
Hari terakhir Akbar di Jogja, Fatim mengajak Akbar ke tempat wisata yang berada di sekitar Kota, tidak hanya berdua. Fatim juga mengajak Syakir dan Jamil. Semenjak Ilham menikah, Jamil jadi sering bergaul dengan Syakir ketika Syakir pulang dari Kairo, mereka juga sudah semakin akrab. Jika dengan Akbar, memang Akbar orangnya mudah bergaul, jadi mereka bisa gampang sekali Akrab karena memiliki kekonyolan yang sama.
"Kir! Lha koe ki ndak berangkat lagi kah ke Kairo?" Tanya Jamil.
"Kayaknya ndak deh" Jawab Syakir.
"Lah kenapa?" Tanya Jamil sok kaget.
"Aku mulai gantiin Abi aja tugas agama, dan mulai mengajar di pesantren. Atau mungkin buat penghasilan, aku mau buka cabang peternakan yang di Bandung ke sini, kan bagus lingkungannya" Kata Syakir.
"Gawat nih kalau Syakir di rumah, bisa-bisa masa depanku kecantol sama dia, dalam agama dia lebih unggul dari aku" Kata Akbar dalam hati.
"Tapi ndak mungkin Fatim bisa berpaling begitu saja. Ah tapi ada pepatah, witing tresno jalaran soko kulino. No no no, aku harus bertindak, bilang Abi buat nyariin jodoh untuk Syakir hahahha" Kata Akbar dalam hati dengar nyengir-nyengir sendiri.
"Kamu kenapa Bang? Kok senyum-senyum?" Tanya Fatim.
"Lha emang dasare bocah gendheng ya gitu lah Dek Fatim. Lagi kumat dia" Kata Jamil.
"Lagi bayangin hal indah saja hehehe" Kata Akbar.
__ADS_1
"Oh ya Kir, bagaimana dengan menikah? Kamu udah ada keinginan belum?" Tanya Akbar.
"Menikah itu pasti jika jodoh udah ada. Aku sih ngikut Abi aja, takut salah pilih jodoh, lagian aku nunggu Kabir dan Abang nikah dulu lah" Kata Syakir.
"Mungkin tiga bulan lagi aku akan usahakan pulang lagi deh" Kata Akbar.
"Lha ngopo bolak balek cuti? Ojo dumeh ah, gak baik" Kata Jamil.
"Ada hal penting di bulan itu" Kata Akbar.
Mereka terus berjalan-jalan hingga sampai Malioboro, mereka berbelanja, membeli makanan dan berfoto ria di sana. Akbar juga meminta Fatim untuk memilihkan oleh-oleh yang cocok untuk sahabat-sahabatnya di Jepang.
"Ini kayaknya bagus deh" Kata Fatim.
"Ini cocok untuk Niki" Kata Fatim.
"Kenapa harus cincin? Aku gak mau kasih perhiasaan jika itu bukan pasanganku, lebih baik kamu pilihkan baju aja atau sepatu gitu ya. Tapi kalau menurut kamu cantik dan cocok untuk kamu, buat kamu sendiri tapi, ambil aja gak papa" Kata Akbar.
"Aku kesana dulu ya," Sambung Akbar.
__ADS_1
Ketika Akbar menuju ke area untuk pria, ada dua karyawan yang mendekati Fatim dan berbincang dengannya.
"Wah Mbak, cowok yang tadi itu keren banget. Saat Mbak nyaranin cincin untuk cewek lain, dia gak mau loh, jarang ada cowok yang suka ngasih cincin ke cewek lain bukan ke ceweknya gitu" Jiwa penggosip.
"Tolong bungkusin becak kecil ini ya, saya mau kesana dulu" Kata Fatim.
Ia tertegun ketika Akbar mengatakan, bahwa dirinya tidak memberikan perhiasan kepada wanita lain, selain pasangannya. Rasa Fatim bertambah saat itu, namun ia sembunyikan agar Akbar tidak gampang menebak hatinya.
Selesai berbelanja, mereka ber empat bertemu di sebuah stand, nampak Jamil yang sedang memborong makanan untuk di bawa pulang.
"Wah borong nih? Kuat makan segitu?" Tanya Akbar.
"Mumpung geratis hehehhe" Jawab Jamil dengan muka tidak berdosanya.
"Makanan itu geratis?" Tanya Akbar.
"Aku yang bayar, buat dia geratis lah. Nih anak manfaatin aku mulu deh" Kata Syakir menendang kaki Jamil.
"Kamu mau?" Tanya Akbar ke Fatim.
__ADS_1
"Emm gak deh, setelah ini kita pulang saja. Aku ada kerjaan sore ini" Kata Fatim.
Setelah menunggu Jamil membeli makanan, mereka pun pulang dengan wajah gembira. Akbar bahagia karena ia bisa menghabiskan waktu dengan Fatim, sedangkan Jamil bahagia karena full day di gratisin oleh Syakir. Lalu siapa yang di rugikan di episode kali ini?.