Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Kerumah Pak Ustadz


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, taksi yang kami tumpangi pun berhenti di sebuah rumah sederhana, yang di kelilingi oleh pepohonan yang cukup rimbun.


"Makasih ya, bang." ucap Ririn sembari menyerahkan ongkos ke tangan si sopir taksi.


"Oke sama-sama, kak." balas nya.


"Ayo turun, Ndah! Kita udah sampai nih." ajak Ririn.


"Iya," balas ku.


Aku menoleh pada Rara yang sedang melamun memandangi rumah yang akan kami datangi itu.


"Ayo, Ra!" ajak ku pada Rara.


"Eh iya, Ndah." balas Rara sedikit terkejut mendengar suara ku.


Setelah keluar dari mobil, sang sopir taksi pun mulai melajukan kendaraannya kembali ke jalan raya. Aku dan Rara celingukan kesana kemari, memperhatikan sekeliling rumah yang ada di hadapan kami tersebut.


"Ayo, kita kesana!" seru Ririn pada ku dan Rara.


Saat Ririn hendak melangkah kan kaki nya, aku langsung reflek menarik lengan Ririn dengan kuat. Sehingga membuat Ririn sedikit terpental ke belakang.


"Eh, dodol. Kau itu ngajak kami ke rumah ustadz atau ke rumah dukun sih? Horor banget tempat nya." tanya ku dengan suara pelan.


"Iya, tengok nih! Lengan ku aja sampe merinding kayak gini." sambung Rara menimpali ucapan ku.


Rara memperlihatkan lengan nya yang sudah tampak meremang, kepada ku dan Ririn.


"Ya ke rumah ustadz lah, Ndah. Gak mungkin lah aku bawa kalian ke rumah dukun, aneh-aneh aja." jawab Ririn.


"Tapi kok serem gini sih tempat nya, Rin? Ya kan, Ndah?" tanya Rara meminta pendapat ku.


"Iya, bener apa kata Rara, Rin." balas ku.


"Udah, gak usah pada berisik! Ayo buruan kita kesana sekarang!" balas Ririn.


Ririn menarik tangan ku dan juga tangan Rara secara paksa. Dia membawa kami berdua menuju rumah horor tersebut.


Sampai di depan pintu, Ririn pun langsung mengetuk nya beberapa kali sembari mengucapkan salam.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum," ucap Ririn.


"Wa'laikum salam," balas seseorang dari dalam.


Tak lama kemudian, pintu pun terbuka lebar dan tampak lah sosok lelaki paruh baya berbadan besar, dan cukup tampan menurut ku.


Lelaki itu berdiri tegak di hadapan kami bertiga, sembari menyunggingkan senyum manis nya. Dia memakai peci hitam di atas kepala nya, dan juga tasbih di tangan kanan nya.


"Pak ustadz, ini teman saya yang kemarin saya ceritakan itu." jelas Ririn menunjuk ke arah Rara.


"Oh iya, mari silahkan masuk!" balas pak ustadz.


"Iya makasih, pak." jawab kami serempak.


Aku Ririn dan Rara melangkah masuk ke dalam, dan duduk di kursi kayu yang berada di ruang tamu.


Sedangkan pak ustadz, dia bergegas pergi ke arah belakang, lalu kembali lagi dengan membawa sebotol air mineral kemasan, yang masih tampak baru dan masih berlabel.

__ADS_1


Setelah mendudukkan dirinya di hadapan kami bertiga, pak ustadz pun langsung membuka tutup botol air mineral itu, lalu dia membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan mata terpejam.


Setelah selesai, pak ustadz memberikan air itu kepada Rara sembari berucap...


"Kamu minum air ini sampai habis setengah botol! Trus sisa nya, kamu percik-percikan ke setiap sudut kamar mu." titah pak ustadz.


Rara menerima air mineral itu dengan wajah bingung. Dahi nya mulai tampak mengeluarkan keringat. Rara seperti ketakutan melihat air yang ada di dalam botol plastik tersebut.


"A-air nya di minum sekarang atau nanti, pak ustadz?" tanya Rara gugup.


"Sekarang, nanti sisa nya kamu lakukan seperti yang saya bilang tadi!" jawab pak ustadz.


"Oh gitu, oke pak ustadz." balas Rara.


Rara langsung meneguk air itu sampai habis setengah. Kemudian dia menutup botol plastik itu, dan menyimpan nya ke dalam tas selempang nya.


Aku dan Ririn hanya berdiam diri, sembari memperhatikan gelagat Rara yang tampak biasa-biasa saja, setelah meneguk air mineral itu.


"Sering-seringlah membaca ayat suci Al-Quran di dalam kamar mu itu! Agar setan atau pun jin yang ada di sana, tidak mengganggu mu lagi." ucap pak ustadz.


"Iya, pak ustadz. Insya Allah, saya akan melaksanakan perintah dari pak ustadz." jawab Rara.


Aku sangat penasaran dengan keadaan Rara. Aku ingin sekali mengetahui, apa yang sudah terjadi dengan sahabat ku itu. Karena saking penasaran nya, aku pun memberanikan diri untuk bertanya kepada pak ustadz.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan teman kami ini, pak ustadz? Kenapa akhir-akhir ini sikap nya berubah?" tanya ku.


"Oh itu, ada seseorang yang ingin menguasai dirinya. Orang itu menggunakan pengasihan untuk menjerat teman kalian ini." jelas pak ustadz.


"HAH! Beneran, pak ustadz? Emang nya orang itu siapa sih, pak ustadz?" tanya ku lagi.


"Saya tidak bisa mengatakan siapa orang nya. Tapi nanti kalian juga bakalan tau sendiri kok." jawab pak ustadz.


"Ooohh, gitu!" gumam ku sedikit kecewa dengan jawaban pak ustadz barusan.


Kami bertiga menggelengkan kepala masing-masing. Setelah itu, Ririn pun membuka suara nya.


"Kalau tidak ada pertanyaan lagi, kalian bertiga sudah boleh pulang sekarang! Tapi ingat, kalau terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, kalian harus membawa teman kalian kesini lagi!" ucap pak ustadz.


"Oke, pak ustadz. Kalau begitu kami permisi dulu ya, pak ustadz! Assalamualaikum," pamit Ririn.


Ririn menyodorkan amplop putih di atas meja, lalu Ririn pun mengatupkan kedua tangan nya di dada. Begitu juga dengan ku dan Rara, kami berdua mengatupkan kedua tangan di dada sembari mengucapkan salam.


"Wa'laikum salam," balas pak ustadz mengangguk kan kepala nya.


Kami bertiga beranjak dari tempat duduk masing-masing, lalu berjalan menuju pintu utama. Pak ustadz mengikuti langkah kami dari belakang, dan berdiri di depan pintu rumah nya.


Setelah melihat kami sudah berjalan agak jauh, pak ustadz pun menutup pintu nya kembali.


Sesampainya di pinggir jalan raya, aku pun menyuruh Ririn untuk memesan taksi online.


"Rin, pesan taksi nya sekarang!" titah ku.


"Oke, Ndah." balas Ririn sembari mengotak-atik ponsel nya.


"Udah dapat belum, Rin?" tanya ku lagi.


"Udah, Ndah. Ntar lagi nyampe kok." jawab Ririn.


"Oh, udah kalo gitu." balas ku.

__ADS_1


"Heh, kamvret! Kau kok diam aja dari tadi? Lagi kesambet kau ya, hihihi?" ledek Ririn menyenggol lengan Rara.


Mendengar ledekan Ririn, Rara pun langsung memasang wajah masam dengan bibir yang mengerucut.


Melihat ekspresi wajah Rara yang sedang cemberut seperti itu, Ririn pun kembali menggoda Rara sembari menoel-noel dagu nya.


"Ciyeee, ngambek niyeee!" ledek Ririn.


"Iiihhhh, apa an sih." balas Rara menepis tangan jahil Ririn.


"Udah udah, jangan pada berisik! Taksi nya udah datang nih, ayo kita masuk!" ucap ku.


Aku menengahi perdebatan mereka sembari menunjuk ke arah mobil hitam, yang sudah terparkir di depan kami bertiga. Aku masuk duluan ke dalam mobil, lalu di susul oleh Ririn dan Rara.


"Eh, udah nyampe rupanya! Ayo kita masuk, Ra!" seru Ririn menarik tangan Rara.


"Iya," balas Rara.


Setelah kami bertiga masuk ke dalam mobil, sang sopir pun mulai melajukan kendaraan roda empat nya menuju ke arah kos-kosan Ririn. Tak butuh waktu lama, akhirnya kami pun tiba di tempat tujuan.


"Kau turun duluan ya, Ra! Kami mau nyari kos-kosan dulu." ucap Ririn.


"Loh, kok nyari kos-kosan?" tanya Rara bingung.


"Iya, aku mau pindah dari sini." jawab Ririn.


"Oh, ya udah deh. Hati-hati di jalan, ya!" balas Rara sembari keluar dari mobil dan melambaikan tangan nya.


"Iya," balas Ririn.


"Ayo kita jalan, bang!" titah Ririn kepada sang sopir taksi.


"Oke, kak." jawab nya.


Setelah mendapatkan perintah dari Ririn, sang sopir pun menjalankan mobil nya kembali ke arah taman kota.


"Kita nyari kos-kosan nya di daerah mana, Rin?" tanya ku.


"Daerah sekitaran tempat kerja kita aja, Ndah! Biar gak jauh kali nanti aku pergi kerja nya." jawab Ririn.


"Oh, gitu. Pintar juga kau ya milih tempat tinggal. Biar gak keluar uang terus buat bayar ojek, iya kan?" tebak ku.


"Hahahaha, tu tau." gelak Ririn.


Beberapa menit kemudian, kami pun sudah tiba di taman kota. Setelah membayar ongkos, aku dan Ririn pun bergegas keluar dari mobil, dan berjalan menyusuri toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan.


Saat melewati rumah makan, aku pun menghentikan langkah dan menarik lengan Ririn yang sedang berjalan di samping ku.


"Kita makan dulu yok, Rin! Perut ku udah keroncongan nih dari tadi." bisik ku di telinga Ririn.


"Loh, kau lapar ya, Ndah? Kok gak ngomong dari tadi, dodol!" balas Ririn menepuk bahu ku.


"Hehehe, aku lupa. Ini baru aja ingat, karena melihat makanan yang ada disitu." balas ku.


Aku menunjuk ke arah steling kaca besar, yang menampilkan berbagai macam lauk pauk di dalam nya.


"Dasar pikun, masa ngisi perut sendiri aj bisa lupa, aneh!" cibir Ririn.


"Gak usah pake acara ngomel-ngomel segala, kamvret! Kau mau ikut makan ke dalam, atau mau nungguin di luar sini aja?" tanya ku.

__ADS_1


"Ya pasti ikut lah, ogah banget di suruh nungguin di luar!" oceh Ririn.


"Oh kirain, hihihi." balas ku sembari cekikikan.


__ADS_2