
"Enggak, sayang. Kamu gak salah kok." jawab bang Rian.
"Kamu kan melakukan ini bukan karena kenikmatan semata, tapi karena kamu butuh uang buat keluarga mu di kampung. Ya kan, bener gak?" lanjut bang Rian.
"Iya," jawab ku lirih.
Aku menunduk dan memejamkan mata sejenak. Aku merenung nasib badan yang selalu di pandang rendah oleh orang-orang sekitar, hanya karena pekerjaan ku yang hina.
"Udah, gak usah sedih lagi! Kamu juga berhak kok, melakukan apa pun yang kamu mau." balas bang Rian.
"Tapi ingat, satu pesan abang pada mu. Jangan sampai kamu terpengaruh untuk memakai obat-obatan terlarang, karena bisa fatal akibat nya, paham!" tutur bang Rian tegas.
"Iya, aku paham. Aku juga gak mau kok, memakai obat-obatan seperti itu." balas ku.
"Syukur lah kalo kamu gak mau." ujar bang Rian lega.
Bang Rian terus saja membelai rambut ku dengan lembut, dan sesekali mendarat kan kecupan hangat nya di kening ku.
"By the way, kenapa ponsel mu bisa hancur gitu, sayang? Apa karena berantem sama pacar mu ya?" selidik bang Rian.
"Bukan, bukan karena itu. Tapi karena kesal sama ayah." jawab ku jujur.
"Loh, emang kenapa lagi dengan ayah mu? Minta uang lagi ya?" tebak bang Rian.
"Iya," jawab ku sembari mengangguk.
"Hah, emang nya uang yang abang kirim kemaren udah habis ya? Kok cepet banget, padahal baru seminggu yang lalu kita ngirim nya?" tanya bang Rian sedikit terkejut.
"Ah, entah lah, bang. Aku juga bingung menghadapi sikap ayah." jawab ku membuang nafas kasar.
"Entah apa yang di makan mereka di sana, maka nya uang lima juta bisa habis dalam waktu satu minggu." lanjut ku.
"Mereka?" tanya bang Rian bingung.
"Iya mereka, ayah dan kedua adik ku." jawab ku.
"Ooohhh, mereka toh. Lah, trus nenek mu gimana? Apa mereka tidak membagikan uang kiriman mu pada beliau?" tanya bang Rian penasaran.
"Enggak, bang. Jatah bulanan nenek beda lagi. Biaya katering makan sama uang pegangan nenek, semua nya aku yang nanggung dari sini." jawab ku.
"Oalah, kok tega banget sih, ayah mu tidak membagikan uang itu untuk nenek mu juga." tutur bang Rian sembari menggeleng-gelengkan kepala nya.
Bang Rian tampak heran sekaligus bingung, ketika mendengar sikap ayah seperti itu kepada ibu nya sendiri.
__ADS_1
"Tu lah, maka nya kepala ku sering sakit, ya karena gini ini. Gara-gara mikirin masalah ini terus tiap hari." jelas ku.
"Iya, bener juga sih. Gimana gak sakit kepala coba, kalau beban mu seberat ini?" ujar bang Rian manggut-manggut.
"Kalau seandainya abang yang ada di posisi mu, mungkin abang udah setres mikirin nya." tutur bang Rian membenarkan ucapan ku.
Aku hanya berdiam diri sambil terus mendengarkan ocehan bang Rian, yang sedari tadi tiada henti-hentinya.
"Emang ayah mu minta uang berapa, sayang?" tanya bang Rian.
"Dua juta." jawab ku pelan.
"Oh ya udah, abang kirim sekarang ya!" balas bang Rian.
"Ya, terserah abang aja." jawab ku pasrah.
Bang Rian melepas rangkulan nya, lalu berjalan ke arah meja rias untuk mengambil ponsel nya. Kemudian dia mengotak-atik ponsel itu, lalu menunjuk kan bukti transferan nya pada ku.
"Nih lihat, udah abang transfer ya!" ujar bang Rian sembari duduk di samping ku, dan menyerahkan ponsel nya ke tangan ku.
Aku menerima ponsel itu, lalu melihat nya sebentar. Setelah itu aku menyerahkan ponsel itu kembali pada bang Rian, lalu berucap...
"Iya, makasih banyak ya, bang." balas ku sembari tersenyum.
"Udah, jangan sedih lagi ya! Masalah nya kan udah beres semua, jadi udah gak ada yang perlu di pikirin lagi sekarang." tutur bang Rian.
"Iya, sekali lagi makasih ya, bang. Abang udah baik banget sama aku. Aku gak tau harus bagaimana cara membalas nya." balas ku dengan mata berembun.
Aku memeluk tubuh bang Rian, dan menenggelamkan wajah ku di dada bidang nya. Bang Rian pun membalas pelukan ku, dan mengecup kening ku sampai berulang-ulang.
Air mata yang sedari tadi aku tahan, kini tumpah ruah di dalam pelukan nya. Aku menangis sejadi-jadinya sambil mengeratkan pelukan ku, pada lelaki baik yang ada bersama ku itu.
"Ck, kok malah nangis sih? Udah tua gini pun masih aja cengeng, kayak bocil aja!" ledek bang Rian.
Bang Rian melepas pelukannya, lalu mengusap lembut air mata ku dengan jari tangan nya.
"Ya, gak papa. Anggap aja aku bocil yang harus abang sayangi." balas ku sembari tersenyum manis pada nya.
"Pasti dong, sayang. Abang pasti akan terus menyayangi mu." tutur bang Rian.
"Janji?" ujar ku lalu menyodorkan jari kelingking ku di depan nya.
"Ya, abang janji." jawab bang Rian sembari mengeratkan jari kelingking nya di jari ku.
__ADS_1
Aku tersenyum dan kembali memeluk tubuh kekar bang Rian. Entah kenapa setiap kali memeluk nya, aku merasakan kenyamanan dan ketenangan di hati ku.
Dia lelaki dewasa yang baik dan penuh kasih sayang. Aku merasa sangat beruntung, bisa mengenal lelaki baik seperti dia.
"Semoga saja sikap mu tidak akan pernah berubah dengan ku, bang." batin ku penuh harap.
Setelah pikiran ku sudah mulai tenang, aku pun mulai melepaskan pelukan ku dari tubuh bang Rian. Kemudian, aku memandangi wajah tampan nan rupawan itu dengan tatapan sayu.
Aku mengulurkan tangan untuk membelai pipi bang Rian. Setelah itu, aku mulai mendekat kan wajah ku pada nya, lalu mencium bibir nya dengan lembut dan mesra.
"Jangan pernah bosan dengan sikap dan tingkah laku ku ya, bang!" ujar ku.
"Iya, sayang. Insya Allah, abang gak akan pernah bosan dengan semua sikap mu itu." balas bang Rian sembari tersenyum dan mencubit gemas hidung ku.
"Alhamdulillah, syukur lah kalau begitu." balas ku lega.
Aku merasa sangat bahagia, ketika mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh bang Rian. Dan setelah suasana haru berakhir, aku mengajak bang Rian untuk beristirahat di atas ranjang.
"Bobok yok, bang! Mata ku udah mulai ngantuk nih, hoam." seru ku sembari menguap.
"Yok!" balas bang Rian.
Aku dan bang Rian naik ke atas ranjang, lalu merebahkan diri masing-masing dengan posisi telentang. Setelah itu, bang Rian menarik ku ke dalam dekapan nya, dan kembali mencium kening ku sembari berkata...
"Selamat tidur, sayang. Mimpi yang indah ya, seindah nama mu di hatiku!" bisik bang Rian.
"Halah, gombal." cibir ku.
Mendengar ucapan ku, tawa bang Rian pun langsung pecah. Dia tertawa terbahak-bahak, hingga membuat tubuh kami berdua berguncang-guncang cukup kuat.
"Stop! Nanti aja di sambung lagi ketawa nya. Sekarang kita bobok dulu, mata ku udah ngantuk nih." oceh ku sembari menutup mulut bang Rian dengan telapak tangan ku
Tawa bang Rian langsung hilang seketika, akibat ulah tangan ku. Bukan nya marah, dia malah tersenyum dan menggenggam tangan ku yang masih menempel di mulut nya, lalu dia mencium nya dengan lembut.
"Jangan mancing-mancing abang dong, sayang! Nanti kalau dedek abang bangun, bisa berabe urusan nya." oceh bang Rian.
"Lah, siapa yang mancing-mancing? Aku kan cuma nyuruh abang diem, bukan nyuruh yang macam-macam, aneh." balas ku.
"Oh, kirain lagi mancing-mancing abang, hehehe." ujar bang Rian salah tingkah.
"Udah ah, gak usah cengar-cengir terus. Ayo, kita tidur!" oceh ku.
"Oke siap, nona manis." balas bang Rian.
__ADS_1
Setelah melewati perdebatan yang cukup panjang seperti kereta api, akhirnya kami berdua pun mulai memejamkan mata dan tertidur pulas di bawah selimut.