Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Menagih Janji


__ADS_3

Setelah selesai mencari tempat tinggal buat Ririn, kami berdua pun langsung pulang ke kos-kosan masing-masing.


Sesampainya di kamar, hari pun sudah mulai gelap. Terdengar suara adzan maghrib berkumandang dengan merdu, di seluruh penjuru kota ini.


"Wah, udah maghrib rupanya." gumam ku.


Aku bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi dan berwhudu, aku langsung melaksanakan shalat dan lanjut berzikir.


Sambil menunggu waktu shalat isya tiba, aku pun membaca ayat suci Al-Quran. Beberapa saat kemudian, adzan pun kembali berkumandang.


Selesai melaksanakan shalat isya, aku langsung bergegas berganti pakaian kerja dan memoles wajah ku di depan cermin. Setelah semua selesai, aku segera memakai sepatu dan menyambar tas yang tergantung di belakang pintu.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucap dalam hati.


Aku melangkah keluar dari kamar dan menuruni anak tangga satu persatu. Sampai di lantai satu, aku terus berjalan menuju ke tempat kerja dengan senyum yang sumringah.


Sampai di tempat kerja, aku langsung mengisi absen dan duduk di bangku panjang bersama teman-teman lain nya.


"Udah lama kau nyampe, Ndah?" tanya Ririn sembari menepuk pundak ku.


"Eh mampus kau eh mampus kau!"


Aku melatah hingga terlonjak dari tempat duduk, karena saking kaget nya dengan perbuatan Ririn barusan.


"Kurang ajar kau, kamvreeeet! Bikin jantungan aja kerjaan nya." umpat ku kesal.


"Sorry, aku gak sengaja, Ndah. Lagian kau pun asik melamuuun aja, heran." sungut Ririn.


"Gimana gak melamun coba? Kau kan tau sendiri masalah ku itu apa?" balas ku.


"Soal ayah mu ya, Ndah?" tanya Ririn.


"Ya iya lah, soal apa lagi kalau bukan soal itu?" balas ku.


"Emang nya belum kau kirim-kirim juga ya uang nya?" tanya Ririn lagi.


"Belum," balas ku.


"Ya udah, nanti kita pikirkan gimana solusinya. Sekarang kita makan dulu, yok! Perut ku udah lapar nih." ajak Ririn.


Ririn menarik lengan ku dan mengajak ku berjalan sampai ke dalam kantin. Aku hanya menurut, dan mengikuti langkah sahabat ku itu dengan pikiran yang tidak tenang.


Selesai makan, kami berdua kembali duduk di bangku panjang, lalu menyalakan rokok masing-masing.


"Rara kemana, Rin? Kok dari tadi gak ada nampak batang hidung nya?" tanya ku sembari celingukan mencari keberadaan Rara.


"Dia gak kerja, Ndah. Gak enak badan katanya." jawab Ririn.


"Loh, kok malah gak enak badan? Apa karena minum air dari pak ustadz itu ya?" tanya ku.


"Entah lah, tadi dia bilang badan nya panas dingin gitu." jawab Ririn.


"Oh," balas ku.


Ririn menjelaskan tentang keadaan Rara tanpa menoleh pada ku. Dia tampak sedang asyik bermain game di ponsel nya.


"Jadi gimana soal ayah mu tadi, Ndah?" tanya Ririn.


"Gak tau, Rin. Aku juga bingung, bagaimana cara mengatasi masalah dengan ayah ku itu." jawab ku menunduk kan kepala.


"Kayak yang aku bilang tadi siang aja, Ndah. Kirim aja semampu mu, jangan di turuti kali permintaan ayah mu itu!" usul Ririn.

__ADS_1


Aku membuang nafas kasar setelah mendengar usulan Ririn. Aku juga sebenarnya ingin seperti itu kepada ayah, tapi aku tidak tega jika menolak keinginan ayah kandung ku itu.


Sedang asyik merenung dan berpikir, tiba-tiba datang satu mobil hitam yang terparkir tepat di depan kami.


"Eh, ada tamu datang, Ndah." bisik Ririn menyenggol bahu ku.


"Iya tau, mata ku juga nampak, dodol." balas ku.


Kami semua memandangi dua orang laki-laki yang keluar dari mobil hitam tersebut. Dan ternyata, tamu yang datang itu adalah bang Rian. Lelaki yang pernah mengajak ku ke hotel beberapa hari yang lalu.


Bang Rian datang menghampiri ku yang masih duduk anteng bersama Ririn, dan teman-teman lain nya di bangku panjang.


"Ayo, Ndah! Temani abang minum di dalam." pinta bang Rian sembari menggenggam tangan ku.


Aku mengangguk setuju dan menoleh kepada Ririn.


"Ayo ikut aku, Rin!" seru ku pada Ririn


"Oke, Ndah." balas Ririn.


"Kami duluan ya, guys!" seru ku kepada teman-teman waiters lain nya.


"Oke, lanjut!" jawab mereka serempak.


Setelah berpamitan dengan waiters lain nya, aku langsung menggenggam tangan bang Rian, dan berjalan beriringan memasuki ruangan karaoke.


Begitu juga dengan Ririn, dia menggandeng lengan teman bang Rian dan mengekori langkah kami dari belakang.


Sampai di dalam, aku memilih meja yang pas untuk di duduki sebanyak empat orang. Setelah mendapatkan nya, aku pun membawa bang Rian dan teman nya untuk duduk di meja tersebut.


"Kita duduk di sana yok, bang!" ajak ku.


Aku menunjuk ke arah meja yang berada di pojok sebelah kiri.


Setelah kami berempat sudah duduk di atas sofa, aku pun langsung bertanya kepada bang Rian.


"Mau minum apa, bang?" tanya ku sembari bergelayut manja di lengan kekar bang Rian.


"Hmmm, enak nya minum apa ya?" tanya bang Rian balik.


"Lah, kok malah balik nanya? Kalo nanya aku sih enak nya minum madu, bang. Hehehe," jawab ku sembari nyengir kuda.


"Ya, nanti kita minum madu di hotel." balas bang Rian dengan santai nya.


"HAH,"


Mata ku langsung terbelalak mendengar penuturan bang Rian. Melihat ekspresi wajah ku yang tampak terkejut, bang Rian pun langsung tersenyum dan mencubit pelan hidung ku.


"Ambil minuman hitam enam botol, sama rokok dan cemilan nya sana, Ndah! Nanti aja kita bahas lagi masalah itu." ucap bang Rian.


"Oke, siap laksanakan!"


Aku memberi hormat kepada bang Rian, dan itu berhasil membuat nya tertawa terbahak-bahak, karena melihat tingkah konyol ku tersebut.


"Duuhh, gemes nyaaa!" ucap bang Rian sembari mengacak-acak rambut ku.


Aku hanya tersenyum melihat wajah bang Rian, yang tampak sangat bahagia dengan perbuatan nya tersebut.


Setelah selesai bersenda gurau dengan bang Rian, aku mengajak Ririn untuk memesan minuman di meja kasir.


"Rin, ayo kita ambil minuman nya!" seru ku.

__ADS_1


"Ya," balas Ririn.


Aku dan Ririn pun beranjak dari tempat duduk masing-masing. Kami berdua berjalan bersama menuju meja kasir.


"Bil, pesan minuman hitam enam botol, kacang kulit dua bungkus, trus rokok nya empat bungkus ya!" pinta ku pada Billy sang kasir.


"Oke, tunggu bentar ya!" balas Billy.


"Gak mau, hihihi." jawab ku asal sembari cekikikan meledek Billy.


"Hahaha, dasar gila!" gelak Billy.


"Kau pun aneh, udah tau aku gila, malah di ladeni terus. Ya kan, Rin!" sungut ku.


"Iya, si Indah ini memang udah gila dari orok. Jadi kau jangan kaget, dengan tingkah-tingkah aneh nya, hahahaha." jawab Ririn sembari tergelak.


"Huuuu, dasar kaleng rombeng!" umpat ku sambil mencubit pelan lengan Ririn.


"Bodo, week." ledek Ririn menjulurkan lidah nya pada ku.


"Udah udah, gak usah pada bising! Nah, ini bawa minuman nya sana!" perintah Billy menengahi percekcokan ku dengan Ririn.


"Iya, baweeel." balas ku.


Aku dan Ririn pun kembali ke meja bang Rian, sambil membawa minuman dan pesanan lain nya.


Setelah meletakkan semua pesanan itu di atas meja, aku dan Ririn pun mulai menuangkan minuman itu ke dalam gelas.


"Ayo, kita bersulang!" seru ku.


Aku berdiri dan mengangkat gelas ke udara. Ririn, bang Rian dan teman nya itu pun langsung berdiri, dan mengangkat gelas mereka masing-masing.


"Cheers," ucap kami berempat secara bersamaan.


Selesai bersulang, kami semua pun kembali duduk di tempat masing-masing. Setelah meletakkan gelas di atas meja, aku pun mulai menyalakan rokok dan menghembuskan asap nya ke udara.


Bang Rian hanya berdiam diri di sebelah ku. Dia terus saja memperhatikan gerak-gerik ku dengan pandangan yang berbeda.


"Ada apa, bang? Kok lihatin nya aneh gitu?" tanya ku penasaran.


"Gak ada apa-apa, sayang. Abang cuma kangen aja dengan mu."


Bang Rian menjawab, sembari memeluk dan menciumi kedua pipi ku. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan nya, dan aku sama sekali tidak menolak perbuatan nya tersebut.


"Abang mau menagih janji mu, Ndah." bisik bang Rian.


Aku langsung terperangah dan merinding, setelah mendapatkan bisikan gaib dari bibir bang Rian.


"Ja-janji yang mana, bang?" tanya ku pura-pura bingung.


"Janji ke hotel lah, sayang. Masa kamu lupa sih!" jawab bang Rian.


Bang Rian menenggelamkan wajah nya di ceruk leher ku. Kemudian, dia mengendus aroma wangi yang ada leherku tersebut. Dan itu membuat ku semakin merinding dan gelisah di tempat duduk ku.


"Geli, bang." rengek ku.


Aku berusaha melepaskan diri dari pelukan bang Rian. Tapi usaha ku itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Tenaga ku kalah jauh dengan tenaga bang Rian yang sudah mulai bergairah tersebut.


"Setelah minuman ini habis, kita langsung ke hotel aja ya, sayang!" bisik bang Rian lagi.


"Aduuuh, gimana cara nolak nya ya?" batin ku bingung.

__ADS_1


Aku tidak menjawab ucapan bang Rian. Aku masih bingung harus berkata apa kepada lelaki di sebelah ku itu.


__ADS_2