Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Peringatan Keras Buat Haris


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan disini, HAH?" bentak Haris dengan suara yang cukup memekakkan telinga.


Bang Rian langsung mengeratkan genggaman tangan nya, saat mendengar suara keras dari Haris. Dia tampak tidak terima, jika Haris membentak ku di tempat umum seperti itu.


"Heh, bung. Jangan pernah sekali-kali kau bersikap kasar seperti itu kepada wanita ku. Atau kalau tidak, aku akan buat perhitungan dengan mu, ingat itu baik-baik!"


Ancam bang Rian sembari menunjuk wajah Haris, dengan tatapan sinis dan menusuk.


Melihat ekspresi wajah bang Rian yang horor dan menyeramkan, nyali Haris langsung menciut. Dia tidak berani berkata apa pun lagi pada ku, atau pun pada bang Rian.



Visual : bang Rian


Usia : 41 tahun


Pekerjaan : Memiliki usaha meubel di salah satu kota Batam.


Keringat dingin mulai bermunculan di kening Haris. Dia mematung di tempatnya berdiri, sambil terus memandangi wajah ku dengan tatapan yang sulit di artikan.



Visual : Indah Permata Sari


Usia : 28 tahun


Pekerjaan : Waiters di salah satu tempat karaoke di kota Batam.


Melihat tatapan mata Haris yang tampak sangat marah pada ku, aku pun menghembuskan nafas kasar, lalu mulai membuka suara.


"Hubungan kita sudah berakhir, dan kau tidak berhak untuk mengatur hidup ku lagi, ingat itu!" ujar ku tegas.


Haris membelalak kan mata nya saat mendengar kata-kata ku. Dia sama sekali tidak menyangka, jika aku akan mengatakan hal itu pada nya.



Visual : Haris


Usia : 35 tahun


Pekerjaan : Kepala pertukangan dan driver online.


"Siapa yang bilang kalau hubungan kita sudah berakhir?" tanya Haris dengan kening mengkerut.


"Aku, aku yang bilang. Kenapa rupanya, hah?" tanya ku dengan suara lantang.


Aku melirik sinis ke arah wanita yang sedang menggandeng lengan Haris, lalu memperhatikan penampilan nya dari atas sampai bawah. Setelah itu, aku kembali menatap Haris sembari berkata...


"Jangan campuri urusan ku, dan jangan pernah datang-datang lagi ke kos ku. Kau urus aja wanita kesayangan mu ini. Dan satu lagi, jangan pernah muncul lagi di depan mu, paham!" ujar ku tegas.


Setelah memberi peringatan keras kepada Haris, aku pun beralih kepada bang Rian. Aku menggandeng lengan bang Rian, lalu mengajak nya untuk pergi dari hadapan Haris.

__ADS_1


"Ayo kita pergi, bang! Mendingan kita bersenang-senang aja di kamar, dari pada meladeni orang gila kayak dia ini." seru ku pada bang Rian, lalu kembali menatap tajam kepada Haris.


"Oke, sayang. Ayo, kita naik!" ajak bang Rian.


"Oke, ayo!" balas ku.


Aku dan bang Rian melewati Haris yang sedang terpaku di tempat. Haris terus saja menatap kepergian ku dan bang Rian dengan mata elang nya.


Setelah aku dan bang Rian menapaki anak tangga dan menghilang dari pandangan nya, Haris dan wanita itu pun mulai melangkah keluar dari gedung hotel, dengan wajah yang di tekuk lesu.


Haris dan wanita itu masuk ke dalam mobil, dan berlalu pergi meninggalkan gedung hotel tersebut.


Sesampainya di depan kamar, bang Rian merogoh saku celana panjang nya untuk mengambil kunci. Setelah mendapatkan nya, bang Rian segera membuka pintu itu dan mengajak ku untuk masuk ke dalam.


"Ayo kita masuk, sayang!" seru bang Rian sembari merangkul pundak ku.


"Iya," balas ku mengangguk kan kepala.


Sesudah mengunci pintu, kami berdua duduk di pinggir ranjang lalu menyalakan rokok masing-masing.


"Kamu baik-baik aja kan, sayang?" tanya bang Rian sedikit khawatir dengan keadaan ku.


"Ya, aku baik-baik aja. Abang gak usah khawatir, aku tidak selemah yang abang kira." jawab ku santai.


"Mental anak rantau itu harus sekuat baja. Jangan mudah meleleh hanya karena cinta." lanjut ku sembari tersenyum kecut.


"Ya, abang tau kalau dirimu wanita kuat. Tapi abang gak yakin, kalau mantan pacar mu itu akan menyerah begitu saja." balas bang Rian dengan nada cemas.


Aku berusaha menyakinkan bang Rian, kalau aku pasti sanggup menghadapi Haris. Karena aku yakin, Haris tidak akan berani berbuat yang aneh-aneh dengan ku.


"Ya, tapi kan..."


Sebelum bang Rian melanjutkan kata-katanya, aku langsung menyumpal mulut nya dengan bibir ku. Aku mencium nya dengan lembut, dan mengabsen seluruh isi mulut nya dengan lidah ku.


Mendapat serangan mendadak seperti itu dari ku, bang Rian pun tersentak kaget. Dia langsung terpaku dengan mata yang membulat sempurna.


Setelah tersadar dari keterkejutan nya, bang Rian pun mulai membalas ciuman ku, lalu melingkarkan kedua tangan nya di pinggang ramping ku.


"Apakah kau menginginkan nya, sayang?" bisik bang Rian dengan suara serak, akibat di selimuti oleh gairah nya sendiri.


"Iya," balas ku tanpa rasa malu atau pun sungkan.


"Baik lah kalau begitu, abang akan memberikan pelayanan terbaik untuk mu."


Tutur bang Rian sembari mengecup kening ku, dan menyibakkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah ku.


Aku menggigit bibir bawah ku setelah mendengar penuturan bang Rian. Aku menatap wajah tampan bang Rian dengan mata yang mulai sayu.


Dengan gairah yang sudah naik sampai ke ubun-ubun, bang Rian mulai membuka semua pakaian ku dan juga pakaian nya sendiri. Setelah selesai, bang Rian pun langsung melancarkan aksinya.


Dia berpacu dengan kecepatan yang cukup tinggi, hingga membuat ku semakin tidak terkendali, dan mulai mengeluarkan suara-suara indah dari bibir ku.

__ADS_1


"Bagaimana, sayang? Apakah kau menikmati nya?" tanya bang Rian.


Aku yang sedari tadi memejamkan mata pun, langsung menatap wajah bang Rian. Aku mengangguk dan tersenyum genit pada nya.


"Iya, bang. Aku sangat menikmati nya. Teruskan lah, aku masih menginginkan nya." rengek ku manja.


"Oke, sayang ku. Jangan khawatir, abang pasti akan memberikan yang terbaik pada mu." balas bang Rian dengan senyum menyeringai di bibir nya.


"Iya, itu lah yang aku mau." balas ku.


Aku kembali memejamkan mata, dan menikmati permainan yang sangat memuaskan dari bang Rian. Tanpa terasa ternyata bang Rian sudah melayaniku selama hampir dua jam, dengan berbagai gaya dan posisi.


Dan akhirnya, kami berdua pun mencapai puncak secara bersamaan. Bang Rian menyemburkan lahar hangat nya di dalam milik ku.


"Masukkan ke sini, bang!" pinta ku.


Aku membuka mulut dan meminta bang Rian untuk mengeluarkan milik nya, lalu memasukkan nya ke dalam mulut ku. Bang Rian pun langsung menurut dan melakukan permintaan ku.


Bang Rian tersenyum bahagia, saat melihat kegiatan ku yang sedang berbaring, sambil membersihkan milik nya dengan lembut.


Selesai bersenang-senang, aku dan bang Rian beranjak dari ranjang, lalu melangkah masuk ke kamar mandi.


Setelah itu kami berdua kembali duduk di pinggir ranjang, dengan handuk yang melilit di badan masing-masing.


"Abang perhatiin, gairah mu semakin hari semakin ganas aja ya, sayang." tutur bang Rian membuka percakapan.


"Ah enggak lah, biasa aja kok. Perasaan abang aja kali tuh."


Balas ku sembari menunduk, dengan wajah yang sudah memerah akibat menahan malu.


"Iya beneran kok, sayang. Kan yang merasakan nya abang, jadi abang tau lah mana yang biasa aja, dan mana yang lebih dari biasa nya." jelas bang Rian.


Bang Rian masih tetap kekeuh dengan pendapat nya. Dia kembali menghisap rokok nya, sambil terus memandangi ku dengan tatapan aneh nya.


"Kok nunduk terus sih kepala nya?" protes bang Rian, lalu mengulurkan tangan nya untuk mendongakkan kepala ku.


"Kenapa, kamu malu ya?" lanjut bang Rian.


Aku tidak menjawab pertanyaan bang Rian, aku hanya tersenyum lalu mengangguk mengiyakan ucapan nya.


"kenapa mesti malu? Yang abang omongin tadi memang benar ada nya kok. Kamu memang semakin ganas dan bergairah sewaktu melayani abang tadi." tambah bang Rian lagi.


"Udah ah, gak usah bahas masalah itu lagi. Bahas masalah lain aja ya!" oceh ku lalu menghisap rokok yang ada di tangan ku.


"Iya iya, abang gak ngomongin masalah itu lagi." balas bang Rian pasrah.


Bang Rian merangkul pundak ku sambil sesekali membelai rambut panjang ku dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Mendapat perlakuan seperti itu, aku pun menyandarkan kepala di bahu kekar bang Rian, lalu menatap lurus ke depan dengan pandangan menerawang.


"Bang, apa aku salah ya melakukan semua ini, hanya demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga ku?" tanya ku.

__ADS_1


__ADS_2