
Jujur! Dengan Kakak.
Sampai di rumah, Aisyah masih kesal akan kelakuan adiknya itu. Aisyah tetap mengira bahwa Niki itu adalah wanita baik-baik. Dia kasar pasti karena sakit hati, dan tetap yang harus di salahkan adalah Akbar.
"Asaallamualaikum" Salam Aisyah.
"Waalaikum sallam, eh Ami sudah pulang ya? Kok gak bareng Om Abang sih Mi?" Tanya Airy.
"Iya kan Ami beli ini. Oh ya, Opa sama Bubu kemana?" Tanya Aisyah.
"Opa dan Bubu baru saja pulang, lalu Kak Raihan sedang bermain sama Om Abang dan Tante Fatim" Kata Airy.
"Oh gitu, sini Airy bantu Ami keluarin blanjaan ya" Kata Aisyah.
"Siap Mi, Airy juga udah nyapu sama ngepel loh, bantu-bantu Tante Fatim" Kata Airy.
" Alhamdulillah, pinter dan solihah ya anak Ami" Kata Aisyah mencium Airy.
"Oh ya, Airy. Ami boleh minta tolong gak?" Tanya Aisyah.
"Boleh dong Ami, Ami mau minta tolong apa?" Kata Airy yang baru menginjak bangku kelas satu SD itu.
"Tolong panggilin Abang boleh? Om Abang aja yahh" Kata Aisyah.
"Siap deh Mi, bentar ya" Kata Airy.
__ADS_1
Airy masuk ke kamar Raihan, karena mereka sedang berada di kamar itu. Airy berjalan sangat hati-hati ketika menaiki tangga, dan berdoa terlebih dahulu ketika hendak masuk ke kamar.
"Assallamualaikum"
"Waalaikum sallam"
"Airy boleh masuk?" Tanya Airy.
"Boleh dong tuan putri, sini main sama kita. Sini dekat Om Abang" Kata Akbar.
"Em Airy mau main sama Tante Fatim saja, karena Om Abang di panggil sama Ami di dapur, sekarang ya" Kata Airy dengan nada lembut.
"Yahh, udahan dulu ya mainnya, Om Abang di panggil tuh sama Ami. Om keluar dulu ya" Kata Akbar.
"Hati-hati ya Om, di tanggal ini, Ami sedang berada di fase keluar tanduk. Om harus jaga cara bicaranya. Ok!" Kata Raihan mengangkat jempolnya.
"Assallamualaikum"
"Waalaikum sallam"
Fatim, Raihan dan Airy meneruskan permainannya yang asyik itu, sedangkan Akbar bergegas menemui Aisyah karena tidak seperti biasanya Aisyah ingin ngobrol berdua, sampai menyuruh Airy memanggilkannya.
"Assallamualaikum" Salam Akbar.
"Waalaikum sallam" Jawab Aisyah.
__ADS_1
"Kak Ais panggil Abang?" Tanya Akbar.
"Iya, duduk dulu" Kata Aisyah.
Akbar langsung duduk di kursi yang berada di dekat meja makan itu. Dalam hatinya masih bertanya-tanya, kenapa wajah Kakaknya terasa seperti orang kesal, dan dirinya sedang melakukan kesalahan apa.
"Kamu sudah menyatakan perasaan cintamu ke Niki? Dan para dayang-dayangnya?" Tanya Aisyah yang sedang menyeduh kopi untuk Akbar.
"Emm Abang cuma bilang suka aja sih, bukan cinta" Kata Akbar.
"Bagus, kamu jujur. Lalu kenapa Niki bilang kalau kalian saling mencintai?" Tanya Aisyah.
"Abang cuma bilang, kalau Abang tuh suka sama Niki, tapi Abang udah ada jodoh yang tidak mungkin Abang tolak. Abang cuma ngomong itu" Kata Akbar.
"Kenapa Abang selalu kasih Niki harapan sih? Harusnya setelah itu, jangan seperti biasanya dong perilakunya, menjauh dikit kek, atau jelasih lebih jelas kalau kamu sama dia itu gak mungkin bersama, karena kamu udah milih Fatim. Kakak gak akan ngomong kayak gini, kalau kamu udah menerima perjodohan itu lho Bang, semua ada di tangan Abang sendiri, berkali-kali kakak bilang kan? Jujur itu lebih baik Bang, ikuti kata hati." Kata Aisyah.
"Abang menerima perjodohan itu karena Abi sama Papa Kak, bukan kemauan Abang. Abang belum siap untuk menikah" Kata Akbar.
"Yang minta Abang menikah sekarang atau secepatnya itu siapa? Ini baru tahap perkenalan Abang" Kata Aisyah.
"Assallamualaikum" Salam Rifky dan Sandy.
"Waalaikum sallam"
"Kita belum selesai bicara, perhatikan Niki lagi, jangan sampai dia buat ulah dengan Fatim. Untung hari ini dia nyangka kalau Kakak ini adalah Fatim. Coba kalau dia tau jika Fatim itu adalah Fatim yang asli." Kata Aisyah pergi.
__ADS_1
Pembicaraan Aisyah dan Akbar terputus karena Sandy dan Rifky sudah pulang. Masih banyak hal yang ingin Aisyah katakan, namun tidak mungkin di depan Suami dan Omnya. Apa lagi, Aisyah sudah mulai terbawa emosi.