Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Aku Rela


__ADS_3

Aku dan bang Rian berjalan beriringan menuju salah satu bangku yang masih kosong. Setelah sampai, kami berdua pun bersebelahan menghadap laut lepas.


"Mau makan gak, sayang?" tanya bang Rian.


Aku yang sedang asyik menikmati keindahan pantai pun langsung menoleh, ketika mendengar suara bang Rian.


"Boleh lah, perut ku juga udah mulai keroncongan nih." jawab ku.


"Oke, tunggu bentar ya!" balas bang Rian, lalu celingukan kesana kemari mencari pelayan.


"Ya," balas ku, dan kembali memandangi laut yang sangat indah.



Setelah itu bang Rian pun memekik, memanggil salah satu pelayan yang sedang berdiri tidak jauh dari meja kami.


"MAS, SINI!" panggil bang Rian sembari melambaikan tangan nya.


"Oke, bang." jawab si pelayan laki-laki itu, sambil mengacungkan jempol nya.


Dengan langkah cepat, pelayan itu datang menghampiri kami dengan membawa buku menu di tangan nya.


"Silahkan, bang!" ujar si pelayan dengan ramah, lalu menyerahkan buku menu itu ke tangan bang Rian.


"Oke," balas bang Rian.


Setelah beberapa saat melihat-lihat buku menu itu, bang Rian pun beralih kepada ku, lalu bertanya...


"Kamu mau makan apa, sayang?" tanya bang Rian.


"Samain aja kayak pesanan abang." jawab ku.


"Oh, oke." balas bang Rian.


"Mas, saya pesan Ayam panggang dua, ikan bakar dua, sotong goreng tepung satu, kentang goreng satu, sama jus jeruk dua." ujar bang Rian kepada si pelayan.


"Oke siap, di tunggu ya, bang!" balas si pelayan.


"Oke," balas bang Rian, lalu menyerahkan buku menu itu kembali ke tangan si pelayan.


Aku membelalakkan mata, ketika mendengar pesanan bang Rian yang terlalu banyak menurut ku.



"Abang mau ngasih makan satu RT ya? Kok banyak bener mesen nya?" canda ku sembari menyunggingkan senyum termanis ku pada nya.


"Hehehe, biar sekalian kenyang maksud nya."


Jawab bang Rian sambil cengar-cengir, lalu mencubit gemas ujung hidung ku. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah aneh lelaki ku itu.


Sambil menunggu makanan tiba, bang Rian meletakkan tangan nya di pundak ku dan menyandarkan kepala ku di bahu nya. Sedangkan tangan yang satu lagi, menggenggam erat jari jemari ku.


"Gimana, sayang? Kamu suka gak sama tempat ini?" tanya bang Rian.


"Suka pake banget." jawab ku sembari tersenyum sumringah.

__ADS_1


"Syukur lah kalau begitu, abang jadi seneng denger nya." balas bang Rian, sembari mengelus-elus rambut ku dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Dalam suasana romantis seperti itu, aku dan bang Rian pun sama-sama terdiam dan hanyut dalam lamunan masing-masing.


Saat sedang asyik menikmati keindahan alam, tiba-tiba aku tersentak karena mendengar suara dering ponsel yang sedang memekik dari saku celana ku.


Kring kring kring... Kring kring kring...


"Haduh, kaget aku." gumam ku sembari menghela nafas, lalu merogoh saku celana untuk mengambil ponsel.


Aku memutar bola mata malas, setelah melihat nama ayah yang tertera di layar ponsel, yang sedang menyala di tangan ku. Melihat reaksi ku yang sedang terdiam, bang Rian pun menatap ku bingung, lalu bertanya...


"Kok gak di angkat? Emang siapa yang nelpon?" selidik bang Rian.


"Ayah," jawab ku tanpa menoleh pada nya.


Aku mengarahkan pandangan ku ke lautan luas, sambil terus memegangi ponsel yang sedang berdering itu.


Enggan rasa nya hati ini menerima panggilan dari ayah, karena aku sudah bisa menebak maksud dari panggilan nya tersebut, apa lagi kalau bukan masalah uang.


"Angkat lah, siapa tau ayah mu butuh sesuatu." ujar bang Rian.


"Ayah itu gak butuh apa-apa, bang. Dia hanya butuh satu aja, yaitu uang."


Jawab ku lirih, sambil terus menatap laut dengan pandangan menerawang. Mendengar jawaban ku, Bang Rian pun menghela nafas panjang, lalu membelai-belai rambut ku kembali.


"Angkat aja dulu, mana tau beliau ingin mengatakan sesuatu." desak bang Rian masih tetap kekeuh dengan usulan nya.


Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya dengan berat hati aku pun menerima panggilan itu, dan mengaktifkan pengeras suara nya.


"Halo, assalamualaikum yah." salam ku.


"Ada apa, yah?" tanya ku langsung to do point.


Ayah tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak, beberapa saat kemudian ia pun kembali bersuara.


"Hmmmm, kau ada pegang uang gak, Ndah?" tanya ayah dengan nada ragu.


"Hah, uang? Bukan nya baru beberapa hari yang lalu aku kirim kan satu juta, kenapa udah minta lagi?" tanya ku heran dengan mata terbelalak lebar.


Aku sangat terkejut mendengar penuturan ayah, yang sudah menanyakan tentang uang lagi kepada ku. Sedangkan baru sekitar tiga atau empat hari yang lalu, aku mengirimkan uang kepada nya. Dan sekarang, ayah malah meminta nya lagi.


"Hmmmm, itu anu..."


Ayah menggantung kata-kata nya. Ia tampak ragu untuk mengungkapkan nya pada ku.


"Itu anu apa, yah?" desak ku tidak sabar.


Aku mendengar helaan nafas ayah berulang-ulang. Setelah beberapa detik terdiam, ayah pun kembali bersuara.


"Uang yang kemaren sudah habis buat bayar kontrakan, listrik, dan air." jawab ayah lirih.


"Kalau semua nya udah di bayar, trus untuk apa ayah nanyain uang lagi?" selidik ku penasaran.


"Hmmmm, untuk... untuk..." lagi-lagi ayah menggantung ucapan nya.

__ADS_1


Aku memandangi hamparan laut sambil terus mendengarkan ucapan ayah. Sedangkan bang Rian, dia juga sama seperti ku, memandang ombak yang sedang bergulung-gulung di tengah lautan lepas.


"Untuk belanja bulanan, Ndah. Beras, sayur-sayuran, gula, gas dan isi kulkas, semua nya sudah pada habis." lanjut ayah.


Aku menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskan nya dengan kasar. Aku tidak habis pikir, kemana habis nya uang yang sudah aku kirim berjuta-juta pada nya.


Karena tidak ingin bertengkar dengan ayah di depan bang Rian, akhirnya aku pun mengalah dan bertanya kepada beliau.


"Emang ayah perlu uang nya berapa?" tanya ku sembari memijat-mijat kening yang mulai berdenyut nyeri.


Ya, kepala ku selalu berdenyut sakit, setiap kali menerima panggilan dari ayah. Bukan hanya kepala ku yang terasa sakit, tapi juga hati dan perasaan ku.


"Tiga juta," jawab ayah dengan enteng nya.


Mendengar kata tiga juta, aku langsung memekik dengan mata membulat sempurna.


"APA, TIGA JUTA?" teriak ku.


Saking kuat nya suara ku, sampai-sampai membuat bang Rian terlonjak kaget saat mendengar nya.


"Ssstttt, suara nya di kecilin dikit dong, sayang! Malu di dengar orang." bisik bang Rian sembari menempel kan jari telunjuk nya di bibir ku.


Aku tidak menghiraukan ucapan bang Rian. Aku kembali melanjutkan percakapan ku dengan ayah.


"Aku gak ada uang sebanyak itu, yah. Aku belum gajian." ujar ku tegas.


"Masa segitu aja gak ada sih? Trus kami bertiga mau makan apa di sini, kalau kau tidak mengirimkan uang itu?" tanya ayah tanpa rasa bersalah sedikit pun pada ku.


"Ngutang aja dulu di warung. Nanti kalau aku udah gajian, baru di bayar." usul ku.


"Gak lah, ayah malu ngutang-ngutang di warung. Ayah gak mau jadi bahan ceritaan orang-orang sini." balas ayah.


Ayah menolak mentah-mentah usulan ku. Ia tidak ingin menjadi bahan gunjingan orang sekitar nya, hanya karena berhutang di warung.


"Kalau ayah malu, ya udah tahan kan aja sampe aku gajian." ujar ku kesal.


"Ya gak bisa dong. Emang nya kau tega, melihat kami bertiga kelaparan disini?" tanya ayah.


Aku tidak menjawab pertanyaan ayah, aku malah melontarkan pertanyaan yang sama kepada beliau.


"Begitu juga dengan ku, yah. Apa ayah tega melihat ku disini kelaparan, gara-gara gak megang uang sepeser pun?" tanya ku dengan mata yang mulai berembun.


"Apa ayah juga tega, melihat ku kerja siang malam untuk memenuhi kebutuhan kalian, tanpa memperdulikan kesehatan ku sendiri?" lanjut ku.


Air mata yang sedari tadi aku tahan, kini akhirnya menetes dan membasahi kedua pipi ku. Aku menangis dalam diam, sambil terus memandangi lautan yang ada di depan ku.


Melihat lelehan air mata ku, bang Rian pun langsung menarik ku ke dalam dekapan nya. Ia mengambil tisu yang ada di atas meja, lalu mengusapkan nya ke pipi ku.


"Udah, gak usah di bantah lagi. Turuti aja permintaan ayah mu itu." bisik bang Rian.


Ia tampak tidak tega, ketika melihat air mata ku yang terus saja mengalir di wajah pucat ku. Sedangkan ayah, beliau tidak membalas perkataan ku. Ayah diam seribu bahasa, setelah mendengar penuturan ku.


Setelah beberapa saat sama-sama terdiam, aku pun kembali membuka percakapan dengan ayah.


"Oke lah yah, nanti aku kabari lagi. Kalau uang nya sudah ada, nanti aku kirimkan." ujar ku.

__ADS_1


"Ya udah kalo gitu, tapi jangan lama-lama ya! Ayah gak mau ngutang kesana-kesini lagi. Ayah tu malu, tau gak?" tutur ayah dengan penuh peringatan.


"Ya, aku akan usahakan secepatnya. Walau pun aku jual diri, aku rela demi kebahagiaan kalian semua." balas ku lalu memutuskan panggilan sepihak, tanpa menunggu jawaban dari ayah.


__ADS_2