Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Keikhlasan Bang Hendra


__ADS_3

"Ayo kita turun, sayang!" seru bang Hendra.


"Iya," jawab ku.


Aku dan bang Hendra turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gedung hotel. Setelah memesan kamar, bang Hendra merangkul pundak ku dan mengajak ku berjalan bersama, menuju kamar yang sudah di pesan nya.


Sampai di depan kamar, bang Hendra segera membuka pintu dan menguncinya kembali. Aku meletakkan tas ransel di atas nakas, lalu membaringkan diri di atas ranjang.


"Lah, udah pasrah aja dia rupanya."


Tutur bang Hendra sembari mendekati ku dan ikut membaringkan tubuh nya di samping ku. Dia memiringkan badan nya dan menopang kan kepala nya, di atas telapak tangan nya sembari berucap...


"Sayang, apakah kau merasa puas jika bermain dengan abang?" tanya bang Hendra sembari membingkai wajah ku.


"Emang kenapa, kok abang nanya gitu?" tanya ku balik.


"Ya, gak papa sih. Abang cuma pengen tau aja, apakah dirimu puas atau tidak?" tutur bang Hendra.


"Ya pasti puas lah, abang kan kalo main pasti lama. Trus yang paling aku sukai itu permainan lidah abang, yang bisa bikin aku langsung bergairah." jawab ku.


"Oh, gitu ya. Trus apa lagi yang kau suka dari permainan abang?" tanya bang Hendra.


"Hmmmm, suka semua kayak nya, hehehe." jawab ku malu-malu kucing.


"Serius?" tanya bang Hendra dengan wajah berbinar cerah.



"Iya serius, sayang. Aku suka semua permainan abang." jawab ku sembari tersenyum dan membelai lembut pipi nya.


"Kalo abang gak percaya, ayo kita main sekarang! Aku ingin merasakan kenikmatan itu lagi dari abang." bisik ku dengan nafas yang mulai memburu.


"Oke, dengan senang hati, sayang." balas bang Hendra sembari memeluk ku dan mulai menciumi bibir ku dengan lembut.


Setelah puas menciumi bibir dan leherku, kini dia beralih bermain-main di bagian dada ku. Setelah itu dia pun menurunkan ciuman sampai ke area pribadi ku.


Bang Hendra sangat pandai dan lihai dalam memainkan lidah nya. Hingga membuat ku semakin menggeliat-geliat tidak karuan seperti cacing kepanasan, akibat menahan rasa geli dan nikmat dari perbuatannya.


"Udah cukup, bang! Aku paling gak tahan kalo lama-lama di gituin. Cepat masukkan sekarang, sayang! Aku udah gak tahan lagi nih." rengek ku manja.


"Baik lah, sayang."


Mendengar rengekan manja ku, bang Hendra pun menghentikan kegiatan nya. Lalu dia langsung memasukkan tombak nya dengan sedikit kasar.


Bang Hendra mulai melakukan gerakan nya dengan kecepatan yang cukup tinggi, hingga membuat ku semakin tidak terkendali, dengan mata yang terus terpejam dan nafas yang semakin ngos-ngosan tidak karuan.


Aku dan bang Hendra saling memberi dan menerima satu sama lain. Tubuh kami berdua juga sama-sama bermandikan keringat di atas ranjang.

__ADS_1


Bang Hendra pun menyelesaikan kegiatan nya, sesudah kami berdua mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.


"Makasih banyak ya, sayang." ujar bang Hendra sembari mengecup kening ku.


"Ya sama-sama, bang." balas ku.


Setelah selesai bergumul ria, aku dan bang Hendra langsung bergegas membersihkan diri masing-masing ke dalam kamar mandi.


Selesai dengan urusan kamar mandi, aku dan bang Hendra duduk di atas kursi, lalu menyalakan rokok masing-masing.


"Ndah, ada yang mau abang tanya kan dengan mu." tutur bang Hendra membuka percakapan.


"Mau nanya apa?" tanya ku.


"Hmmm, kalau seandainya Alex mengajak mu menginap berdua aja, dirimu mau gak?" tanya bang Hendra ragu.


"Kok tiba-tiba abang nanya gitu? Emang nya Alex ada ngomong apa sama abang?" tanya ku mulai penasaran.


"Tadi dia bilang sama abang, kalau dia mau mengajak mu untuk menginap nanti malam." jawab bang Hendra.


Mata ku langsung terbelalak lebar mendengar penuturan bang Hendra. Aku sama sekali tidak habis pikir dengan jalan pikiran Alex.


"Hadehh, Alex ini gimana sih? Haritu kata nya jangan bilang-bilang sama bang Hendra, kalau dia mau mengajak ku kencan berdua." gerutu dalam hati.


"Kenapa sekarang malah dia sendiri yang ngomong sama bang Hendra, aneh-aneh aja tuh orang!" lanjut ku.


Setelah beberapa saat terdiam, aku pun kembali membalas ucapan bang Hendra.


"Hmmmm, sebenarnya sih marah. Tapi..."


Bang Hendra menghentikan ucapannya, dia tampak ragu untuk mengungkapkan isi hati nya pada ku.


"Tapi apa?" desak ku.


"Tapi abang juga gak ada hak untuk melarang mu menemani siapa pun, termasuk Alex." jawab bang Hendra lemah.


Aku langsung tertegun sejenak, ketika mendengar jawaban bang Hendra. Dia seakan-akan tidak rela jika aku di sentuh oleh Alex.


"Aku juga gak tau harus menerima atau menolak ajakan Alex nantinya, bang. Aku belum bisa pastikan sekarang." balas ku.


Bang Hendra langsung tertunduk lesu saat mendengar ucapan ku, raut wajah nya juga berubah murung seketika.


Setelah melihat perubahan wajah bang Hendra, aku pun kembali melontarkan pertanyaan pada nya.


"Emang nya nanti malam kalian mau minum di karaoke kami, ya?" tanya ku.


"Iya, kayak nya." jawab bang Hendra.

__ADS_1


"Loh, kok kayak nya? Emang nya belum pasti ya?" selidik ku.


"Iya," jawab bang Hendra singkat.


"Oh, kirain udah pasti." balas ku.


Bang Hendra menghembuskan nafas kasar berulang-ulang, kemudian dia pun kembali menghisap rokok nya sambil berkata...


"Ya udah gak papa, kalau memang kamu mau menerima ajakan Alex, ya silahkan aja! Abang ikhlas kok, Ndah."


"Alex itu orang baik, abang percaya sama dia. Dia pasti gak akan berbuat yang aneh-aneh dengan mu." tutur bang Hendra.


"Oh, syukur lah kalau abang udah ikhlas." balas ku lega.


Setelah selesai berbincang-bincang dengan ku, bang Hendra pun mulai beranjak dari tempat duduk nya, lalu berjalan menuju meja rias untuk mengambil tas kecil nya.


Bang Hendra mengeluarkan uang dari dalam tas nya, dan kembali berjalan mendekatiku. Kemudian dia menyerahkan uang itu ke tangan ku, dan mendudukkan dirinya kembali di tempat semula.


"Itu untuk uang pegangan mu, Ndah." ujar bang Hendra.


"Oke, makasih banyak ya, bang." balas ku sembari tersenyum manis pada nya.


"Iya, sama-sama. Abang juga makasih atas waktu mu siang ini." balas bang Hendra.


Aku menyimpan uang pemberian bang Hendra ke dalam tas ransel ku. Setelah itu, aku kembali duduk di kursi tepat di sebelah bang Hendra.


"Mau pulang sekarang atau nanti, sayang?" tanya bang Hendra.


"Sekarang aja, yok! Aku mau istirahat di kos aja." jawab ku.


"Oh ya udah, ayo kita mandi dulu! Siap tu kita langsung balek." seru bang Hendra.


"Oke," jawab ku.


Aku dan bang Hendra pun kembali melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, kami langsung bergegas memakai pakaian masing-masing, lalu bersiap-siap untuk check out dari dari hotel.


"Udah siap, sayang?" tanya bang Hendra sembari memakai sepatu nya.


"Udah, ayo kita keluar!" jawab ku.


"Ayo!" balas bang Hendra sambil menggandeng lengan ku, dan menutup pintu kamar hotel tersebut.


Sesampainya di lantai dasar, bang Hendra menyerahkan kunci kamar kepada resepsionis, lalu kembali melangkah masuk ke dalam mobil.


"Ada yang mau di beli gak, sayang?" tanya bang Hendra sembari memasang sealbeat di dada nya.

__ADS_1


"Gak ada, bang. Kita langsung ke kos ku aja." jawab ku.


"Oh, oke." balas bang Hendra.


__ADS_2