Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Pacet Sawah


__ADS_3

Selesai memesan makanan di ponsel nya, Ririn meletakkan ponsel itu di lantai lalu menjatuhkan separuh tubuh nya ke kasur ku, dengan posisi kaki yang masih di lantai. Sedangkan aku, aku duduk bersila di sebelah nya lalu menyalakan rokok.


"Ndah, gimana episode selanjutnya?" tanya Ririn membuka percakapan kembali.


Aku yang sedang asyik menghisap rokok pun langsung menoleh, dan menatap aneh pada nya.


"Episode apa sih? Kalo ngomong itu yang jelas, jangan berbelit-belit kayak gitu. Bikin pening kepala ku aja nih sundel." omel ku.


"Yaelah, masa di tanya gitu aja langsung ngegas. Lagi kumat kau ya, hihihi?" ledek Ririn sembari terkikik geli.


Ririn bangun dari baring nya, lalu mengambil bungkus rokok yang tergeletak di depan ku, kemudian menyalakan nya.


"Gak lah, siapa yang ngegas? Perasaan mu aja kaleee." jawab ku cuek.


"Lah, itu tadi apa nama nya kalau bukan ngegas?" tanya Ririn masih tetap kekeuh dengan pendapat nya.


"Ya ya ya, suka-suka kau aja lah, yang penting kau senang." balas ku pasrah.


"Hehehe," Ririn hanya cengar-cengir menanggapi jawaban ku.


Setelah itu, dia pun kembali terdiam dan fokus menghisap rokok nya. Setelah beberapa menit membisu, Ririn pun kembali berceloteh ria.


"By the way, gimana kelanjutan hubungan mu dengan bang Haris? Masih berlanjut, atau sudah berakhir?" tanya Ririn penasaran.


Aku menghela nafas panjang, lalu kembali menghisap rokok yang masih tersisa separuh di tangan ku. Dengan pandangan kosong menerawang, aku pun mulai bercerita kepada Ririn.


"Entah lah, aku juga bingung harus bagaimana. Di satu sisi, aku masih menyayangi nya. Tapi di sisi lain, aku sangat kecewa dengan perbuatan nya." jelas ku.


"Kecewa dengan perbuatan yang mana? Apa tentang dia bawa cewek haritu ya?" selidik Ririn.


Ririn menatap wajah ku dengan serius. Dia tampak sangat penasaran dengan hubungan ku dan Haris. Setelah menghembuskan nafas kasar, aku pun kembali melanjutkan cerita ku.


"Bukan itu aja, Rin. Tapi perbuatan kasar nya juga. Dia sudah pernah melayang kan tangan nya ke pipi ku." jelas ku.


Mendengar penjelasan ku, mata Ririn pun langsung terbelalak selebar-lebar nya. Wajah nya tampak syok dan terkejut, dengan mulut yang menganga.


"Whaaaattt? Dia mukul kau ya?" pekik Ririn.


Aku menoleh sekilas, lalu mengangguk sebagai jawaban.


"Wah wah wah, keterlaluan banget tuh cowok. Udah kayak pemain smackdown aja dia, main pukul anak orang sembarangan." omel Ririn sambil menggelengkan kepala, dan memasang wajah geram nya.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum kecut, melihat reaksi Ririn yang tampak sangat emosi dengan kelakuan Haris.


Setelah mematikan api rokok di dalam asbak, aku pun merebahkan separuh tubuh ku di kasur. Dengan berbantalkan lengan dan menatap langit-langit kamar, aku pun kembali bersuara.


"Jadi menurut mu, aku harus gimana sekarang?" tanya ku tanpa menoleh pada nya.


Tanpa pikir panjang lagi, Ririn pun langsung menjawab pertanyaan ku dengan tegas dan cepat.


"Tinggalin aja lah! Buat apa punya pacar kayak iblis gitu? Mending sama bang Rian aja. Udah lah ganteng, baik, macho, tajir pulak. Duuuh, idaman banget tuh cowok." tutur Ririn sambil senyam-senyum membayangkan bang Rian.


"Heh, kamvret! Ngapain senyam-senyum gitu? Atau jangan-jangan, kau naksir ya sama bang Rian? Hayo, ngaku!" selidik ku sambil menepuk bahu Ririn.



Visual : Indah


Aku kembali duduk di sebelah Ririn, dengan senyum yang mengembang di bibir ku.


"Ya pasti naksir lah. Siapa juga yang gak kepincut sama cowok seganteng dia? Hanya cewek bodoh yang mau menolak cowok sempurna kayak gitu." ujar Ririn.


"Heh, dodol. Kau lagi nyindir aku ya?" omel ku sembari menoyor jidat Ririn.


Bukan nya marah, Ririn malah tertawa ngakak lalu membalas toyoran ku, sambil berkata...


"Huuuuu, dasar kutu kupret! Ku pites nyahok lu." umpat ku.


"Gak takut, weekk." balas Ririn sambil menjulurkan lidah nya.


Setelah melewati perdebatan yang cukup panjang, tiba-tiba ponsel Ririn berdering tanda panggilan masuk. Dengan secepat kilat, Ririn pun langsung menyambar ponsel butut nya, dan menerima panggilan tersebut.


"Ya, halo. Udah sampe mana, bang?" tanya Ririn kepada kurir pengantar makanan.


"Saya udah di depan, mbak" jawab nya.


"Oke, tunggu bentar ya, bang. Saya kesana sekarang." ujar Ririn.


"Oke, mbak." balas nya lagi.


Setelah panggilan berakhir, Ririn pun menoleh pada ku sambil menadahkan tangan nya.


"Sini uang nya, makanan kita udah datang tuh." pinta Ririn.

__ADS_1


"Ya, bentar." balas ku.


Aku segera mengambil tas ransel yang tergeletak di samping kasur, lalu mengeluarkan dompet dan menarik selembar uang merah. Setelah itu, aku pun menyerahkan uang itu ke tangan Ririn.


"Cukup gak?" tanya ku.


"Ya cukup lah, lebih malah." jawab Ririn.


Setelah menerima uang dari ku, Ririn pun langsung bangkit dari duduk nya, dan melangkah keluar dengan sedikit tergesa-gesa.


Tak butuh waktu lama, Ririn pun kembali dengan membawa bungkusan di kedua tangan nya. Mata ku langsung membulat sempurna, saat melihat banyak makanan yang di tenteng oleh Ririn.


"Woy, nyet! Yang kau bawa itu makanan semua, atau campur sama sampah yang ada di depan pagar?" tanya ku sambil menautkan kedua alis.


"Ya makanan semua lah. Kau kira aku ini tikus apa, ngorek-ngorek tong sampah segala? Aneh-aneh aja lampir gila satu ini." omel Ririn sembari duduk kelesotan di lantai, yang berada tepat di depan ku.


"Hehehe, kali aja kau nyari makanan sisa di sana. Kan lumayan tuh, bisa ngirit pengeluaran." balas ku asal.


"Yeeee, ngirit sih ngirit. Tapi ya, gak gitu juga keles."


Balas Ririn sambil memanyunkan bibir nya. Sedangkan aku, hanya tersenyum melihat wajah cemberut nya tersebut. Selesai otot-ototan yang cukup menguras energi, kami berdua pun mulai membuka bungkusan plastik itu satu persatu.


Setelah semua makanan itu terbuka, aku langsung menelan ludah dengan kasar, ketika melihat ketoprak, ayam geprek, ayam bakar kecap, martabak kacang, dan dua cup jus wortel.


"Waaahh, mantap banget nih. Pintar juga ternyata otak bolot mu ini, milih makanan yang enak-enak." ledek ku.


"Udah, gak usah banyak bacot. Ayo kita makan, perut ku udah lapar nih!" omel Ririn.


"Oke, bestie." balas ku.


Aku langsung menggeser kotak ayam bakar kecap, dan jus wortel itu ke depan ku, lalu menyantap nya dengan lahap. Begitu juga dengan Ririn, dia menggeser kotak ayam geprek dan jus milik nya. Lalu dia pun mulai memakan nya dengan santai dan tenang.


Setelah selesai, aku membagi dua ketoprak itu, lalu menyerahkan sebagian kepada Ririn. Dan kami pun lanjut menyantap nya dengan suasana hening, tanpa percakapan apa pun.


"Eegghh, alhamdulillah." ucap ku sambil bersendawa kekenyangan.


Begitu pun dengan Ririn, dia juga bersendawa lalu membereskan kotak-kotak dan plastik bekas makanan tadi. Setelah selesai, Ririn pun mengambil beberapa potong martabak, dan menaruhnya ke dalam kantong plastik kecil.


"Oke lah, aku balek ya, Ndah. Makasih banyak atas traktiran nya, bye." pamit Ririn lalu keluar dari kamar ku dengan sedikit terburu-buru.


"Heh, kamvret! Kok langsung kabur gitu? Udah kayak pacet di sawah aja nih bocah. Udah kenyang langsung minggat." omel ku sambil melihat kepergian Ririn.

__ADS_1


Ririn tidak menghiraukan ocehan-ocehan ku. Dia tetap melanjutkan langkah nya, sambil tersenyum dan melambaikan tangan nya pada ku.


__ADS_2