
Selesai bercanda dan berhaha-hihi berdua, bang Rian pun mulai mendekat kan wajah nya pada ku, lalu menciumi bibir ku dan mengabsen seluruh isi mulut ku.
Mendapat ciuman liar dari bang Rian, aku pun tak mau kalah. Aku membalas nya dengan mata terpejam, dan sesekali mengeluarkan suara-suara nikmat.
Setelah beberapa menit saling berperang lidah, bang Rian pun menyudahi aksinya dan melanjutkan kegiatan nya ke bagian leher dan dua bukit kembar ku.
"Aakkhh, pelan-pelan bang. Sakit tau gak?" satu desah*n pun meluncur dari mulut ku, saat bibir bang Rian menempel indah di salah satu pucuk bukit ku.
"Hehehe, maaf sayang, abang kebablasan."
Bang Rian nyengir kuda menanggapi ucapan ku. Kemudian ia pun melanjutkan perbuatan nya kembali, hingga beberapa menit ke depan.
Setelah merasa puas menikmati kedua bukit kembar ku, dan meninggalkan beberapa tanda merah, bang Rian pun mulai mengarahkan senjata andalan nya yang sudah berdiri tegak itu ke depan bibir gua ku.
Saat di rasa sudah tepat sasaran, bang Rian pun langsung menancapkan nya dengan hentakan yang cukup kuat, hingga membuat ku memekik karena terkejut dengan ulah nya tersebut.
"Aaaaaaa," pekik ku kuat sembari menggenggam erat seprai ranjang.
Setelah senjata andalan nya masuk dengan sempurna, bang Rian pun mulai melakukan pergerakan pinggul nya dengan kecepatan penuh dan nafas yang naik turun tidak karuan.
Begitu pula dengan ku, aku terus saja memejamkan mata sambil menikmati permainan nya yang sangat luar biasa menurut ku.
Setelah bergumul ria selama hampir dua jam dengan berbagai gaya dan posisi, bang Rian pun semakin mempercepat laju gerakan nya. Hingga akhirnya, kami berdua pun memuncak secara bersamaan.
"Aaakkkhhh," erangan kenikmatan pun keluar dari bibir kami berdua.
Sesudah menyemburkan cairan hangat nya, bang Rian pun mencabut senjata nya dan membaringkan tubuh lelah nya di samping ku. Sedangkan aku, aku masih terkulai lemas dengan posisi telentang di atas ranjang.
Karena merasa ada yang mengalir dari bibir gua ku, aku pun segera bangkit dan bergegas masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan cairan bening pemberian bang Rian.
Selesai membersihkan diri, aku kembali merebahkan diri di sebelah bang Rian dengan handuk yang melilit di tubuh ku.
"Bersihin dulu gih! Entar lama-lama di rubungi lalat ijo loh dedek nya," canda ku sembari menoleh dan tersenyum pada nya.
"Hahahaha, mana ada lalat ijo di tempat sebersih ini? Aneh-aneh saja kamu tuh," gelak bang Rian.
"Hehehehe, siapa tau aja lalat nya nyasar kesini," balas ku sembari cengar-cengir.
Bang Rian menghentikan tawa nya, lalu mengulurkan tangan nya untuk mengacak-acak rambut ku dan berkata...
"Ya, mungkin juga sih. Siapa tau aja lalat nya di kasih alamat palsu, maka nya bisa nyasar sampe kesini," oceh bang Rian.
__ADS_1
"Naaah, bisa jadi tuh," lanjut ku membenarkan ucapan nyeleneh nya.
Setelah itu, ia pun mengecup kening ku dan beranjak dari ranjang. Bang Rian mengambil handuk yang teronggok di atas nakas lalu melilitkan ke pinggang nya. Kemudian ia pun melangkah menuju kamar mandi.
Melihat pergerakan bang Rian, aku pun ikut bangkit dan mendudukkan diri di pinggir ranjang.
"Mau kemana, bang?" tanya ku.
"Mandi, sayang. Kamu mau ikut gak?" tanya bang Rian.
"Ogah, aku kan sudah tadi," jawab ku lalu mengambil rokok dan menyalakan nya.
"Ya... Siapa tau aja kamu mau nemani abang, dan mengulang permainan tadi di kamar mandi?" ujar bang Rian sembari tersenyum genit, dan mengerlingkan mata nya pada ku.
"Males ah, ini aja rasanya badan ku masih pegal kok. Bisa rontok semua tulang-belulang ku kalo di ulang lagi," oceh ku lalu menghisap rokok dan menghembuskan asap nya ke udara.
"Hahahaha," gelak bang Rian.
Mendengar ocehan receh ku, bang Rian pun kembali tergelak, lalu melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya.
Tak lama berselang, bang Rian pun keluar dengan wajah segar dan rambut acak-acakan dalam keadaan basah. Selesai mengeringkan rambut dan menyisir nya, bang Rian pun kembali mendekati ku lalu berkata...
"Kita bobok yok, sayang! Abang udah mulai ngantuk nih," ujar bang Rian dengan mata sayu nya.
Begitu pun dengan Rian, ia merebahkan tubuh kekar nya, dan menarik selimut tebal yang ada di ujung kaki nya. Setelah menyelimuti tubuh kami berdua, bang Rian pun menarik ku ke dalam pelukan nya. Aku pun hanya menurut, dan menenggelamkan wajah ku di ceruk leher nya.
"Selamat malam, sayang. Semoga mimpi yang indah ya," bisik bang Rian, lalu mengecup dahi ku dan mengeratkan pelukannya.
"Iya, selamat malam juga," jawab ku lalu mengecup kedua pipi nya.
Sesudah mengucapkan kata-kata pengantar tidur, aku dan bang Rian pun mulai memejamkan mata.
Tak lama kemudian, kami berdua pun terlelap dan masuk ke alam mimpi masing-masing, dengan posisi saling berpelukan dan keadaan sama-sama polos, tanpa sehelai benang pun di bawah selimut.
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Suara deru ombak dan kicauan burung pun mulai terdengar di telinga ku. Setelah beberapa jam terlelap, aku pun mulai terjaga dari tidur panjang ku.
Setelah menggeliat kan badan dan mengucek-ngucek mata, aku pun menoleh ke samping dan menatap wajah teduh yang masih tampak setia dengan mimpi indah nya.
"Kalau memang kau adalah jodoh yang sudah di takdir kan untuk ku, insya Allah aku siap menerima mu. Aku berjanji, aku akan selalu setia mendampingi mu dalam suka mau pun duka," ucap ku dalam hati.
"Semoga saja kau bisa menjadi imam yang baik untuk ku selama nya, aaamiiiiinn."
__ADS_1
Aku memandangi wajah bang Rian dengan mata berkaca-kaca. Aku sama sekali tidak menyangka, kalau bang Rian lah yang akan menjadi teman hidup ku nanti nya.
Saat sedang asyik membatin dan memandangi wajah tampan bang Rian, tiba-tiba si empunya badan pun membuka mata nya, dan menyunggingkan senyum manis nya pada ku.
"Pagi, sayang!" sapa bang Rian dengan suara serak.
"Pagi juga cinta," jawab ku dengan senyum mengembang.
Melihat mata ku yang sedang berkaca-kaca, bang Rian pun menautkan kedua alisnya, lalu bertanya...
"Loh, itu mata nya kenapa, sayang? Kok berair gitu?" tanya bang Rian heran.
"Gak papa, bang. Tadi kelilipan debu dikit, trus aku kucek-kucek. Maka nya jadi berair gini," bohong ku lalu memalingkan wajah ke samping.
Mendengar penuturan ku, bang Rian pun tidak langsung percaya. Ia semakin menajamkan tatapan nya, dan memutar posisi wajah ku untuk menghadap kepada nya.
"Jangan bohong! Bibir mu bisa berkata tidak apa-apa, tapi mata mu tidak bisa menutupi kebenaran nya," ujar bang Rian.
"Apa yang membuat mu bersedih seperti ini? Coba ceritakan sama abang! Siapa tau abang bisa membantu menyelesaikan masalah mu itu?" tanya bang Rian.
Aku menghela nafas panjang, lalu menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang. Setelah beberapa saat hening, aku pun mulai bersuara kembali.
"Apakah abang benar-benar ingin melamar ku?" tanya ku tanpa menoleh.
"Ya, abang memang benar-benar ingin melamar mu. Emang kenapa, kok nanya nya gitu? Kamu ragu ya, dengan kesungguhan abang ini?" tanya bang Rian balik.
"Ragu sih enggak, tapi..." Aku menggantung kata-kata ku.
"Tapi kenapa?" desak bang Rian. Ia tampak tidak sabar ingin mendengar kelanjutan nya.
"Tapi... Apakah abang tidak akan menyesal nanti nya, mempunyai istri seorang wanita malam seperti aku ini?" tanya ku masih tetap fokus menatap langit-langit kamar.
Sebenarnya aku tidak ingin mempertanyakan hal itu kepada bang Rian. Tetapi sebelum semua nya terlanjur terjadi, lebih baik aku harus mengetahui isi hati nya terlebih dahulu.
Karena akan lebih baik mengetahui segala nya sekarang, dari pada menyesal di kemudian hari.
Mendengar pertanyaan ku, bang Rian pun terdiam seketika. Ia menghela nafas berat, lalu kembali menatap ku dengan wajah serius.
"Apakah kau tidak percaya dengan cinta ku ini, sayang? Apakah kau tidak yakin dengan kesungguhan hatiku ini?" tanya bang Rian.
__ADS_1
Aku tidak menjawab, aku hanya menggelengkan kepala untuk menanggapi pertanyaan nya tersebut.