
"Indah, udah tidur belum? Kok lama banget sih, buka pintu nya?" tanya Haris.
Aku yang sedari tadi mondar-mandir di depan pintu pun, akhir nya memutuskan untuk berpura-pura menguap, dan mengucek-ngucek mata. Layak nya seperti orang yang baru bangun tidur.
Ceklek...
"Hoam, berisik banget sih, bang! Gak tau apa, kalo aku lagi tidur?" gerutu ku.
"Hehehe, maaf ya, Ndah. Abang pikir dirimu belum tidur." jawab Haris.
Aku tidak menjawab, dan kembali membaringkan diri di atas kasur. Melihat tingkah ku yang acuh, Haris segera menutup pintu dan duduk di tepi kasur.
"Capek ya, Ndah? Tumben jam segini udah tidur. Biasa nya kan kita cerita-cerita dulu, merokok dulu, bercanda dulu. Ini kok langsung tidur?" tanya Haris heran.
"Iya, badan ku lemas banget, bang. Kepala ku juga agak pusing nih. Tadi waktu nemani tamu, aku minum nya agak banyak soal nya."
Aku berbohong, sambil berpura-pura meringis dan memegangi kepala.
"Kalau pusing, mendingan lanjutin aja tidur nya, Ndah! Abang pun mau tidur juga nih, badan abang capek banget gara-gara lembur tadi." ujar Haris.
"Iya," jawab ku.
Haris merebahkan dirinya di samping ku, dan memiringkan badan nya untuk memeluk separuh tubuh ku. Kami berdua pun mulai memejamkan mata, dan tertidur dengan nyenyak di bawah selimut.
Tanpa terasa, hari sudah terang benderang. Aku dan Haris masih terlelap dalam mimpi masing-masing, dan tiba-tiba...
Kring kring kring, kring kring kring...
Suara ponsel Haris berdering nyaring di atas meja. Karena merasa terganggu, akhir nya aku pun mulai mengerjapkan mata sambil menggerutu kesal.
"Haduuuh, itu suara apa an sih? Ganggu tidur orang aja."
Haris mulai membuka mata nya, karena terganggu dengan suara ku.
"Ada apa sih, Ndah? Pagi-pagi buta gini kok udah berisik aja mulut nya, hoam?" tanya Haris sembari menguap lebar.
"Ponsel abang tuh, jerit-jerit terus dari tadi. Bikin pekak kuping ku aja." omel ku.
Aku mengomel dan menoleh ke arah jam dinding, yang sudah menunjukkan pukul satu siang.
"Pagi buta apa nya? Lihat, udah jam berapa tuh!" lanjut ku.
Aku menunjuk ke arah jam, yang bertengger di dinding samping jendela. Haris mengikuti arah jari telunjuk ku, dan dia pun langsung terlonjak kaget setelah melihat nya.
"HAH, udah siang ya, Ndah? Haduuh, abang udah terlambat nih."
__ADS_1
Haris ngedumel sembari beranjak dari kasur, dan menyambar handuk yang tergantung di belakang pintu. Kemudian, Haris bergegas
melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri, Haris cepat-cepat memakai pakaian dan sepatu nya. Sedangkan aku, hanya bisa melongo memperhatikan gerak-gerik lelaki ku itu.
"Abang pergi kerja dulu ya, Ndah." ujar Haris sembari mencium kening dan kedua pipi ku.
Aku yang masih duduk di atas kasur pun, hanya mengangguk sebagai jawaban. Selesai berpamitan, Haris segera keluar dari kamar dan menutup pintu kembali.
"Fiuh, untung aja dia gak nanyain masalah uang itu lagi." gumam ku.
Aku kembali merebahkan diri, dan melanjutkan tidur ku yang sempat tertunda tadi. Baru saja hendak memejamkan mata, tiba-tiba ada suara ketukan pintu yang kembali memekakkan telinga ku.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum, Ndah." salam seseorang dari luar.
"Hadeehh, gangguan apa lagi sih ini?" gerutu ku sembari menutup kedua telinga ku dengan bantal.
"Ya, bentar!" pekik ku.
Dengan gerakan malas, aku mulai bangkit dari kasur dan membuka kan pintu. Setelah pintu terbuka lebar, mata ku langsung terbelalak lebar, ketika melihat bang Hendra yang sedang berdiri tegak di hadapan ku. Dia membawa beberapa bungkusan di tangan kiri nya.
"Hahaha, jangan judes kali kenapa sih, Ndah. Abang datang kesini punya niat baik loh." ujar bang Hendra sembari tertawa.
Aku mengerutkan kening mendengar ucapan bang Hendra.
"Jawab dulu pertanyaan ku yang tadi! Dari mana abang dapat kan alamat kos ku?" desak ku.
"Oh, kalau hanya mencari alamat tempat ini sih, masalah gampang buat abang, Ndah. Kamu tidak perlu tau, abang dapat kan dari mana." jawab bang Hendra.
"Trus, abang mau ngapain kesini?" tanya ku lagi.
Aku menyipitkan mata melihat gelagat bang Hendra, yang sedang cengar-cengir salah tingkah di depan ku. Aku juga memperhatikan penampilan bang Hendra dari atas sampai bawah. Dia tampak sangat rapi seperti orang kantoran.
"Abang ada perlu dengan mu, Ndah. Ada yang ingin abang sampai kan pada mu." jawab bang Hendra.
"Tentang apa?" tanya ku lagi.
Bukan nya menjawab, bang Hendra malah tersenyum genit, dan beralih memandangi ku dari kaki hingga kepala, yang masih terlihat acak-acakan.
"Abang boleh masuk gak, Ndah? Biar kita lebih nyaman ngobrol nya. Abang juga bawakan makan siang buat mu, Ndah. Kamu pasti belum makan kan?" tanya bang Hendra.
Aku berpikir sejenak, sambil menatap sinis kepada bang Hendra.
__ADS_1
"Pandangan mata mu kok horor banget sih, Ndah. Masa sampe segitu nya lihatin abang? Kayak sedang lihat hantu aja." canda bang Hendra.
"Abang gak akan macam-macam kok, Ndah. Percayalah sama abang!" lanjut bang Hendra meyakinkan ku.
Dengan penuh pertimbangan, akhir nya aku pun membolehkan bang Hendra untuk masuk, ke dalam kamar kos ku.
"Oke, abang boleh masuk. Tapi bener ya, abang jangan berbuat yang aneh-aneh dengan ku." jawab ku dengan penuh penekanan.
"Iya, abang janji, Ndah. Abang cuma ingin ngobrol aja dengan mu." jawab bang Hendra.
"Ya udah kalo gitu, silahkan abang masuk!" ujar ku sambil membuka pintu dengan lebar.
Setelah mendengar penuturan ku, bang Hendra pun membuka sepatu pantofel nya di depan pintu, lalu melangkah masuk ke dalam. Bang Hendra meletakkan bungkusan yang di bawa nya di atas meja.
Kemudian, bang Hendra duduk bersila di lantai dan menyandarkan punggung nya di tepi kasur. Dia memperhatikan sekeliling kamar ku sambil manggut-manggut.
"Abang tunggu di sini dulu, ya! Aku mau mandi dulu."
Aku berucap sembari menyampirkan handuk di bahu, dan menentang keranjang sabun.
"Oke, Ndah." jawab bang Hendra sambil tersenyum manis pada ku.
Aku segera bergegas keluar dari kamar dan berjalan menuju ke kamar mandi. Setelah selesai, aku masuk kembali ke dalam kamar dengan rambut yang basah, dan handuk yang melilit di tubuh ku.
Melihat keadaan ku seperti itu, bang Hendra menatap ku dengan mata yang membulat. Dia menelan ludah nya secara kasar. Sedangkan aku, sama sekali tidak menghiraukan pandangan mata nya.
"Bang, tolong menghadap ke tembok dulu ya!" ujar ku.
"Emang nya mau ngapain, Ndah? Nyuruh abang menghadap ke tembok segala?" tanya bang Hendra pura-pura bingung.
"Aku mau pakai baju, bang." jawab ku.
"Ooohhh, oke lah." balas nya.
Bang Hendra pun mulai membalikkan badan nya, untuk membelakangi ku. Setelah itu, aku langsung bergegas memakai pakaian dalam, dan tiba-tiba...
"Ndah, tubuh mu sangat menggiurkan. Abang sampai gak tahan melihat nya, sayang."
Bang Hendra berbisik dan memeluk erat tubuh ku, yang hanya memakai pakaian dalam saja. Bang Hendra menciumi leher dan pundak ku dengan lembut.
Bukan nya menghindar atau pun memberontak, aku malah berdiam diri di tempat. Aku terus memperhatikan perbuatan bang Hendra dari pantulan cermin, yang ada di hadapanku.
"Ndah, boleh kah abang melakukan nya dengan mu sekarang?"
Bang Hendra kembali berbisik di telinga ku dengan suara serak, karena sudah di selimuti oleh gairah nya sendiri.
__ADS_1