Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Gagal Maning


__ADS_3

Melihat pemandangan yang sangat mengejutkan di depan mata nya, bang Rian pun langsung melepaskan pelukan Billy dari tubuh ku, lalu berucap...


"Heh heh heh, lepasin! Enak aja main sosor punya orang, yang seharusnya meluk dia itu aku, bukan kau." omel bang Rian ketus.


Mendapat perlakuan seperti itu dari bang Rian, Billy pun langsung tersenyum kecut dan menggaruk-garuk kepala nya.


"Hehehe, maaf bang. Aku reflek, soalnya aku seneng banget Indah sudah sadar." tutur Billy.


"Seneng sih seneng, tapi ya gak gitu juga kali." cibir bang Rian.


Aku yang sedari tadi hanya diam memperhatikan kedua lelaki itu pun, mulai membuka suara dan menengahi perdebatan mereka.


"Udah udah, kenapa jadi pada berantem sih, kayak bocah aja." gerutu ku kesal.


"Bukan berantem, sayang. Tapi abang cuma ngingetin dia aja, kalau dirimu itu milik abang." jelas bang Rian.


"Sama aja lah itu." balas ku tetap kekeuh dengan pendapat ku.


"Ya beda lah, mana pulak sama." bantah bang Rian tak mau kalah.


"Ya ya ya, terserah abang aja lah situ." balas ku pasrah.


Aku memutar bola mata malas, lalu mengalihkan pandangan ku ke arah Billy. Sedangkan yang di pandang, ia hanya cengar-cengir melihat perseteruan ku dan bang Rian, sambil sesekali mengerlingkan mata nya pada ku.


Melihat pandangan mata ku ke arah Billy, bang Rian pun tidak tinggal diam. Ia langsung menarik ku ke dalam dekapan nya, lalu menciumi bibir ku di depan Billy.


Dan itu berhasil membuat Billy geram, lalu memalingkan wajah nya ke samping. Ia mengepalkan tangan nya, dan juga mengeraskan rahang nya sambil sesekali melirik kearah kami.


Karena merasa tidak enak hati dengan Billy, aku pun berusaha melepaskan diri dari ciuman dan dekapan bang Rian.


"Lepasin, iiiiihhh! Malu di lihat orang." ujar ku.


Mendengar ucapan ku, bang Rian pun langsung menghentikan aksinya, lalu mengalihkan pandangannya kepada Billy dan berkata...


"Bro, kamu pulang aja gih! Aku mau bersenang-senang dulu sama wanita kesayangan ku ini." usir bang Rian tanpa rasa canggung sedikit pun.


Mata langsung membulat sempurna, mendengar perkataan bang Rian yang cukup kasar menurut ku. Begitu pun dengan Billy, wajah nya langsung berubah masam lalu menatap ku dengan pandangan yang tidak biasa.


Billy seolah-olah sedang meminta pembelaan ku dari tatapan mata nya. Aku yang sudah paham akan maksud nya itu pun, langsung menyikut perut bang Rian, sembari berucap...


"Abang apa-apaan sih? Gak boleh ngomong kayak gitu sama orang, pantang tau gak?" omel ku.


"Pantang apa nya sih, sayang kuuu? Abang kan cuma nyuruh dia pulang, bukan ngomong yang macem-macem." bantah bang Rian.


Bang Rian kembali menarik tubuh ku ke dalam pelukan nya. Ia juga mendaratkan kecupan-kecupan kilat di seluruh wajah ku, tanpa memperdulikan ekspresi wajah Billy yang semakin cemberut melihat tingkah nya tersebut.


Karena sudah tidak sanggup lagi melihat pemandangan yang sangat menyakitkan di depan mata nya, Billy pun akhirnya memutuskan untuk pamit undur diri.


"Ekhem ekhem," Billy berdehem sambil terus memandangi kami berdua.


Mendengar suara kode Billy, aku pun langsung reflek melepaskan pelukan bang Rian, dan sedikit menjaga jarak dari nya.


"Ndah, sebaiknya aku pulang aja ya. Takut nya mengganggu kesenangan kalian disini." ujar Billy sambil melirik ke arah bang Rian dengan ekor mata nya.


"Loh, kok pulang sih? Kita kan baru aja nyam..."


Belum sempat aku meneruskan kata-kata ku, tiba-tiba bang Rian memotong nya dengan cepat.


"Udah lah, sayang. Biarin aja dia pulang, biar kita bisa ehem-ehem." ujar bang Rian sembari tersenyum dan mengerlingkan mata nya pada ku.


Melihat kelakuan genit bang Rian, Billy pun tampak semakin kesal dan gerah. Kemudian ia pun segera bangkit dari duduk nya, dan berkata...


"Oke lah, aku balek dulu ya Ndah, bye!" pamit Billy.


Melihat wajah kecewa Billy, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa. Aku menyetujui keputusan nya, lalu berdiri di hadapan nya.


"Ya udah, hati-hati di jalan ya!" balas ku.


Lalu aku pun mengantar Billy sampai ke depan pintu kamar. Sebelum pergi, Billy menoleh ke belakang dan berpamitan kepada bang Rian.


"Bro, aku balek dulu ya! Kalian lanjutin aja senang-senang nya. Oke, bye!"


Ujar Billy sembari tersenyum kecut, dan membentuk jari nya menjadi huruf O ke arah bang Rian.


"Oke, sip." balas bang Rian.

__ADS_1


Kemudian ia pun mengacungkan jempol nya pada Billy, dan merebahkan tubuh nya di atas kasur.


Selesai berpamitan, Billy pun melanjutkan langkah nya menuju pintu. Sesudah memakai sepatu, Billy pun menatap ku dengan wajah sendu nya.


"Aku balek ya, Ndah. Sampai ketemu di tempat kerja nanti." pamit Billy.


"Iya, hati-hati di jalan ya!" balas ku sembari tersenyum manis pada nya.


"Iya, sayang." balas Billy.


Setelah itu, Billy pun melirik ke arah bang Rian yang sedang sibuk mengotak-atik ponsel nya, dan tiba-tiba "cup" Billy mengecup kilat bibir ku. Lalu ia pun lari kocar-kacir meninggal kan ku begitu saja di depan pintu.


Aku hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala menatap kepergian nya.


"Billy... Billy... Ada-ada saja tingkah nya." gumam ku.


Setelah bayangan Billy menghilang dari pandangan ku, aku pun melangkah masuk dan mengunci pintu kembali.


"Udah pergi dia, sayang?" tanya bang Rian, lalu meletakkan ponsel nya di atas meja kecil yang berada di samping kasur.


"Udah," jawab ku.


Aku membaringkan diri di sebelah bang Rian, dan menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang.


"Kasihan juga lihat Billy tadi. Dia pasti kecewa banget dengan kejadian hari ini." batin ku sedikit gelisah, karena memikirkan perasaan Billy saat ini.


"Siapa pun orang nya, pasti akan merasa sedih dan terluka. Jika melihat orang yang di cintai bercumbu mesra dengan orang lain." lanjut ku menduga-duga tentang hati Billy.


Melihat keterdiaman ku, bang Rian pun bangkit dari kasur dan membuka baju kemejanya, hingga menyisakan kaos oblong tanpa lengan berwarna putih di tubuh kekar nya.


Setelah itu, ia pun kembali naik ke atas kasur dan memeluk ku ke dalam dekapan hangat nya. Sambil mengecup pucuk kening ku, ia pun kembali membuka suara.


"Ada apa, sayang? Kok bengong gitu?" tanya bang Rian penasaran.



"Gak ada apa-apa. Lagi pengen diem aja." jawab ku.


"Bohong, pasti lagi mikirin sesuatu. Ya kan, ngaku aja deh! Abang sudah mengenal mu bukan sehari dua hari aja Ndah, tapi sudah beberapa bulan. Jadi sedikit banyak nya, abang sudah mulai hafal dengan sifat dan tingkah laku mu sehari-hari." tutur bang Rian.


"Kenapa nengokin abang kayak gitu? Apa ada yang salah dengan kata-kata abang tadi?" tanya bang Rian sembari menautkan kedua alisnya.


Aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban, lalu kembali menenggelamkan wajah ku ke dada bidang nya.


"Bang, mata ku ngantuk banget nih. Kita bobok aja yok, hoamm!" bisik ku sambil menguap selebar-lebar nya.


"Yaaaaahh, kok bobok sih! Abang kan mau minta jatah, kenapa malah ngajak bobok?" ujar bang Rian lirih.


Setelah mendengar kekecewaan bang Rian, aku pun langsung membujuknya dengan cara mengecup pipi dan juga bibir nya. Kemudian mempererat pelukanku ke tubuh nya, dan berkata...


"Minta jatah nya nanti aja ya, sayang. Sekarang kita bobok dulu. Apa abang gak kasihan, lihat mata ku yang sudah lima watt ini?" oceh ku, lalu memandang wajah bang Rian dengan mata yang hampir tertutup.


Mendengar celotehan ku, bang Rian pun langsung menoleh dan menatap mata ku dalam-dalam. Setelah beberapa saat memperhatikan ku, bang Rian pun menghela nafas berat, lalu berucap...


"Ya udah deh, sekali ni abang ngalah aja. Sekarang kita istirahat dulu ngumpulin tenaga, biar nanti lebih hot dan bersemangat main nya." tutur bang Rian pasrah.


"Yups, betul sekali. Anak pintar, hihihi." ledek ku sembari cekikikan, dan mengacak-acak rambut nya.


Bang Rian langsung tersenyum sumringah mendengar ledekan ku barusan. Ia semakin mempererat pelukannya dan mengecup kening ku kembali.


"Oke, sekarang kita bobok ya?" ujar bang Rian.


"Iya," balas ku.


Setelah melewati drama yang cukup panjang, akhirnya kami berdua pun mulai memejamkan mata masing-masing. Tak lama kemudian, aku dan bang Rian pun tertidur pulas dengan posisi yang saling berpelukan di bawah di atas kasur.


Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, hingga tanpa sadar hari pun sudah mulai sore. Setelah tertidur selama hampir tiga jam, aku pun mulai membuka mata perlahan.


Setelah mengucek-ngucek mata dan menguap beberapa kali, aku pun melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul lima sore.


"Waduh, ini mata ku yang salah lihat, atau jam nya yang salah ya?" gumam ku tidak percaya dengan penglihatan ku sendiri.


Aku pun kembali mengucek mata, dan mempertajam pandangan ku ke arah jam dinding


"Oalah, ternyata emang beneran udah sore." lanjut ku

__ADS_1


Lalu aku pun menoleh ke samping, dan memandangi wajah teduh bang Rian yang tampak masih setia dengan mimpi indah nya. Karena tidak ingin mengganggu tidur nya, aku pun bangkit dari kasur dengan sangat perlahan dan berhati-hati.


Merasa ada pergerakan, bang Rian langsung membuka mata nya dan menarik ku ke dalam pelukan nya.


"Hayo, mau kemana?" tanya bang Rian dengan suara serak khas bangun tidur.


"Loh, kok udah melek aja nih orang? Perasaan, tadi aku lihat masih merem mata nya." gumam ku dengan kening mengkerut.


"Sebenarnya, abang udah kebangun dari tadi. Tapi karena abang lihat dirimu masih molor, jadi ya abang ikut molor lagi deh, hehehe " jelas bang Rian sembari tersenyum tipis.


"Ooohhh, begono toh. Kirain emang belum bangun." balas ku.


Setelah itu, kami berdua pun terdiam sejenak. Aku dan bang Rian sibuk dengan pikiran dan lamunan masing-masing. Setelah beberapa saat hening, bang Rian pun berbisik di telinga ku.


"Jadi gimana, sayang?" tanya bang Rian.


"Gimana apa nya?" tanya ku bingung.


"Jatah abang loh, sayaaaang. Masa gitu aja lupa sih? Dasar, pikun!" ledek bang Rian lalu mencubit ujung hidung ku.


Setelah mendengar penuturan bang Rian, aku pun langsung teringat akan janji yang sudah ku ucapkan sebelum tidur tadi.


"Oooohh, itu toh. Kirain tadi apaan, hehehe." balas ku sembari nyengir kuda.


"Maklum aja lah, bang. Nama nya juga sekilo kurang satu ons. Jadi ya gini ini, sering terkena gejala amnesia dadakan, hahahaha." canda ku lalu tertawa terpingkal-pingkal.


"Huuuuu, dasar gendeng!" umpat bang Rian lalu mencubit gemas kedua pipi ku.


Mendapat cubitan mendadak di pipi ku, aku pun berpura-pura kesakitan lalu menjerit dengan suara melengking.


"ADOOOOH! Sakit, baaang!" pekik ku sambil memegangi pipi ku.


"Halah, lebay. Masa di pegang dikit aja, langsung jerit-jerit gitu? Kayak orang lagi di perkaos aja." cibir bang Rian, lalu memajukan bibir tebal nya ke depan.


"Ya kan biar ada ekspresi nya gitu, hehehe." balas ku sembari cengar-cengir salah tingkah.


"Dasar, bocah edan!"


Umpat bang Rian sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala nya. Ia tampak sangat terhibur melihat kelakuan dan tingkah aneh ku. Selesai bersenda gurau, bang Rian pun menagih janji ku kembali.


"Jadi gimana? Apakah sudah bisa di mulai?" tanya bang Rian.


"Apa nya yang di mulai?" tanya ku pura-pura bingung.


"Helehh, gak usah pura-pura amnesia lagi deh. Gak bakalan mempan, tau gak?" cibir bang Rian.


"Lah, di tanya betul-betul kok malah sewot, aneh?" gerutu ku.


Aku memalingkan wajah ke samping, lalu berpura-pura merajuk pada nya. Melihat reaksi ku seperti itu, bang Rian pun langsung naik ke atas tubuh ku, dan merentangkan kedua tangan ku lalu berucap...


"Mau satu jam, atau dua jam?" tanya bang Rian dengan senyum menyeringai di wajah nya.


"Lima menit aja." jawab ku asal.


"Whaaaattt? Apa abang gak salah denger? Lima menit?" pekik bang Rian dengan mata terbelalak lebar.


"Iya, lima menit. Emang kenapa, apa ada yang salah dengan ucapan ku?" tanya ku masih dengan mode kepura-puraan.


"Ya gak bisa gitu dong, sayang! Untuk pemanasan aja gak cukup kalau cuma lima menit. Masa dirimu tega sih, cuma ngasih waktu lima menit doang?" omel bang Rian.


Saat sedang asyik berdebat, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.


Tok tok tok...


"Lampiiiirr, buka pintu nya! Aku bawa makanan nih, kita makan bareng yok!" pekik Ririn sambil terus mengetuk-ngetuk pintu kamar ku.


Aku dan bang Rian pun saling pandang-pandangan satu sama lain, ketika mendengar suara cempreng Ririn, sahabat koplak ku tersebut.


"Ck, baru aja mau mulai. Eeehh, udah datang aja si pengganggu." gerutu bang Rian kesal.


Kemudian ia pun turun dari tubuh ku, dan menjatuhkan diri nya di sebelah ku. Sedangkan aku, aku hanya senyam-senyum mendengar ocehan nya. Ia terlihat sangat kesal dan jengkel dengan kehadiran Ririn.


"Sabar, sayang. Nanti kita lanjutin lagi ya!" bujuk ku lalu mencium kilat bibir nya dan membukakan pintu untuk Ririn.


"Hadehh, gagal maning...gagal maning... Apes banget sih hari ini." gerutu bang Rian semakin kesal, dan menghembuskan nafas kasar berulang-ulang.

__ADS_1


__ADS_2