecil.


__ADS_2