Suara Hati

Suara Hati
Bab. 157


__ADS_3

Lusa telah tiba, pagi ini Syakir, Jamil dan Aminah mengantar Balqis ke Bandara. Karena sejak semalam Aminah tidak mau lepas dari pelukan Balqis. Dijalan pun Aminah terus saja nempel dengan Balqis, itu membuat hati Balqis sangat berat meninggalkan Aminah.


"Dia bukan anakku, aku juga tidak memiliki perasaan apapun terhadap Abinya, tapi kenapa aku sangat nyesek gini ya mau ninggalin dia" Kata Balqis dalam hati.


"Hati-hati ya Balqis, semoga perjalananmu menyenangkan, dan juga dalam perlindungan Allah." Kata Syakir.


"Jangan lupa sering kunjungin kita ya" Timpa Jamil.


"Pastinya, Aku pamit ya. Aminah, kapan-kapan kalau Mama ada waktu, Mama akan main ke rumah Aminah lagi ya. Anak cantik jangan nangis ya" Kata Balqis.


Melihat Aminah tidak mau lepas tangan Syakir, Syakir menjadi tidak enak hati. Namun bagaimanapun juga, Balqis lah yang selama ini ikut merawat dan menjaga Aminah di saat Syakir sibuk.


"Kak Jamil, tolong dong bawa Aminahnya, aku nggak tega ninggalin dia. Lebih baik Aminah bawa pergi dulu" Kata Balqis.

__ADS_1


"Woo siap komandan" Kata Jamil langsung membopong Aminah keluar.


"Ustad, aku tunggu kabar baik dari Ustad. Aku bisa menjadi Ibu sambung buat Aminah, tapi maaf! Aku tidak bisa menjadi istri sempurna dengan tak memberimu keturunan nanti. Assallamualikum" Ujar Balqis pergi.


Seketika terdengar lagu india teri meri........


Di rumah Ruchan, semuanya sedang bersiap-siap akan pergi ke luar kota, menemui keluarga Nisa dan segera menjemput kabar baik dari keluarga Nisa.


"Ceasy! Kamu nggak ikut?" Tanya Leah.


Leah tahu apa yang dirasakan putrinya itu, ia pun tidak bisa memaksa kehendak Ceasy. Atau tidak, Leah bisa menyakiti perasaan putrinya itu dan membuatnya tambah patah hati.


"Tapi aku penasaran dengan yang namanya Nisa itu. Ahhh aku dilema" Kata Ceasy dalam hati.

__ADS_1


"Ya udah Mama tinggal ya, kamu hati-hati dirumah" Kata Leah.


"Tunggu Ma, aku ikut deh. Sebentar ya, kasih aku 5 menit ya buat siap-siap" Kata Ceasy menahan tangan Leah.


Leah tersenyum dan menunggunya di luar. Semuanya sudah siap, begitupun dengan Ceasy. Hari itu yang berangkat hanyalah keluarga saja, ada Ilham, Ikhsan, Ruchan, Leah, Aisyah dan Rifky. Tentunya Kabir dan Ceasy, bahkan anak-anak pun di tinggal karena memang acara dadakan.


Di jalan, sengaja Ceasy tidak semobil dengan Kabir, dia takut akan terluka hatinya jika mengingat hal yang lalu sudah di lakukan kepada dirinya. Perjalanan memakan waktu 3 jam, sampailah dirumah yang megah, besar dan indah.


Disana juga sudah ada beberapa orang yang menyambut kedatangan keluarga Ruchan. Mereka juga segera disuruh masuk kedalam rumah yang sangat indah. Namun, gadis yang bernama Nisa belum juga keluar menemui keluarga Ruchan.


"Kak, mana yang namanya Nisa? Kakak pernah ketemu juga kan? Foto juga nggak ada" Tanya Ceasy kepada Aisyah.


"Dulu sih pernah ketemu, tapi udah lama banget, saat Kakak kelas tiga SMA, dia cantik, cerdas yang pasti solehah dong. Nanti juga kamu akan tau, karena itu juga sudah lama banget kakak ketemunya" Kata Aisyah.

__ADS_1


Rasa penasaran Ceasy semakin besar, ia menjadi tidak tenang. Bahkan ia sampai terkentut di dalam situasi penting seperti itu. Dan kentutnya pun berbunyi keras, terpaksa Ceasy melemparkan masalah kentut itu kepada Rifky.


__ADS_2