
"Udah siap, bang. Ayok, kita jalan sekarang!"
Aku langsung menggandeng lengan Haris dan kami berdua pun mulai melangkah keluar keluar. Setelah mengunci pintu, aku dan Haris kembali melangkah menuju ke lantai satu.
Sesampainya di parkiran, kami berdua pun langsung masuk ke dalam mobil. Lalu Haris pun mulai menjalankan kendaraan nya ke jalan raya, menuju loket tempat pembelian tiket.
Sampai di lokasi, aku segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam ruangan loket travel itu sendirian.
Sedangkan Haris, dia hanya menunggu ku di dalam mobil. Karena aku sengaja melarang nya untuk ikut masuk ke dalam.
Setelah selesai membeli tiket, aku kembali masuk ke dalam mobil dan Haris pun mulai melajukan kendaraan nya kembali dengan kecepatan sedang.
"Kapan berangkat nya, Ndah?" tanya Haris membuka percakapan.
"Besok, bang." balas ku.
"Naik pesawat apa?" lanjut Haris.
"Pesawat Citilink." balas ku.
"Oh," Haris hanya ber oh menanggapi jawaban ku.
Tak lama kemudian, kami pun tiba di depan gerbang kos kembali. Setelah memarkir mobil nya, aku dan Haris pun turun bersamaan.
Haris langsung menggenggam tangan ku, dan kami berdua pun berjalan beriringan ke dalam gedung berlantai tiga tersebut.
Sampai di dalam kamar, Haris langsung merogoh saku celana panjang nya. Dia mengeluarkan seikat uang pecahan lima puluh ribuan, dari dalam saku celana panjang nya.
"WAH, banyak banget uang nya, bang." ujar ku.
Mata ku langsung berbinar cerah saat melihat uang yang ada di depan ku. Manik mata ku yang semula berwarna hitam, kini berubah menjadi ijo karena pemandangan yang sangat indah itu. Dasar Indah matre, hahaha...
"Ini uang untuk biaya selama di sana ya, sayang." tutur Haris.
Haris menyerah kan uang itu ke tangan ku. Aku pun langsung gercep ( gerak cepat) menerima nya, sambil memasang wajah bahagia dan senyum yang mengembang tentu nya.
Karena saking bahagianya, aku reflek memeluk Haris dan menciumi kedua pipi nya. Dan yang terakhir, aku mencium kilat bibir tipis nya.
Setelah itu, aku melepaskan pelukan ku dari tubuh Haris sambil tertunduk malu. Haris hanya tersenyum melihat tingkah nyeleneh ku barusan.
"Makasih banyak ya, bang." ujar ku.
__ADS_1
"Ya udah, abang balek dulu ya, sayang. Nanti agak sore abang kesini lagi. Malam ini kerja kamu gak?" tanya Haris.
"Gak, bang. Aku udah minta cuti dua minggu semalam." jawab ku jujur.
"Oh, oke lah kalo gitu. Jangan nakal-nakal ya di dalam kamar, nanti malam kita akan tidur bareng sampe pagi." balas Haris.
"Iya, abang kuu." balas ku.
Haris berpamitan sambil memeluk dan mengecup kening ku. Aku pun membalas nya dengan mengecup kilat bibir nya.
"Ups, sorry. Gak sengaja, bang. Hihihi." balas ku.
Aku terkikik geli melihat reaksi Haris yang langsung terpaku di tempat, karena mendapatkan kecupan kilat dari ku.
Tanpa pikir panjang lagi, Haris pun langsung menciumi bibir ku dengan memba*i buta. Aku pun langsung menyambut dan membalas ciumannya dengan lembut dan mesra.
Setelah beberapa menit melakukan ciuman panas, Haris pun mulai merenggang kan pelukan nya.
"Ya udah, abang pergi sekarang ya, Ndah." pamit Haris.
Haris berpamitan kembali sambil melambaikan tangan nya pada ku. Aku pun membalas lambaian nya dengan senyuman yang sumringah.
"Oke, bang. Hati-hati di jalan ya!" balas ku.
Setelah kepergian Haris, aku kembali mengunci pintu kamar dan merebahkan diri di atas kasur empuk ku.
"Terima kasih, ya Allah. Engkau telah hadir kan lelaki sebaik Haris untuk hamba mu yang hina ini." gumam ku.
"Alhamdulillah, makasih ya, bang." lanjut ku lagi.
Aku bergumam sambil terus tersenyum menatap langit-langit kamar. Aku menggenggam erat uang dari Haris dan mendekap nya di dada ku.
Setelah beberapa saat menerawang, aku beranjak dari kasur dan membuka lemari pakaian, lalu menyimpan uang pemberian Haris bersama dengan tiket pesawat yang aku beli tadi.
"Semoga perjalanan ku besok berjalan dengan lancar tanpa halangan apa pun, amin." gumam ku pelan.
Tidak terasa malam pun tiba. Terdengar suara adzan magrib yang mulai berkumandang di seluruh penjuru kota Batam. Aku langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwhudu.
Setelah itu, aku segera menunaikan kewajiban ku di dalam kamar. Selesai shalat, aku mengambil koper yang berada di atas lemari pakaian, dan mulai memasukkan pakaian yang akan aku bawa besok.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga." gumam ku lega.
__ADS_1
Aku langsung meletakkan koper itu di sudut samping lemari. Setelah semua nya beres, aku duduk melantai sambil menyalakan rokok.
"Nek, aku akan pulang." batin ku.
Aku berucap dalam hati dan kembali menghisap rokok yang ada di tangan ku sambil merenung. Aku menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong melompong.
Sekitar kurang lebih satu jam menghayal, aku tersentak kaget karena mendengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok tok tok...
"Siapa sih, ganggu orang lagi menghayal aja." gerutu ku kesal.
Aku ngedumel sambil berdiri dan membuka pintu. Setelah pintu terbuka lebar, aku langsung terpana melihat seseorang yang ada di hadapan ku. Dia menenteng bungkusan yang cukup besar di tangan kanan nya.
"Apa itu, bang? Gede banget bungkus nya?" tanya ku penasaran.
Ya, seseorang yang datang itu adalah Haris. Lelaki yang sangat aku cintai, lelaki yang sudah menemani hari-hari ku selama hampir satu tahun di kota Batam ini.
"Ini oleh-oleh untuk di bawa pulang kampung besok, sayang." jawab Haris.
Haris menyerah bungkusan itu ke tangan ku, dan aku pun langsung menerima nya dengan senang hati.
"Makasih ya, bang." balas ku.
"Iya, sama-sama. Udah makan blom?" tanya Haris.
Haris bertanya sambil melangkah masuk ke dalam kamar, dan duduk selonjoran di tepi kasur. Aku pun turut mengekori nya dari belakang dan duduk di samping nya.
"Belom, aku sengaja nungguin abang datang. Mau makan bareng abang di luar." jawab ku.
"Oh gitu, ya udah siap-siap lah! Kita berangkat sekarang, mumpung belum terlalu malam." titah Haris.
"Oke, bentar ya!" balas ku.
Aku segera beranjak dan berganti pakaian. Lalu memoles sedikit wajah ku agar terlihat lebih fresh dan segar. Agar tidak tampak pucat pasi seperti mayat hidup.
Ya wajah ku memang selalu terlihat pucat dan kusam, jika tidak di poles dengan sedikit bedak dan lipstik.
Itu karena efek dari bergadang setiap malam dan meminum minuman keras setiap hari, sehingga membuat wajah ku layu kusam dan pucat.
Setelah selesai merapikan diri, aku segera menghampiri Haris yang masih setia duduk di tepi kasur, sambil terus memandangi ku saat sedang merias diri tadi.
__ADS_1
"Ayok, bang!" ajak ku.
Mendengar ajakan ku, Haris langsung berdiri dan berjalan keluar kamar. Aku pun mengikuti langkah nya dari belakang sambil mengunci pintu kamar.