
"Iya," jawab ku lirih sembari mengangguk kan kepala.
Setelah melihat Haris masuk ke dalam hotel bersama wanita itu, aku segera meminta bang Rian untuk melajukan mobil nya.
"Ayo kita jalan, bang!" seru ku dengan nada lemah.
Melihat keadaan ku yang tampak sangat terpukul, bang Rian pun langsung memeluk ku dan membelai rambut ku sembari berkata...
"Sabar, sayang. Dunia gak selebar daun kelor. Masih banyak lelaki di luaran sana yang menginginkan cinta mu." bisik bang Rian memberi semangat untuk ku.
Aku tersenyum kecut dan kembali mengangguk kan kepala.
Bang Rian mulai melepas pelukannya, dan menghapus air mata ku dengan jari-jari tangan nya. Setelah itu, bang Rian mulai menjalankan kendaraan nya secara perlahan, keluar dari halaman hotel.
Setelah menempuh perjalanan sekitar hampir satu jam, bang Rian memarkirkan mobil nya di depan rumah makan yang menjual soto, bakso, dan mie ayam.
Bang Rian membawa ku ke jembatan Barelang, jembatan yang sangat terkenal di pulau Batam.
"Loh, kok kita udah nyampe sini, bang?" tanya ku heran.
Karena terlalu asyik melamun, aku sampai tidak sadar kalau bang Rian membawa ku ke jembatan ini.
"Maka nya jangan melamun terus kerjaan nya. Masa dari tadi kamu gak merhatiin jalan, sih?" tanya bang Rian heran sembari mencubit pelan ujung hidung ku.
"Hehehe, iya maaf." jawab ku salah tingkah.
"Ya udah, ayo kita keluar!" seru bang Rian sembari membuka sealbeat yang terpasang di badan nya.
"Oke, bos." balas ku.
Aku dan bang Rian keluar dari mobil, lalu melangkah masuk ke dalam rumah makan tersebut.
Sampai di dalam, ternyata suasana nya cukup ramai. Banyak pelanggan yang sedang menikmati hidangan mereka, sambil memandangi keindahan laut yang sangat luas.
Aku dan bang Rian celingukan kesana kesini untuk mencari bangku yang masih kosong.
"Itu masih ada yang kosong, Ndah. Ayo kita kesana!" ujar bang Rian sembari menunjuk ke arah kiri nya, lalu menggandeng tangan ku.
"Ya," jawab ku.
Kami berdua berjalan beriringan menuju bangku kosong yang di tunjuk bang Rian. Sampai di tempat, aku dan bang Rian langsung duduk berdampingan menghadap ke arah laut lepas.
Tak lama kemudian, pelayan rumah makan itu pun datang menghampiri kami untuk menanyakan pesanan.
"Mau pesan apa, kak?" tanya si pelayan wanita itu pada ku.
"Soto Medan dua porsi, trus jus wortel nya dua juga ya, mbak!" jawab ku.
"Oke siap, di tunggu ya, kak!" balas si pelayan.
__ADS_1
"Oke, mbak." jawab ku sembari tersenyum.
Setelah mendapatkan pesanan, pelayan itu pun berlalu pergi meninggalkan meja kami, untuk menyiapkan makanan dan minuman pesanan ku.
"Indah banget pemandangan nya ya, sayang." ujar bang Rian dengan senyum yang mengembang di bibir tipis nya.
"Iya," balas ku.
Aku dan bang Rian menatap hamparan laut yang sangat indah. Di tambah dengan suara deburan ombak yang terdengar saling bersahutan, semakin menambah suasana romantis di tempat tersebut.
"Hmmmm, Ndah. Abang boleh nanya sesuatu gak?" tanya bang Rian ragu.
"Boleh, mau nanya apa?" tanya ku balik sembari menoleh ke arah bang Rian.
"Cowok yang tadi itu beneran pacar kamu, ya?" tanya bang Rian penasaran.
"Iya bener, emang nya kenapa?" tanya ku lagi.
"Ya gak papa sih, abang cuma heran aja. Kenapa dia bawa cewek ke hotel, padahal kan dia punya pacar?" selidik bang Rian.
Aku menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskan nya perlahan. Aku kembali memandangi lautan dengan tatapan kosong.
"Panjang cerita nya, bang. Kalau aku ceritakan sekarang, bisa-bisa satu minggu kita bakalan duduk disini." jawab ku asal.
Mendengar ucapan ku, tawa bang Rian pun langsung pecah sembari menepuk-nepuk bahu ku. Dia merasa sangat lucu dengan kata-kata ku barusan.
"Hahahaha, aneh-aneh aja lah pulak jawaban mu itu. Masa iya, bisa sampe semingguan gitu nyeritain nya, edan." oceh bang Rian tidak percaya.
"Ya memang begitu lah kenyataan nya, bang. Aku juga bingung harus mulai dari mana cerita nya." balas ku dingin dengan tatapan yang masih fokus menatap laut.
Aku menoleh sekilas ke arah bang Rian, lalu kembali memfokuskan pandangan ku ke depan.
"Dia itu pacar ku, kami sudah menjalin hubungan selama satu tahun. Tapi sekarang hubungan kami hancur berantakan, gara-gara..."
Aku menghentikan kata-kata ku sejenak. Tanpa sadar, air mata ku kembali menetes membasahi kedua pipi ku.
"Gara-gara apa?" desak bang Rian.
"Gara-Gara kejujuran ku." jawab ku lirih.
"Loh, kok aneh sih? Masa cuma gara-gara jujur aja, bisa sampe berantakan gitu?" tanya bang Rian heran.
"Ya, dia sangat marah karena aku berkata jujur, dalam masalah menerima tamu kencan." jawab ku pelan.
"APA?" pekik bang Rian lalu reflek menutup mulut dengan tangan nya sendiri.
"Sssttt, jangan berisik! Nanti orang-orang pada denger." bisik ku sembari menepuk lengan bang Rian.
"Oh iya, sorry. Abang gak sengaja." balas bang Rian pelan.
"Iya, gak papa. Kita pelan-pelan aja ngomong nya." ujar ku.
"Oke, trus gimana? Apa tanggapan cowok mu setelah mendengar kejujuran mu itu?" tanya bang Rian.
__ADS_1
"Dia marah besar tadi pagi, trus dia ninggalin aku gitu aja di kos." jawab ku.
"Tadi pagi?" tanya bang Rian dengan kening mengkerut.
"Ya, kejadian nya baru tadi pagi." jawab ku jujur.
"Loh, berarti waktu abang datang tadi, kalian baru aja habis bertengkar ya?" lanjut bang Rian.
"Iya," jawab ku lemah.
"Oalah, maaf ya, sayang. Abang bener-bener gak tau kalau dirimu sedang bersedih tadi pagi. Kalau saja abang tau, gak mungkin lah abang datang di waktu yang tidak tepat seperti itu." tutur bang Rian panjang lebar.
"Iya gak papa, bang. Aku paham kok." balas ku.
Bang Rian merenung sejenak, sambil terus memandangi wajah ku dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Ada apa, bang? Kenapa abang mandangi nya serius gitu?" selidik ku.
"Gak ada apa-apa kok, sayang. Abang cuma heran aja, baru tadi pagi kalian bertengkar. Tapi, kenapa cowok mu begitu cepat mencari pengganti mu?"
"Semudah itu kah dia melupakan mu, dan membawa cewek lain ke hotel?" tutur bang Rian sembari menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Entah lah, aku juga gak nyangka kalau dia bisa secepat itu mengganti posisi ku dengan wanita lain." balas ku lirih.
"Bener juga apa yang di katakan bang Rian. Kok Haris bisa semudah itu ya, membawa wanita lain ke hotel?" batin ku bingung.
Aku memejamkan mata sejenak. Aku merenung kata-kata yang keluar dari bibir bang Rian mengenai Haris.
Sedang kan bang Rian, dia terdiam sesaat. Raut wajah nya seperti sedang memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian, dia pun kembali membuka suara nya.
"Atau mungkin selama ini, dia memang udah punya wanita lain sebelum kalian bertengkar?" tebak bang Rian.
"Bisa jadi sih, karena akhir-akhir ini dia juga jarang datang ke kos ku." balas ku membenarkan ucapan bang Rian.
"Udah lah, biarin aja. Lagian itu semua memang salah ku juga." lanjut ku.
"Dulu aku pernah berjanji pada nya, kalau aku tidak akan menemani lelaki mana pun di ranjang kecuali dia. Tapi karena aku butuh uang, aku mengingkari janji ku sendiri."
"Aku mengkhianati kepercayaan nya, dan aku juga melukai hati nya." tambah ku sembari menunduk.
"Lololoh, kok malah sedih lagi sih! Ngapain juga di pikirin laki-laki kayak gitu. Mendingan di bawa happy aja." ujar bang Rian.
"Lagian nih ya, kalau menurut pemikiran abang sih kamu itu gak salah. Kamu menerima tamu hotel karena kamu butuh uang buat keluarga mu."
"Tapi kalau cowok mu, itu udah beda ceritanya. Dia membawa wanita lain ke hotel untuk apa coba, kalau bukan untuk kepuasan semata. Iya gak, bener gak omongan abang?" tanya bang Rian.
"Iya sih, bener yang abang bilang itu." balas ku pelan.
"Udah ah, gak usah sedih lagi! Kan masih ada abang. Abang akan selalu ada buat mu, dan abang juga akan memenuhi segala kebutuhan mu, termasuk kebutuhan keluarga mu di kampung." tutur bang Rian.
"Iya, makasih ya, bang." balas ku.
"Makasih atas pengertian dan kebaikan abang selama ini pada ku. Aku gak tau lagi, harus bagaimana cara membalas kebaikan abang itu." tutur ku dengan mata yang sudah mulai berembun.
__ADS_1
"Gak usah di balas, abang ikhlas kok. Yang penting kamu masih mau menemani abang, itu aja udah cukup kok buat abang." ujar bang Rian sembari tersenyum manis pada ku.
"Pasti, bang. Aku pasti akan menemani abang, kapan pun dan dimana pun abang mau." jawab ku mantap.