Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Resign


__ADS_3

Setelah suasana haru berakhir, aku dan bang Rian pun memutuskan untuk tidur dan beristirahat sejenak.


"Kita bobok yok, bang! Badan ku capek banget nih," seru ku sembari merenggang kan otot-otot yang terasa kaku dan pegal.


"Oke, sayang."


Aku dan bang Rian pun mulai merebahkan diri di atas kasur, dan memejamkan mata masing-masing. Tak butuh waktu lama, kami berdua pun langsung terlelap dan hanyut ke dalam mimpi yang indah, dalam posisi saling berpelukan.


Waktu bergulir begitu cepat, hingga tanpa sadar hari pun sudah berganti gelap. Aku terbangun dengan sendirinya, dan mengucek-ngucek mata yang masih terasa berat dan perih.


Saat menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan, mata ku pun langsung terbelalak lebar sambil memekik cukup kuat.


"Aaaaaaa, udah jam setengah lapan?" pekik ku seakan tidak percaya dengan penglihatan ku sendiri.


Karena saking kuat nya suara ku, sampai-sampai membuat bang Rian terkejut, dan langsung kelabakan tidak karuan. Dengan mata yang masih lengket, bang Rian pun langsung memberikan pertanyaan beruntun.


"Hah, ada apa, sayang? Kenapa teriak-teriak gitu? Ada maling ya? Mana maling nya, biar abang hajar sampe bonyok?" oceh bang Rian sembari celingukan kesana kesini.


Melihat kepanikan bang Rian, aku pun langsung tertawa terpingkal-pingkal, lalu segera duduk dan menyandarkan punggung di dinding.


"Hahahaha, maling apaan sih? Ngaco aja abang tu," gelak ku.


"Lah, trus kenapa dirimu teriak-teriak kayak orang kesurupan gitu?" tanya bang Rian bingung.


"Tuh lihat, udah jam setengah lapan!" ujar ku menunjuk ke arah jam dinding.


"Ooohh, itu. Kirain ada apaan? Emang kenapa kalau udah jam segitu? Kamu kan udah nggak kerja lagi. Kenapa mesti ketakutan gitu?" selidik bang Rian.


"Biar pun aku udah nggak kerja lagi, tapi malam ini aku tetap harus datang tepat waktu, untuk mengajukan permohonan resign," jelas ku.


"Oooohh, gitu. Ya udah, siap-siap lah. Mau abang antar gak?" tanya bang Rian.


"Nggak usah, abang disini aja! Aku bareng Ririn aja. Nggak lama kok, palingan satu jam aja di sana," tolak ku lalu beranjak dari kasur, dan melangkah ke kamar mandi.


"Oh, ya udah kalo gitu," balas bang Rian lalu duduk di tepi kasur, dan menyalakan rokok nya.


Setelah mandi kilat selesai, aku pun bergegas memakai baju kaos putih dan celana panjang hitam.


Selesai merias wajah dengan bedak tabur dan mengoleskan sedikit lipstik, aku pun langsung menyambar sepatu yang ada di rak, lalu memakai nya dengan gerakan tergesa-gesa.


Setelah itu, aku mengambil tas selempang kecil dan menaruh dompet serta ponsel di dalam nya. Setelah semua nya beres, aku pun menghampiri bang Rian, lalu mengecup kedua pipi nya dan mencium punggung tangan nya.

__ADS_1


"Aku pergi dulu ya, bang. Jaga kamar ini baik-baik ya, jangan sampai kemasukan maling kayak tadi, hahahaha!" canda ku sembari tertawa ngakak.


"Siap, tuan putri," balas bang Rian lalu mengecup kening ku.


Sesudah berpamitan, aku pun langsung keluar dari kamar dan menutup pintu kembali. Dengan langkah terburu-buru, aku pun mendatangi kamar Ririn dan menggedor-gedor pintu nya sambil berteriak.


Dor dor dor...


"Gombreeeng... Ayo kita berangkat!" pekik ku sambil terus menggedor-gedor pintu kamar nya.


"Ya, bentar!" jawab Ririn lalu membuka pintu nya, dan mengumpat ku dengan sumpah serapah nya.


"Kau ini apa-apaan sih? Teriak-teriak terus kerjaan nya, udah kayak nyet aja lama-lama ku tengok tingkah mu itu!" omel Ririn dengan wajah garang nya.


"Hehehehe, kalau aku jadi nyet, trus kau jadi apa nya? Jadi babon nya ya?" tanya ku sembari nyengir kuda.


"Ogah, siapa juga yang mau jadi babon nyet? Sembarangan aja muncung mu itu kalo ngomong," oceh Ririn kesal.


"Ya... Siapa tau aja dirimu mau, hihihi," balas ku sambil cekikikan.


Ririn hanya melengos mendengar celotehan ku. Selesai mengunci pintu kamar nya, ia pun langsung menarik tangan ku dan berjalan dengan langkah lebar.


"Heh, gombreng! Kau mau nyulik aku ya?" tanya ku pura-pura bingung.


Sebelum Ririn meneruskan kata-kata nyeleneh nya, aku pun langsung memotong nya dengan cepat.


"Heh, kamvret! Enak aja caci-maki anak orang sembarangan. Aku bilangin ayah ku nanti, baru tau rasa!" ancam ku sembari memanyunkan bibir dan memasang wajah masam.


"Bilang aja sana, kau pikir aku takut apa? Hahahaha, tidak lah yau!" gelak Ririn sambil terus menarik tangan ku di sepanjang perjalanan.


Aku hanya tersenyum mendengar ocehan sahabat karib ku tersebut. Karena terlalu asyik bersendawa gurau, tanpa sadar kami berdua pun sudah tiba di depan gedung karaoke, tempat kami bekerja.


Saat hendak mengisi absen ke meja kasir, tiba-tiba Ririn melepaskan cengkraman tangan nya, dan memandangi penampilan ku dari atas sampai bawah.


"Lololoh, kok pakaian mu gini sih? Udah kayak emak-emak mau pergi ke pasar aja," tanya Ririn heran.


"Lah, masa dari tadi kau gak sadar sih, kalau pakaian ku kayak gini?" tanya ku balik.


"Enggak, soal nya tadi buru-buru, takut telat. Maka nya aku nggak merhatiin dandanan mu," jelas Ririn.


"Oooohh," aku hanya ber oh menanggapi keheranan nya.

__ADS_1


Setelah itu, aku pun kembali melangkah dan melewati Ririn yang masih plonga-plongo di tempat nya berdiri.


"Loh, kok aku malah di tinggal sih? Nggak jelas banget lampir satu ini!" umpat Ririn semakin kesal dengan kelakuan ku.


"Maka nya cepetan! Lelet banget sih jadi orang," balas ku tak mau kalah.


Sampai di meja kasir, aku langsung menemui Billy dan bertanya pada nya. Sedangkan Ririn, ia langsung mengisi absen dan menyimpan tas ransel nya di boks penyimpanan.


"Bil, Mas bos dimana?" tanya ku.


"Lagi keluar, emang kenapa? Ada perlu ya?" tanya Billy dengan tatapan menyelidik.


"Iya, aku mau resign," jawab ku santai.


Billy langsung memekik kuat dengan mata terbelalak. Ia tampak syok dan terkejut mendengar penuturan ku.


"Apa? Resign?" pekik Billy.


"Iya, emang kenapa? Nggak boleh ya?" tanya ku balik, masih dengan mode santai dan tenang.


Billy tidak menjawab. Ia masih saja terperangah dengan mulut menganga melihat ku. Melihat reaksi Billy yang berlebihan, aku pun menepuk bahu nya, dan kembali berceloteh.


"Heh, Bil. Mulut nya di tutup tuh, entar kemasukan lalat loh," canda ku sembari tersenyum miring.


Billy pun langsung menutup mulut nya, dan menstabilkan ekspresi wajah nya seperti semula.


"Kok tiba-tiba mau resign? Emang ada masalah apa? Apa jangan-jangan, kau sudah bosan ya kerja di tempat ini?" selidik Billy.


"Aku mau nikah dalam waktu dekat ini," jawab ku jujur.


Lagi-lagi Billy pun memekik, setelah mendengar jawaban ku.


"APA? MENIKAH?" pekik Billy lagi.


"Iya," jawab ku.


"Jangan bercanda gitu ah, nggak lucu tauuuu!" gerutu Billy tidak percaya dengan perkataan ku.


"Siapa yang bercanda? Aku serius kok. Maka nya malam ini aku mau resign, karena bentar lagi aku mau nikah," jelas ku meyakinkan.


Billy langsung terduduk lemas di bangku kebesaran nya. Ia tampak gusar dan kecewa dengan keputusan ku, yang bisa di bilang secara mendadak dan tiba-tiba.

__ADS_1


"Musnah sudah impian dan harapan ku selama ini. Wanita yang sedang aku incar, akan menjadi milik orang lain," gumam Billy dengan penuh rasa kecewa.


__ADS_2