
Setelah selesai otot-ototan dengan teman-teman koplak ku itu, kami bertiga pun kembali bergabung dengan teman lain nya.
Kami kembali bekerja seperti biasa. Melakukan kegiatan yang setiap malam nya sudah menjadi kewajiban bagi kami para wanita penghibur.
Waktu terus berjalan, tanpa terasa jam pulang pun tiba. Para waiters pun mulai bersiap-siap untuk pulang ke kos masing-masing, termasuk diri ku.
Sesampainya di kamar kos, aku segera berganti pakaian kerja dengan setelah baju tidur, kemudian melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.
Setelah itu, aku kembali ke dalam kamar dan mengunci pintu dari dalam.
"Hah, capek banget rasa nya badan ku." gumam ku.
Aku menghela nafas berat sambil merebahkan tubuh ku di atas kasur. Karena badan terlalu lelah, aku pun langsung tertidur lelap sambil memeluk guling kucel ku.
Setelah beberapa jam beristirahat, tanpa terasa hari sudah terang benderang. Aku tersentak dari tidur lelap ku karena mendengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok tok tok...
"Buka pintu nya, Ndah!" teriak Haris sambil terus mengetuk-ngetuk pintu.
"Hoam, ya bentar, bang!" jawab ku.
Aku beranjak dari kasur sambil terus mengucek-ngucek mata dan menguap saking ngantuk nya.
Ceklek...
Setelah pintu terbuka lebar, Haris langsung melangkah masuk ke dalam sambil menenteng beberapa bungkusan. Aku yang melihat bungkusan itu pun langsung tersenyum sumringah.
"Lelaki ku ini memang tau aja kalau perut ku pasti lapar setelah bangun tidur." batin ku.
Setelah Haris masuk, aku segera mengunci pintu dan kembali merebahkan diri di atas kasur dengan posisi tengkurap.
"Lololoh, kok malah molor lagi nih bocah." ujar Haris heran.
Haris meletakkan semua bungkusan yang di bawa nya itu di atas meja, kemudian dia pun langsung menindih tubuh ku dan menggelitik bagian pinggang ku.
"Bangun gak, kalo gak bangun juga abang bakalan gelitikin terus nih pinggang nya." ancam Haris.
"Aaaaaa! Ampun, bang ampun. Iya iya, aku bangun!" pekik ku kuat.
Haris terus saja menggelitik pinggang ku, hingga membuat badan ku menggeliat-geliat karena kegelian akibat ulah nya tersebut.
Aku langsung menggeser kan tubuh Haris ke samping, dan bergegas berdiri di samping kasur dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Hilang jadi nya ngantuk ku tadi pun, gara-gara ulah si gombreng ini." omel ku kesal.
Aku mengomel sambil kembali mengucek-ngucek mata. Haris terkekeh melihat keadaan ku, dengan rambut yang acak-acakan dan masih bermuka bantal di depan nya.
__ADS_1
"Hahaha, jelek kali muka mu itu, Ndah!" ledek Haris sembari tertawa ngakak.
"Biarin, week." balas ku.
Aku menjulurkan lidah pada Haris dan bergegas melangkah ke kamar mandi.
Selesai membersihkan diri, aku langsung tersenyum melihat Haris yang lagi asyik berguling-guling ria di atas kasur ku.
"Udah kayak ulat bulu aja nih orang, hihihi." gumam ku.
Aku terkikik sendiri di depan pintu kamar. Melihat pemandangan yang sedikit aneh dan langka menurut ku.
"Ada-ada aja tingkah lelaki ku ini." batin ku.
Aku menggelengkan kepala dan melangkah masuk ke dalam kamar.
"Ayo kita makan, udah lapar kali perut ku ini! Lagian abang ngapain sih guling-guling gitu? Udah kayak ulat bulu aja, hahaha!" ledek ku.
Aku terkekeh sambil berdiri tepat di depan Haris yang masih asyik dengan kegiatan nya.
"Enak aja, bilangin orang kayak ulat bulu." balas Haris.
Haris memprotes sambil menarik tangan ku dan aku pun langsung terjatuh di atas tubuh nya. Haris langsung mendekap erat tubuh ku, dengan kedua tangan kekar nya.
Karena mendapatkan serangan mendadak seperti itu, aku pun langsung berontak untuk melepaskan diri dari dekapan nya.
"Cium dulu, baru abang lepaskan!" pinta Haris.
Haris mengerucut kan bibir nya sebagai tanda minta ciuman dari ku. Aku pun langsung reflek memalingkan wajah ku dari hadapan nya.
"Ogah," balas ku cuek.
Karena mendapatkan penolakan dari ku, Haris langsung mencium bibir ku dengan cepat dan kilat.
"Iiihhh, udah mulai jadi maling sekarang ya?" cibir ku.
"Maling apaan sih, Ndah?" tanya Haris bingung.
"Maling ayam." jawab ku asal.
"Hahaha, kok maling ayam sih. Abang kan cuma maling dikit aja tadi. Maling ciuman, sayang. Bukan maling ayam, hehehe." balas Haris sembari terkekeh salah tingkah.
"Ya udah, gak usah di bahas lagi. Ayo kita makan!" lanjut Haris.
"Alhamdulillah, akhir nyaa..." ujar ku lega.
Aku pun langsung beranjak dari tubuh Haris dan duduk di samping meja. Aku segera membuka satu persatu bungkusan makanan tersebut.
__ADS_1
"Udah lapar banget ya? Seneng betul nampak nya terlepas dari pelukan ku?" tanya Haris.
Haris juga ikut duduk bersila di hadapan ku. Dia tampak heran melihat ku yang terlihat senang karena terlepas dari dekapan nya tadi. Dan dengan semangat empat lima membuka semua bungkusan.
"Ya, iya lah lapar. Apa gak lihat tuh!" oceh ku.
Aku menunjuk ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Haris langsung menoleh dan mengikuti arah telunjuk ku.
"Iya, juga ya. Pantesan aja ayang beb ku ini kelaparan. Udah lewat jam makan siang rupa nya." balas Haris.
"Ayang beb? Bebek kali, bang. Hahaha." ledek ku kembali tertawa terbahak-bahak.
"Dari tadi bercanda terus, kapan makan nya?" omel Haris.
"Ya udah, sayang. Yok, kita makan!" ajak ku.
Setelah selesai ber haha hihi, aku dan Haris pun mulai memakan makanan yang di bawa nya tadi dengan lahap dan hening.
"Eeeggh, alhamdulillah." ujar ku sembari bersendawa.
Aku sudah selesai menyantap makanan ku. Sedangkan Haris, makanan nya masih ada setengah lagi di dalam piring nya. Dia sampai heran melihat ku makan secepat kilat.
"Waduh, cepat kali makan nya? Maen telan aja kayak nya tuh, emang makan nya gak di kunyah dulu ya?" tanya Haris.
"Emang nya aku buaya, maen telan gitu aja tanpa di kunyah dulu." oceh ku.
"Ya mana tau maen telan aja, hahaha!" gelak Haris.
Setelah selesai makan, aku dan Haris mulai bersantai. Aku duduk selonjoran di lantai dan Haris juga duduk selonjoran di belakang ku. Dia menempel kan badan nya di punggung ku.
Aku merentang tangan ke atas meja untuk mengambil rokok, kemudian menyalakan nya dan menghisap nya perlahan.
"Bang, nanti temani aku beli tiket ya!" pinta ku.
"Emang nya mau berangkat kapan sih, sayang?" tanya Haris.
"Kalau bisa secepatnya sih. Kalau cepat pergi nya, kan bakalan cepat juga balek nya." balas ku.
"Oh, ya udah. Sekarang aja kita lihat tiket nya, yok!" ajak Haris.
"Ayok, lah! Aku ganti baju dulu ya. Masa mau ke tempat rame, pakai baju daster yang koyak ketek nya gini." jelas ku.
"Hahaha, ya udah. Cepetan, ganti baju nya gih!" balas Haris.
"Oke siap, bos." balas ku.
Aku pun segera bergegas mengganti baju daster lecek ku, dengan kaos putih dan celana panjang jeans hitam.
__ADS_1