
"Beneran puas? Entar bohong lagi?" tanya bang Rian.
"Beneran, untuk apa aku bohong? Gak ada guna nya juga," jawab ku mantap.
Bang Rian memandangi wajah ku dengan tatapan serius. Ia seakan-akan tampak ragu dengan jawaban ku barusan.
"Hmmmm, iya juga sih. Syukur lah kalau kamu merasa puas, abang senang mendengar nya," lanjut bang Rian lalu meneguk kopi nya kembali.
Setelah meminum beberapa tegukan, ia pun meletakkan gelas nya ke atas meja dan melangkah ke arah jendela kaca. Bang Rian memandang ke arah lautan dengan tatapan menerawang.
"Ndah, kalau seandainya abang meminta mu untuk berhenti bekerja, apakah kamu mau menuruti nya?" tanya bang Rian ragu.
Mendengar pertanyaan bang Rian, aku pun langsung menoleh dan menautkan kedua alis. Aku bingung, apa maksud bang Rian bertanya seperti itu pada ku.
"Kenapa tiba-tiba abang nanya gitu? Emang kenapa dengan pekerjaan ku?" tanya ku balik.
Bang Rian menghela nafas berat, sambil terus memandangi keindahan alam yang ada di depan nya. Karena tidak ada respon apa-apa dari nya, aku pun melanjutkan pertanyaan ku kembali.
"Kalau aku berhenti bekerja, trus siapa yang akan membiayai keluarga ku? Siapa yang akan memenuhi kebutuhan hidup mereka?" tanya ku.
Mendapat pertanyaan beruntun dari ku, bang Rian pun mengalihkan pandangan nya kepada ku, lalu menjawab...
"Abang yang akan membiayai mereka semua, dan abang juga yang akan memenuhi kebutuhan mu," jawab bang Rian mantap.
Aku langsung terpaku seketika. Aku tidak mampu berkata apa-apa lagi, saat mendengar ucapan bang Rian yang tampak sangat bersungguh-sungguh dengan kata-kata nya.
Melihat reaksi ku yang terdiam seribu bahasa di pinggir ranjang, ia pun mulai melangkahkan kaki nya untuk mendekati ku, dan berjongkok tepat di depan kaki ku.
"Kamu tidak perlu khawatir, sayang. Abang siap membiayai mu dan juga seluruh keluarga mu, jika kamu berhenti dari pekerjaan mu itu," tutur bang Rian.
Ia menggenggam erat kedua tangan ku, lalu mencium nya dengan lembut dan mesra. Setelah itu, ia meletakkan kepala nya di pangkuan ku, lalu kembali berkata...
"Gimana sayang? Apakah kamu bersedia menuruti permintaan abang tadi?" tanya bang Rian lirih.
Aku menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskan nya dengan kasar. Sambil mengelus-elus kepala bang Rian, aku pun menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
"Apakah aku harus menerima tawaran nya, dan mengakhiri petualangan ku di dunia malam ini?" ucap ku dalam hati.
Aku memejamkan mata sejenak, sambil terus memikirkan ucapan-ucapan bang Rian.
__ADS_1
"Apakah ini petunjuk dari Allah, agar aku bertaubat dari pekerjaan hina ini? Hufff, mudah-mudahan saja keputusan ini adalah yang terbaik untuk hidup ku ke depan nya, aaamiiiiinn," lanjut ku kembali menghela nafas.
Setelah beberapa saat berperang dengan isi kepala, aku pun memantapkan hati untuk menerima tawaran bang Rian.
"Oke, aku akan resign dari pekerjaan ku. Dan... Dan aku bersedia menjadi pendamping hidup abang untuk selama nya," ucap ku lirih dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar ucapan ku, bang Rian pun mendongak dan menatap ku dengan wajah berbinar.
"Hah, kamu serius?" tanya bang Rian tidak percaya.
Aku tidak menjawab, aku hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan nya. Melihat anggukan kepala ku, bang Rian pun langsung bangkit dari lantai dan dan berdiri di depan ku. Ia memelukku dan mengecup kepala ku berulang-ulang kali.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Akhirnya penantian ini tidak sia-sia. Abang sama sekali tidak menyangka, jika kamu akan menjadi pendamping hidup abang Ndah," tutur bang Rian dengan wajah bahagia.
Melihat kebahagiaan bang Rian, tanpa sadar air mata ku pun menetes dan membasahi kedua pipi ku. Aku sangat terharu, melihat wajah lelaki tampan yang ada di hadapanku.
"Semoga saja, aku tidak salah mengambil keputusan. Dan semoga saja, kau yang terbaik untuk hidup ku ke depannya."
Aku membatin sambil menenggelamkan wajah ku ke perut sixpack bang Rian, dan memeluk erat pinggang nya.
Setelah beberapa menit saling berpelukan dalam suasana haru, bang Rian pun mulai merenggang pelukan nya dan memegangi kedua pipi basah ku, lalu bertanya...
"Loh, kok malah nangis sih, sayang? Kenapa, apa kamu tidak bahagia dengan semua ini? Apa kamu merasa terpaksa menuruti keinginan abang?" tanya bang Rian sambil terus menatap wajah ku.
Wajah bang Rian kembali berseri-seri setelah mendengar penuturan ku. Karena saking senangnya, ia pun langsung mengangkat tubuh ku dan merebahkan nya ke atas ranjang.
"I love you sayang," bisik bang Rian di telinga ku.
"I love you to," balas ku sembari menyunggingkan senyum termanis ku pada nya.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, aku pun menenggelamkan wajah ke leher bang Rian, dan mengendus aroma maskulin nya dengan mata terpejam.
Melihat kelakuan ku yang sedang mengendus-endus leher nya, persis seperti anjing pelacak, ia pun langsung tersenyum lalu berucap...
"Hm hm hm, jangan mengganggu singa yang sedang tidur. Entar kalo dia bangun, kamu pasti akan di terkam nya," oceh bang Rian.
"Gak bakalan di terkam kok, kan singa nya lagi sakit gigi. Jadi dia gak bakalan doyan menerkam mangsa nya, hihihi."
Aku membalas perkataan bang Rian sembari terkikik geli. Mendengar ucapan nyeleneh ku, tawa bang Rian pun langsung pecah seketika.
"Hahahaha, dasar bocah gendeng! Mana ada singa sakit gigi? Ndah... Ndah... Aneh-aneh saja jawaban mu itu," oceh bang Rian sambil terus tertawa ngakak.
__ADS_1
"Hehehehe," aku hanya cengar-cengir menanggapi celotehan lelaki tampan ku itu.
Selesai berhaha-hihi berdua, bang Rian pun mulai menjalar kan tangan-tangan nakal nya ke benda kenyal ku dan memilin-milin ujung nya.
"By the way, abang boleh minta lagi gak, sayang?" bisik bang Rian dengan suara serak.
"Minta apa?" tanya ku pura-pura lugu.
"Ah, masa gitu aja gak paham sih?" oceh bang Rian.
"Kalo aku paham, untuk apa juga aku bertanya lagi?" tanya ku sembari menautkan kedua alis.
"Helehh, pura-pura oon pulak dia. Kita ini kan sudah sama-sama dewasa, harus nya sama-sama ngerti. Masa harus abang jelaskan sedetail-detailnya sih?" gerutu bang Rian.
Bang Rian tampak mulai kesal dengan kepura-puraan ku. Ia memasang wajah masam lalu memanyunkan bibir nya ke depan. Melihat tingkah bang Rian yang sedang merajuk, aku pun kembali menjahili nya dengan kata-kata nyeleneh ku.
"Ciye ciye, ngambek niyeee, hihihi."
Aku meledek nya sembari cekikikan, dan menoel-noel dagu nya belah nya. Bukan itu saja, aku juga menyentuh bibir tebal nya dan mencubit gemas hidung nya.
Dan itu berhasil membuat bang Rian menjerit dan meringis kesakitan, sambil memegangi hidung mancung nya.
"Adooooh, sakit hidung abang, sayang!" teriak bang Rian.
"Ups, sorry. Aku gak sengaja, aku khilaf, aku..."
Belum sempat aku meneruskan kata-kata, tiba-tiba bang Rian menempelkan jari telunjuk nya di bibir ku.
"Ssstttt, berisik!" ujar bang Rian.
Aku langsung terdiam dengan mata terbelalak lebar. Setelah melihat ku bungkam, bang Rian pun menurunkan jari nya dan berkata...
"Dari pada membuat berisik yang tidak berguna, mendingan kita membuat berisik yang nikmat yok!" ujar bang Rian dengan senyum menyeringai di bibir nya.
"Berisik yang nikmat? Maksud nya?" tanya ku tidak mengerti.
"Hadeehh, mendadak oon maneh," gerutu bang Rian sembari menghela nafas panjang.
"Bukan mendadak oon, bang. Tapi memang udah oon dari zaman purba dulu, hihihi." canda ku sambil terkikik geli.
__ADS_1
Bang Rian hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala nya, melihat segala macam tingkah dan kelakuan aneh ku.