Suara Hati

Suara Hati
Bab. 80


__ADS_3

Sesampainya di pesantren, ternyata rumah sedang ramai. Karena malam itu, seluruh kelurga dari Jakarta akan pulang. Begitupun dengan Irene yang hanya sebentar mampir dan mengucapkan selamat kepada Syakir dan Ika.


"Assallamualaikum" Salam Kabir, Akbar dan Keny.


"Waalaikum sallam" Jawab semua orang.


"Nah ini dia si biang keroknya. Dari mana aja kamu ha? Sengaja menghindari Kakak? Gak ada rasa tanggung jawabnya babar blas" Kata Aisyah menarik telinga Kabir dan Akbar.


"Hahahaha Om Abang sama Pak Lhek di jewer Ami, wuu nakal sih" Teriak Airy.


"Aduh sakit kak, lepasin dong. Malu tau di depan anak-anak" Kata Akbar.


"Iya kak. Ini semua kan salahnya Abang, kenapa Kabir juga ikut di jewer sih. Gak adil ini mah. Yang harus di salahin tuh Mama sama Jamil kak" Kata Kabir membela diri.


"Oh, ada dalangnya. Setelah Delia, Seto, Tante Amara dan Glenca pamit. Kabir harus setor surah Al-Baqarah kepada Mas Ilham." Kata Aisyah tegas.


"Hah?" Kata Kabir keget meskipun pernah menghafal, tapi jika setornya dengan Ilham membuat Kabir seperti menghilang begitu saja hafalannya.


"Hah heh hah heh. Gak ada pengecualian! Abang juga, setelah ini harus bersihin toilet santri putra!" Tegas Aisyah.


"Malam-malam?" Tanya Akbar.

__ADS_1


"Iya lah, mau kapan lagi? Dan Mama, selama tiga hari, Mama melakukan aktivitas keluar rumah harus naik sepeda ontel. Biar sehat!" Kata Aisyah.


"Mama di hukum juga? Gak takut durhaka?" Tanya Leah.


Aisyah menyipitkan matanya, Leah pun menyetujui begitu saja, karena pasti jika ngeyel, hukumannya akan di tambah. Semua orang di sana tertawa melihat anak emak itu di hukum oleh Aisyah.


"Memang kenapa sih Kak? Apa yang mereka lakukan hingga kakak menghukumnya?" Tanya Ruchan.


Aisyah pun meneruskan pesan dari Akbar ke seluruh keluarga. Hingga membuat Akbar tak bisa menegakkan kepalanya karena malu. Kesal-kesal lucu, hanya gurauan keluarga, mereka pun tertawa mengetahui hal itu.


Sampai si pemeran utamanya pulang, Syakir dan Ika. Mereka heran kenapa semua orang berkumpul di rumah orang tuannya.


"Assallamualaikum, wah ramai nih. Ada acara apa?" Tanya Syakir dengan nafas terengah-engah.


"Kalian dari mana saja? Dan kenapa ngos-ngosan gitu sih?" Tanya Sandy.


"Biarin lah Om, namanya juga pengantin baru. Ya nggak?" Goda Delia.


"Hishh kalian ini. Kita habis beli perlengkapan yang akan mengisi rumah baru kita lah. Dan ini kenapa ramai-ramai gini?" Tanya Syakir duduk di antara mereka dan berdampingan dengan Ika.


"Kita semua mau pulang malam ini. Cie yang udah punya rumah baru" Goda Amara.

__ADS_1


"Ah Tante" Kata Syakir tersipu.


"Kapan rencana mau nempati rumah itu?" Tanya Ruchan.


"Mungkin besok Bi. Kalian bantu aku ya" Kata Syakir kepada Kabir dan Akbar.


Mereka berdua hanya mengangguk pelan, masih kesal karena di hukum oleh Aisyah. Setelah berbincang-bincang dan bercanda ria, keluarga dari Jakarta dan Irene pun pamit pulang. Sandy pun mengantar mereka sampai ke bandara.


Di rumah, tinggak Akbar dan Kabir menyelesaikan hukuman dari Aisyah. Walaupun usia sudah 26 tahun, mereka tetap menjalankan apa yang Aisyah perintahkan.


"Em, Om gini. Mewakili Akbar, kita bertiga ini kan tadi ketemu sama dua anak yatim kakak beradik. Hidup mereka itu memprihatinkan. Di tinggal ayahnya, hidup sama tetangga yang memanfaatkan gitu loh. Jadi kita bertiga mau izin, untuk menjemput dan memasukkan ke pesantren gimana?" Tanya Keny.


"Yatim itu apa Pa?" Tanya Naira yang saat itu duduk di pangkuan Keny.


"Yatim itu, Papanya udah meninggal nak" Jawab Keny.


"Tapi anak-anak itu mau Ken?" Tanya Rifky.


"Terus bagaimana dengan tetangga anak itu? Maksudnya, kita tidak mungkin langsung mengambil anak itu begitu saja. Ada peraturannya juga kan? Lagian untuk mereka daftar sekolah nanti kan butuh layang dari pihak keluarga dan desa nya" Kata Ruchan.


"Itu semua udah kita atur kok Om. Tinggal kita nya aja yang bergerak, mumpung besok Akbar sama Kabir masih di sini, mereka yang akan urus" Kata Keny.

__ADS_1


Ruchan dan Rifky setuju-setuju saja dengan ide Keny, Akbar dan Kabir itu. Karena anak yatim itu harus di istimewakan. Biarpun setatus Dita dan Zara masih memiliki Ibu, namun ibunya menelantarkan begitu saja. Itu sudah dosa besar.


Seluruh umat Islam diwajibkan untuk menyantuni anak yatim yang miskin. Dalam ajaranĀ Islam, anak yatim mendapat bagian, baik dari fai', yakni harta musuh yang diambil tanpa perang terlebih dahulu, maupun dari ganimah, yakni harta rampasan perang. Selain itu, anak yatim juga mendapat bagian dari infak dan sedekah.


__ADS_2