Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Menginap


__ADS_3

Setelah perbincangan hangat selesai, bang Rian pun melepas pelukannya dan memegangi kedua pipi ku, lalu berkata...


"Kita gak usah balek ke kos ya, sayang. Kita nginap di hotel dekat sini aja. Gimana, mau gak?" tanya bang Rian.


Aku terdiam sejenak dan menatap manik mata indah nya dengan tatapan sendu. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya aku pun mengangguk dan menyetujui keinginan nya.


"Oke lah," jawab ku.


Wajah bang Rian langsung berbinar cerah. Ia tersenyum lebar, hingga menampilkan deretan gigi putih bersih nya. Bang Rian tampak sangat bahagia mendengar jawaban ku.


"Yey, makasih ya sayang," ujar bang Rian girang.


"Iya," jawab ku singkat.


Setelah itu, bang Rian pun mengedarkan pandangan nya kesana kesini untuk mencari pelayan.


"Mbak, sini!" panggil bang Rian kepada salah satu pelayan wanita, sambil melambaikan tangan nya.


"Ya, bentar mas!" jawab nya.


Dengan langkah lebar, pelayan wanita itu pun datang menghampiri meja kami dengan membawa buku kecil dan pena di tangan nya.


"Berapa tagihan nya, mbak?" tanya bang Rian sembari mengeluarkan dompet dari saku celana nya.


Sebentar ya, mas. Saya hitung dulu," jawab si pelayan.


"Oke," balas bang Rian.


Wanita muda itu pun mulai mentotal tagihan makanan kami. Setelah selesai, ia pun memberikan kertas kecil ke tangan bang Rian, lalu berkata...


"Ini total nya, mas!" ujar si pelayan.


Bang Rian menerima kertas itu dan melihat jumlah nya. Setelah itu, ia pun mengeluarkan beberapa lembar uang biru dan menyerahkan nya ke tangan si pelayan.


"Ini uang nya mbak, terima kasih ya," ujar bang Rian sembari menyunggingkan senyum manis nya.


"Oke, terima kasih kembali," balas si pelayan dengan ramah dan sopan.


Setelah pembayaran selesai, pelayan itu pun kembali ke tempat nya semula. Sedangkan bang Rian, ia menggenggam tangan ku dan mengajak ku untuk berjalan bersama nya.


"Ayo kita kesana, sayang!" seru bang Rian, lalu menunjuk ke arah salah satu hotel yang berada di pinggir pantai.

__ADS_1


Tanpa bertanya apa-apa lagi, aku pun langsung mengangguk dan menurut pada nya. Setelah berjalan sekitar lima menit, kami berdua pun tiba di tempat tujuan.


Setelah memesan kamar dan menerima kunci dari resepsionis, bang Rian pun menggandeng lengan ku dan membawa ku menuju kamar yang sudah di sewa nya.


Sesampainya di depan kamar, bang Rian pun segera membuka pintu nya dan mengajak ku untuk masuk ke dalam.



"Wow, indah banget pemandangan nya, bang."


Pekik ku dengan wajah berbinar-binar, saat menatap hamparan laut dari jendela kaca kamar yang sedang kami huni tersebut.


"Apakah kau menyukai nya, sayang?" tanya bang Rian sembari memeluk ku dari belakang, dan menempel kan dagu nya di bahu ku.


"Suka banget," jawab ku dengan senyum yang mengembang.


"Syukur lah kalau kamu suka," tutur bang Rian.


Kami berdua sama-sama terpana memandang keindahan alam yang sangat luar biasa. Setelah beberapa saat saling berdiam diri, bang Rian pun mengangkat tubuh ku ke atas ranjang dan merebahkan nya secara perlahan.


Setelah itu, ia pun berbaring miring di sebelah ku dengan menopang kan kepala di telapak tangan nya. Bang Rian tersenyum memandangi ku, sambil menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajah ku.


"Mau olahraga pinggul," jawab bang Rian dengan santai nya.


"Hah, olahraga pinggul? Emang ada ya, olahraga seperti itu?" tanya ku masih dengan mode pura-pura lugu.


"Ya ada dong, sayang. Abang praktekkan sekarang ya, biar kamu tau olahraga pinggul itu seperti apa?" tutur bang Rian dengan senyum menyeringai di bibir nya.


"Hmmmm, boleh lah," balas ku menyetujui tawaran lelaki tampan tersebut.


Setelah mendapatkan persetujuan ku, bang Rian pun mulai melakukan aksinya. Ia mencium wajah, bibir, dan juga leher ku dengan lembut. Hingga membuat ku terlena oleh cumbuan mesra nya.


Selesai menciumi ku, bang Rian pun mulai membuka pakaian ku satu persatu sampai polos tak bersisa. Begitu juga dengan diri nya. Ia mempereteli seluruh pakaian yang melekat di tubuh nya dengan gerakan cepat.


Setelah keadaan kami berdua sama-sama polos, bang Rian pun melanjutkan aksinya kembali. Ia mengabsen seluruh tubuh ku dari atas sampai bawah, tanpa ada yang terlewat kan sedikit pun.


"Ahh," desah*n-desah*n nikmat pun mulai keluar dari mulut ku, saat bibir bang Rian menempel tepat di pucuk benda kenyal ku.


Mendengar suara-suara indah ku, bang Rian pun semakin gencar melakukan kegiatan nya. Sedangkan aku, aku hanya memejamkan mata sambil terus menikmati hasil cumbuan nya.


Setelah merasa puas bermain-main dengan kedua benda kenyal ku, ia pun melanjutkan kegiatan nya ke bagian bawah. Setelah memberikan belaian-belaian lembut di bibir gua ku, bang Rian pun mulai mendekat kan wajah nya dan menjulurkan lidah nya ke dalam.

__ADS_1


Ia tampak sangat lahap menikmati permainan nya. Begitu pun dengan ku, aku menggeliat-geliat tidak karuan, akibat menahan rasa geli dan nikmat yang tidak bisa di bayangkan.


"Akhh, geli banget bang," racau ku masih dengan mata terpejam.


Bang Rian tidak menghiraukan rengekan manja ku. Ia terus saja melanjutkan aksinya, dan semakin memperdalam penjelajahan lidah nya. Dan itu berhasil membuat ku semakin tidak terkendali.


"Cepat masukkan, bang! Aku sudah tidak sanggup untuk menahan nya lagi," rengek ku manja.


Melihat keadaan ku yang semakin terbakar gairah, bang Rian pun menghentikan aksi nya dan mulai mengarahkan junior nya ke depan bibir gua ku.


"Baik lah, sayang. Abang mulai sekarang ya," ujar bang Rian dengan suara serak dan mata yang terlihat sayu.


"Iya, lakukan lah! Aku juga menginginkan nya sekarang," balas ku tanpa rasa malu atau pun canggung.


Mendengar ucapan ku, bang Rian pun langsung tersenyum dan langsung memasukkan juniornya hanya dengan satu kali hentakkan kuat.


Setelah berhasil menerobos masuk, ia pun mulai melakukan gerakan-gerakan liar nya dengan kecepatan penuh. Dan itu membuat ku semakin menggila dan semakin meliuk-liukkan tubuh ku, persis seperti ular yang sedang berganti kulit.


Setelah hampir dua jam saling memberi dan menerima satu sama lain, akhirnya kami berdua pun memuncak dan menyemburkan cairan bening masing-masing, dengan tubuh yang bermandikan keringat dan nafas yang naik turun tidak karuan.


Sesudah olahraga pinggul selesai, bang Rian pun mengeluarkan junior nya dari dalam gua ku, dan menjatuhkan tubuh basah nya di samping ku.


"Huh, lega nyaaaa!" gumam bang Rian sembari menghela nafas panjang.


Aku beranjak dari ranjang dan melangkah menuju meja rias untuk mengambil tisu. Kemudian aku membersihkan cairan yang mulai mengalir di paha ku dengan tisu itu.


Setelah bersih, aku pun mendekati bang Rian dan mengajak nya untuk membersihkan diri ke kamar mandi.


"Bersihin dulu yok, bang! Siap tu, kita bisa santai-santai lagi sambil minum kopi," seru ku sambil menarik-narik lengan bang Rian, yang masih berbaring telentang di atas ranjang.


"Oke, yok!" balas bang Rian.


Kemudian ia pun segera bangkit dari ranjang dan mengekori langkah ku dengan handuk yang tersampir di pundak nya.


Tak butuh waktu lama, acara mandi bersama pun selesai. Aku dan bang Rian keluar dari kamar mandi dan duduk di kursi yang ada di sudut kamar.



"Gimana permainan abang tadi? Kamu merasa puas gak?" tanya bang Rian lalu menyeruput kopi nya.


"Puas dong," jawab ku sembari tersenyum manis pada nya.

__ADS_1


__ADS_2