Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Ajakan Alex


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih lima belas menit, aku dan Hendra sudah tiba di depan gerbang kos tempat tinggal ku.


"Mau singgah dulu gak, bang?" tanya ku sembari membuka sealbeat yang melingkar di tubuh ku.


"Gak usah, sayang. Lain kali aja abang singgah nya ya. Abang mau langsung balek ke kantor lagi soal nya." jawab bang Hendra.


"Oh, ya udah deh kalo gitu. Hati-hati di jalan ya!" balas ku sembari mengecup kilat kedua pipi nya dan juga bibir nya.


"Iya, sayang." balas bang Hendra.


Selesai berpamitan dengan bang Hendra, aku segera keluar dari mobil lalu berdiri di depan pintu gerbang.


"Bye," seru ku sembari tersenyum dan melambaikan tangan pada bang Hendra.


"Bye juga, sayang." balas bang Hendra sambil membalas lambaian tangan ku.


Bang Hendra mulai melajukan mobil nya kembali menuju ke jalan raya, dan bergabung dengan kendaraan bermotor lain nya.


Setelah bayangan bang Hendra menghilang dari pandangan ku, aku pun langsung bergegas naik ke lantai tiga dengan sedikit tergesa-gesa.


Sampai di depan pintu kamar kos, aku segera mengambil kunci dari saku celana lalu membuka pintu sambil mengucapkan salam.


"Assalamualaikum, wa'laikum salam."


Aku menjawab salam ku sendiri sembari melangkah masuk ke dalam kamar. Setelah mengunci pintu, aku segera berganti pakaian lalu menyimpan uang pemberian bang Hendra ke dalam lemari.


Setelah itu, aku mendudukkan diri di atas lantai dan menyandarkan punggung ku di tepi kasur. Kemudian aku menyalakan rokok dan menatap lurus ke arah jendela.


"Kira-kira Haris masih marah gak ya?" gumam ku.


"Kalau seandainya dia kecewa berat dan ingin meninggalkan ku, aku harus bisa ikhlas untuk melepas kepergian nya dari hidup ku."


"Karena aku juga sadar siapa diri ku ini. Aku hanya wanita kotor dan hina yang tak pantas untuk di cintai oleh lelaki baik seperti dia." batin ku sembari menetes kan air mata.


Saat sedang asyik dengan lamunanku, tiba-tiba terdengar suara dering ponsel yang berada di atas meja bufet.


Dengan gerakan malas, aku mulai merentangkan tangan untuk meraih ponsel yang sedang berdering nyaring tanda panggilan masuk.


"Nomor siapa ini kok gak ada nama nya?" gumam ku dengan kening mengkerut menatap layar ponsel.


Dengan sedikit ragu dan penuh pertimbangan, akhirnya aku pun menerima panggilan itu sambil menghisap rokok kembali.


"Halo, siapa nih?" tanya ku.


"Aku Alex, Ndah." jawab Alex dengan suara pelan seperti orang yang sedang berbisik.


"Oh, kirain siapa. Ada perlu apa ngubungi aku? Trus nomor ku dapat dari mana?" tanya ku.


"Judes banget sih cewek satu ini. Bikin tambah gemes aja." gerutu Alex.


"Udah, gak usah ngedumel segala. Cepat jawab pertanyaan ku tadi!" desak ku.


"Iya iya, gak sabaran banget sih jadi orang." oceh Alex kesal.


"Aku minta nomor mu sama Hendra tadi siang. Aku cuma mau ngabarin aja, kalau nanti malam aku mau mengajak mu nginap di hotel. Gimana, kamu mau gak?" lanjut Alex.


"Hmmmm, tengok nanti lah. Aku gak bisa kasih jawaban sekarang." jawab ku dingin.


"Yaaaahh, kok gitu sih, Ndah! Padahal aku mengharapkan jawaban mu sekarang." tutur Alex kecewa.

__ADS_1


"Aku gak bisa janjiin sekarang, Lex. Tengok situasi nanti malam lah, kalau memang bisa nanti aku kabari, oke!" balas ku.


"Ya udah deh, aku tunggu sampai nanti malam. Mudah-mudahan aja jawaban mu nanti tidak mengecewakan ku." tutur Alex lirih.


"Ya, mudah-mudahan aja." balas ku.


"Oke lah kalo gitu, aku mau lanjut kerja lagi nih. Sampai ketemu nanti malam ya, sayang. I love you." pamit Alex menutup panggilan nya.


"Ya, love you juga." balas ku asal.


Setelah panggilan dari Alex berakhir, aku meletakkan ponsel kembali ke atas meja bufet, lalu kembali melanjutkan lamunan ku yang sempat tertunda tadi.


"Aduuuuh, gimana ini? Aku terima gak ya ajakan Alex tadi? Bikin pusing kepala ku aja pun brondong gila satu itu." gerutu ku sembari mengacak-acak rambut ku sendiri.


Aku bingung harus mengambil keputusan yang mana. Di satu sisi, aku membutuhkan banyak uang. Tapi di sisi lain, aku lagi lagi menyakiti perasaan Haris.


Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya aku pun memutuskan untuk menerima ajakan Alex nanti malam.


"Ah, terima aja lah. Memenuhi kebutuhan keluarga ku lebih penting, dari pada menjaga satu hati." gumam ku lagi.


Tanpa terasa waktu kerja pun tiba, aku segera bergegas membersihkan diri ke kamar mandi. Setelah itu, aku langsung bersiap-siap untuk pergi ke lokasi tempat ku mengais rezeki.


Setelah berjalan kaki selama lima menit, aku pun sudah tiba di depan gedung karaoke tempat kerja ku.


Selesai mengisi absen dan meletakkan tas di boks penyimpanan, aku segera melangkah masuk ke dalam kantin lalu memesan makanan.


Sambil menunggu makanan tiba, aku kembali merenung tentang percakapan ku dengan Alex tadi sore. Saat sedang fokus dengan pikiran ku, tiba-tiba Ririn mengejutkan ku dari belakang sembari menepuk pundak ku.


"Dooorrr," pekik Ririn.


"Eh mampus kau eh mampus kau." latah ku sembari terlonjak kaget.


"Huh, dasar kutu kupret!" bikin lemah jantung ku aja nih bocah gendeng." umpat ku sembari mengelus dada.


"Sorry bestie aku khilaf, hehehe." balas Ririn sembari nyengir kuda.


"Khilaf kok berulang-ulang, aneh. Orang khilaf itu cukup sekali aja, bukan terus-terusan kayak kau gini." cibir ku kesal.


"Iya iya, maaf ya, cayang. Gak bakal ku ulangi lagi deh, suer!" ujar Ririn sembari membentuk jarinya seperti huruf V.


"Iya kan aja lah, dari pada muncung rombeng nya ngoceh terus gak siap-siap." balas ku memutar bola mata malas.


"Ngambek niyeee, hihihi." goda Ririn sembari cekikikan dan menoel-noel dagu ku.


"Gak lah, ngapain pulak aku ngambek. Buang-buang energi aja. Mending energi nya aku simpan buat tempur nanti, ups." oceh ku.


Aku langsung reflek menutup mulut dengan kedua tangan ku, sambil melihat mata Ririn yang sedang mendelik menatap wajah ku.


Tanpa sadar, ternyata aku keceplosan di depan Ririn. Dan itu berhasil membuat kepo tingkat dewa nya pun kumat lagi.


"Hayo, ketahuan kau ya! Mau tempur sama kau malam ini?" selidik Ririn.


"Kepo," jawab ku asal sembari memalingkan wajah ku dari tatapan tajam nya.


"Bukan kepo tapi penasaran." balas Ririn.


"Sama aja, dodol." umpat ku.


"Ya ya ya, suka hati kau lah mau bilang apa, yang penting jawab dulu pertanyaan ku yang tadi." ujar Ririn masih tetap kekeuh ingin mengetahui jawaban ku.

__ADS_1


"Pertanyaan yang mana?" tanya ku pura-pura lupa.


"Oalah, dasar lampir pikun! Baru aja pertanyaan itu keluar dari mulut ku, masa udah lupa sih!" gerutu Ririn.


"Ya aku memang udah pikun, baru tau kau ya." balas ku asal.


"Hahaha, iya juga ya. Kok baru ini aku sadar, kalau kau memang udah pikun dari orok." ledek Ririn.


Ririn terus saja mentertawai ku, dan mengata-ngatai ku dengan candaan receh nya. Bukan nya marah atau pun jengkel dengan kelakuan nya, aku malah selalu terhibur dengan aksi-aksi kocak nya tersebut.


Setelah capek mentertawai ku, Ririn pun kembali mengulang pertanyaan nya. Dia masih tampak penasaran dan ingin tahu, dengan siapa aku pergi nanti.


"Oke oke, aku tanya sekali lagi ya. Mau tempur sama siapa kau malam ini?" tanya Ririn.


"Alex," jawab ku.


"Alex siapa?" selidik Ririn.


"Teman bang Hendra." jawab ku lagi.


"Oooohhh, teman bang Hendra yang ganteng itu ya?" tanya Ririn.


"Ya," jawab ku.


"Wah wah wah, asik tuh dapat brondong muda." cibir Ririn sembari tersenyum-senyum pada ku.


"Asik kepala mu itu!" umpat ku sembari menoyor jidat Ririn.


"Lah, emang nya kenapa? Kan bangus sih sama dia. Udah lah ganteng, muda, banyak duit pulak tuh. Kurang apa lagi coba? Gak bersyukur banget sih jadi orang!" umpat Ririn kesal.


"Memang iya sih, tapi aku masih kepikiran sama cowok ku. Lagi lagi aku melukai hati nya." balas ku sambil menunduk kan kepala.


"Loh, emang nya dia kenapa? Apa dia udah mulai curiga ya, sama kelakuan mu selama ini?" tanya Ririn.


"Iya, dia mulai curiga karena aku jarang pulang ke kos." jawab ku sembari mengangguk.


"Waduh, gawat juga lah kalo gitu ceritanya." ujar Ririn sembari menepuk jidat nya sendiri.


"Tu lah, maka nya aku bingung sekarang. Kalau aku menolak ajakan-ajakan kencan mereka, otomatis aku gak ada pemasukan lagi kecuali gaji pokok disini." tutur ku.


"Iya juga sih, ternyata ribet juga ya perempuan malam kayak kita gini punya pacar."


"Pasti di cemburui, pasti di larang ini itu, pasti di curigai terus kalau gak pulang ke kos. Hadehh, mumet juga kepala di buat nya." oceh Ririn panjang lebar.


"Iya, bener banget kata mu itu. Memang ribet kalau punya pacar. Sedangkan dia tau sendiri kerjaan kita itu apa disini."


"Kalau kita tidak melayani laki-laki, dari mana lagi kita dapat kan uang buat ngasih makan keluarga di kampung." lanjut ku.


"Yups, betul sekali." balas Ririn.


Aku dan Ririn sama-sama terdiam sejenak, tak lama kemudian makanan yang kami pesan pun tiba, dan sudah tertata rapi di atas meja.


Kami berdua makan dengan lahap dan hening, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun lagi. Selesai makan, Ririn pun kembali berceloteh pada ku.


"Udah, kau gak usah pusing-pusing lagi mikirin cowok mu itu. Keluarga kita jauh lebih penting, dari pada mikirin satu laki-laki yang bukan siapa-siapa kita." tutur Ririn.


"Iya lah, aku juga sepemikiran dengan mu. Aku akan terima ajakan Alex nanti, dan aku juga udah pasrah kalau memang cowok ku itu ninggalin aku gara-gara masalah ini." balas ku.


"Naaah, gitu dong. Itu baru nama nya wanita strong. Jangan lemah hanya karena satu laki-laki." tutur Ririn menyemangati ku.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum menanggapi kata-kata Ririn, yang sedari tadi tiada henti-hentinya berceloteh ria di depan ku.


__ADS_2