Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Bika Ambon


__ADS_3

"Helehh, udah pandai menggombal sekarang ya, belajar dari mana itu kata-kata manis nya?"


Tanya ku sambil tersenyum sendiri mendengar rayuan maut dari Haris.


"Siapa yang lagi gombal sih, sayang? Abang serius loh, abang memang sangat merindukan mu" jawab Haris penuh penekanan.


"Sama, bang. Aku juga merindukan mu. Bahkan sangat merindukan mu lebih dari yang kau tau." balas ku.


Aku berucap sangat pelan seperti orang yang sedang berbisik-bisik, karena aku malu kalau ucapan ku itu sampai di dengar oleh penumpang bus lain nya.


"Masa sih, serius lah, Ndah! Kamu gak lagi bohong kan, sayang?" tanya Haris tidak percaya.


"Bukan serius lagi, bang. Sepuluh rius malah, hahaha, ups!"


Aku langsung reflek menutup mulut dengan telapak tangan, akibat keceplosan tertawa ngakak sendirian.


"Iya, abang percaya kok, sayang."


"Hoam, udah dulu ya, bang. Nanti kalo udah sampe di rumah nenek aku hubungi lagi. Aku mau tidur dulu bentar, ngantuk banget rasa nya nih mata." ucap ku sambil menguap lebar.


"Oke, sayang. Hati-hati di jalan ya, salam buat keluarga di sana." balas Haris.


"Kalau mau tidur, tas ransel nya letakkan di pangkuan aja, Ndah. Jangan di letakkan sembarangan, takut nya nanti ada copet di dalam bus itu."


Haris mewanti-wanti ku agar lebih berhati-hati di dalam bus.


"Iya, bang. Makasih ya udah ingetin aku. Hampir aja aku lupa, hehehe."


"Ya udah, istirahat lah! Abang pun mau tidur juga nih di kasur empuk kita." balas Haris.


"Oke, bang. Tidur yang nyenyak ya abang ku sayang, assalamualaikum." pamit ku.


"Wa'laikum salam, sayang." balas Haris sebagai penutup panggilan.


"Hah, eneng-eneng wae ulah si semprul satu itu." batin ku.


Aku menghela nafas panjang, sambil membayangkan Haris yang sedang berguling-guling ria di atas kasur ku.


"Hihihi,"


Aku cekikikan sendiri saat mengingat tingkah Haris yang persis seperti ulat bulu haritu.


"Kau lelaki terbaik yang pernah aku kenal, bang. Aku merasa sangat beruntung bisa memiliki mu."

__ADS_1


"Ya walaupun kita belum menjadi pasangan resmi, setidak nya aku merasa sangat bahagia selama bersama mu." batin ku.


"Semoga kau lah yang akan menjadi jodoh ku nanti, amin." doa ku dalam hati.


Setelah selesai menghayal dan menerawang masa depan, aku pun mulai memejamkan mata dan memeluk tas ransel di dada ku.


Beberapa menit kemudian, aku pun mulai terlelap dengan tenang dan damai dengan posisi duduk, dan mendongakkan kepala di sandaran kursi dengan mulut yang sedikit terbuka.


Sedang asyik-asyiknya bermimpi tentang Haris, tiba-tiba ponsel ku berdering nyaring. Suara nya cukup memekakkan telinga bagi yang mendengar nya.


"Ririn,"


Gumam ku setelah melihat nama yang tertera di layar ponsel, yang masih berdering di tangan ku.


"Si kamvret satu ini ngapain pulak kerajinan kali nelpon-nelpon aku?" gerutu ku pelan.


Dengan berat hati dan berat mata, akhirnya aku pun menerima panggilan dari teman koplak ku itu, dengan suara serak khas bangun tidur.


"Ya halo, assalamualaikum." salam ku.


"Wa'laikum salam, sayang ku, cinta ku, sahabat terbaik ku." balas Ririn.


"Woy, kamvret! Sakit lu ya?" pekik ku.


"Ya, siapa tau aja lagi kesurupan mak kunkun." jawab ku asal.


"Enak aja, mana mau mak kunkun hinggap di badan ku. Secara kan badan ku ini banyak susuk nya. Jadi ya mak kunkun mana berani hinggap di badan ku, hahaha!" balas Ririn asal njeplak.


"Dasar, kaleng rombeng! Saking rombeng nya, sampe-sampe mak kunkun pun gak mau hinggap, hihihi." jawab ku.


Aku kembali cekikikan meledek Ririn. Karena saking asyiknya bercanda ria dengan Ririn, aku sampai tidak menyadari kalau penumpang laki-laki yang duduk di seberang ku, juga ikut cekikikan mendengar ocehan receh ku barusan.


Aku pun langsung reflek menoleh pada lelaki itu sambil tersenyum, dan mengangguk kan kepala dua kali tanda meminta maaf atas kebisingan ku.


Lelaki itu pun menjawab dengan mengacungkan jempol nya pada ku sambil tersenyum.


"Udah ah, Ndah. Kok jadi ngebahas si mak kunkun sih." ujar Ririn.


"Lah trus, mau bahas apa an? Tentang mak lampir, mak ijah, atau satria baja hitam aja. Gimana mau gak? Hahaha." balas ku kembali ngakak.


"Dasar, edan! Udah sampe di kampung pun edan nya masih aja di bawa-bawa. Kenapa edan nya gak di tinggal aja sih disini?" balas Ririn sewot.


"Ya udah deh aku ngalah, nanti si edan nya aku transfer kan khusus untuk mu ya, hihihi." balas ku.

__ADS_1


"Ogah, aku gak mau si edan. Aku mau nya Bika Ambon." jawab Ririn.


"Oalah, mau Bika Ambon aja kok pake acara muter-muter segala ngomong nya." cibir ku.


"Siapa yang muter-muter? Di kira aku ini gasing apa?" balas Ririn ketus.


"Ya, mungkin aja." balas ku santai.


"Oh Indah, sohib ku yang cantik, yang manis, yang baik hati, yang imut-imut kayak marmut. Pokoknya Semua-mua lah, jangan sampe lupa ya sama Bika Ambon ku." rayu Ririn.


"Dikit kali muji nya, masih kurang banyak tuh. Masih belom lengkap semua nya!" balas ku.


"Yaelah, lampir. Gak bersyukur banget sih nih bocah! Udah di puji-puji segitu banyak nya pun masih aja minta nambah." gerutu Ririn semakin kesal.


"Ya, iya lah. Bika Ambon itu harga nya mahal tau, jadi ya harus sesuai lah dengan pujian nya." balas ku.


"Kalo muji nya cuma segitu aja sih, kalo itu di uang kan baru dapat setengah dari harga Bika Ambon nya." lanjut ku lagi.


"Bah, perhitungan betul nih orang! Nyesel pun aku jadi nya udah muji-muji kau tadi, hahaha." balas Ririn tertawa terbahak-bahak.


"Siapa juga yang nyuruh kau muji aku, dodol!" balas ku.


"Iya juga, sih." jawab Ririn pasrah.


"Udah ah, aku mau tidur lagi nih. Orang lagi enak-enak tidur malah di ganggu. Aku masih di dalam bus nih. Nanti kalo udah santai di rumah, aku hubungi balek." ujar ku.


"Oke lah kalo gitu, jangan lupa Bika Ambon ku ya, cayang. Assalamualaikum." salam Ririn menutup percakapan.


"Wa'laikum salam," balas ku.


"Ganggu mimpi indah ku aja bocah gendeng satu ini!"


Aku menggerutu sambil menutup mata kembali. Selang beberapa menit, aku pun kembali tertidur dan menyambung kembali mimpi yang sempat tertunda tadi.


Setelah kurang lebih tiga jam perjalanan dari bandara Kualanamu, bus yang aku tumpangi pun berhenti di terminal.


Aku yang sedari tadi terlelap, akhir nya terbangun karena mendengar suara berisik dari para penumpang bus lain nya.


Mereka semua saling mengantri untuk turun dari bus sambil membawa barang dan koper masing-masing.


Aku yang masih dalam keadaan setengah sadar karena mengantuk pun, langsung beranjak dari kursi dan ikut mengantri di antara mereka.


Aku menenteng koper dan menyampirkan tas ransel di pundak. Setelah turun dari bus, aku celingukan kesana kemari mencari kendaraan khas kota Medan, yaitu becak motor.

__ADS_1


__ADS_2