Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Ririn Ngeyel


__ADS_3

Setelah mengistirahatkan tubuh selama beberapa jam, aku pun mulai membuka mata perlahan. Aku menguap lebar sambil melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 6 sore.


"Waduh, lama juga aku tidur rupa nya, hoam."


Aku terus saja menguap dan menggeliat-geliat di atas kasur, persis seperti ulat gendon yang ada di batang rumbia.


Setelah beberapa menit bermalas-malasan, aku segera beranjak dari kasur dan melangkah kan kaki ke kamar mandi, untuk membersihkan diri dan berwhudu.


Setelah selesai dengan urusan kamar mandi, aku segera menunaikan shalat magrib dan berdoa.


"Ya Allah, apa arti mimpi ku tadi? Semoga tidak terjadi apa-apa dengan nenek, ya Allah. Amin amin ya rabbal a'lamin."


Setelah selesai menunaikan kewajiban, aku kembali merenung tentang mimpiku tadi.


"Tunggu aku pulang ya, nek. Kita pasti akan bertemu lagi." gumam ku.


Sewaktu tidur tadi sore aku bermimpi gigi atas ku yang bagian dalam copot. Mitos nya kata orang-orang sih, ada kerabat atau orang terdekat kita yang akan menghadap illahi.


Aku jadi teringat terus dengan ucapan nenek tercinta ku. Kata-kata nya selalu saja terngiang-ngiang di telinga ku. Setelah beberapa saat termenung, waktu untuk bekerja pun tiba.


Aku segera berganti pakaian dan segera berangkat menuju tempat karaoke. Sampai di lokasi aku pun langsung mengisi absen, dan kembali berjalan menuju kantin.


"Mbak, ayam penyet nya 1 porsi ya!" pinta ku.


"Oke siap, kak." balas mbak pelayan kantin.


Setelah memesan, aku langsung duduk di kursi sambil termenung kembali. Dan tiba-tiba...


"Duaarr."


Ririn mengejutkan ku dari belakang sambil menepuk kedua pundak ku. Aku pun langsung terlonjak kaget sambil melatah.


"Eh mampus kau eh mampus." pekik ku terkejut tidak karuan.


"Memang kamvreeet!" pekik ku pada Ririn.


"Hahaha, makanya jangan melamun aja kerjaan mu. Ntar kesurupan loh, baru tau rasa!" balas Ririn.


Ririn terbahak-bahak melihat ku yang terkejut sambil melatah di depan nya. Setelah itu, dia pun langsung duduk di hadapan ku sambil memesan makanan kepada pelayan kantin.


"Mbak, nasi goreng nya 1 porsi ya! Gak pake lama, mbak!" pekik Ririn.


"Oke, kak." jawab pelayan kantin.


"Kau kenapa sih, Ndah? Dari tadi asik melamuuun aja kerjaan nya. Kau lagi sakit ya? Kalau sakit pulang aja gih, gak usah kerja!" celoteh Ririn.


"Aku gak sakit, aku mau pulang kampung!" balas ku.


"APA?" pekik Ririn.


Ririn langsung terpekik dengan mata yang membulat sempurna. Bahkan biji mata nya hampir copot, karena saking kaget nya mendengar penuturan ku barusan. Dia tampak sangat terkejut dengan kata-kataku.


"Kau mau pulang kampung karena kena omel bos kemaren ya?" selidik Ririn.

__ADS_1


"Gak ada hubungannya, dodol." balas ku.


Aku melempar kan gulungan tisu ke wajah Ririn. Tapi lemparan ku itu meleset, karena Ririn menghindar dengan secepat kilat.


"Eits, gak kenak, week." balas Ririn sambil menjulurkan lidah nya.


"Dasar, kutu kupret!" balas ku lagi.


"Hahaha," gelak Ririn.


Aku mengumpat Ririn dengan sumpah serapah ku. Bukan nya marah, Ririn malah tergelak mendengar semua umpatan ku. Setelah capek tertawa, Ririn kembali bertanya pada ku.


"Lah trus, alasan nya apa? Kok tiba-tiba mau pulang kampung?" tanya Ririn penasaran.


"Aku kangen sama nenek ku." balas ku.


"Oh, kirain ada apa. Ya udah, balek lah kalo memang kangen!" tambah Ririn.


"Iya nanti, nunggu gajian dulu buat tambahan ongkos ku." balas ku.


"Oh, iya juga ya. Dua minggu lagi kita udah gajian gak terasa ya, Ndah." balas Ririn.


"Iya, makanya aku nunggu sampe gajian dulu. Nanggung banget soal nya." balas ku.


"Iya lah, betul juga itu." ujar Ririn membenarkan ucapan ku.


Setelah selesai mengobrol dengan Ririn, makanan pesanan kami pun tiba dan sudah terhidang di atas meja.


Aku dan Ririn pun langsung memakan makanan itu dengan lahap tanpa percakapan apa pun lagi.


Waktu terus berlalu begitu cepat.Tidak terasa hari gajian pun tiba. Setelah Lisa selesai membagikan amplop putih kepada kami semua, aku pun langsung mengajak Lisa untuk berbicara empat mata di kantin.


"Lis, ke kantin bentar yok! Ada yang mau aku omongin." ajak ku.


"Oke," jawab Lisa.


Tanpa bertanya apa pun lagi, Lisa langsung menyetujui ajakan ku. Sesampainya di kantin, aku dan Lisa pun duduk saling berhadapan.


"Ada apa, Ndah?" tanya Lisa.


"Jadi gini, Lis. Rencana nya aku mau pulang kampung. Aku mau minta izin libur dua minggu, gimana bisa gak?" tanya ku.


"Emang nya mau berangkat kapan?" tanya Lisa lagi.


"Rencana nya sih dua atau tiga hari lagi." jawab ku.


"Oh, ya udah gak papa. Nanti aku sampai kan sama bos." balas Lisa.


"Oke makasih ya, Lis!" balas ku.


"Oke, sip." ucap Lisa.


Lisa menjawab sambil mengacungkan jempol nya pada ku. Setelah itu, dia pun berjalan keluar dari kantin dan kembali bergabung bersama teman-teman lain nya.

__ADS_1


"Gimana, Ndah? Kau jadi pulkam nya(pulang kampung)?" tanya Ririn.


Ririn tiba-tiba muncul bersama Rara dari belakang ku.


"Jadi, Rin. Tadi aku udah ngomong sama Lisa. Aku minta izin libur dua minggu." jawab ku.


"Oh ya, kapan berangkat nya? Udah beli tiket belom?" tanya Rara.


"Rencana ku sih dua atau tiga hari lagi, Ra. Besok aku mau lihat tiket nya dulu." balas ku.


"Ya udah kalo gitu, hati-hati di jalan ya, Ndah. Semoga selamat sampai tujuan." ucap Rara.


"Amin, makasih ya, Ra." jawab ku.


"Jangan lupa oleh-oleh nya, Ndah. Bika Ambon dua kotak, hehehe." sambung Ririn.


Peletak...


"Gila nih bocah, belom juga berangkat udah minta oleh-oleh pulak." oceh Rara.


Rara menjitak kening Ririn sambil mengomel. Dia tampak kesal mendengar permintaan Ririn barusan. Aku hanya tersenyum melihat tingkah kedua teman koplak ku itu.


"Ya kan cuma ngingetin aja sih, Ra. Takut nya nanti si Indah lupa pulak bawakan oleh-oleh buat kita." balas Ririn.


"Ya udah, gak usah pada berisik. Sini uang kalian masing-masing dua ratus ribu per orang!" pinta ku.


Aku menadahkan tangan di hadapan Ririn dan Rara. Mereka berdua pun langsung pandang-pandangan sambil mengerutkan kening masing-masing.


"Mereka kebingungan kayak nya, hihihi." batin ku.


Aku membatin sambil cekikikan sendiri melihat reaksi wajah mereka berdua, yang tampak kebingungan dan terlihat seperti orang linglung.


"Minta uang buat apa?" tanya Rara penasaran.


"Ya untuk beli Bika Ambon lah. Tadi kan kata nya minta di bawakan Bika Ambon!" jawab ku santai.


"Whaaat?" pekik Ririn dan Rara serempak.


"Itu sih nama nya bukan oleh-oleh, tapi minta titip di belikan !" protes Ririn.


"Hahaha, tu tau." balas ku sembari tertawa terbahak-bahak.


"Dasar, lampir gila!" gerutu Ririn.


Ririn mengumpat sambil menoyor jidat ku. Aku hanya tersenyum-senyum menanggapi kelakuan Ririn.


"Emang nya kau pikir toko Bika Ambon itu punya nenek moyang loe, bisa main ambil gitu aja. Harus bayar gaes bayar!" balas ku santai.


"Berisik kau, Ndah! Pokoknya aku gak mau tau. Oleh-oleh ku harus Bika Ambon, titik!" balas Ririn masih dengan mode ngeyel nya.


"Idiiiih, maksa pulak nih orang. Tengok nanti lah kalo aku ingat." jawab ku.


"Harus ingat lah, Ndah. Jangan pura-pura amnesia pulak kau setelah sampe di sana nanti." balas Ririn masih tetap kekeuh dengan keinginan nya.

__ADS_1


"Ya ya ya, tapi gak janji." jawab ku menutup percakapan.


Setelah otot-ototan bersama teman koplak ku itu, kami bertiga pun kembali bergabung bersama teman-teman lain nya di bangku panjang.


__ADS_2