
Masih dengan pikiran yang masih linglung, aku pun bangkit dari kasur dan membersihkan diri di kamar mandi.
Setelah selesai, aku pun bergegas memakai pakaian dan dan berdandan ala kadarnya. Saat hendak memakai sepatu, tiba-tiba ponsel ku kembali berdering.
Kring kring kring...
"Ck, siapa lagi sih? Gak tau apa, kalau orang lagi sibuk gini?" gerutu ku sembari merentangkan tangan ke arah meja untuk mengambil ponsel.
Kening ku pun langsung mengkerut, saat melihat nama Billy yang tertera di layar ponsel tersebut.
"Ck, gerandong satu ini mau ngapain lagi sih telpan-telpon terus? Bikin darah tinggi ku kumat aja." gerutu ku semakin kesal.
"Ya halo, ada apa lagi sih gerandooong? Ganggu aja kerjaan nya." omel ku setelah menerima panggilan dari Billy.
"Aku udah di depan kamar kos mu nih. Tapi kok pintu nya di gembok?" tanya Billy heran.
"Oiya, aku lupa ngasih tau kalau aku udah pindah kos. Sorry ya bro, aku bener-bener gak ingat, hehehe." balas ku.
"Huuuuu, dasar pikun!" umpat Billy kesal.
Aku hanya cengar-cengir mendengar umpatan lelaki tampan tersebut.
"Cepat kirimkan alamat mu, biar aku meluncur sekarang." desak Billy.
"Oke," balas ku lalu menutup panggilan, dan mengetik alamat kos baru ku.
Setelah itu, aku pun mengirimkan alamat itu kepada Billy. Setelah melihat centang biru pada pesan yang aku kirim, aku pun menyimpan ponsel itu ke dalam tas ransel yang sudah aku siap kan.
Selesai memakai sepatu dan menyampirkan tas ke pundak, aku pun melangkah keluar dari kamar lalu mengunci pintu kembali. Setelah itu, aku kembali melangkah melewati lorong untuk menuju ke pintu gerbang.
Setibanya di tempat tujuan, ternyata Billy sudah menunggu ku di atas motor besar nya. Aku sempat tertegun melihat penampilan Billy yang terlihat macho, dengan kemeja putih dan senyuman maut nya.
"Widiih, ganteng bener si beruang kutub satu ini." ledek ku lalu datang menghampiri nya.
"Ya iya lah, siapa dulu orang nya. Billy gitu loh, hahaha." balas Billy sembari tergelak.
"Huuuuu, dasar norak! Baru di puji dikit aja langsung kepedean tingkat dewa." gerutu ku sembari menepuk bahu kekar nya.
"Harus dong, apa lagi di puji sama orang kita cintai, pasti seneng banget rasa nya, ups." balas Billy lalu reflek menutup mulut nya.
Saking asyiknya bersenda gurau dengan ku, sampai-sampai Billy tidak sadar kalau dia sudah keceplosan, mengungkapkan isi hati nya pada ku.
"Hayo, ketahuan sekarang ya! Kayak nya ada yang diam-diam menyukai ku nih." sindir ku sembari tersenyum dan bersidekap di depan nya.
Wajah Billy langsung memerah seperti kepiting rebus, saat mendengar sindiran ku barusan. Dia pun cengar-cengir salah tingkah, sambil menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal.
"Udah ah, gak usah di bahas lagi. Ayo buruan naik, mumpung masih pagi nih." seru Billy mengalihkan pembicaraan.
"Ciye ciye, lagi kasmaran niyeee." ledek ku lalu naik ke atas motor, dan memeluk erat tubuh nya dari belakang.
"Hush, berisik!" balas Billy.
__ADS_1
Kemudian dia pun menyalakan mesin motor nya, dan menjalankan kendaraan roda dua nya itu menuju hotel.
Tak butuh waktu lama, kami berdua pun sudah tiba di halaman gedung hotel. Setelah memarkirkan motor nya, Billy pun menggenggam tangan ku untuk berjalan bersama nya.
Setelah mendapatkan kunci dari resepsionis, kami berdua pun kembali berjalan dan menaiki anak tangga untuk menuju ke lantai dua.
Sesampainya di depan kamar, Billy langsung membuka pintu dan membawaku masuk ke dalam. Setelah mengunci pintu rapat-rapat, Billy pun langsung memeluk ku dari belakang lalu berkata...
"Akhirnya, aku bisa mendapatkan mu juga, Ndah. Aku pikir, itu cuma jadi khayalan ku saja. Tapi ternyata tidak, keinginan ku selama ini akhirnya keturutan juga." bisik Billy sembari mencium tengkuk leher ku.
"Emang sejak kapan kau ngayalin aku?" selidik ku.
"Udah lama sih sebenarnya. Dari sejak kau masuk kerja dulu, aku sudah menaruh hati pada mu." jawab Billy.
"Bahkan aku juga sering mengkhayal untuk menjadi pacar mu. Dan saat aku ingin mengungkapkan isi hati ku itu, nyali ku langsung menciut, saat mengetahui kau sudah punya pacar."
Jelas Billy, lalu memutar badan ku untuk menghadap pada nya. Billy menatap wajah ku dengan mata sendu nya.
"Aku mencintai mu, Ndah. Sangat mencintai mu." ujar Billy lalu mendekatkan wajah nya, dan mencium bibir ku dengan lembut.
Aku tidak menjawab ungkapan hati nya tersebut. Aku hanya memejamkan mata dan menikmati permainan lidah nya di dalam mulut ku.
Setelah beberapa menit saling bertukar air liur, Billy pun mulai menghentikan kegiatan nya, lalu mengangkat tubuh ku ala bridal style.
Sesudah membaringkan ku ke atas, Billy pun melanjutkan kegiatan nya kembali, dan aku pun menyambut nya dengan senang hati.
"Ndah, aku boleh melakukan nya sekarang gak?" bisik Billy.
"Serius?" tanya Billy.
"Iya, serius." jawab ku kembali menganggukkan kepala.
Mendengar jawaban ku, Billy pun langsung tersenyum lebar hingga menampilkan deretan gigi putih nya.
Tanpa bertanya apa-apa lagi, Billy pun langsung melancarkan aksinya. Dia mulai membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuh ku dan juga di tubuh nya.
Setelah keadaan kami sama-sama polos tanpa sehelai benang pun, Billy langsung menindih ku dan kembali menciumi wajah, bibir, dan juga leher ku dengan gairah yang menggebu-gebu.
Selesai mencumbui ku, Billy pun langsung menghentakkan tombak sakti nya ke dalam milik ku, dan mulai melakukan gerakan nya dengan sedikit kasar. Hingga membuat ku meringis, menahan rasa sakit dan nikmat yang bercampur aduk jadi satu.
Aku dan Billy memadu kasih dengan nafas yang naik turun tidak karuan, dan keringat yang membasahi seluruh tubuh kami berdua. Suara desah*n kenikmatan pun mulai menggema, di setiap sudut ruangan kamar hotel tersebut.
Setelah berpacu selama kurang lebih satu setengah jam, Billy pun semakin mempercepat gerakan nya. Hingga akhirnya, kami berdua pun memuncak secara bersamaan.
"Aku mencintaimu, sayang!"
Pekik Billy dengan tubuh yang menegang dan kepala yang mendongak ke atas. Setelah menyemburkan cairan bening nya ke dalam rahim ku, Billy pun langsung menjatuhkan tubuh basah nya di samping ku.
Denah nafas yang masih sesak, Billy memiringkan tubuh nya lalu mengecup kening ku sambil berucap...
"Makasih ya, Ndah. Makasih atas kesempatan hari ini." ujar Billy.
__ADS_1
"Ya," jawab ku singkat lalu bangkit dari ranjang, dan melangkah masuk ke kamar mandi.
Sesudah membersihkan diri, aku pun duduk di tepi ranjang lalu menyalakan rokok. Begitu juga dengan Billy, dia membersihkan diri ke kamar mandi lalu duduk di sebelah ku, dengan handuk yang melilit di pinggang nya.
"Ndah, aku boleh nanya tentang pacar mu gak?" tanya Billy.
"Boleh, emang apa yang ingin kau ketahui tentang dia?" tanya ku balik sambil menghisap rokok.
"Hmmmm, gimana hubungan kalian sekarang? Apakah masih baik-baik saja?" tanya Billy.
"Masih, emang kenapa?" tanya ku lagi.
Aku sengaja berbohong pada Billy, agar dia tidak menaruh harapan dengan ku. Aku tidak ingin mengecewakan hati seseorang lagi. Karena aku sadar, aku bukan lah wanita baik-baik.
Aku hanya seorang wanita kotor yang bergelimang dosa, yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan banyak uang, termasuk menjual kehormatan ku sendiri.
"Oh, gak kenapa-kenapa kok. Kirain kalian udah pisah, soal nya tempo hari aku pernah melihat pacar mu bawa cewek ke tempat kerja kita." jawab Billy.
"Ya, aku tau itu. Ririn juga pernah cerita sama aku. Kalau pacar ku sama cewek lain." ujar ku santai.
"Lah, udah tau toh, kirain belum tau. Tapi aku perhatiin, seperti nya mereka akrab banget. Kayak orang lagi pacaran gitu." jelas Billy.
"Biarin aja lah, gak usah ngurusin dia lagi. Nanti kalau dia udah bosan, pasti balik lagi kok." oceh ku.
"Iya sih, tapi kalau dia gak balek lagi, aku siap kok jadi pengganti nya." ujar Billy sambil tersenyum manis pada ku.
Aku kembali terdiam dan menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Karena tidak ada komentar apa pun dari ku, Billy pun kembali melanjutkan perkataannya.
"Kok diem, Ndah? Kenapa, kau gak mau ya berhubungan dengan ku?" tanya Billy.
Mendengar pertanyaan Billy, aku pun langsung menoleh sekilas,lalu kembali menatap lurus ke depan. Sambil mengisap rokok, aku pun menjawab kata-kata nya tersebut.
"Bukan nya gak mau, tapi aku merasa gak pantas aja berhubungan dengan mu." jawab ku.
"Kau kan tau sendiri, kalau aku sering gonta-ganti pasangan. Aku ini hanya wanita hina yang tidak pantas untuk kau cintai. Lebih baik, kau cari saja wanita baik-baik untuk menjadi kekasih mu, asal jangan aku." lanjut ku.
Billy membuang nafas kasar, lalu mengacak-acak rambut nya sendiri. Dia tampak gusar dan kecewa atas penolakan ku barusan.
"Tapi, Ndah..."
Sebelum Billy meneruskan ucapan nya, aku pun langsung memotong nya dengan cepat.
"Ssstttt, gak ada tapi-tapian lagi!" ujar ku sambil meletakkan jari telunjuk ku di bibir nya.
"Keputusan ku sudah bulat, dan tidak bisa di ganggu gugat lagi. Aku berkata seperti ini, karena aku sayang dengan mu, Bil. Aku tidak ingin mengecewakan mu nanti nya." lanjut ku.
"Jangan cintai aku, Bil. Karena aku bukan wanita baik untuk mu." tambah ku.
Mendengar semua kata-kata ku, mata Billy pun langsung berembun. Dia mengecup kening ku dan memeluk tubuh ku dengan sangat erat.
"Apakah cinta ku ini salah, Ndah?" tanya Billy.
"Tidak, bukan cinta mu yang salah, tapi sasaran cintai mu yang salah." jawab ku.
__ADS_1