
Setelah beberapa saat saling merenung dan berdiam diri, akhirnya Ririn pun pamit dan kembali ke kamar nya.
"Ndah, aku balek dulu ya. Ngantuk, mau bobok syantik dulu, bye!" pamit Ririn lalu beranjak dari lantai dan berjalan ke arah pintu.
"Lololoh, kok aku tinggal gitu aja sih? Jadi gimana solusinya untuk masalah ku ini?" tanya ku lalu ikut berdiri dan menghampiri nya ke depan pintu.
Mendengar ocehan ku, Ririn pun menghentikan langkah nya dan menoleh.
"Kau itu udah tua, bukan bocah ingusan lagi. Masa masalah gitu aja nggak bisa cari solusi sendiri sih? Oon banget jadi orang," cibir Ririn lalu melangkah pergi meninggalkan ku begitu saja.
Aku terpaku di depan pintu, sambil terus memandangi kepergian sahabat koplak ku itu. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, ketika mendengar cibiran nya.
Setelah melihat Ririn masuk ke dalam kamar nya, aku pun menutup pintu kembali dan merebahkan diri di atas kasur.
"Ada bener nya juga sih, apa yang di bilang si gombreng tadi. Aku kan udah dewasa, bukan bocil lagi. Aku harus bisa mencari solusi sendiri untuk mengatasi masalah ini," gumam ku sembari menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang.
Setelah beberapa menit melamun dan mengkhayal, aku pun mulai memejamkan mata dan tertidur lelap dengan posisi telentang.
Waktu berlalu begitu cepat, hingga tanpa sadar hari pun sudah mulai gelap. Aku mengucek-ngucek mata, dan menggeliat-geliat seperti ulat keket di atas kasur.
"Hoamm, udah jam berapa ya?" gumam ku sembari menguap dan melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh sore.
"Waduhhh, udah malam ternyata! Aku harus cepat-cepat nih. Entar terlambat pulak pergi kerja nya," gumam ku.
Lalu aku pun segera bangkit dari kasur, dan menyambar handuk yang tergantung di samping pintu kamar mandi. Selesai membersihkan diri, aku pun langsung bergegas memakai pakaian dan berdandan.
Selanjutnya, aku memakai sepatu dan menyampirkan tas ransel di pundak. Setelah semua nya selesai, aku keluar dari kamar dan mengunci pintu.
"Si gombreng udah siap belum ya?" gumam ku.
Lalu melangkah kan kaki menuju kamar Ririn, yang berjarak hanya tiga kamar dari kamar ku. Sesampainya di depan kamar nya, aku pun mengetuk pintu sambil berteriak dengan suara melengking...
Tok tok tok...Tok tok tok...
"Gombreng, buka pintu nya! Ayo kita berangkat sekarang, entar telat loh!" pekik ku sambil terus mengetuk-ngetuk pintu nya.
Tak lama kemudian, pintu pun terbuka lebar dan nampak lah wajah masam Ririn yang sedang mengomel karena ulah ku barusan.
"Ck, berisik kali pun muncung mu itu. Kau pikir kuping ku ini budeg apa? Udah kayak tinggal di hutan aja, pake teriak-teriak segala!" gerutu Ririn lalu duduk di depan pintu, dan memakai sepatu sport putih.
"Sorry bestie, aye kagak sengaja, hehehehe!" ujar ku sembari nyengir kuda.
"Udah, gak usah cengar-cengir segala. Serem tau gak?" cibir Ririn lalu berdiri dan mengunci pintu kamar nya.
"Kurang ajar betul nih bocah! Masa muka imut-imut gini di bilang serem? Mata mu minta di colok pake sendok ya?" oceh ku sambil menepuk pelan bahu nya.
"Cih, narsis banget lampir satu ini. Siapa juga yang bilang muka jelek mu itu imut-imut? Gak usah kege'eran kali jadi orang!" gerutu Ririn tak mau kalah.
Aku tersenyum miring mendengar celotehan Ririn, yang sedari tadi terus mencibir ku dengan sesuka hati nya.
"Bang Rian yang bilang. Kata nya muka ku ini cantik, manis, imut-imut, bak bidadari turun dari kahyangan," jawab ku dengan kepedean tingkat dewa.
Mendengar penuturan ku, tawa Ririn pun langsung pecah seketika.
"Hahahaha, bang Rian nya aja yang buta. Nggak bisa bedain mana yang cantik dan mana yang burik," gelak Ririn.
Aku hanya memanyunkan bibir mendapat ledekan dari sahabat ku itu. Selesai mengunci pintu kamar nya, Ririn pun menggandeng lengan ku dan mengajak ku untuk berjalan bersama nya.
"Ayo, kita berangkat! Saat nya pemburu rupiah beraksi," seru Ririn dengan semangat empat lima.
"Heleh, lebay amat sih lu. Biasa aja keles, bikin malu aku aja!" oceh ku lalu menoyor jidat lebar nya.
__ADS_1
"Hehehehe," Ririn hanya cengar-cengir menanggapi perlakuan ku.
Setelah berjalan selama kurang lebih lima menit, kami berdua pun tiba di depan gedung karaoke berlantai tiga, tempat kami mengais rezeki.
"Kita ngisi absen dulu yok! Siap tu, baru ngisi perut ke kantin," ujar ku pada Ririn.
"Oke," balas Ririn sembari mengangguk.
Aku dan Ririn pun berjalan beriringan memasuki ruangan karaoke. Saat hendak mengisi absen di meja kasir, tiba-tiba Billy datang menghampiri ku. Ia mencengkram pergelangan tangan ku, lalu bertanya...
"Semalam kemana? Kok nggak masuk kerja?" tanya Billy dengan tatapan menyelidik.
"Pergi jalan-jalan," jawab ku jujur.
"Jalan-jalan?" tanya Billy dengan kening mengkerut.
"Ya," jawab ku.
"Sama siapa? Cowok mu ya?" tanya Billy lagi.
"Ya, bukan hanya cowok. Tapi calon suami," jawab ku masih dengan mode dingin dan ketus.
"APA? CALON SUAMI?" pekik Billy dengan suara yang cukup memekakkan telinga.
Billy membelalakkan mata nya lebar-lebar. Ia tampak syok dan terkejut, saat mendengar penuturan ku. Ia tidak menyangka, jika aku akan berkata seperti itu kepada nya.
"Ya," jawab ku santai.
Aku tidak menghiraukan keterkejutan nya. Aku melepaskan cengkraman tangan nya, dan mengajak Ririn untuk keluar dari ruangan karaoke tersebut.
"Ayo kita keluar, Rin! Perut ku udah lapar nih," seru ku sambil menarik tangan Ririn.
"Iya iya, sabaran dikit napa sih? Ngebet banget jadi orang," gerutu Ririn kesal, lalu ikut berjalan bersama ku.
Sesampainya di kantin, aku dan Ririn pun celingukan kesana kemari untuk mencari tempat yang kosong. Berhubung suasana kantin cukup ramai, kami berdua pun kebingungan untuk mendapatkan tempat duduk.
"Oke," balas ku menganggukkan kepala.
Setelah mendudukkan diri masing-masing, aku pun memanggil pelayan dan memesan makanan.
"Mbak, sini!" panggil ku sembari melambaikan tangan kepada si pelayan kantin.
"Iya bentar, kak!" jawab nya.
Dengan langkah lebar, si pelayan pun datang menghampiri meja kami.
"Mau pesan apa kak?" tanya nya.
Aku menoleh ke arah Ririn yang sedang duduk anteng di depan ku, dan bertanya...
"Kau mau makan apa, gombreng?" tanya ku.
"Sop iga sama teh tawar," jawab Ririn lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana nya, dan mulai memainkan game online kesukaan nya.
"Oke," balas ku.
Setelah mendengar jawaban Ririn, aku pun beralih kepada pelayan yang masih berdiri tegak di sebelah ku.
"Kami pesan sop iga dua porsi ya, mbak. Trus teh tawar nya dua juga," ujar ku.
"Oke siap, kak. Di tunggu ya!" balas nya lalu melangkah pergi menuju dapur jualan nya, untuk menyiapkan pesanan kami.
"Oke, mbak," jawab ku sembari tersenyum.
__ADS_1
Setelah pelayan itu pergi, aku pun mengambil ponsel dan mengotak-atik nya. Aku mengirim pesan singkat kepada ayah.
"Yah, aku ingin menikah." Itu lah isi pesan yang aku kirim kepada ayah.
Tak lama berselang, balasan dari ayah pun muncul di layar ponsel ku.
Ting...
"Sama siapa?" tanya ayah.
"Sama orang sini (Batam)," jawab ku.
"Apa pekerjaan laki-laki itu?" tanya ayah lagi.
"Usaha meubel," jawab ku jujur.
"Kalau kau menikah, trus biaya hidup kami gimana? Apakah laki-laki itu sanggup membiayai kami semua?" tanya ayah.
"Ya, dia sanggup. Aku sudah mengatakan hal itu pada nya," jawab ku.
"Oh, ya udah. Kalau memang dia sanggup, ayah akan restui pernikahan kalian. Tapi ayah gak bisa datang kesana, karena ayah gak tega ninggalin adik-adik mu disini. Nggak ada yang ngurusin mereka nanti," jelas ayah.
"Iya, gak papa, yah. Kalau memang dia(bang Rian) ada waktu, kami yang bakalan datang ke rumah ayah dan menikah di sana. Tapi kalau dia sibuk, aku hanya minta restu dari ayah," jawab ku.
"Ya gak papa, gitu juga boleh. Tapi kalau bisa, kalian gak usah kesini, buang-buang uang saja. Mending uang nya kirim kan aja buat ayah, dari pada mubazir buat ongkos kalian berdua," usul ayah.
"Trus, uang mahar nya minta dua puluh juta, dan segera kirimkan kesini!" lanjut ayah.
Degh...
"Ya Allah, sampe segitu nya kah ayah dengan ku?" jerit ku dalam hati.
Aku langsung terhenyak dan terpaku sejenak, setelah mendengar penuturan ayah yang cukup menyakitkan buat ku. Setelah beberapa saat terdiam, aku pun kembali mengetik pesan untuk ayah.
"Oke, nanti aku bilangin sama dia. Udah dulu ya, yah. Aku mau kerja dulu," balas ku menutup percakapan.
"Ya, jangan sampe lupa pesan ayah tadi!" balas ayah kembali mengingatkan ku.
Selesai berbalas pesan dengan ayah, aku pun menyimpan ponsel ke dalam saku celana, dan menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
Melihat ekspresi wajah ku yang tampak sedih, Ririn pun menautkan kedua alisnya, dan bertanya...
"Heh, lampir! Kau kenapa? Kok tiba-tiba diem gitu? Kesambet lu ya?" tanya Ririn sembari menyenggol lengan ku.
Aku menghela nafas panjang, lalu menoleh pada Ririn yang sedang memandangi wajah ku dengan tatapan aneh nya.
"Aku baru saja ngasih kabar ke ayah ku, tentang lamaran bang Rian," jawab ku lirih.
"Trus, apa kata ayah mu? Apa dia setuju?" tanya Ririn penasaran.
"Ya, dia setuju. Tapi..." aku menggantung kata-kata ku.
"Tapi apa? Kalo ngomong itu yang jelas, jangan setengah-setengah gitu. Bikin jiwa kepo ku meronta-ronta aja!" gerutu Ririn.
Aku kembali menghela nafas dan menunduk kan kepala. Sambil memilin-milin ujung kemeja putih ku, aku pun kembali bersuara...
"Tapi ayah ku minta mahar dua puluh juta. Trus dia juga bilang, kami gak usah pulang ke Medan, sayang ongkos nya. Mending uang nya di kirimkan aja untuk mereka di sana," tutur ku.
"Whaaaattt? Dua puluh juta?" pekik Ririn dengan mata membulat dan reflek menutup mulut nya sendiri. Ririn sangat terkejut mendengar ucapan ku.
"Ya, dua puluh juta," lanjut ku dengan nada lemah.
"Kalau untuk wanita baik-baik sih, oke-oke saja mahar segitu. Tapi kalau untuk wanita malam seperti kita ini, apa gak kemahalan kalau mahar nya segitu?" tanya Ririn.
__ADS_1
Aku terdiam sesaat, aku memikirkan ucapan Ririn yang benar ada nya. Setelah beberapa saat merenung, aku pun kembali berkata...
"Itu lah yang sedang aku pikirkan sekarang. Aku bingung, gimana cara ngomong nya dengan bang Rian tentang permintaan ayah ku itu," ujar ku.