Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Si Pengganggu


__ADS_3

Setibanya di lokasi kerja, aku dan Ririn segera mengisi absen, lalu lanjut mengisi perut ke kantin.


"Mau makan apa, Ndah?" tanya Ririn lalu mendudukkan diri di bangku plastik yang sudah tersedia.


"Kau sendiri mau makan apa?" tanya ku balik.


"Entah lah, aku pun bingung mau makan apa?" balas Ririn.


"Hmmmm, gimana kalau kita makan kodok goreng aja, mau gak?" ujar ku asal.


"Iiiiissss, gilak kau ya. Kayak gak ada makanan lain aja, hiiiiii." umpat Ririn sembari bergidik ngeri.


Tawa ku langsung pecah, melihat ekspresi wajah Ririn yang tampak sangat geli mendengar usulan aneh ku tadi.


"Hahahaha, aku kan cuma ngasih saran sih. Kalau gak mau ya sudah, aku gak maksa kok." balas ku.


"Saran sih saran, tapi ya gak gitu juga kaleee." oceh Ririn.


"Ya udah deh, kita makan ayam bakar aja ya, mau gak?" usul ku lagi.


"Naaah, kalau itu sih aku mau." balas Ririn menyetujui usulan ku.


"Oke, biar aku aja yang mesan. Kau duduk manis aja disini." ujar ku lalu beranjak dari kursi dan berjalan menuju steling jualan.


Selesai memesan makanan, aku kembali duduk di tempat semula, dan mulai mengotak-atik ponsel. Mata Ririn langsung terbelalak lebar, saat melihat ponsel baru yang ada di tangan ku.


"Ciyee, ponsel baru niyee." ledek Ririn lalu menyambar ponsel itu dari tangan ku.


Ririn membolak-balik kan ponsel ku, dan mulai mengotak-atik nya tanpa meminta persetujuan ku terlebih dahulu.


"Woy, kamvret! Gak sopan banget sih jadi orang. Udah kayak jambret aja kau, main sambar barang orang." umpat ku lalu merampas paksa ponsel itu dari tangan Ririn.


"Yaelah, cuma nengok doang aja gak boleh. Pelit banget sih lu." cibir Ririn sembari memanyunkan bibir nya.


"Itu nama nya bukan nengok, tapi ngerampok, dodol." umpat ku lagi.


"Ya lah, suka hati kau lah situ. Mau bilangin aku ngerampok kek, jambret kek, maling kek, bodo amat." oceh Ririn.


"Hahaha, sadar diri juga dia rupanya." lanjut ku sembari tertawa ngakak.


Ririn tampak sangat kesal dengan ocehan-ocehan receh ku. Dia memasang wajah masam dengan bibir mengerucut. Melihat wajah nya yang tidak enak di pandang, aku pun kembali berceloteh pada nya.


"Udah, gak usah pake acara merajuk segala. Udah jenggotan gitu pun, tingkah nya masih aja kayak bocil, hihihi." ledek ku sembari cekikikan.


"Mana ada jenggotan, ngarang aja muncung mu itu." bantah Ririn ketus.


"Loh, kok gak ada sih? Emang barang mu yang setumpuk itu gak ada jenggot nya ya?" tanya ku iseng.


"Ya ada sih, lebat malah, hahaha." gelak Ririn.


"Iiiisss, jorok banget nih bocah. Di cukur lah, biar gak lebat gitu. Apa gak risih punya hutan semak belukar gitu, hiiiiii."

__ADS_1


Oceh ku sambil bergidik ngeri, membayangkan yang aneh-aneh tentang milik sahabat koplak ku itu. Melihat reaksi ku yang terlihat jijik, Ririn pun hanya tersenyum dan kembali menjawab ocehan ku.


"Males lah, untuk apa di cukur? Malah mau aku panjangin sampe sejengkal, biar bisa di smoting, hahaha." jawab Ririn kembali tergelak.


"Huuuuu, dasar bocah edan! Makin lama kok makin gak beres aja otak mu itu." umpat ku sembari melempar gulungan tisu ke wajah Ririn.


"Ya...kan biar unik gitu, looohh. Biar beda dari yang lain, hehehe." balas Ririn cengar-cengir.


"Ya ya ya, suka-suka kau lah situ." balas ku ketus.


Aku hanya geleng-geleng kepala, menanggapi kegilaan manusia yang ada di hadapanku itu.


"Ngomong-ngomong, itu ponsel dari siapa? Trus ponsel yang lama kemana, kau buang ya?" selidik Ririn.


"Ini dari bang Rian, kalau yang lama udah hancur." jawab ku santai.


Ririn terlonjak kaget setelah mendengar jawaban ku. Dia menautkan alisnya, dan memandangi ku dengan tatapan penuh tanda tanya.


"HAH, hancur? Kok bisa? Emang nya kau apain sih tuh ponsel, makanya bisa hancur gitu? Kau gigitin ya?" tebak Ririn.


"Hush, sembarangan! Kau pikir aku ini tikus apa, pake gigit-gigit barang segala?" omel ku sembari menoyor jidat Ririn.


"Ya siapa tau aja kau lapar. Trus kau khilaf, hehehe." balas Ririn sambil menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal.


Sedang asyik bercanda ria dengan Ririn, tiba-tiba Haris pun datang, dan berdiri tepat di belakang ku.


Melihat kehadiran Haris, mata Ririn langsung membulat sempurna. Dia tampak sangat terkejut dengan mulut yang menganga lebar.


"Heh, gombreng! Kau lagi nengokin apa sih? Nengok hantu ya?" tanya ku asal.


Bukan nya menjawab, Ririn hanya menggeleng-gelengkan kepala nya, lalu menunjuk ke arah belakang ku dengan memajukan bibir nya.


Aku mengikuti arah bibir Ririn lalu menoleh ke belakang. Setelah itu, aku memutar bola mata malas, saat melihat Haris yang sedang berdiri tegak dengan senyum aneh nya.


"Halaaah, dia maneh." batin ku kesal.


Karena tidak mendapat respon apapun dari ku, akhirnya Haris pun memutuskan untuk duduk di kursi kosong yang ada di sebelah ku.


"Hai sayang, apa kabar?" sapa Haris sembari tersenyum manis pada ku.


"Kabar buruk." jawab ku ketus tanpa menoleh sedikit pun pada nya.


Melihat perang dingin yang akan terjadi antara aku dan Haris, Ririn pun berinisiatif untuk berpindah tempat duduk.


"Hhhmmm, sebaiknya aku pindah di sana aja ya, Ndah. Biar kalian lebih leluasa ngomong nya." tutur Ririn lalu bangkit dari kursi nya.


"Gak usah, kau duduk disini aja. Lihat tuh, makanan kita udah datang!" seru ku.


Aku mencengkeram kuat lengan Ririn, lalu menunjuk ke arah pelayan kantin, yang sedang berjalan menuju meja kami dengan dua nampan di tangan nya.


"Tapi kan kalian mau..." Ririn menjeda ucapan nya, lalu melirik ke arah Haris.

__ADS_1


"Udah, gak usah pake tapi-tapian lagi. Pokoknya kau harus tetap disini aja, titik!" balas ku tegas.


Ririn menghela nafas panjang, lalu kembali duduk di kursinya. Dia tampak gelisah dan sedikit canggung, karena kehadiran Haris di tengah-tengah kami.


"Maaf ya kak, jadi nunggu lama. Soal nya tadi nyiapin pesanan orang dulu."


Ujar si pelayan kantin, sambil menata makanan dan minuman di atas meja kami. Mendengar permintaan maaf dari si pelayan, aku pun langsung menyunggingkan senyum, lalu berkata...


"Ya gak papa mbak, woles aja." balas ku.


Pelayan itu pun tersenyum, dan berlalu pergi dari hadapan kami bertiga.


"Ayo buruan makan, mumpung masih anget!" seru ku pada Ririn, tanpa memperdulikan Haris yang sedang plonga-plongo di sebelah ku.


"I-iya," jawab Ririn gugup, lalu kembali melirik ke arah Haris.


Karena merasa tidak dipedulikan oleh ku, Haris pun kembali membuka suara nya.


"Loh, kok cuma Ririn aja sih yang di ajak makan?" protes Haris sambil terus menatap wajah ku dari samping.


Aku sama sekali tidak menghiraukan ucapan Haris. Aku tetap acuh pada nya, lalu bertanya kepada Ririn.


"Rin, kau ada dengar orang ngomong gak?" tanya ku.


Kening Ririn langsung mengkerut, karena mendengar pertanyaan aneh ku barusan. Bukan nya menjawab, Ririn malah balik bertanya pada ku lewat tatapan mata nya.


Aku yang sudah paham akan maksud tatapan nya itu pun, langsung memberikan kode dengan mengedipkan mata beberapa kali pada nya. Aku menyuruh nya untuk mengiyakan kata-kata ku, dengan kode yang ku berikan tadi.


Ririn yang sudah mengerti maksud ku pun, langsung menjawab pertanyaan ku dengan santai.


"Gak ada kok, suara lalat mungkin tuh." jawab Ririn asal.


"Mungkin juga sih." sambung ku membenarkan ucapan Ririn.


Aku dan Ririn mulai memakan makanan itu dengan santai dan tenang, tanpa memperdulikan wajah masam Haris yang sedari tadi terus menatap ku.


"Heh heh heh, enak aja bilangin orang lalat! Muka ganteng gini kok di samain pulak sama lalat. Udah gilak kalian berdua ya?" protes Haris, dia tampak tidak terima dengan ucapan kami barusan.


Aku dan Ririn saling pandang-pandangan, lalu kembali melahap makanan kami masing-masing. Sedangkan Haris, dia masih tetap fokus menatap ku dengan wajah serius nya.


"Dari pada cuma bikin semak disini, mendingan pergi aja deh. Sakit mata ku lama-lama nengok muka jelek mu itu." usir ku pada Haris, tanpa menoleh sedikit pun pada nya.


"Loh, kok ngusir gitu sih? Ini kan tempat umum. Jadi siapa pun boleh berkunjung kesini, termasuk aku." balas Haris ketus.


"Iya tau, ini memang tempat umum. Tapi ya, duduk nya jangan disini dong. Bikin rusak pemandangan aja. Sana, jauh-jauh duduk nya!" usir ku lagi.


Bukan nya bangkit dari duduk nya, Haris malah semakin ngeyel dan kembali menjawab kata-kata ku.


"Suka-suka aku lah mau duduk dimana. Mau disini kek, mau disono kek, mau di pangkuan mu kek. Gak ada satu orang pun yang bisa melarang ku, paham!" tutur Haris.


"Widiih, pede amat lu! Siapa juga yang mau mangku badak seperti mu, sorry-sorry bae lah." cibir ku tak mau kalah.

__ADS_1


__ADS_2