Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Dijemput Bang Hendra


__ADS_3

"Ma-maksud nya..."


"Aduuuuh, ini muncung kok kebablasan terus sih dari tadi, bikin jantungan aja." gerutu ku dalam hati.


Aku langsung panik dan gelisah akibat ucapan ku sendiri. Aku bingung harus menjawab apa pada kekasih ku itu.


Saat sedang pusing-pusing nya memikirkan jawaban untuk Haris, tiba-tiba ponsel nya berdering nyaring di dalam tas kecil nya.


Aku yang sedari tadi melamun pun langsung tersentak kaget, ketika mendengar deringan ponsel yang cukup memekakkan telinga itu.


"Ck, siapa sih yang nelpon pagi-pagi buta gini? Ganggu orang aja." gerutu Haris.


Haris mengulurkan tangan nya untuk mengambil ponsel dengan gerakan malas. Setelah mendapatkan nya, dia menerima panggilan itu dengan mata yang melirik tajam ke arah ku.


"Ya halo, ada apa?" tanya Haris ketus.


"Ya udah, tunggu aja aku di sana. Aku berangkat sekarang." jawab Haris.


Setelah panggilan berakhir, Haris menyimpan ponsel nya kembali ke dalam tas. Lalu dia kembali menatap ku dengan raut wajah yang cukup horor menurut ku.


"Pembicaraan kita belum selesai, nanti aja kita lanjutkan lagi. Aku mau berangkat ke tempat kerja dulu, ada hal penting yang harus aku selesaikan di sana." tutur Haris dingin.


"Ya, hati-hati di jalan ya, bang!" balas ku lirih.


Haris tidak menjawab ucapan ku, dia langsung bergegas memakai pakaian nya. Lalu melangkah keluar begitu saja dari kamar, tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada ku.


Aku menatap kepergian Haris dengan mata sayu dan berembun. Dan tanpa sadar, air mata ku mulai menetes membasahi kedua pipi ku.


"Andai saja kau tau, seberapa banyak tanggungan yang harus aku penuhi. Andai saja kau tau, berapa banyak perut yang harus aku kasih makan. Apakah kau masih tega bersikap seperti itu pada ku, bang?" gumam ku pelan.


"Aku terpaksa menjual harga diri ku, hanya demi membahagiakan keluarga ku. Bukan untuk kebahagiaan ku semata." lanjut ku lagi.


Setelah beberapa saat termenung, aku bangkit dari tepi kasur untuk mengunci pintu.


Kemudian aku membaringkan diri di atas kasur, untuk mengistirahatkan tubuh dan otak yang sedikit lelah, akibat memikirkan nasib hidup ku di tanah perantauan ini.


Aku mulai memejamkan mata perlahan, dan tak lama kemudian aku pun mulai terlelap, sambil memeluk guling menghadap tembok.


Setelah terlelap selama kurang lebih tujuh jam, aku terbangun secara tiba-tiba karena mendengar suara ketukan pintu dari luar kamar ku.


Tok tok tok...

__ADS_1


"Ya, tunggu bentar!" pekik ku dengan suara serak khas bangun tidur.


Dengan langkah yang sedikit sempoyongan, aku menyambar handuk yang tergantung di samping pintu, lalu melilitkan nya ke tubuh ku.


Setelah itu aku segera membuka pintu, sambil mengucek-ngucek mata yang masih terasa perih dan lengket.


Saat pintu terbuka, mata ku yang tadi nya masih lengket pun langsung terbelalak lebar. Ketika melihat bang Hendra yang sedang berdiri di depan ku, dengan senyum yang mengembang di bibir nya.


"Hai, sayang." sapa bang Hendra sambil melambaikan tangan nya.


"A-abang mau ngapain kesini?" tanya ku gugup sekaligus panik.


Bukan nya menjawab, bang Hendra malah tertawa ngakak melihat penampilan ku yang masih bermuka bantal, dan rambut yang acak-acakan seperti singa.


"Hahahaha, berantakan banget muka mu itu, Ndah. Tengok rambut mu tuh acak adut kayak gitu, udah kayak singa beranak aja!" gelak bang Hendra.


Aku hanya cengar-cengir menanggapi ledekan bang Hendra, sembari menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.


"By the way, abang gak di suruh masuk ke dalam nih!" ujar bang Hendra.


"Jawab dulu pertanyaan ku tadi, baru aku kasih masuk." balas ku.


"Pertanyaan yang mana?" tanya bang Hendra bingung.


"Oh, itu. Abang cuma ingin bertemu dengan mu, sayang. Abang kangen banget dengan mu." jawab bang Hendra sembari memeluk tubuh ku secara tiba-tiba.


Mendapat serangan mendadak dari bang Hendra, aku pun langsung berontak dan berusaha melepaskan diri dari pelukan nya.


"Iiihhhh, lepasin, bang! Malu di lihat orang tau gak." rengek ku.


"Gak ada yang bakalan lihat, sayang. Suasana nya lagi sepi gini kok." balas bang Hendra.


"Biar pun gak ada yang lihat, tapi gak enak kalo kita kayak gini disini." oceh ku.


"Ya udah, kita lanjutkan di tempat lain aja ya. Abang tunggu di mobil, kamu cepat lah mandi biar kita berangkat!"


Tutur bang Hendra sembari melangkah pergi, meninggalkan ku yang masih terbengong di depan pintu.


"Emang kita mau kemana?" pekik ku.


Bang Hendra hanya menoleh sekilas, lalu kembali melangkah kaki nya menuruni anak tangga, untuk menuju ke lantai dasar tanpa menjawab pertanyaan ku.

__ADS_1


"Hadeehh, dia ini sebenarnya mau ngajak kemana sih? Bikin penasaran aja tuh orang." gerutu ku kesal.


Setelah bang Hendra menghilang dari penglihatan ku, aku pun segera bergegas membersihkan diri ke kamar mandi, dengan gerakan yang sedikit terburu-buru.


Selesai mandi, aku langsung berlari kecil masuk ke dalam kamar. Lalu bergegas memakai pakaian dan memoles sedikit wajah.


Setelah itu, aku juga menyemprot kan parfum ke seluruh tubuh ku dan menyampirkan tas ransel ke pundak ku. Setelah semua nya selesai, aku segera keluar dari kamar dan melangkah dengan cepat menuju ke parkiran.


Sesampainya di depan mobil bang Hendra, aku langsung masuk ke dalam lalu memasang sealbeat ke tubuh ku.


"Kita mau kemana?" tanya ku.


Aku menatap wajah bang Hendra, yang sudah mulai menjalankan kendaraan roda empat nya ke jalan raya.


"Hotel." jawab bang Hendra sembari mengerlingkan sebelah mata nya.


"Hah, ke hotel? Mau ngapain kesana?" tanya ku dengan mata yang membulat sempurna.


"Mau happy-happy." jawab bang Hendra santai.


"Happy-happy yang bagaimana maksud nya?" tanya ku lagi.


"Masa gitu aja gak ngerti sih, sayang!" jawab bang Hendra sembari tersenyum manis pada ku.


"Kalo aku ngerti, ngapain aku mesti nanya lagi." balas ku sewot sambil memanyunkan bibir ku ke depan.


"Hahahaha, jangan ngambek gitu dong, sayang!" gelak bang Hendra sembari mencubit pelan hidung ku.


"Iya iya, abang jelasin deh. Kita akan bersenang-senang di atas ranjang. Sekarang udah jelas kan!" lanjut nya.


"Loh, kemaren kan udah. Kenapa sekarang minta lagi?" tanya ku heran.


"Kemaren abang gak puas, karena main nya di gangguin Alex terus." jawab bang Hendra.


"Helehh, alasan!" cibir ku.


"Iya beneran, sayang. Abang sebenarnya jengkel kali kemaren tuh, karena Alex ikut nginap sama kita." ujar bang Hendra kesal.


Aku tidak menanggapi ucapan bang Hendra lagi. Aku hanya fokus menatap lurus ke jalanan, dengan pikiran yang sedikit tidak tenang karena memikirkan sikap Haris tadi pagi.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, bang Hendra pun memarkirkan mobil nya di depan gedung hotel, tempat kami menginap kemarin sewaktu bersama Alex.

__ADS_1


"Ayo kita turun, sayang!" seru bang Hendra.


"Iya," jawab ku.


__ADS_2