Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Sakit


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa jam kerja ku pun telah usai.


"Ayo kita pulang, bang!"


Aku mengajak Haris sambil menarik tangan nya, untuk beranjak dari tempat duduk nya dan berjalan ke meja kasir.


"Bil, nota meja ku tolong di total ya!" pinta ku.


"Oke, Ndah." balas Billy.


Dia pun langsung mengotak-atik mesin penghitung nya.Selesai menghitung Billy menyerahkan kertas nota itu pada ku.


"Ini nota nya, bang!" ucap ku.


Aku menyerahkan nota itu kepada Haris. Setelah melihat total tagihan nya, dia pun langsung mengeluarkan dompet nya dan menarik beberapa lembar uang merah, lalu menyerahkan nya kepada Billy.


Selesai pembayaran, aku dan Haris berjalan menuju pintu keluar ruangan karaoke. Kami berdua terus berjalan sampai ke parkiran, dan langsung masuk ke dalam mobil milik Haris.


Setelah itu, Haris pun mulai melajukan kendaraannya itu ke jalan raya untuk menuju ke arah kos-kosan ku.


Sesampainya di depan gerbang kos, aku dan Haris langsung keluar dari mobil dan berjalan beriringan ke dalam gedung berlantai tiga tersebut.


Setelah sampai di depan kamar, aku segera membuka pintu dan masuk ke dalam, dan Haris mengikuti langkah ku dari belakang.


"Huh, capek nyaa." gumam ku.


Aku menjatuhkan diri di atas kasur tanpa berganti pakaian terlebih dahulu. Aku mulai memejamkan mata dan tak butuh waktu lama, aku langsung tertidur pulas sambil memeluk guling.


Rasa lelah, ngantuk, dan kepala yang terasa berat, akibat terlalu banyak mengonsumsi minuman, membuat ku langsung terlelap, tanpa memperdulikan Haris yang masih berdiri sambil menatap ku bingung.


"Mungkin dia kelelahan." gumam Haris.


Haris menyelimuti seluruh tubuh ku dan ikut membaringkan dirinya di samping ku. Dia langsung memiringkan badan nya dan memeluk tubuh ku dari belakang.


Setelah beberapa jam terlelap, tiba-tiba aku tersentak dan langsung membuka mata, karena mendengar suara dering ponsel yang berada di atas meja.


Aku merenggangkan pelukan Haris secara perlahan, dan beranjak dari kasur untuk mengambil ponsel yang sedang berdering.


"Ferdi."


Aku bergumam pelan setelah melihat layar ponsel Haris.


"Bangun, bang! Ini ada panggilan masuk dari Ferdi." ucap ku.


Aku mengguncang pelan bahu Haris, dan dia pun langsung membuka mata nya. Setelah mengucek-ngucek mata, Haris pun menerima panggilan dari teman nya.


"Halo ada apa, Fer?" tanya Haris dengan suara serak khas bangun tidur.


"Oh oke, aku kesana sekarang!" jawab Haris sambil memutuskan panggilan dari teman nya.


"Ada apa, bang?" tanya ku penasaran.

__ADS_1


"Ferdi bilang ada proyek, Ndah. Abang di suruh cek ke lokasi sekarang!" jawab Haris.


Haris segera beranjak dari kasur dan berjalan ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, Haris langsung bersiap-siap untuk pergi.


"Ndah, abang pergi dulu ya. Kalau urusan nya udah selesai, nanti abang kesini lagi!" pamit Haris.


"Oke, bang." jawab ku.


"Mau pesan makanan apa? Biar nanti sekalian abang bawakan."


Haris kembali bertanya sambil memakai sepatu nya di depan pintu.


"Belikan nasi Padang aja, bang! Lauk nya ayam goreng Kalasan. Jangan lupa jus alpukat nya juga ya!" balas ku.


"Oke, Ndah. Ya udah, abang berangkat dulu ya." pamit Haris.


Haris berpamitan sambil memeluk dan mengecup kening ku.


"Iya hati-hati di jalan ya, bang!" balas ku.


"Iya, sayang." jawab Haris.


Haris pun mulai melangkah keluar dari kamar. Setelah kepergian Haris, aku merebahkan diri di atas kasur dan mulai memejamkan mata kembali.


Tak berselang lama, aku pun kembali masuk ke alam mimpi. Beberapa jam kemudian, aku terbangun karena mendengar suara ketukan pintu.


Tok tok tok...


"Wa'laikum salam, ya bentar!" pekik ku.


Aku menjawab salam sembari beranjak dari kasur dan membuka pintu.


"Loh, kok udah pulang, bang? Emang kerjaan nya udah selesai?"


Aku bertanya dengan suara serak dan muka bantal pasti nya.


"Udah, sayang." jawab Haris.


Haris mulai melangkah masuk sambil membawa bungkusan di tangan nya.


"Mandi dulu gih, biar kita makan bareng! Ini udah abang bawakan pesanan mu tadi." perintah Haris.


"Oke siap, bos."


aku menjawab dan memberi hormat pada nya. Haris pun langsung tergelak melihat tingkah ku.


"Hahaha, dasar Indah sableng." ujar Haris.


Aku tersenyum melihat Haris yang sedang tertawa lepas seperti tanpa beban itu.


"Aku senang melihat mu bahagia seperti saat ini, bang." batin ku.

__ADS_1


Aku segera menyambar handuk yang tergantung di belakang pintu, lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai mandi, aku kembali masuk ke dalam kamar lalu memakai celana hotpants dan baju kaos hitam tanpa lengan.


Setelah itu, aku memoles sedikit wajah dengan bedak padat dan lipstik. Kemudian, menyisir dan menguncir rambut panjang ku di depan cermin.


Selesai berdandan, aku langsung duduk bersila di depan Haris sambil membuka bungkusan yang di bawa nya tadi lalu menghidangkan nya.


Setelah makanan terhidang, aku dan Haris pun mulai memakan makanan itu dengan lahap tanpa ada nya percakapan apa pun.


Selesai makan, aku merasa mual dan kepala terasa sedikit pusing. Karena sudah tidak sanggup lagi menahan mual, akhirnya aku pun langsung berlari ke kamar mandi, dan memuntahkan semua isi perut yang baru terisi tadi.


"Uwek uwek uwek."


Keluar lah semua isi perut ku itu di dalam wastafel. Karena melihat aku berlari, Haris mengikuti langkah ku sampai ke kamar mandi. Dia langsung terkejut karena melihat keadaan ku.


"Kenapa, Ndah? Kok bisa muntah-muntah gitu?" tanya Haris.


Haris mulai memijat-mijat pelan tengkuk leher ku.


"Gak tau, bang. Kepala ku juga pusing banget nih."


Aku menjawab pertanyaan Haris sambil terus mengeluarkan isi perut ku di dalam wastafel.


"Kita ke klinik aja ya, Ndah!" ajak Haris.


Aku mengangguk setuju dengan ajakan Haris. Setelah isi perut ku habis terbuang semua di wastafel, Haris pun mulai memapah tubuh ku kembali ke dalam kamar.


Dengan kondisi badan yang lemas, keringat dingin pun mulai membasahi baju ku. Haris langsung mengganti pakaian ku dengan setelan baju tidur. Dia juga memakai kan switer pada ku.


Setelah selesai berganti pakaian, Haris memapah ku keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju lantai satu.


Haris terus memapah tubuh lemas ku, sampai keluar dari pintu gerbang menuju klinik, yang hanya berjarak dua ruko saja dari kos tempat tinggal ku.


Sampai di klinik, Haris memasukkan beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribuan ke dalam saku baju ku.


Setelah itu, aku langsung masuk ke dalam ruangan pemeriksaan. Sedang kan Haris, dia duduk di kursi ruang tunggu yang sudah tersedia di klinik.


Setelah selesai di periksa, dokter langsung menyuntik ku dan memberikan beberapa jenis obat-obatan di dalam kantong plastik kecil.


Setelah selesai, aku langsung membayar tagihan nya dengan uang yang di berikan Haris tadi pada ku.


Selesai membayar, aku langsung keluar dari ruangan dan menghampiri Haris di ruang tunggu, sambil menenteng bungkusan obat di tangan ku.


Melihat ku keluar dari ruangan itu, Haris langsung sigap memapah ku kembali.


"Udah selesai, Ndah?" tanya Haris.


"Udah, bang." jawab ku pelan.


"Ya udah kalo gitu, kita balek sekarang ya!" ucap Haris.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan nya.


__ADS_2