Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Jujur gak ya?


__ADS_3

Setelah mengistirahatkan diri, selama kurang lebih sepuluh jam, aku mulai terbangun dan mengucek-ngucek mata, yang masih terasa berat dan perih.


"Loh, Haris kemana? Kok udah menghilang aja tuh orang. Apa lagi di kamar mandi, ya?" gumam ku.


"Huff, capek nya. Remuk semua rasa nya badan ku ini."


Aku menggeliat, dan terus saja menguap di atas pembaringan ku. Mata ku langsung terbelalak melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tiga sore.


"Hah, udah jam tiga? Apa selama itu kah, aku tertidur? Pantesan aja Haris sudah pergi, kalo jam segini pasti dia masih bekerja." gumam ku lagi.


Kring kring kring...


Ponsel ku berdering di atas meja, tepat di samping tumpukan uang yang aku dapat kan semalam.


"Nah, panjang umur nih orang." gumam ku girang.


Aku menerima panggilan dari Haris, sambil duduk selonjoran di atas kasur, dan menyandar kan punggung ku di dinding.


"Halo, abang dimana sekarang? Kok main pergi gitu aja sih, gak pamit dulu sama aku. " tanya ku.


"Iya maaf, Ndah. Abang tadi buru-buru soal nya, ada urusan mendadak di tempat kerja." balas Haris.


"Oh, gitu toh." balas ku.


"Udah makan belum, Ndah?" tanya Haris.


"Belum, bang. Aku baru aja bangun, ntar lagi aku mau pesan makanan." balas ku


"Oh, oke lah kalo gitu. Abang kerja lagi ya, Ndah. Nanti sore abang datang ke kos." ujar Haris.


"Oke, bang." balas ku sambil menutup panggilan dari Haris.


Setelah panggilan berakhir, aku berdiri secara perlahan sambil berpegangan tembok. Aku berjalan beberapa langkah, untuk membuka gorden dan kaca jendela.


Setelah itu, aku kembali berjalan menuju ke kamar mandi yang berada di luar kamar ku. Selesai membersihkan diri, aku kembali masuk ke dalam kamar, dan duduk bersila di depan meja.


Aku menghitung setumpuk uang, yang tergeletak di atas meja. Setelah selesai, aku menyimpan uang itu ke dalam tas ransel, yang tergantung di belakang pintu.


"Mau di pakai buat apa ya, uang dari bang Hendra itu? Apa aku kirim kan ke ayah aja ya, semua uang nya?" batin ku bingung.


"Aduh, perut udah keroncongan pulak. Makan Bika Ambon sama teh manis hangat aja lah. Nanti malam aja makan nya." gumam ku.


Aku bangkit dari tempat duduk, dan berjalan menuju dispenser untuk menyeduh teh manis. Kemudian, mengambil beberapa potong Bika Ambon, dan meletakkan nya di atas piring.

__ADS_1


Aku duduk kembali di atas lantai, sambil memakan Bika Ambon sebanyak lima potong, dan meminum teh manis setengah gelas. Setelah itu, aku menyalakan rokok dan memandang ke luar jendela.


Aku mengingat kembali kejadian semalam, bersama bang Hendra dan Alex. Aku merasa sangat bersalah kepada Haris. Aku bingung, cara menjelaskan kejadian itu kepada Haris.


"Kira-kira, dia marah gak ya, kalau aku berkata jujur pada nya?" gumam ku.


Aku kembali menghisap rokok ku, sambil terus merenung kisah suram, yang terjadi dengan ku semalam.


"Ah, lebih baik diam aja lah. Dari pada nanti Haris marah dan kecewa, mendingan aku tutup mulut aja." lanjut ku lagi.


Setelah mematikan rokok, aku merebahkan diri di atas kasur, dan memeluk guling kesayangan ku. Aku menatap langit-langit kamar, sambil terus memikirkan nasib hubungan ku dengan Haris.


"Mudah-mudahan semua nya baik-baik aja. Dan semoga aja, Haris tidak akan pernah mengetahui, tentang kejadian kelam itu." doa ku dalam hati.


Aku menoleh ke arah tas ransel yang tergantung di pintu, sembari menghela nafas.


"Kalo Haris bertanya lagi tentang uang itu, aku harus jawab apa, ya? Hah, bikin tambah pusing kepala ku aja pun." gumam ku sambil menghembuskan nafas kasar.


Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat. Hari sudah mulai gelap, dan waktu nya untuk kembali bekerja. Ternyata, Haris tidak datang sore ini. Karena ada keperluan mendadak, yang harus di selesaikan kata nya.


Sesampainya di lokasi kerja, aku melangkah kan kaki menuju kantin, dan mendudukkan diri di kursi pojok.


"Mbak, nasi goreng seafood nya satu porsi, ya!" pinta ku.


"Oke, kak." jawab si pelayan kantin.


"Makan apa, Ndah?" tanya Ririn.


"Ya Allah, kaget banget aku, Rin." sungut ku sembari mengelus dada yang berdegup kencang, akibat ulah Ririn.


"Hehehe, maaf ya, cayang. Aku gak sengaja." balas Ririn.


"Iya, aku maafin. Tapi, lain kali jangan gitu lagi, ya! Aku orang nya gampang terkejut, soal nya." ujar ku.


"Oke siap bos." balas Ririn.


Ririn memajukan wajah nya di depan ku. Dia terus memperhatikan tingkah laku ku, yang semakin tampak aneh dan beda, menurut pandangan nya.


"Kau ini lagi ngapain sih, kamvret?" ujar ku kesal.


"Muka mu kok beda, Ndah?" jawab Ririn dengan wajah yang serius.


"Beda gimana maksud nya?" tanya ku balik.

__ADS_1


Ririn mengerutkan kening nya, dia semakin mendekat, dan menatap wajah ku dengan tatapan tajam dan sedikit aneh.


"Kayak ada masalah besar, yang sedang kau sembunyi kan." tebak Ririn.


Aku langsung terperanjat, mendengar penuturan Ririn yang sangat tepat dan benar ada nya. Aku mengusap wajah ku dengan kasar, menggunakan satu tangan ku.


"Dia ini anak dukun atau anak setan, sih? Tau aja dia, kalo aku lagi nyembunyiin sesuatu." batin ku.


Aku menatap Ririn, dengan pandangan yang sedikit mencurigakan. Ririn yang sadar kalau sedang di perhatikan oleh ku pun, langsung menoyor jidat ku dengan kuat.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh! Aku itu bisa tau, karena melihat dari muka mu, yang tampak kucel dan lecek. Persis seperti kain lap, yang ada di situ!" ujar Ririn.


Ririn menunjuk ke arah kain serbet yang sudah tampak hitam dan kotor, dan terletak di samping kompor gas, yang berada di dapur kantin.


"Jahat kali kau, dodol. Enak aja, kau bilang aku kayak kain lap kumel itu." gerutu ku sambil menendang sepatu Ririn di bawah meja.


"Hahaha," gelak Ririn.


"Ketawa pulak dia." ujar ku kesal


Aku menggerutu, sembari melempar kan gulungan tisu ke dalam mulut Ririn, yang sedang tertawa lebar tersebut.


Uhuk uhuk uhuk...


Ririn langsung terbatuk-batuk, karena hampir menelan tisu yang aku lempar barusan. Wajah nya terlihat memerah, dan mata nya juga tampak berair, akibat ulah ku itu.


"Hahaha, maka nya jangan suka ngeledek jadi orang! Kualat kan jadi nya." cibir ku.


"Memang lampir gak ada akhlak, untung aja tisu nya gak ketelan." umpat Ririn kesal.


"Kalo ketelan pun gak papa kok, Rin. Besok kan bakalan keluar lagi tisu nya, hahaha." ledek ku.


"Dasar, kamvret kau, Ndah!"


Ririn kembali mengumpat ku, sembari melempar kan gulungan tisu ke arah wajah ku. Dengan secepat kilat, aku langsung mengelakkan lemparan nya.


"Gak kenak, week!" ledek ku lagi, sambil menjulurkan lidah pada Ririn.


Sedang asyik ber haha hihi dengan Ririn, mbak pelayan pun datang membawakan makanan kami berdua.


"Ini pesanan nya, kak!"


Mbak pelayan itu menghidangkan makanan ku dan Ririn di atas meja. Setelah itu, dia langsung pergi untuk melayani pelanggan lain nya.

__ADS_1


"Rin, aku mau curhat dengan mu. Tentang kejadian yang aku alami semalam, sewaktu menemani tamu di VIP room." ucap ku lirih.


"Kejadian apa, Ndah?" tanya Ririn penasaran.


__ADS_2