
"Kenapa diam, Ndah?" tanya bang Hendra.
Bang Hendra menghentikan ciuman nya, dan memutar badan ku untuk menghadap kepada nya. Dia memandangi wajah ku yang sudah tampak segar, dengan senyuman menawan nya.
"Ada apa, sayang? Kenapa diam aja dari tadi? Ngomong dong, Ndah!" lanjut bang Hendra lagi.
"Maaf, bang. Aku gak bisa, aku..."
"Gak bisa kenapa, Ndah? Apa alasan nya?" selidik bang Hendra.
Bang Hendra kembali memeluk tubuh ku, dan membelai rambut panjang ku dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Ayo lah, Ndah! Abang udah pengen banget nih." ujar bang Hendra.
Bang Hendra terus saja mendesak ku, agar aku mau menuruti keinginan nya. Aku tetap diam dan menunduk kan kepala, aku bingung harus menjawab apa pada bang Hendra.
"Aku sudah punya pacar, bang. Aku gak mau lagi melukai perasaan lelaki ku, untuk yang kedua kalinya." jawab ku lirih.
"Kejadian di VIP room kemarin, anggap saja kesalahan yang tidak di sengaja!" lanjut ku.
Bang Hendra membulat kan mata nya, dia tampak syok mendengar penjelasan ku.
"A-apa? Kamu serius, Ndah. Kamu gak lagi bercanda kan, Ndah?" tanya bang Hendra.
"Iya, bang. Aku serius, aku memang sudah mempunyai seorang kekasih. Dan aku, harus menjaga perasaan nya." jawab ku.
Bang Hendra melepaskan pelukan nya, dia menyentuh dagu ku dan mendongak kan kepala ku ke atas.
"Jadi, abang gak ada kesempatan lagi untuk bisa bersenang-senang dengan mu ya, Ndah?"
Tanya bang Hendra, sambil terus menatap wajah ku dengan tatapan kecewa. Aku mengangguk kan kepala, mengiyakan ucapan bang Hendra.
"Tolong lah, Ndah! Beri abang kesempatan sekali lagi. Abang janji, setelah hari ini abang gak akan menggangu mu lagi."
"Abang mohon, Ndah. Sekali niiii aja, pliiis!" ujar bang Hendra memelas.
Bang Hendra merosot kan badan nya, hingga berlutut di hadapan ku. Lalu, dia melingkar kan kedua tangan nya di pinggang ku. Dan dia juga menempel kan wajah nya di perut ku.
Aku mendongak ke atas, sambil memejamkan mata sejenak. Setelah itu aku kembali menunduk, melihat bang Hendra yang masih tetap anteng dengan posisi nya.
__ADS_1
Dan dengan berat hati, akhir nya aku menyetujui permintaan bang Hendra.
"Oke, bang. Sekali ini aku akan menuruti keinginan abang. Tapi, ini untuk yang terakhir ya. Dan aku harap, untuk hari-hari ke depan nya, abang jangan pernah datang kesini lagi!" ujar ku.
"Iya, Ndah. Abang janji." balas Hendra dengan wajah yang berbinar cerah.
Setelah mendapatkan persetujuan ku, bang Hendra langsung berdiri dan mengangkat tubuh ku ke atas kasur.
"Terima kasih ya, Ndah. Kamu sudah memberikan abang kesempatan untuk melakukan nya lagi."
Ujar bang Hendra, sembari menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajah ku. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan nya.
"Kita mulai sekarang ya, Ndah!" tambah bang Hendra.
"Iya," balas ku.
Bang Hendra tersenyum sumringah. Dia mulai menjalar kan jari-jari nakal nya ke tubuh ku, dan menciumi wajah, leher dan juga bibir ku.
Aku pun mulai memejamkan mata, menikmati sentuhan dan belaian lembut dari bang Hendra. Setelah selesai mencumbui ku, tanpa basa-basi lagi, bang Hendra langsung melancarkan serangan nya pada ku.
"Nikmat sekali rasa nya, sayang." bisik bang Hendra di telinga ku.
Dua jam kemudian, bang Hendra pun menyudahi permainan nya. Dia mengecup kening dan pipi ku, sembari berucap...
"Abang menyukai mu, Ndah. Seperti nya, abang mulai jatuh cinta pada mu."
Aku membuka mata dan menatap dengan serius, wajah lelaki yang sedang menindih tubuh ku itu. Nafas bang Hendra tampak masih ngos-ngosan, dengan keringat yang membasahi sekujur tubuh nya.
"Terima kasih untuk kenikmatan hari ini ya, sayang." bisik bang Hendra kembali mengecup kening ku.
"Iya, bang." balas ku lirih.
Bang Hendra menyunggingkan senyum bahagia, lalu memeluk tubuh polos ku, dan menenggelamkan wajah nya di leher ku.
Hembusan nafas bang Hendra terasa sangat hangat menerpa bagian leher ku. Dia kembali mencium dan mengendus aroma tubuh ku, dan itu membuat ku semakin merinding, menerima sensasi yang sangat luar biasa dari bang Hendra.
Dan akhirnya, suara-suara indah pun mulai keluar lagi dari bibir ku. Aku menggeliat kan badan, karena tidak sanggup lagi untuk menahan rasa geli campur nikmat, akibat ulah bang Hendra.
"Tolong hentikan, bang! Aku paling gak tahan, kalau abang buat seperti itu." rengek ku manja sambil terus menggeliat kan tubuh ku.
__ADS_1
Bibir ku meminta bang Hendra untuk menghentikan aksinya, tapi berbeda dengan tubuh ku yang sangat merespon perbuatan bang Hendra. Seakan-akan, tubuh ku ini ingin meminta kenikmatan itu lagi dari bang Hendra.
"Sayang, kamu tidak usah menutupi keinginan mu itu. Bibir mu memang berkata tidak, tapi tubuh mu masih menginginkan nya." bisik bang Hendra.
Aku menatap wajah bang Hendra, yang sedang tersenyum genit pada ku. Dengan mata yang mulai sayu, aku menggigit bibir bawahku, dan dengan nafas yang sudah tidak beraturan lagi.
Melihat gelagat ku yang tampak gelisah seperti itu, bang Hendra langsung tersenyum menyeringai, dan kembali berbisik pada ku.
"Apakah kau masih menginginkan nya, sayang?" tanya bang Hendra.
Tanpa pikir panjang lagi, aku pun langsung mengangguk.
"Iya, bang. Aku masih ingin merasakan nya." jawab ku.
"Baik lah, sayang. Abang akan memberikan kenikmatan itu lagi padamu. Sampai kau merasa puas, dengan pelayanan yang abang berikan." balas bang Hendra.
Bang Hendra pun mengulangi perbuatannya dengan ku. Pergumulan panas pun kembali terjadi di atas kasur ku. Bang Hendra tampak begitu bersemangat memacu gerakan liar nya.
Hingga akhirnya, bang Hendra menyelesaikan tugas nya dan menjatuhkan tubuh nya di samping ku.
"Ah, nikmat nya, Ndah. Abang puas banget hari ini." ujar bang Hendra sembari beranjak dari kasur, dan memakai pakaian nya kembali.
"Abang mau kemana?" tanya ku penasaran.
Aku duduk menyandar di dinding, dan memperhatikan bang Hendra yang tampak terburu-buru memakai pakaian nya.
"Setengah jam lagi, abang ada rapat di kantor, Ndah." jawab bang Hendra.
"Oh, gitu." balas ku.
Selesai memakai pakaian nya, bang Hendra mengeluarkan uang dari dalam dompet nya, dan memberikan nya kepada ku.
"Sekali lagi, terima kasih ya, sayang. Sudah membahagiakan abang hari ini. Abang pergi dulu ya, Ndah!"
"Iya, hati-hati ya, bang!" balas ku.
Bang Hendra kembali mendekat, dan mencium bibir dan kening ku. Lalu, dia bergegas keluar dari kamar, dan berlalu pergi meninggalkan ku, yang masih dalam keadaan polos di atas kasur.
"Bang Hendra, kau memang lelaki perkasa. Aku sangat menyukai dan juga menikmati permainan liar mu." gumam ku sembari tersenyum.
__ADS_1