Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Tingkah Aneh Alex


__ADS_3

Mendengar ucapan tegas ku, Haris pun sontak kaget dengan mata membulat sempurna. Dia tampak sangat terkejut dan tidak percaya, dengan kata-kata yang terlontar dari bibir ku di depan banyak orang.


Bang Hendra, Alex, dan kedua teman nya tampak senang, dengan ucapan ku barusan. Itu terlihat dari senyuman miring, yang terpancar dari wajah mereka masing-masing.


Sedangkan Ririn, dia juga tampak terkejut dan syok, dengan mulut yang menganga lebar dan mata sebesar jengkol.


"Dan satu lagi, jangan pernah mengganggu ku atau pun mendatangi ku lagi. Karena sudah tidak ada hubungan apa-apa di antara kita, ingat itu baik-baik!" lanjut ku.


Setelah mengucapkan kata-kata itu, aku pun mengalihkan pandangan kepada bang Hendra dan teman-teman nya.


"Ayo bang, kita minum di dalam!" seru ku lalu beranjak dari kursi, tanpa menghiraukan Haris yang masih terbengong di tempat nya.


"Ta-tapi, Ndah..." ucapan Haris terjeda, karena bang Hendra langsung memotong nya.


"Sudah lah, bro! Jangan terlalu memaksakan kehendak. Masih banyak perempuan cantik di luar sana yang bisa kau dapat kan selain Indah." ujar bang Hendra sambil menepuk-nepuk pelan pundak Haris.


Setelah memberi peringatan kepada Haris, bang Hendra pun merangkul pundak ku, lalu berkata...


"Ayo sayang, kita masuk ke dalam." seru bang Hendra dengan senyum yang mengembang di wajah nya.


"Ya," jawab ku lirih, lalu melirik ke arah Haris yang masih setia dengan wajah horor nya.


Aku, Ririn, bang Hendra, Alex, dan kedua teman nya pun mulai melangkah menuju ruangan karaoke, dan meninggalkan Haris begitu saja di kantin.


Haris memandangi kepergian kami berenam, dengan tatapan yang penuh kebencian. Dia tampak sangat geram dan emosi, melihat pemandangan yang ada di depan nya.


Setelah aku dan rombongan bang Hendra masuk ke dalam ruangan karaoke, Haris pun langsung pergi dan menghilang entah kemana.


Sesampainya di dalam, aku memilih kan tempat duduk yang cukup untuk kami berenam. Setelah semua nya duduk, aku pun mendekati bang Hendra lalu bertanya kepada nya.


"Mau minum apa, bang?" tanya ku.


Mendengar pertanyaan ku, bang Hendra pun langsung menoleh lalu menjawab.


"Hmmmm, minuman hitam sepuluh botol, rokok enam bungkus, sama kacang kulit tiga bungkus." jawab bang Hendra.


"Oke, tunggu bentar ya! Aku ambil kan ke kasir dulu." ujar ku.


"Oke, sayang." balas bang Hendra.


Setelah itu, aku pun beralih ke Ririn yang sedang asyik mengobrol dengan kedua teman bang Hendra.


"Rin, ambil minuman ke kasir yok!" seru ku.


"Oke," balas Ririn lalu beranjak dari tempat duduk nya, dan mengikuti langkah ku dari belakang.


Setibanya di meja kasir, aku pun langsung memesan permintaan bang Hendra tadi kepada Billy sang kasir.


"Bil, minuman hitam sepuluh, rokok enam, kacang kulit tiga. Cepat ya, gak pake lama!" ujar ku lalu duduk di meja bartender.


"Iya, baweeel." balas Billy sambil memanyunkan bibir nya.


Aku hanya tersenyum miring mendengar ucapan Billy. Sedangkan Ririn, dia hanya cengar-cengir melihat wajah masam Billy, yang sedang menyiapkan pesanan kami.


"Heh, kamvret! Ngapain kau senyam-senyum gitu? Kesurupan ya?" ledek ku sembari menepuk kuat lengan Ririn.


Mendapat tepukan kuat di lengan nya, Ririn pun langsung memekik sambil mengelus-elus lengan kerempeng nya.


"Adooooh, sakit dodol!" pekik Ririn dengan wajah meringis kesakitan.


"Halah, lemah banget sih jadi cewek. Masa di sentuh gitu aja langsung jerit-jerit. Bikin pekak kuping ku aja." cibir ku.


"Itu nama nya bukan di sentuh dodol, tapi di pukul. Kau mau aku lapor kan ke polisi, atas tuduhan penganiayaan?" oceh Ririn.


"Silahkan aja! Palingan polisi nya langsung ketawa-ketiwi, dengar pengaduan gila mu itu, hahaha!" ledek ku sembari tertawa ngakak.


"Iya juga sih, hehehe." balas Ririn cengar-cengir.


Karena merasa berisik dengan ocehan receh kami, Billy yang sedari tadi sibuk menyiapkan pesanan kami pun kembali membuka suara nya.


"Heh, para sundel! Gak usah pada berisik deh, bikin gendang telinga ku rusak aja." omel Billy dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


"Waduh, babang tamvan ngomel, Rin. Cabut yok!"


Seru ku kepada Ririn, lalu bangkit dari kursi dan kembali ke meja bang Hendra, dengan membawa minuman di kedua tangan ku.


"Woy, lampir! Tungguin, main kabur aja tuh bocah." gerutu Ririn kesal.


"Maka nya cepetan jalan nya, lelet kali pun. Udah kayak siput aja." omel ku.


"Huuuuu, dasar teman gak ada akhlak. Enak aja bilangin orang siput, minta di sumpal pake kaos kaki muncung mu itu ya!" umpat Ririn lalu menyusul ku dengan membawa pesanan di kedua tangan nya.


"Coba aja kalau bisa, hahaha." ledek ku sembari tergelak.


Ririn hanya mendengus kesal, mendengar ledekan ku. Dia terus saja mengikuti langkah ku sampai ke meja bang Hendra.


Setelah sampai, kami berdua pun menata minuman dan pesanan lain nya di atas meja, lalu kembali duduk di tempat masing-masing.


Sesudah menuangkan minuman itu ke dalam gelas, aku pun berdiri dan mengangkat gelas untuk mengajak mereka bersulang.


"Ayo kita bersulang, guys!" seru ku.


Mereka berlima pun langsung bangkit dari tempat duduk nya, lalu mendekatkan gelas mereka dan "Cherrs." Kami semua pun bersulang, dan meneguk minuman itu sampai tandas tak bersisa.


Setelah itu, kami pun kembali duduk dan mulai berbincang-bincang. Aku duduk di antara bang Hendra dan Alex. Sedangkan Ririn, dia duduk di antara kedua teman bang Hendra.


"Mau nyanyi gak, bang?" tanya ku pada bang Hendra.


"Gak usah, sayang. Biar mereka aja yang nyanyi." jawab bang Hendra sambil menunjuk ke arah teman nya dengan dagu nya.


"Oh, ya udah kalo gitu." balas ku.


Setelah itu, aku pun beralih kepada Alex yang sedari tadi diam seribu bahasa.


Visual : Alex


Usia : 29 tahun



"Gak ah, lagi males." jawab Alex ketus.


Aku mengerutkan kening melihat tingkah aneh Alex. Dia seakan-akan sedang cemburu melihat kedekatan ku dengan bang Hendra. Alex terus saja melirik ke arah tangan bang Hendra, yang sedari tadi menempel di pinggang ku.


"Ini anak kenapa sih? Lagi kumat kali ya? Apa dia cemburu dengan bang Hendra?" batin ku menduga-duga.


Karena merasa penasaran dengan sikap Alex yang tidak seperti biasanya, aku pun memberanikan diri untuk menggoda nya.


"Kau kenapa, Lex? Lagi dapet ya." ledek ku sembari tersenyum manis pada nya.


"Gak papa." jawab Alex masih dengan nada ketus dan wajah cemberut nya.


Mendengar jawaban Alex, aku pun tidak berani untuk bertanya apapun lagi pada nya. Aku hanya memperhatikan gerak-gerik nya, yang terlihat sedikit gelisah dan salah tingkah, karena mendapatkan tatapan aneh dari ku.


"Udah, gak usah perdulikan aku. Kau urusin aja laki-laki yang ada di sebelah mu itu."


Ujar Alex sambil melirik sekilas ke arah bang Hendra, yang tampak sedang asyik mengotak-atik ponsel nya. Melihat kecemburuan Alex yang tampak sangat jelas, aku pun kembali melontarkan pertanyaan kepada nya.


"Kau ini sebenarnya kenapa sih, aneh banget? Apa kau cemburu dengan bang Hendra?" tebak ku.


Alex yang tadi nya memalingkan wajah nya, kini langsung menoleh pada ku, lalu menjawab pertanyaan ku tersebut.


"Gak lah, kenapa mesti cemburu? Aku sadar diri kok, kalau kalian memang udah lama berhubungan, jauh sebelum kita kenal." jelas Alex.


"Naaah, tu tau. Trus kenapa sikap mu jadi aneh gini?" tanya ku lagi.


"Gak juga lah, biasa aja kok. Perasaan mu aja kali." jawab Alex santai sambil menyalakan rokok, dan menghisap nya perlahan.


Karena sudah kehabisan kata, akhirnya aku pun mengalah dan tidak mempertanyakan apapun lagi pada nya. Setelah perbincangan dengan Alex selesai, aku pun kembali beralih kepada bang Hendra.



Visual : Bang Hendra

__ADS_1


Usia : 35 tahun


"Sibuk banget nampak nya, lagi chattingan sama siapa?" tanya ku pada bang Hendra.


"Sama temen, kata nya sih mau nyusul kesini. Mau gabung minum sama kita."


Jawab bang Hendra sembari menoleh sekilas pada ku, lalu kembali memfokuskan perhatian nya ke arah ponsel yang ada di tangan nya.


"Ooohhh, kirain lagi chattingan sama..."


Aku sengaja menggantung ucapan ku, karena aku yakin bang Hendra pasti sudah paham maksud ku.


"Kirain sama cewek gitu? Pasti kamu mikir nya gitu tadi, ya kan?" tebak bang Hendra dengan senyum miring di bibir nya.


"Ya... begitulah kira-kira, hehehe." jawab ku sembari nyengir kuda.


Bang Hendra langsung merangkul ku, dan membawaku ke dalam dekapan hangat nya, lalu berbisik...


"Ya gak mungkin lah, sayang. Kalau pun abang mau chattingan dengan cewek lain, gak mungkin abang melakukan nya di depan mu." ujar bang Hendra.


"Dan satu lagi yang harus kau tau. Sebejat apa pun kelakuan abang di luar sana, abang masih menghargai perasaan mu." lanjut bang Hendra meyakinkan ku.


"Ah, yang bener?" tanya ku dengan senyum menyeringai.


"Iya bener, kalau gak percaya belah lah dada abang. Pasti ada usus, hati, jantung, tulang belulang, dan masih banyak yang lain nya, hihihi." canda bang Hendra sembari terkikik geli.


Tawa ku pun langsung meledak seketika, setelah mendengar candaan receh bang Hendra.


"Hahahaha, edan." umpat ku sembari tertawa ngakak.


Setelah tawa ku mereda, aku pun menyalakan rokok, lalu kembali bertanya kepada bang Hendra.


"By the way, teman-teman abang jadi nyusul kesini gak?" tanya ku.


"Gak jadi, mereka ada undangan minum di tempat lain." jawab bang Hendra, lalu menyimpan ponsel nya ke dalam saku celana nya.


"Ooohhh, gitu." balas ku sembari menyandarkan kepala di bahu bang Hendra dan menggenggam erat tangan nya.


Melihat tingkah manja ku pada nya, bang Hendra pun mengecup kening ku, lalu membelai rambut panjang ku dengan lembut dan mesra.


Sedangkan Alex, wajah nya terlihat semakin masam dan cemberut melihat kemesraan ku dengan bang Hendra.


Waktu terus berlalu, tanpa terasa malam pun semakin larut. Tamu-tamu lain pun mulai berdatangan, dan memenuhi meja-meja yang masih kosong.


Mereka tampak asyik bersenang-senang, menari dan bernyanyi di bawah lampu kelap-kelip, dan dentuman musik yang sangat kuat, dengan pasangan nya masing-masing.


Begitu juga dengan kami berenam. Kami juga menikmati malam ini dengan penuh sukacita, sambil memandangi wajah-wajah tamu lain nya, yang sedang asyik berjoget ria di samping meja nya masing-masing.


Setelah sekian lama terdiam di sebelah ku, akhirnya Alex pun kembali membuka suara nya.


"Siap ini, kalian mau nyambung kemana lagi, Hen?" tanya Alex kepada bang Hendra.


"Ya kemana lagi kalau bukan ke hotel. Ya kan, sayang?" jawab bang Hendra, lalu beralih pada ku.


"I-iya," jawab ku lirih, lalu melirik ke arah Alex.


Dan ternyata, Alex juga sedang melirik ku. Hingga akhirnya, tatapan mata kami pun saling bertemu. Karena merasa tidak enak hati kepada Alex, aku pun dengan cepat memalingkan wajah ku ke sembarang arah.


Begitu juga dengan Alex, dia kembali mengalihkan pandangan nya pada bang Hendra, lalu berkata...


"Ooohhh, ya udah deh. Aku pamit pulang dulu ya, takut mengganggu kesenangan kalian nanti nya." ujar Alex.


"Loh, kok pulang? Minuman nya kan belum habis, gimana sih?" omel bang Hendra dengan wajah kesal.


"Gak papa, kalian lanjut aja! Kepala ku agak pusing nih, pengen istirahat di rumah. Oke lah, aku balek dulu ya, bye semua." pamit Alex kepada kami semua.


Alex berdiri dari tempat duduk nya, lalu melambaikan tangan nya kepada bang Hendra dan juga kedua teman nya.


"Ya udah deh kalo gitu, hati-hati di jalan ya bro!" seru bang Hendra membalas lambaian tangan Alex.


"Oke," balas Alex lalu melangkah keluar dari ruangan, dan menghilang dari hadapan kami semua.

__ADS_1


__ADS_2