
Selesai berdebat dengan Ririn, aku kembali mengajak Alex bersulang dan meminum minuman itu sampai tandas tak bersisa.
Sedangkan Ririn dan Andre, mereka sedang asyik bernyanyi ria dengan suara cempreng mereka masing-masing.
Tanpa terasa malam pun semakin larut, minuman yang ada di meja kami pun sudah habis. Tamu-tamu minum lain nya pun sudah pada berdatangan, memenuhi meja yang masih kosong di dalam ruangan karaoke.
Melihat keadaan yang semakin ramai dan riuh, Alex pun segera menyuruh ku untuk mengambil tagihan minuman nya di meja kasir.
"Ambil nota nya, sayang! Biar kita keluar sekarang." bisik Alex.
"Oke, tunggu bentar ya!" balas ku.
Aku mulai beranjak dari sebelah Alex lalu berjalan menuju meja kasir.
"Bil, total nota ku sekarang!" titah ku pada Billy sang kasir.
"Oke," balas Billy.
Setelah selesai menghitung, Billy pun menyerahkan kertas nota itu ke tangan ku sembari berkata...
"Nah, ini nota mu." ujar Billy.
"Oke, makasih ya." balas ku sembari tersenyum manis pada nya.
"Tumben waras, biasa nya gila terus tiap hari." ledek Billy.
"Sssttt, berisik!" balas ku sambil menempelkan jari telunjuk ku di bibir Billy.
Billy hanya menggeleng-gelengkan kepala nya melihat tingkah aneh ku tersebut. Setelah mendapatkan nota tagihan, aku kembali melangkah ke meja Alex lalu duduk di sebelah nya.
"Ini nota nya, Lex." ujar ku sembari menyerahkan kertas nota ke tangan Alex.
"Oke," balas Alex.
Sesudah melihat jumlah yang tertera di kertas itu, Alex pun langsung mengeluarkan uang dari dalam dompet nya, lalu menyerahkan nya ke tangan ku.
"Nah, sekalian bayarkan uang chas keluar mu sama teman mu itu ya!" bisik Alex.
"Oke, bos. Sekalian aja kita jalan bareng kesana, yok!" balas ku sembari menunjuk ke arah pintu keluar.
"Oke, ayo!"
Balas Alex sembari berdiri dari tempat duduk nya, lalu beralih kepada teman nya Andre yang masih tampak asyik bersenda gurau bersama Ririn.
"Ayo kita keluar, Ndre! Bawa cewek itu sekalian." seru Alex.
"Loh, mau kemana?" tanya Andre bingung.
"Tadi kata nya mau ikut check in, kau jadi ikut gak?" tanya Alex.
"Oh iya aku lupa, hehehe." jawab Andre salah tingkah sembari menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal.
"Oke lah aku ikut. Ayo, sayang! Kita keluar dari sini." lanjut Andre sambil menggandeng lengan Ririn dan mengajak nya jalan bersama.
Ririn hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu mengikuti langkah Andre menuju pintu keluar.
"Ndah, tolong bawakan sekalian tas ku ya!" pinta Ririn.
"Oke," balas ku sembari mengacungkan jempol ku pada nya.
Sedangkan Alex, dia menunggu ku di samping meja kasir, sambil terus memperhatikan tingkah-tingkah aneh dan kocak tamu minum lain nya.
Selesai pembayaran dengan Billy, aku segera bergegas ke tempat penyimpanan tas, lalu mengambil tas ransel ku dan juga tas selempang Ririn.
Setelah mendapatkan nya, aku kembali menghampiri Alex yang masih mematung di samping meja kasir.
"Yok, Lex!" seru ku sembari menggandeng lengan Alex dan berjalan keluar dari pintu utama.
Alex tidak menjawab apapun, dia hanya mengikut dan jalan beriringan dengan ku menuju parkiran mobil nya.
Sampai di parkiran, ternyata sudah ada Andre dan Ririn yang sedang menunggu kedatangan kami berdua.
"Nah, ini tas mu!" ujar ku sembari memberikan tas selempang kepada Ririn.
"Oke, makasih ya, cayang." balas Ririn dengan nada manja nya.
"Ya," balas ku.
Setelah menyerahkan tas pada Ririn, aku menoleh kepada Alex sembari berkata...
"Ayo, tunggu apa lagi!" seru ku sambil menyenggol bahu Alex.
Mendengar ucapan ku, Andre pun langsung membuka suara nya.
__ADS_1
"Kita mau nginap di hotel mana, Lex?" tanya Andre.
"Hotel M aja. Ayo masuk, Ndah!" jawab Alex sembari membukakan pintu mobil nya untuk ku.
"Oke," balas ku lalu masuk ke dalam mobil Alex.
"Oh, ya udah kalo gitu." balas Andre menyetujui ucapan Alex.
"Ayo kita masuk, Rin!" seru Andre sembari membukakan pintu kendaraan nya untuk Ririn.
"Ya," jawab Ririn sambil melangkah masuk ke dalam mobil Andre.
Setelah melihat Andre dan Ririn masuk ke dalam mobil mereka, Alex pun langsung bergegas masuk ke dalam dan duduk di sebelah ku.
Tanpa berkata apapun lagi, Alex langsung tancap gas menuju hotel M, yang berjarak tidak jauh dari lokasi tempat kerja ku.
Sedangkan Ririn dan Andre, mereka mengikuti kami dari belakang. Tidak sampai sepuluh menit menempuh perjalanan, kami pun sudah tiba di depan gedung hotel, tempat kami bertiga menginap kemarin bersama bang Hendra.
Setelah mobil terparkir rapi di halaman hotel, aku dan Alex langsung keluar dan melangkah masuk ke dalam gedung tersebut. Begitu juga dengan Andre dan Ririn, mereka juga ikut masuk sambil terus bergandengan tangan.
Selesai memesan kamar masing-masing, kami berempat kembali melangkah menuju kamar yang berada di lantai dua.
Melihat kemesraan Andre dan Ririn, aku pun berinisiatif untuk menggoda mereka dengan ocehan-ocehan receh ku.
"Kalian berdua ini udah kayak anak ayam takut kehilangan induk nya aja, gandengan terus dari tadi. Hihihi," ledek ku sembari cekikikan.
"Biarin, week." balas Ririn sembari menjulurkan lidah nya pada ku.
"Huuuu, dasar bocah edan." umpat ku sambil mencubit pelan lengan Ririn.
"Eits, jangan pegang-pegang! Bukan muhrim, hahaha." gelak Ririn sembari menepis tangan ku.
"Gila," umpat ku lagi.
Alex dan Andre hanya tersenyum-senyum geli, saat melihat tingkah kekanak-kanakan ku dan juga Ririn yang selalu berdebat di mana pun berada.
Sesampainya di depan kamar, Alex langsung membuka pintu dengan kunci yang ada di tangan nya. Begitu pun dengan Andre dan Ririn, mereka berdua masuk ke dalam kamar nya dan menutup pintu nya kembali.
Setelah masuk ke dalam, aku meletakkan tas ransel ke atas meja kecil yang berada di samping ranjang.
Kemudian aku duduk di pinggiran ranjang untuk membuka sepatu, lalu meletakkan nya di samping pintu.
Setelah mengunci pintu, Alex berdiri menyandar membelakangi meja rias, dan melipat kedua tangan nya di atas perut. Dia terus saja memperhatikan ku yang sedari tadi hanya diam di depan nya.
"Ada apa? Kok nengok nya serius kali dari tadi?" tanya ku heran.
"Emang wajah ku kenapa? Ada yang aneh ya?" tanya ku lagi.
"Gak ada yang aneh kok, sayang. Cuma aku perhatiin, makin hari dirimu makin cantik aja di mata ku." jawab Alex.
"Halah, gombal." cibir ku sembari tersipu malu.
"Cius, sayang. Aku bukan sedang menggombal mu, tapi aku mengatakan hal yang sebenarnya." jelas Alex.
"Ya ya ya, terserah kau aja lah." jawab ku sambil memalingkan wajah ke samping.
Aku merasa sedikit malu, mendapatkan tatapan mata dari Alex. Melihat gelagat ku yang sedang malu-malu kucing, Alex pun mulai mendekat dan duduk di sebelah ku.
"Kenapa malu-malu gitu?"
Tanya Alex sembari menyentuh dagu ku, lalu memutar posisi wajah ku untuk menghadap pada nya.
"Siapa yang malu-malu?" tanya ku balik.
"Oh, enggak ya. Aku pikir tadi kamu malu-malu karena aku pandangi terus."
Jawab Alex sembari menyunggingkan senyum manis nya pada ku. Dia kembali menatap wajah ku dengan kedua mata indah nya.
"Aduuuh, Alex ini bikin jantung ku dag-dig-dug aja pun jadi nya." gerutu ku dalam hati.
Setelah beberapa saat terdiam, aku pun kembali berceloteh di depan Alex.
"Ya enggak lah, ngapain juga aku harus malu-malu kucing segala. Kayak anak ABG aja." bantah ku.
Aku memanyunkan bibir sambil memasang wajah masam di depan Alex. Melihat ekspresi wajah ku yang sedang merajuk, Alex pun kembali mengeluarkan rayuan-rayuan maut nya pada ku.
"Hahaha, ngambek niyeee!" ledek Alex sembari menoel-noel pipi ku.
"Iiihhhh, apaan sih." rengek ku manja.
"Tapi beneran kok, Ndah. Malam ini kamu tu cantik banget, loh. Aura nya nampak beda dari yang terakhir kita jumpa kemaren." tutur Alex.
"Ya karena tadi sore aku mandi kembang tujuh rupa, makanya bisa tambah cantik gini." balas ku asal.
"Hah, kamu serius?" pekik Alex terkejut.
__ADS_1
"Ya enggak lah, aneh-aneh aja. Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu." jawab ku sambil tersenyum miring.
"Oh syukur lah, kirain beneran tadi." ujar Alex lega.
Setelah selesai berbincang ngalor-ngidul berdua, Alex pun mulai memeluk tubuh ku dari samping, lalu meletakkan dagu nya di atas bahu ku.
"Ndah, apakah kau menyukai Hendra?" tanya Alex sembari mencium tengkuk leher ku.
"Loh, emang nya kenapa? Kok tiba-tiba nanya itu pulak?" tanya ku balik.
"Gak papa, aku cuma pengen tau aja." jawab Alex dengan suara serak.
Alex seperti nya sudah mulai bergairah dengan aksinya sendiri. Dia terus saja mencium bagian leher dan juga pundak ku, dengan nafas yang mulai tidak beraturan lagi.
"Aku sama bang Hendra itu gak ada hubungan apa-apa. Kami hanya sebatas teman kencan aja gak lebih." jelas ku.
Aku menjawab sambil menikmati perbuatan nakal Alex. Aku mulai hanyut dalam sentuhan-sentuhan lembut nya.
Karena saking terlena nya dengan ulah Alex, sampai-sampai aku tidak sadar kalau bibir ku sudah mengeluarkan suara-suara aneh, yang bisa menaikkan hasrat yang mendengar nya.
"Hentikan, Lex! Jangan siksa aku seperti ini. Aku paling gak tahan, kalau kau giniin terus." rengek ku dengan nafas yang mulai memburu.
Mendengar rengekan ku, Alex pun langsung menghentikan perbuatan nya. Dia memegang kedua bahu ku, lalu memutar posisi badan ku ke arah nya.
"Kalau kamu udah gak tahan, kita mulai sekarang ya!" ujar Alex.
Aku hanya mengangguk mengiyakan permintaan nya. Melihat anggukan ku, Alex pun kembali tersenyum dan mulai merebahkan tubuh ku di atas ranjang.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Alex mulai melancarkan serangan nya pada ku. Dia mencium bibir ku dengan durasi waktu yang cukup lama.
Setelah itu, dia juga mencumbui ku dari atas sampai bawah, tanpa ada yang terlewat kan satu inci pun.
Alex memanjakan tubuh ku dengan lembut dan mesra, hingga membuat ku semakin terlena dan terbuai oleh perlakuan nya tersebut.
Setelah puas mencumbui ku, kini tiba lah saat nya untuk melakukan tugas yang paling utama, yaitu memberikan pelayanan terbaik nya pada ku.
Alex melakukan gerakan-gerakan liar nya di atas tubuh ku dengan semangat yang tinggi. Dia tidak henti-hentinya memacu hingga membuat badan nya basah bermandikan keringat nya sendiri.
Begitu juga dengan ku, aku memejamkan mata dan menikmati hasil permainan Alex. Kami saling memberi dan menerima satu sama lain di atas ranjang hotel tersebut.
Setelah bergumul ria selama hampir dua jam, aku dan Alex pun akhirnya mencapai puncak secara bersamaan.
"Makasih ya, sayang. Makasih karena sudah mau melayani ku malam ini." bisik Alex sembari mengecup kening ku.
"Iya, aku juga makasih atas kepuasan yang sudah kau berikan padaku." balas ku sembari tersenyum.
Dengan keadaan tubuh yang basah, Alex pun mulai mengeluarkan milik nya dari dalam milik ku. Kemudian dia menjatuhkan diri nya di sebelah ku. Dia tampak sangat kelelahan, akibat pertempuran yang baru saja kami lakukan tadi.
"Hadehh, pegel banget lutut ku, Ndah." ujar Alex sembari memegangi kedua lutut nya.
"Hihihi, kapok! Siapa suruh main lama-lama." ledek ku sembari cekikikan.
"Ya habis nya enak sih, kalau main nya sebentar aja mana seru." balas Alex.
Aku hanya tersenyum mendengar penuturan Alex yang benar ada nya. Permainan Alex memang enak dan nikmat, hingga membuat ku merasa sangat puas saat menerima pelayanan nya tadi.
"Enak sih enak, tapi kalau akibat nya fatal gini, kan kasian juga lihat nya."
Oceh ku sembari duduk dan mengulurkan tangan ku untuk memijat-mijat lutut Alex.
"Iya juga sih, hehehe." balas Alex sembari terkekeh.
Setelah beberapa menit memijat lutut Alex, aku pun mengajak nya untuk membersihkan diri ke kamar mandi.
"Bersihin dulu, yok! Siap tu kita langsung tidur. Capek semua badan ku gara-gara ulah mu tadi." oceh ku.
"Jangan marah-marah gitu lah, sayang. Ntar cepat tua loh." ledek Alex sembari duduk dan mencubit pelan hidung ku.
"Bukan nya marah, tapi cuma ngomel aja." balas ku.
"Sama aja lah kalo gitu." ujar Alex.
"Eh, iya juga ya. Sama aja artinya, hihihi." balas ku kembali cekikikan.
Selesai berhaha hihi dengan Alex, aku pun mulai turun dari ranjang, lalu menarik tangan Alex untuk membawa nya masuk ke dalam kamar mandi.
Alex hanya menurut dan mengikuti langkah ku dari belakang. Setelah selesai membersihkan diri, aku dan Alex kembali naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut tebal.
"Kita istirahat ya, sayang. Nanti setelah bangun tidur, kita lanjutin lagi cari keringat nya."
Bisik Alex sembari mengecup kening, pipi dan juga bibir ku. Setelah itu, Alex membawa tubuh ku ke dalam pelukan hangat nya.
"Iya," jawab ku pelan.
Setelah mengucapkan kata-kata penghantar tidur, aku dan Alex pun mulai memejamkan mata masing-masing.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, kami berdua pun tertidur lelap dan mulai menjelajahi alam mimpi.