
Setelah bang Rian pergi, aku beranjak dari ranjang dan melangkah masuk ke kamar mandi. Selesai membersihkan diri, aku duduk di pinggir ranjang dengan handuk yang melilit di tubuh ku.
"Kira-kira, perempuan yang sama Haris tadi siapa ya?" gumam ku.
"Apa dia pacar Haris? Atau cuma perempuan bayaran, sama seperti ku?" lanjut ku.
"Ah, gak mungkin mereka pacaran. Kalau memang mereka ada hubungan spesial, gak mungkin perempuan itu diam aja tadi. Udah kayak ayam penyakitan aja." tambah ku.
Aku terus saja bermonolog sendiri, sambil menatap diri dari pantulan cermin yang ada di depan ku.
"Apa selama ini Haris memang tukang jajan gitu ya? Tapi kalau di lihat dari sikap nya sih, nampak nya dia orang baik-baik." gumam ku lagi.
Setelah beberapa saat merenung, aku merebahkan diri di atas ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah. Aku merentang kedua tangan, lalu menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang.
"Ah, biarin aja lah. Lagian, aku juga udah ilfil sama sikap nya. Masih pacaran aja, dia udah berani main tangan. Apa lagi udah jadi istri nya, bisa-bisa aku kena smackdown terus tiap hari." lanjut ku.
Aku menghela nafas dalam-dalam, lalu bangkit dari ranjang. Aku berjalan ke arah meja tv untuk mengambil kotak rokok dan korek.
Setelah itu, aku duduk di kursi yang berada di samping ranjang, kemudian menyalakan rokok. Sambil mengisap rokok, aku kembali melamun memikirkan tentang Haris.
"Apa sebaiknya aku pindah kos aja ya, agar Haris tidak bisa menemuiku lagi."
Aku masih bingung mencari jalan keluar untuk menghindar dari Haris. Aku terus saja berpikir, apa solusi yang terbaik untuk hidup ku selanjutnya.
"Ah, coba nanti aku minta pendapat bang Rian. Siapa tau dia ada saran yang lain untuk ku."
Setelah memantapkan hati untuk menjauhi Haris, tiba-tiba aku tersentak karena melihat kemunculan bang Rian dari balik pintu.
"Hadehh, bikin jantungan aja nih orang." gerutu ku dalam hati sembari mengelus dada.
Bang Rian tampak heran melihat keterkejutan ku. Dia meletakkan bungkusan yang di bawa nya ke atas meja, yang berada tepat di samping ku.
"Kenapa muka nya gitu?" tanya bang Rian bingung.
Bang Rian mendudukkan dirinya di kursi, lalu kembali memandangi ku dengan tatapan aneh nya.
"Lah, emang nya muka ku kenapa?" tanya ku balik sembari menautkan kedua alis.
"Ya gak papa sih, cuma nampak tegang aja. Kayak habis lihat hantu." jawab bang Rian.
"Emang iya, aku baru aja lihat hantu kepala hitam." balas ku asal.
"Hah, serius? Dimana?" pekik bang Rian.
Bang Rian terlonjak kaget dengan mata terbelalak lebar. Dia tampak sangat terkejut mendengar ucapan ku barusan.
"Hihihi, mau aja di kebulin." batin ku terkikik geli.
"Loh, di tanyain bener-bener kok malah senyam-senyum sih? Serius lah, Ndah. Kamu beneran lihat gak?" tanya bang Rian kesal.
"Iya, beneran. Sampai sekarang pun aku masih lihat kok." jawab ku dengan wajah serius.
"Hah, dimana?" tanya bang Rian sembari celingukan kesana kemari.
"Tuh," jawab ku memanyunkan bibir ke arah nya.
__ADS_1
"Maksud mu abang ya?" tanya bang Rian lagi.
"Iya, hahahaha." jawab ku lalu tertawa ngakak.
"Oalah, kirain beneran lihat hantu. Eeehh, ternyata bilangin abang toh. Hahahaha, dasar semprul." umpat bang Rian.
"Hihihi," aku hanya cekikikan menanggapi ocehan bang Rian.
Selesai ketawa-ketiwi berjamaah, aku mulai membongkar satu persatu bungkusan plastik yang di bawa bang Rian.
"Beli apa tadi, bang?" tanya ku.
"Ketoprak sama gado-gado." jawab bang Rian.
"Loh, kok samaan gitu beli nya?" tanya ku lagi.
"Samaan gimana maksudnya?" tanya bang Rian balik.
"Maksud ku makanan ini loh, kan sama aja sih, cuma beda nama nya doang." jelas ku.
Aku menghidangkan ketoprak dan gado-gado itu di depan bang Rian. Setelah itu, membuang sampah plastik nya ke dalam tong sampah.
"Ya beda lah, sayang. Gado-gado itu kan isi nya sayur-sayuran. Sedangkan ketoprak isi nya lontong, tahu sama toge aja." jelas bang Rian.
"Ya kan sama aja sih, sama-sama pakai kuah kacang." balas ku tetap kekeuh.
"Ya, enggak lah. Mana pulak sama. Serupa tapi tak sama nama nya tuh." bantah bang Rian.
"Ck, ngeyel kali pun orang tua satu ini." umpat ku kesal.
"Hahahaha, coba aja kalo bisa!" tantang ku sembari tertawa.
"Ehh, nantang pulak dia. Oke lah, siap makan kita langsung tempur. Abang akan buat dirimu lempoh, sampai gak bisa jalan lurus lagi, hahahaha." gelak bang Rian.
"Ogah ah, capek tauuuu." tolak ku.
"Gak ada penolakan, harus mau pokok nya!" ujar bang Rian tegas.
"Widiih, maksa pulak demit satu ini." umpat ku dengan bibir mengerucut.
Tawa bang Rian pun kembali pecah, melihat ekspresi wajah ku yang lucu dan menggemaskan menurut nya. Bang Rian mencubit kedua pipi ku sembari berkata...
"Iiihhhh, gumush nyaaaa." ujar bang Rian.
"Adoooh, sakit dodol!" umpat ku lagi.
"Dodol Garut enak di makan, hahahaha." ledek bang Rian.
"Udah ah, gak usah haha hihi terus! Kapan makan nya kalau ketawa terus dari tadi." omel ku.
"Eh, iya juga ya. Keburu di rubungi lalat pulak nanti, hehehe." balas bang Rian cengar-cengir salah tingkah.
"Huuuu, dasar! Mana ada lalat di tempat bersih kayak gini." gerutu ku sembari mencubit hidung nya.
Bang Rian hanya tersenyum mendengar celotehan ku. Dia tampak sangat terhibur, dengan candaan dan tingkah konyol ku barusan.
__ADS_1
Setelah selesai bercanda dan ketawa-ketiwi berdua, aku dan bang Rian mulai memakan makanan itu dengan santai dan tenang.
Tak butuh waktu lama, makanan itu pun habis tak bersisa. Aku kembali berjalan ke arah tong sampah untuk membuang bungkus makanan tersebut.
Setelah itu aku kembali duduk di tempat semula, dan kembali menyalakan rokok. Begitu juga dengan bang Rian, dia juga menyalakan rokok nya, dan dengan perlahan menghembuskan asap nya ke udara.
"Hhhmmm, bang. Ada yang mau aku tanya kan sama abang." tutur ku membuka percakapan kembali.
"Nanya soal apa?" tanya bang Rian.
"Soal pindah kos. Gimana menurut abang? Apa sebaik nya aku pindah aja ya, biar dia tidak menemui ku lagi?" tanya ku meminta pendapat bang Rian.
"Hmmmm, kalo menurut abang sih bagus juga ide mu itu. Kalau kamu tetap tinggal di sana, pasti dia bakalan datang-datang terus nanti nya."
"Apa lagi kalau dia punya kunci cadangan nya, otomatis dia akan seenak nya aja nanti nya. Dia bisa bebas keluar masuk kamar mu, waktu kamu sedang bekerja." jelas bang Rian panjang lebar.
"Bahkan mungkin, dia bisa aja membawa perempuan tadi ke dalam kamar mu. Dari pada bayar hotel mahal-mahal, kan mendingan yang gratis di kamar mu." tambah bang Rian.
Aku hanya diam sambil terus mendengarkan penuturan bang Rian. Aku memikirkan semua kata-kata nya yang mungkin saja bisa terjadi.
"Ada bener nya juga, apa yang di katakan bang Rian tadi. Bisa jadi sih, Haris membawa cewek itu ke dalam kamar ku." batin ku membenarkan ucapan bang Rian.
Melihat keterdiaman ku, bang Rian pun kembali melanjutkan ceramah nya.
"Abang gak yakin, kalau pacar mu itu akan diam saja, setelah kejadian tadi siang. Dia pasti akan terus mengganggu mu, karena tidak terima dengan perlakuan mu tadi." tutur bang Rian.
"Iya, juga sih." balas ku sembari manggut-manggut.
Bang Rian memandangi ku dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Dia seperti nya ingin mengatakan sesuatu pada ku. Tapi dia tampak ragu untuk menyampaikan nya.
"Gimana menurut mu? Bener gak apa yang abang bilang tadi?" tanya bang Rian.
"Iya, bener. Aku juga sepemikiran dengan abang." jawab ku lirih.
"Jadi sekarang gimana? Apa langkah mu selanjutnya?" tanya bang Rian.
"Kayak nya sih, aku harus pindah kos. Biar dia gak bisa mengganggu ku lagi." jawab ku.
"Bagus, abang setuju dengan keputusan mu itu." balas bang Rian dengan senyum yang mengembang.
Bang Rian tampak lega setelah mendengar jawaban ku. Dia seperti nya sangat mengkhawatirkan keadaan ku. Dia juga terlihat takut, kalau sewaktu-waktu Haris akan mengganggu ku, dan mungkin juga akan berbuat kasar pada ku.
"Ya udah kalo gitu, pindah nya sekarang aja yok! Biar abang bantu ngangkatin barang-barang nya." seru bang Rian.
"Lah, emang sekarang udah jam berapa?" tanya ku.
"Masih sore kok, baru jam tujuh." jawab bang Rian sembari melihat jam yang ada di pergelangan tangan nya.
"Ohhh, kirain udah malam." balas ku.
Aku terdiam sejenak untuk memikirkan ajakan bang Rian. Aku masih ragu untuk berpindah tempat, tapi aku juga tidak mau bertemu dengan Haris lagi.
Setelah beberapa saat berpikir dan menimbang-nimbang, akhirnya aku pun menyetujui ajakan bang Rian.
"Oke lah, aku pindah sekarang." balas ku.
__ADS_1