Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Pertemuan Yang Menegangkan


__ADS_3

Walaupun sudah di cibir dan di usir dengan kata-kata yang cukup menyakitkan kan, Haris tetap tidak goyah atau pun menyerah. Dia masih terus mengganggu ketenangan ku dan juga Ririn.


"Jangan gitu lah, sayang. Masa pacar sendiri di bilang badak sih, sadis banget!" gerutu Haris sambil memanyunkan bibir nya.


"Tega nian hati mu menghiris hati ku. Tidak kah di hati mu punya perasaan. Sampai nya hati mu, membuat aku rindu. Dimanakah janjimu yang setia..."


Haris menyanyikan lagu "Sampai Hati" yang di populerkan oleh Inka Cristy, dengan suara yang cukup amburadul menurut ku. Ririn hanya senyam-senyum mendengar suara fals sambil melirik ke arah Haris.


Sedangkan aku, aku menutup kedua telinga ku sambil memejamkan mata, lalu menyuruh Haris untuk menghentikan nyanyian jelek nya.


"Stop stop stop! Suara kayak kaleng rombeng aja, sok-sokan nyanyi segala. Bikin gendang telinga ku korslet aja." omel ku lalu membungkam mulut Haris dengan telapak tangan ku.


"Hahahaha," gelak Ririn.


Ririn yang sedari hanya senyam-senyum, kini malah tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah ku dan Haris. Dia tampak sangat terhibur dengan kelakuan kami berdua.


Sedangkan Haris, dia langsung terdiam dan tertunduk malu di tempat duduk nya. Melihat Haris yang sudah diam, aku pun menarik tangan ku dari mulut nya dan kembali membeo.


"Suara mu memang bagus sih, tapi lebih bagus lagi kalau diam." sindirku ketus.


Mendengar suara ku yang sedang menyindir nya, Haris pun langsung mendongak dan menatap ku dengan kening mengkerut.


"Iiiisss, jahat betul lah mulut mu itu. Masa udah di angkat tinggi-tinggi, langsung di hempaskan ke gitu aja. Hancur lah hati abang, dek." gerutu Haris dengan nada manja.


"Bodo amat." balas ku cuek.


Melihat kejutekan ku pada Haris, Ririn pun mempunyai ide untuk melontarkan pertanyaan iseng kepada kekasihku itu.


"Bang Haris, cewek yang pernah abang bawa kesini haritu mana? Kok gak di bawa lagi?" tanya Ririn pura-pura heran.


Wajah Haris langsung pucat pasi, setelah mendapat pertanyaan nyeleneh dari Ririn. Dia tampak gelagapan dan sedikit gelisah di atas kursi nya.


Karena tidak mendengar jawaban Haris, aku pun menoleh pada nya dan menyikut lengan nya, sambil berkata...


"Heh, gerandong! Di tanyain tuh sama Ririn. Kok gak di jawab sih? Budeg kuping mu ya?" tanya ku sambil terus menatap wajah pucat Haris.


"Iya iya, aku dengar kok. Enak aja bilangin orang budeg, kuping ku ini bersih tau gak. Tiap hari aku bersihin pake cutton bud." jawab Haris ketus.


"Ya iya lah pake cutton bud, gak mungkin pake linggis. Aneh-aneh aja nih orang." cibir ku.

__ADS_1


"Hahahaha, bener juga ya, Ndah! Pintar juga kau rupanya, salut aku." gelak Ririn lagi.


Tawa Ririn kembali pecah, mendengar celotehan kami berdua. Dia menopangkan dagu nya di atas kedua telapak tangan nya di atas meja, lalu memandangi ku dan juga Haris secara bergantian.


"Ssstttt, berisik!" ujar ku pada Ririn, sambil meletakkan jari telunjuk di bibir ku.


"Ups, sorry. Kagak sengaja gua suer deh, hihihi." balas Ririn sambil menutup mulut nya sendiri.


Wajah Haris semakin masam mendengar ledekan kami berdua. Dia terlihat sangat kesal dan jengkel, karena terus mendapatkan kata-kata yang cukup membuat emosi, bagi siapapun yang mendengar nya.


Sedang asyik-asyiknya memberi pelajaran kepada Haris, tiba-tiba datang satu mobil dan parkir tepat di samping kantin.


Setelah mobil hitam itu terparkir rapi, tampak lah empat orang lelaki gagah nan tampan keluar dari mobil tersebut.


Mata ku langsung terbelalak lebar, saat melihat dua orang yang sangat ku kenal di antara mereka, yaitu bang Hendra dan Alex.


"Aduh, mati aku. Kenapa sih, kedua cecunguk itu datang di waktu yang gak tepat gini? Bikin pening kepala otak ku aja." gerutu ku dalam hati.


Haris memanjangkan leher nya, untuk melihat keempat lelaki tampan yang sedang berjalan menuju meja kami bertiga. Sedangkan aku, aku hanya menunduk lesu, sambil memilin-milin ujung kemeja putih ku.


Ririn yang sudah hafal dengan wajah bang Hendra dan Alex pun, langsung menoleh pada ku, lalu berkata...


Ujar Ririn ceplas-ceplos, tanpa memperdulikan wajah lelaki yang sedang duduk di sebelah ku, dengan wajah cemberut nya.


Mendengar omongan Ririn yang asal njeplak, aku pun langsung mendongak dan menatap wajah sok polos nya itu, dengan mata yang membulat sempurna.


Aku memberi kode kepada Ririn, dengan memiringkan bibir ku ke arah Haris. Melihat pergerakan bibir ku, Ririn pun langsung reflek menutup mulut nya dengan mata terbelalak lebar.


Ririn tampak sangat terkejut, saat melihat wajah horor Haris yang sudah seperti zombie penghisap darah.


Kami bertiga terdiam sejenak, dan saling pandang-pandangan satu sama lain. Dan tiba-tiba...


"Hai sayang ku, cinta ku, my honey swetty ku, apa kabar? Abang kangen banget sama mu sayang, udah lama juga kita gak ketemu."


Sapa bang Hendra yang sudah berdiri tegak di samping ku, dengan senyum mengembang di wajah nya. Tanpa rasa canggung ataupun malu, bang Hendra langsung merangkul pundak ku, dan mendarat kecupan nya di atas kepala ku.


Aku terlonjak kaget seketika, saat mendapat perlakuan yang secara tiba-tiba dari bang Hendra. Begitu juga dengan Ririn dan Haris. Mereka berdua tampak sangat syok, dengan perlakuan bang Hendra pada ku.


Sedangkan Alex dan dua teman lain nya, mereka bertiga berdiri di belakang ku dengan wajah datar nya.

__ADS_1


"Ka-kabar baik, bang. A-abang mau ngapain kesini?" tanya ku gugup.


"Emang mau ngapain lagi, kalau bukan untuk menemui mu seorang. Ayo kita minum bentar, siap tu kita langsung ke hotel!"


Seru bang Hendra dengan enteng nya, tanpa memperdulikan lima pasang mata, yang sedang memandangi nya dengan tatapan aneh.


Aku langsung tersentak kaget, mendengar kata hotel yang terucap dari bibir bang Hendra. Aku melirik ke arah Haris, yang tampak sedang menahan emosi sambil mengeraskan rahangnya.


"Haduuuh, gimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Mana muka Haris serem banget lagi. Hadehh, puyeng otak ku jadi nya." gerutu ku dalam hati.


Sedangkan Ririn, dia hanya plonga-plongo melihat ketegangan antara aku dan Haris. Karena tidak mendapat jawaban dari ku, bang Hendra pun kembali membuka suara nya.


"Kok malah diem sih, sayang? Ayo kita minum ke dalam!" seru bang Hendra lagi.


Bang Hendra menarik tangan ku, dan ingin membawa ku ke dalam ruangan karaoke. Tapi sebelum itu terjadi, Haris langsung berdiri dari kursinya, dan melepas paksa tangan bang Hendra dari pergelangan tangan ku.


"Heh, bro! Jangan sembarangan nyentuh-nyentuh pacar orang, apa lagi sampe di bawa ke hotel segala. Sampe kapan pun, aku gak akan biarkan kalian berdua pergi ke hotel, ingat itu!" ujar Haris penuh penekanan.


Mendengar kata-kata peringatan dari Haris, semua mata pun langsung tertuju kepada nya, termasuk aku.


"Emang nya kau siapa, hah? Berani-beraninya melarang ku seperti itu?" tanya bang Hendra ketus sambil berkacak pinggang di depan Haris.


"Ooohhh, kau belum tau siapa aku ya? Oke, aku akan memperkenalkan diri pada mu, dan pada kalian bertiga." jawab Haris sambil menunjuk ke arah Alex dan kedua teman nya.


"Perkenalkan, nama ku Haris. Aku pacar Indah, wanita yang akan kau bawa ke hotel ini." ujar Haris lalu menunjuk pada ku.


Alex yang sedari tadi hanya diam pun, langsung menjawab ucapan Haris dari belakang kursi ku.


"Hah, serius? Jadi laki-laki ini pacar mu, Ndah?" tanya Alex terkejut.


Bang Hendra hanya berdiam diri di tempat nya. Dia tampak anteng dan cuek, tidak menghiraukan kata-kata yang baru saja di lontarkan oleh Haris pada nya.


Mendengar pertanyaan Alex, aku pun langsung menoleh pada nya, lalu menggelengkan kepala dua kali, sambil berkata...


"Bukan, dia bukan pacar ku. Tapi mantan pacar." jawab ku.


Aku mengalihkan pandangan kepada Haris, dan menatap tajam pada nya.


"Kita udah putus, jadi jangan pernah lagi mengaku-ngaku sebagai pacar ku, paham!" ujar ku kepada Haris.

__ADS_1


__ADS_2