
Siang sebelum Niki menjemput Fatim, Fatim sedang duduk termenung di kantin rumah sakit, munculah Dara dengan badai yang ia bawa.
"Istri Dokter Akbar ya?" Kata Dara.
"Dokter dari Indonesia juga kah?" Tanya Fatim.
"Iya, boleh aku duduk?" Kata Dara.
"Silahkan!" Kata Fatim bergeser tempat duduk.
"Beruntung ya kamu menikah dengan Dokter Akbar, baik, soleh, perhatian lagi" Kata Dara.
"Alhamdulillah" Ucap Fatim.
"Tapi kamu harus berhati-hati dengan cewek bernama Niki, dia itu suka caper sama Dokter Akbar. Kamu harus hati-hati" Kata Dara.
Fatim berpura-pura saja mengiyakan dan percaya dengan Dara, karena Fatim yakin jika Niki bukan wanita seperti itu.
"Ini dia foto orang bernama Niki itu, aku kesal melihatnya. Mungkin juga cewek Jepang seperti itu" Kata Dara.
"Insyaallah aku percaya dengan Akbar kok Dok, terima kasih sudah mengingatkan" Kata Fatim dengan tenang.
__ADS_1
"Ah aku permisi dulu ya, pekerjaanku masih banyak" Kata Dara berlalu pergi.
"Sempat-sempatnya ngomporin orang, Niki memang memiliki rasa dengan Abang, tapi aku yakin Niki tidak seperti yang Dokter itu katakan. Paling juga dia sendiri yang menyukai Abang" Kata Fatim dalam hati.
Siang itu Niki menjemput Fatim telat, karena ada beberapa urusan yabg harus ia selesaikan siang itu juga.
"Maaf ya Fatim, hari ini aku banyak sekali pekerjaan" Kata Niki.
"Aku malah yang tidak enak jadinya. Selalu merepotkanmu. Maaf!" Kata Fatim.
"Tidak masalah, kita sahabat bukan?" Kata Niki.
Fikiran Fatim masih teringat akan perkataan Dara, ia berfikir apa tujuan Dara dengan berbicara seperti itu. Dan mengapa Dara juga tidak mengetahui hubungan Niki dan Fatim.
"Eh iya, maaf aku melamun" Kata Fatim.
"Ada apa Fatim? Cerita padaku, baik atau buruknya ceritamu aku pasti bisa menerimannya" Kata Niki.
"Kamu kenal Dokter Dara?" Tanya Fatim.
"Halah, si wanita tidak memiliki hati nurani itu? Sudahlah, jangan hiraukan dia. Mending kita masak-masak yuk, aku kangen masakanmu" Ajak Niki.
__ADS_1
Fatim mengerti sekarang, bukan Niki yang akan merusak rumah tangganya. Tetapi Dara, melihat tanggapan Niki saat Fatim bertanya masalah Dara, Fatim yakin jika Niki menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin aku ketahui.
"Jangan berfikiran yang bukan-bukan. Fokus pada programmu, aku ingin bulan depan mendengar kamu mengandung anaknya Akbar" Kata Niki.
Fatim tersenyum, ia juga berdoa hal yang sama. Memiliki buah hati adalah keinginan semua pasangan setelah pernikahan. Apa lagi, Aisyah, Sera dan Ika juga sedang mengandung secara bersamaan.
Di sisi lain, Syakir baru saja pulang dari memeriksakan Ika. Pasangan ini juga sedang bahagia, begitu cepat mereka sudah di beri rezeki oleh Allah.
"Ika mau makan siang apa? Tadi kan masakannya di habisin tuh sama Keny dan Kak Ais, kita mau masak atau beli?" Tanya Syakir.
"Masak aja, beli boros" Jawab Ika sewot.
"Lah, sewot dia. Bawaan hamil kali ya? Dulu Kak Ais juga gini" Kata Syakir.
"Apa kata Ustad? Ustad mau bilang aku ini galak?" Tanya Ika.
"Nggak gitu kok. Jadi gini nih, dulu saat Kak Ais hamil si kembar, dia juga jadi galak gini. Aku tahu ya, aku tahu kalau itu pasti bawaan, Kak Ais dulu lembut banget, pas hamil di sering keluar tanduknya tau hahhaa" Kata Syakir berniat menghibur Ika.
"Astaghfirullah hal'adzim, maaf ya Ustad. Aku nggak bisa kontrol emosi, jadi bentak-bentak Ustad gini. Aku berdosa kan?" Tanya Ika dengan tiba-tiba ia menangis.
"Eh nggak gitu sayang, nggak papa kok. This Ok Honey! aku ngerti, jangan nangis lagi ya" Kata Syakir mengusap-usap kepala Ika.
__ADS_1
Ika mengusap air matanya, ini kali pertama ia hamil. Entah memang semua orang hamil begitu atau tidak? Namun Ika merasakan tidak bisa mengontrol emosinya. Apalagi di depan Syakir, Ika selalu ingin marah-marah dengan Syakir.