Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Rencana Esok Hari


__ADS_3

"Lagi banyak duit ya, Ndah?" tanya Rara.


"Kenapa emang nya?" tanya ku balik.


"Ya, gak papa sih. Cuma kaget aja. Tumben-tumbenan kau mau traktir kita berdua. Ya gak, Rin!" jawab Rara.


"Gak juga lah, Indah memang sering kok traktir aku makan. Kau aja yang selalu ketinggalan gosip." balas Ririn.


"Ah, masa sih! Kok aku gak pernah tau, ya?" ucap Rara ragu.


"Ya iya lah, kau gak tau. Kau kan selalu sibuk dengan pacar mu yang mata duitan itu." cibir Ririn.


"Apa? Mata duitan?" pekik ku.


Rara langsung menundukkan kepala nya, setelah mendengar pekikan ku. Dia terlihat malu dan gelisah, karena Ririn sudah membongkar rahasia nya selama ini.


"Mata duitan gimana maksudnya, Rin?" tanya ku mulai penasaran.


"Loh, emang nya kau gak tau ya, Ndah?" tanya Ririn balik.


"Kalo aku tau, ngapain aku nanya, dodol." balas ku sembari menoyor jidat Ririn yang duduk di sebelah ku.


"Oh, iya juga ya, hihihi." jawab Ririn cekikikan.


Rara hanya berdiam diri di tempat duduk nya. Dia tidak berani membantah ucapan Ririn. Rara menatap wajah ku dan Ririn secara bergantian, sembari merobek-robek kecil, tisu yang ada di tangan nya.


"Gini loh cerita nya, Ndah. Rara itu kan udah punya pacar. Trus, mereka berdua tinggal bersama di kosan Rara. Tapi, pacar nya Rara itu gak kerja, Ndah. Cuma makan tidur aja di kos nya Rara." jelas Ririn.


"Hah, kau serius, Rin?" tanya ku sedikit terkejut.


"Ya, serius lah. Kalo gak percaya, kau tanya aja sama orang nya langsung!" jawab Ririn sembari menunjuk Rara dengan dagu nya.


"Bener, Ra?" tanya ku langsung tanpa basa-basi lagi.


Aku dan Ririn menatap wajah sendu Rara dengan serius. Karena mendapatkan tatapan mata yang penuh tanda tanya dari kami berdua. Akhirnya, Rara pun mulai menceritakan tentang kehidupan yang di jalani nya saat ini.


"Iya bener, Ndah." jawab Rara pelan.


"Ya Allah, Ra. Kau itu kok bodoh kali sih, jadi cewek. Ngapain juga kau pelihara laki-laki pemalas dan kere, seperti pacar mu itu." ucap ku kesal.


"Mendingan, kau pelihara ayam aja di kos mu, udah jelas bisa menghasilkan uang. Dari pada kau pelihara laki-laki yang gak berguna kayak gitu." gerutu ku panjang lebar.


"Iya, betul apa yang kau bilang itu, Ndah." sambung Ririn.


"Kalo aku mah ogah banget, punya pacar yang tau nya cuma numpang hidup sama kita." lanjut Ririn.


Aku menoleh pada Ririn. Lalu, aku memberikan isyarat dari tatapan mata ku. Agar Ririn membungkam mulut nya, dan tidak memojokkan Rara lagi.


Ririn yang mengerti arti tatapan mata ku itu pun, langsung terdiam dan tidak mengoceh seperti beo lagi.


"Sekarang aku mau tanya, tapi kau harus jawab jujur ya, Ra!" ucap ku.


"Iya, aku akan jawab jujur. Emang nya kau mau nanya tentang apa?" tanya Rara.

__ADS_1


"Ya, tentang pacar mu itu lah. Apa yang kau harapkan dari laki-laki seperti itu? Apakah kau hanya mengharapkan kepuasan ranjang dari nya? Atau ada alasan lain, yang membuat mu tetap mempertahankan nya?" tanya ku.


Ririn hanya manggut-manggut, mendengar pertanyaan beruntun dari ku. Sedangkan Rara, dia malah menatap ku dengan mata yang mulai berembun.


"Aku mencintai nya, Ndah." jawab Rara lirih.


"Cinta?" tanya ku lagi.


"Iya, Ndah. Aku rela membiayai hidup nya, karena aku sangat mencintai nya, Ndah. Aku tidak bisa hidup tanpa diri nya." ungkap Rara.


"Wah wah wah, udah gawat darurat nih bocah. Kayak nya dia udah kena pelet nih, Ndah. Omongan nya udah gak wajar lagi, soalnya" usul Ririn.


"Apa an sih, Rin? Jangan asal nuduh gitu kenapa sih. Mana bukti nya, kalau dia melet aku?" tanya Rara.


Rara menolak mentah-mentah ucapan Ririn. Dia tampak sangat marah dan tidak terima, kalau pacar nya di tuduh yang tidak-tidak oleh Ririn.


"Bukan nya nuduh, Ra. Aku itu cuma curiga aja, melihat gelagat aneh mu akhir-akhir ini." jelas Ririn.


Rara langsung terdiam seketika. Dia tampak sedang memikirkan kata-kata Ririn barusan. Setelah beberapa saat hening, Rara pun menoleh kepada ku.


Rara seolah-olah sedang meminta pendapat dari ku. Aku hanya mengangguk, membenarkan ucapan Ririn. Aku setuju dengan usulan Ririn.


"Aku perhatiin, sikap mu sedikit berubah, setelah kau menjalin hubungan dengan laki-laki itu, Ra." lanjut Ririn.


"Betul gak, Ndah?" tanya Ririn meminta pendapat ku.


"Hmmm, iya juga sih, Rin." jawab ku sedikit ragu.


Aku dan Ririn terus saja memperhatikan gelagat Rara. Dia terlihat semakin gelisah di tempat duduk nya. Pandangan mata nya tampak kosong, menatap ke arah robekan tisu, yang sedari tadi ada di tangan nya.


"Tuh, bener kan filing ku! Indah pasti sependapat dengan ku." ucap Ririn.


"Ya udah deh, aku mau menuruti keinginan kalian." jawab Rara.


"Naaah, gitu dong dari tadi. Ya kan, Ndah." ucap Ririn sembari tersenyum dan menyenggol lengan ku.


"Iya," jawab ku.


"Sebagai sahabat, kami gak mau melihat mu menderita, Ra. Kami juga gak tega melihat mu terus di ploroti, oleh lelaki yang tidak berguna seperti pacar mu itu." lanjut Ririn lagi.


"Iya, bener apa kata Ririn, Ra. Kau itu sahabat kami. Gak mungkin lah kami diam aja, kalau kau di gituin sama laki-laki itu." sambung ku menimpali ucapan Ririn.


Air mata yang sedari tadi tertahan di pelupuk mata Rara, kini akhirnya menetes juga. Rara menangis sesenggukan, karena mendengar nasehat kami berdua.


"Jadi gimana, Ra? Kau mau gak, ngikutin saran ku tadi?" tanya Ririn.


"Saran yang mana?" tanya Rara balik.


"Oalah, kamvret...kamvret... Udah sampe berbusa mulut ku ini, ngoceh terus dari tadi. Masih nanya pulak dia, saran yang mana? Hadehh, capek deh!" omel Ririn kesal.


Ririn menempel kan punggung tangan nya sendiri ke kening nya. Dia sangat kesal dengan Rara yang tulalit alis linglung.


"Maka nya dulu waktu kecil, kalau di suruh sekolah itu, ya sekolah. Jangan asik main ke sungai aja kerjaan mu. Udah tuek kayak gini, oon kan jadi nya." oceh Ririn geram.

__ADS_1


"Hahahaha,"


Aku tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan Ririn yang benar ada nya. Rara memang sedikit Lola (loading lama). Kalau berbicara dengan nya, selalu saja lama nyambung nya.


"Oh, itu. Iya, aku mau ngikutin saran mu." jawab Rara menyetujui usulan Ririn.


"Syukur lah kalau kau mau." ucap Ririn kepada Rara.


"Jadi, kapan kira-kira kita ngobatin si kamvret satu ini, Ndah?" tanya Ririn pada ku.


"Gimana kalau besok siang?" usul ku.


Ririn langsung mengalihkan pandangan nya kepada Rara. Dia meminta persetujuan Rara, atas usulan ku barusan.


"Gimana, Ra?" tanya Ririn.


"Terserah kalian mau kapan, aku ngikut aja." jawab Rara.


"Oke lah kalau begitu. Besok sehabis sholat zhuhur, kita ngumpul di kos ku aja. Biar kita bisa pergi bareng-bareng, ke tempat ustadz kenalan ku." ucap Ririn.


"Oke," jawab ku dan Rara bersamaan.


Setelah perbincangan panjang selesai, makanan yang kami pesan pun tiba. Si mbak pelayan kantin, mulai menghidangkan semua makanan dan minuman itu di atas meja.


"Ayo, kita makan! Perut ku udah lapar banget nih, gara-gara ngasih ceramah sama si kamvret satu ini." umpat Ririn kepada Rara.


"Iya, cerewet. Berisik kali pun muncung mu itu." jawab Rara dengan bibir mengerucut.


"Hahahaha,"


Aku kembali tertawa ngakak, melihat tingkah kocak nan lucu kedua sahabat koplak ku itu. Tak butuh waktu lama, acara makan bersama pun selesai.


Setelah selesai membayar tagihan makanan, kami bertiga pun mulai melangkah keluar dari kantin menuju bangku panjang, dan bergabung kembali bersama teman-teman lain nya.


Baru saja mendudukkan diri di bangku panjang, tiba-tiba ada dua mobil yang datang, dan parkir tepat di depan pintu masuk karaoke kami.


"Wah, ada tamu datang, Ndah."


Ririn berbisik sembari menyenggol lengan ku berulang-ulang.


"Aku juga nampak, dodol."


Aku menjawab sambil terus menatap orang-orang, yang sedang keluar dari mobil nya masing-masing.


"Wah, ada sepuluh orang, Ndah. Ganteng-ganteng pulak, tuh." pekik Ririn dengan wajah yang berbinar-binar.


"Ssstttt, bisa diem gak, sih! Bising kali muncung mu itu, bikin pekak kuping ku aja." umpat ku.


"Hehehe, maaf ya, cayang. Aku gak sengaja, aku khilaf, aku..."


Aku langsung membungkam mulut Ririn, yang sedari tadi mengoceh tiada henti-hentinya.


"Di suruh diem, kok malah semakin berisik muncung mu ini." umpat ku sambil terus menutup mulut Ririn, dengan kedua telapak tangan ku.

__ADS_1


__ADS_2