Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Ajakan Bang Rian


__ADS_3

Tamu lelaki yang berjumlah sepuluh orang itu pun, masuk ke dalam ruangan karaoke, yang di ikuti oleh Lisa dari belakang.


"Wow, keren-keren banget tamu nya, Ndah." bisik Ririn dengan wajah berbinar-binar.


"Hm hm hm, jelalatan aja mata mu itu." cibir ku.


"Gimana mata ku gak jelalatan, coba? Siapa pun pasti terpesona, melihat wajah-wajah segar seperti mereka. Duuuh, gemes nya!" tambah Ririn.


"Gak juga lah, bukti nya aku biasa-biasa aja tuh." ucap ku cuek.


"Ya beda lah, Ndah. Kau kan di kelilingi laki-laki ganteng. Cowok mu ganteng, bang Hendra juga ganteng, tajir pulak tu. Kurang apa lagi coba?" balas Ririn.


"Ya ya ya, suka hati kau lah situ, mau komen apa aja." ucap ku asal.


Selesai berbincang garing dengan Ririn, Lisa pun muncul dari balik pintu sambil berteriak.


"Girls, tamu nya minta di temani sebanyak sepuluh orang. Rika, Dewi, Susi, Santi, Tia, Yanti, Rina, Amelia, Ririn, Indah. Kalian semua masuk, temani mereka minum di dalam!" perintah Lisa.


"Oke siap, Lis." balas kami serempak.


Setelah menerima perintah dari Lisa sang kapten, kami semua pun langsung bergegas masuk ke dalam ruangan karaoke. Lalu, duduk di sebelah para lelaki itu.


Aku menemani lelaki yang paling tua di antara tamu-tamu lain nya. Umur nya kurang lebih sekitar empat puluh lima tahunan, menurut perkiraan ku. Dan ternyata, lelaki yang aku temani itu adalah bos dari mereka semua.


"Ayo kita bersulang, bos! seru lelaki yang di temani Ririn.


"Ayo!" balas lelaki yang di sebelah ku, lalu dia berdiri dari tempat duduk nya.


Kami semua pun ikut berdiri, dan mengangkat gelas masing-masing ke udara.


"Cheers," ucap kami bersamaan.


Selesai bersulang, kami duduk kembali di tempat semula. Begitu juga dengan ku, aku duduk dan menuangkan minuman itu kembali ke dalam gelas.


"Nama nya siapa, dek?" tanya lelaki di sebelah ku sembari mengulurkan tangan nya.


"Indah, bang. Nama abang siapa?" tanya ku balik.


Aku menyambut uluran tangan nya, sambil menyunggingkan senyum termanis ku pada nya.


"Nama abang Rian, dek." balas lelaki itu.


"Oh, bang Rian. Salam kenal ya, bang." sapa ku dengan ramah.


"Iya, dek. Salam kenal kembali." balas bang Rian.


"Udah lama kerja disini, dek?" tanya bang Rian sembari menyalakan rokok nya.


"Baru satu tahun, bang." jawab ku.


"Oh masih baru, kirain udah lama. Kamu merokok gak, dek?" tanya bang Rian lagi.


"Iya, bang. Emang nya kenapa, bang?" tanya ku balik.


"Ambillah rokok mu di kasir! Nanti biar abang yang bayar." jawab bang Rian.


"Oke, makasih ya, bang." balas ku.


Aku segera beranjak dan melangkah menuju meja kasir.


"Bil, aku minta rokok!" pinta ku pada Billy sang kasir.


"Oke, Ndah." jawab Billy.


"Masukkan ke nota mereka ya, Bil." ucap ku.


"Oke siap, bos ku." balas Billy sembari memberi hormat dan menyodorkan rokok ke tangan ku.


"Dasar kasir gila!" sungut ku.


"Enak aja kau bilang aku gila. Yang gila itu kau, bukan aku. Dasar lampir!" balas Billy sembari tersenyum.


"Dasar gerandong, week!"


Aku menjulurkan lidah meledek Billy, lalu melangkah kembali menuju meja bang Rian. Billy hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala nya, melihat kelakuan aneh ku.


"Udah di ambil rokok mu, dek?" tanya bang Rian.


"Udah, bang." jawab ku


Aku membuka bungkus rokok dan menyalakan nya. Bang Rian terus saja menatap ku dengan serius. Karena merasa di perhatikan, aku pun reflek menoleh dengan kening yang mengkerut.

__ADS_1


"Kenapa, bang? Nengok nya kok serius kali sih. Apa ada yang aneh ya, di bagian muka ku?" tanya ku.


"Gak ada yang aneh kok, dek. Abang hanya terpesona aja dengan wajah manis mu." jawab bang Rian sembari menghisap rokok nya.


"Ah, abang bisa aja." ucap ku tersipu malu.


"Serius, dek. Abang gak bohong. Abang memang suka melihat wajah mu, dan juga body mu yang cukup menggiurkan ini."


Bang Rian menggoda ku dengan rayuan gombal nya. Dia memandangi tubuh ku dari atas sampai bawah, dengan mata yang tidak berkedip.


Aku yang sedang di pandangi pun, semakin tersipu malu dan menunduk kan kepala.


"Abang boleh mencium mu gak, dek?" tanya bang Rian.


Aku sedikit terkejut dan langsung mendongak, karena mendengar permintaan bang Rian. Aku menatap wajah bang Rian yang cukup tampan menurut ku.


"Boleh, bang." jawab ku sembari tersenyum.


Setelah mendengar jawaban ku, bang Rian pun mulai mendekat kan wajah nya pada ku. Dia memegangi tengkuk leher ku, lalu tanpa rasa malu dan sungkan, bang Rian menciumi bibir ku di depan semua orang.


Melihat adegan ciuman kami, teman-teman bang Rian pun langsung bersorak kegirangan. Mereka senang melihat aksi bos nya tersebut.


"Wah, baru kali ini aku melihat bos, sedekat ini dengan wanita." ucap salah satu teman bang Rian kepada teman di sebelah nya.


"Iya, juga ya. Biasa nya, bos kan paling susah untuk di dekati. Ini kok bisa langsung lengket gitu, ya?" balas teman nya heran.


"Iya, bener. Kok bisa luluh gitu bos kita, dengan cewek itu." teman yang lain ikut menimpali.


Setelah beberapa saat mencium ku, bang Rian pun mulai melepaskan bibir nya dari mulut ku.


"Terima kasih ya, dek. Udah mengizinkan abang untuk mencium bibir manis mu ini." bisik bang Rian.


"Iya, bang." balas ku.


"Ayo kita minum, dek!" ajak bang Rian.


"Oke, bang." jawab ku.


Aku mengangkat gelas, dan meneguk minuman itu sampai tandas tak bersisa. Dengan pandangan yang sedikit buram, aku memperhatikan satu persatu orang-orang yang ada di depan ku.


Mereka semua tampak asyik bersenda gurau, dengan pasangan nya masing-masing. Ada yang sedang berpelukan, ada yang berciuman, ada yang saling cekikikan, dan lain sebagainya.


"Dek, kamu mau gak nemani abang ke hotel malam ini?"


Degh...


Dada ku langsung berdegup tidak karuan, mendengar penuturan bang Rian.


"Maaf, aku gak bisa, bang." jawab ku lirih.


"Gak bisa kenapa, dek?" tanya bang Rian lagi.


"Aduh, gimana cara ngomong nya ya?" batin ku gelisah.


Setelah beberapa saat berpikir, untuk mencari alasan yang tepat. Akhirnya, aku pun kembali membuka suara.


"Hmmm, aku lagi dapet, bang. Lain kali aja, ya!" bisik ku ke telinga bang Rian.


"Dapet apa, dek?" tanya bang Rian dengan kening mengkerut.


Bang Rian tampak bingung dengan jawaban ku tadi. Dia sama sekali tidak mengerti, arti dari kata-kata ku itu.


"Dapet haid, bang." jelas ku.


"Oh, kirain dapet apa, hahahaha." gelak bang Rian.


"Ya udah gak papa, tapi lain kali harus mau ya, dek!" ucap bang Rian.


Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat. Bang Rian pun menyuruh ku untuk mengambil nota tagihan minuman nya.


"Dek, ambil nota nya sana! Abang mau pulang." titah bang Rian.


"Oke, bentar ya, bang!" balas ku.


Aku segera berjalan menuju meja kasir, dan meminta Billy untuk menghitung tagihan minuman bang Rian.


"Bil, hitung nota mereka!" ucap ku.


"Oke," jawab Billy.


Setelah selesai menghitung, Billy menyerahkan kertas tagihan itu ke tangan ku.

__ADS_1


"Ini nota mereka, Ndah!" ucap Billy.


"Oke, makasih ya, cayang." balas ku sembari menoel dagu Billy.


"Dasar lampir gila, bikin orang merinding aja kerjaan nya." gerutu Billy sambil bergidik.


"Hahahaha,"


Aku tergelak sembari berjalan meninggalkan Billy, yang sedang menatap ku dengan wajah aneh nya.


"Sesampainya di meja bang Rian, aku segera duduk di sebelah nya, lalu menyodorkan kertas nota itu kepada bang Rian.


"Bang, ini tagihan minuman nya!" ucap ku.


Bang Rian menerima kertas itu dari tangan ku. Kemudian, dia melihat jumlah yang tertera di atas kertas tersebut.


Setelah mengetahui jumlah nya, bang Rian mengeluarkan dompet dari dalam saku nya. Lalu, dia menyerahkan setumpuk uang merah ke tangan ku.


"Ini uang nya, dek." ucap bang Rian.


"Oke, bang. Aku bayar kan kesana bentar, ya." balas ku sembari menunjuk ke meja kasir.


"Oke silahkan, dek!" jawab bang Rian.


Aku berjalan menuju meja kasir, dan menyerahkan semua yang itu kepada Billy. Setelah itu, aku pun kembali ke tempat semula.


"Terima kasih atas waktu nya malam ini ya, dek Indah. Kapan-kapan, abang akan datang kesini lagi untuk menagih janji mu tadi."


Bang Rian berucap sembari tersenyum kepada ku.


"I-iya, bang." jawab ku gugup.


"Oke lah kalau begitu, abang pulang dulu ya, dek. Ini untuk uang jajan mu!"


Bang Rian menyelipkan uang ke dalam genggaman tangan ku. Lalu, dia memeluk dan mengecup kening, pipi, dan juga bibir ku.


"Makasih ya, bang." balas ku.


Aku menyimpan uang pemberian bang Rian itu ke dalam saku celana. Setelah itu, bang Rian menggandeng lengan ku, dan mengajak ku berdiri dari tempat duduk.


Kami berdua pun berjalan beriringan, keluar dari ruangan karaoke. Begitu juga dengan teman-teman bang Rian, dan teman ku yang lain nya. Mereka mengikuti langkah kami dari belakang menuju mobil mereka.


Sesampainya di samping pintu mobil, bang Rian memeluk tubuh ku, dan kembali mendarat kan ciuman nya di wajah ku.


"Abang pulang ya, dek." pamit bang Rian.


"Iya, hati-hati di jalan ya, bang." balas ku.


"Oke, dek"


Balas bang Rian sembari melepaskan pelukan nya, dan membuka pintu mobil nya. Setelah semua teman-teman masuk ke dalam mobil masing-masing, Bang Rian pun mulai menjalankan kendaraan roda empat nya secara perlahan.


"Bye, sayang." ucap bang Rian sembari melambaikan tangan nya pada ku.


"Bye," aku membalas lambaian tangan bang Rian sembari tersenyum melihat kepergian nya.


Setelah kepergian bang Rian dan teman-teman nya, aku kembali duduk di bangku panjang bersama Ririn. Sedangkan Rara, dia sedang menemani tamu di dalam ruangan karaoke.


"Mereka baik banget ya, Ndah. Tengok nih, Ndah! Lelaki yang aku temani tadi, ngasih uang tip tiga ratus lima puluh ribu, lumayan lah buat uang makan besok." ucap Ririn girang.


Ririn menunjukkan uang tip nya pada ku, dengan senyum yang sumringah.


"Iya, mereka memang baik." jawab ku.


Aku juga mengeluarkan uang pemberian bang Rian tadi, dari saku celana.


"Alhamdulillah," gumam ku pelan.


"Kau dapat uang tip berapa, Ndah?" tanya Ririn penasaran.


"Lima ratus ribu, Rin." jawab ku.


"Wah, banyak juga ya, Ndah. Ternyata mereka memang baik orang nya. Semoga aja mereka sering-sering datang ke sini, biar kita dapat uang tip terus, hehehe." oceh Ririn.


"Iya, semoga aja." jawab ku dengan nada lesu.


Aku teringat ucapan bang Rian tadi. Dia akan datang lagi kesini, untuk menagih janji pada ku.


"Hadehh, pusing kepala ku jadi nya." gumam ku.


"Pusing kenapa, Ndah? Karena kebanyakan minum tadi, ya?" tanya Ririn.

__ADS_1


"Bukan karena itu, Rin. Tapi karena..."


__ADS_2