Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Akibat Mabok Berat


__ADS_3

Setelah mendengar bisikan ku, tanpa pikir panjang lagi Haris pun mulai mencumbu, membelai, dan menciumi bibir ku dengan ganas.


Mata ku langsung terpejam, menikmati sentuhan lembut yang di berikan Haris. Aku pun mulai mend**ah karena ulah nya itu.


Dan pada akhirnya, terjadi lah permainan panas yang menguras keringat itu di atas kasur ku.


"Makasih ya, sayang. Abang sangat mencintai mu." ucap Haris.


Haris mengecup kening ku sebagai ungkapan terima kasih. Setelah itu, dia langsung meroboh kan diri nya di atas tubuh ku.


Setelah beristirahat selama kurang lebih satu jam, kami pun kembali melakukan kegiatan panas itu sampai berulang-ulang kali.


Sampai akhirnya, aku dan Haris kelelahan dan tertidur lelap. Kami berdua saling berpelukan dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun di dalam selimut.


Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Setelah beberapa jam tertidur aku pun mulai terbangun.


Saat membuka mata, aku langsung terlonjak kaget melihat Haris yang berada di samping ku dan masih tertidur pulas.


"Loh, kok ada dia disini? Polos pulak tu!" gumam ku pelan.


Aku melihat selimut bagian bawah Haris yang tersingkap ke samping, dan menampakkan separuh tubuh bawah nya termasuk batang tunggal nya itu.


Aku yang terbiasa tidur sendirian di kamar langsung terkejut, saat melihat ada orang lain yang sedang tidur bersama ku saat ini.


Karena ini adalah pertama kali nya aku membawa laki-laki masuk ke dalam kamar kos ku.


"Kok aku bisa lupa ya, kalau semalam kami melakukan kegiatan panas itu!" batin ku


Aku kebingungan sendiri sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.


Setelah beberapa menit merenung dan menghayal, aku beranjak dari kasur dan membuka gorden serta kaca jendela.


"Wah! Udah siang ternyata." gumam ku.


Aku mulai berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri di sana. Setelah itu, kembali lagi ke dalam kamar dan memakai daster rumahan.


Setelah itu, aku kembali mendekati Haris yang masih setia dengan mimpi indah nya.


Aku mengecup kening, pipi dan bibir nya sekilas. Lalu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


"Waduh, udah jam sebelas? Apa dia gak kerja ya hari ini?" gumam ku.


Aku mendekati Haris yang masih belum bergerak dari tidur lelap nya itu. Aku berjongkok di depan nya dan mulai menciumi bibir nya.


"Hah, ini orang tidur nya udah kayak kebo aja. Masa dari tadi gak bangun-bangun sih!" gerutu ku kesal.

__ADS_1


"Padahal udah aku kasih ciuman bertubi-tubi di wajah nya." lanjut ku.


Aku menghela nafas panjang karena melihat tidak ada reaksi apa pun dari Haris.


"Apa dia masih kelelahan akibat olahraga semalam ya? Hmmm, biarin aja lah kalo gitu! Biar dia istirahat dulu sampe dia terbangun sendiri."


"Aku bertanya sendiri, dan menjawab pun sendiri. Persis seperti orang depresi, hihihi." batin ku terkikik geli sendiri.


Setelah lelah berbicara dengan diri sendiri, aku berjalan ke depan dispenser untuk menyeduh teh manis hangat.


Setelah itu, mengambil roti tawar dan selai kacang yang berada di dalam bufet.


Aku duduk di depan Haris yang masih tertidur pulas, sambil selonjoran di atas lantai yang sudah beralaskan karpet permadani.


Aku mulai memakan roti tawar empat lembar sekaligus yang sudah di lumuri selai kacang, dan menyeruput teh secara perlahan.


Setelah merasa kenyang, aku menoleh ke pintu dan melihat celana panjang jeans yang aku pakai untuk bekerja semalam.


Aku baru teringat dengan uang yang aku dapat kan dari hasil mabok semalam.


Kejadian bersama Haris semalam bisa lupa, tapi kalau masalah uang pasti tidak akan pernah lupa.


Aku beranjak dari tempat duduk dan merogoh saku celana itu. Aku mengambil semua uang yang ada di dalam nya sampai habis tak bersisa.


Setelah mendapat kan semua uang itu, aku kembali duduk dan menghitung nya. Ternyata, ada sepuluh lembar uang pecahan lima puluh ribuan.


Ucap ku dalam hati, lalu menyimpan uang itu ke dalam lemari pakaian yang berada di pojok dinding.


Tak lama kemudian, Haris membuka mata nya dan menggeliat kan badan nya. Dia meregang kan otot-otot nya yang kaku di atas kasur empuk ku.


"Udah kayak ulat bulu aja dia menggeliat-geliat gitu, hihihi."


Aku membatin sambil terkikik sendiri melihat tingkah lelaki ku itu di atas kasur.


"Udah puas tidur nya, sayang?" tanya ku.


"Kecapekan banget kayak nya, akibat main kuda-kudaan semalaman suntuk!" sindir ku.


Aku menggoda Haris, sambil merangkak naik ke atas tubuh nya yang masih berbalut selimut.


"Hmmm, iya nih. Pinggang abang rasa nya pegel banget, Ndah!"


Haris menjawab dengan suara serak dan muka bantal nya. Dia melingkar kan kedua tangan nya ke pinggang belakang ku, dan memeluk tubuh ku dengan erat.


"Mandi sana gih biar segar! Biar hilang pegel dan encok nya, hihihi." ledek ku lagi.

__ADS_1


"Oke siap, nyonya besar." jawab Haris.


Haris mencubit hidung ku dengan gemas. Aku pun segera beranjak dari tubuh Haris dan duduk di pinggir kasur.


Haris bergegas menyambar handuk yang tergantung di belakang pintu. Lalu dia melilit kan nya di pinggang. Setelah itu, dia berjalan ke kamar mandi sambil menenteng keranjang sabun.


Sambil menunggu Haris mandi, aku menyeduh teh manis hangat untuk nya dan meletakkan nya di atas meja.


Kemudian, aku lanjut membersihkan dan merapikan kasur dan selimut serta bantal guling, yang berantakan seperti kapal pecah.


Setelah semua nya rapi dan bersih, Haris muncul dari balik pintu dengan rambut yang basah dan sedikit acak-acakan, dan juga handuk yang melilit di pinggang nya.


"Glek."


Aku langsung terpaku dan menelan saliva dengan kasar. Aku terpesona melihat pemandangan yang indah di depan mata ku itu.


Dada nya yang bidang seperti roti sobek. Rambut nya yang basah dan sedikit acak-acakan. Serta wajah nya yang sudah segar membuat ku sangat tergoda.


"Sungguh sempurna ciptaan mu, ya Allah." batin ku.


"Jangan di lihatin terus, Ndah! Nanti ngences pulak."


Haris meledek ku sambil tersenyum dan menoel hidung ku. Aku langsung gelagapan dan tertunduk malu, karena ketahuan sedang terpesona menatap tubuh nya.


"Hahahaha, malu-malu kucing pulak dia."


Haris tertawa lepas melihat tingkah ku yang terlihat malu-malu di depan nya.


Tanpa aba-aba, Haris pun langsung mengangkat tubuh ku ke atas kasur dan membaringkan ku secara perlahan.


Kemudian, dia memiringkan tubuh nya di samping ku sambil menopang kan kepala dengan telapak tangan nya.


Dengan perlahan, Haris menyibakkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah ku. Dia menatap mata ku sambil membingkai wajah dan bibir ku dengan jari-jari nya.


Aku mulai memejamkan mata dan merasakan hembusan nafas nya yang menerpa wajah ku.


"Aku mencintai mu, Ndah."


Haris berbisik dengan lembut di telinga ku. Aku pun langsung reflek membuka mata dan menatap nya dalam-dalam dengan kening yang mengkerut.


Lalu kemudian, aku mengangkat tangan dan menempel kan nya di kening Haris.


"Gak panas kok, bang!" ucap ku.


Haris langsung menggenggam tangan ku yang sedang menempel di kening nya tadi. Dan dia pun mencium punggung tangan ku itu dengan lembut dan mesra.

__ADS_1


"Apa an sih, Ndah! Abang serius loh." balas Haris.


"Abang memang mencintai mu dan abang ingin menikah dengan mu, sayang!" ungkap Haris dengan nada tegas.


__ADS_2