Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Telpon Dari Ayah


__ADS_3

"Pusing kenapa, Ndah? Karena kebanyakan minum tadi, ya?" tanya Ririn.


"Bukan karena itu, Rin. Tapi karena..."


Aku menghela nafas panjang. Sulit rasa nya untuk mengatakan hal itu kepada Ririn.


"Trus, karena apa?" desak Ririn.


"Karena aku sudah berjanji, akan memenuhi permintaan lelaki yang aku temani tadi." jawab ku.


"Janji apa? Emang nya lelaki itu minta apa sama mu?" tanya Ririn semakin penasaran.


"Ke hotel." jawab ku lirih.


"HAH, kau serius, Ndah?" pekik Ririn.


"Iya, aku serius, Rin. Tadi lelaki itu meminta ku untuk menemani nya ke hotel. Tapi aku tolak, alasan ku lagi datang bulan. Trus dia bilang, kalau dia datang lagi kesini, aku harus mau menemani nya." jelas ku.


"Trus, kau jawab apa?" tanya Ririn.


"Dengan berat hati, aku terpaksa mengiyakan permintaan nya." jawab ku.


Ririn termenung sejenak, kemudian dia pun kembali bersuara, sambil menepuk-nepuk pelan pundak ku.


"Kalau bayaran nya sesuai dengan yang kau inginkan, kenapa harus di tolak? Kan lumayan tuh, untuk tambahan buat ngirim ayah mu." bisik Ririn.


"Ada benar nya juga sih, apa yang di katakan Ririn. Mumpung masih ada kesempatan, aku harus bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Agar aku bisa membelikan rumah untuk ayah." batin ku.


Aku memikirkan usulan dari Ririn. Aku bingung harus menerima tawaran bang Rian atau tidak. Di satu sisi, aku memang sangat membutuhkan uang, untuk membiayai ayah dan juga nenek.


Tapi di sisi lain, akan ada dua hati yang tersakiti akibat perbuatan ku itu. Sedang asyik berperang dengan isi kepala, tiba-tiba Ririn pun kembali berbisik di telinga ku.


"Terima aja, Ndah. Rejeki nomplok gak boleh di tolak, mubazir tau." ucap Ririn.


Aku menoleh kepada Ririn, yang sedang menatap ku sambil tersenyum.


"Kalau kau gak mau, kasih ke aku aja, Ndah. Biar aku yang menemani nya ke hotel." pinta Ririn dengan wajah serius.


"Gilak kau, ya! Kau pikir bang Rian itu barang, yang bisa di oper kesana-kesini." omel ku sembari menoyor jidat Ririn.


"Hehehe, gilak-gilak dikit gak papa lah, Ndah. Yang penting, aku bisa dapat duit banyak." balas Ririn.


"Ya kalau itu sih, aku juga mau, dodol. Siapa juga yang gak mau dapat duit banyak." sungut ku pada Ririn.


"Nah, tu tau. Trus, kenapa tadi kau tolak ajakan lelaki itu?" tanya Ririn.


"Aku masih ragu, Rin. Kalau pacar ku dan bang Hendra sampai tau, aku pergi ke hotel dengan lelaki lain, mereka pasti akan marah dan meninggal kan ku." jawab ku.


"Ya, jangan di kasih tau lah! Mereka kan gak bakalan tau, kalau kau gak buka suara." tambah Ririn lagi.


"Iya, juga sih, Rin. Tapi, kalau mereka nanya aku nginap dimana, trus aku harus jawab apa?" tanya ku bingung.


"Bilang aja lagi nginap di kos ku, gampang kan. Nyari alasan gitu aja kok ribet amat, sih!" gerutu Ririn.


"Oh, bener juga ya. Kenapa aku gak kepikiran sampe kesitu tadi." balas ku.


"Gimana mau kepikiran sampe kesitu? Kau kan sama tulalit nya kayak Rara, hahaha."


Ririn meledak ku, sembari tertawa terpingkal-pingkal.


"Sembarangan, jangan asal njeplak aja muncung mu itu, ya! Aku tabok pake sepatu nanti, baru tau rasa." gerutu ku kesal.

__ADS_1


"Eits, coba aja kalo bisa!" tantang Ririn sembari menyilang kedua tangan nya, membentuk huruf X di depan ku.


"Dasar, kamvret!" umpat ku.


"Hahaha," gelak Ririn.


Ririn mulai menurunkan tangan kembali, lalu mendekat kan wajah nya pada ku.


"Eh eh eh, mau ngapain kau dekat-dekat sama ku. Jauh-jauh sana, geli tau gak!" omel ku.


"Yeee, siapa juga yang doyan sama mu. Aku juga geli, tauuuu!" balas Ririn tak mau kalah.


"Lah trus, itu tadi apa coba?" tanya ku.


"Aku tu mau ngomong, bukan mau yang aneh-aneh. Ngeres aja otak mu ini." balas Ririn sembari menoyor jidat ku.


"Ooh, kirain mau ngapain, hihihi."


Aku cekikikan melihat ekspresi wajah Ririn yang sedang cemberut, dengan bibir yang mengerucut ke depan.


"Emang nya, kau mau ngomong apa an?" tanya ku.


"Sini, aku bisikin!" jawab Ririn.


Dengan gerakan malas, aku pun mendekat kan telinga kepada Ririn.


"Kalau ada teman lelaki itu, yang mau nyari cewek buat di ajak ke hotel, tawarkan sama aku aja ya, Ndah! Aku lagi butuh uang soal nya, buat biaya berobat ibu ku di kampung." bisik Ririn.


"Oh, itu toh. Oke lah, nanti aku tanya kan kalau mereka datang lagi kesini." balas ku.


"Oke sip, makasih ya, Ndah. Kau memang best friend ku yang paling baik." puji Ririn sembari bergelayut manja di lengan ku.


"Halah, modus! Kalo ada mau nya ya gitu itu. Kayak lilin kena api, langsung meleleh." cibir ku.


Setelah selesai berhaha hihi dengan Ririn, tanpa terasa waktu kerja pun telah usai. Kami semua bersiap-siap untuk pulang ke kosan masing-masing.


"Jangan lupa rencana kita besok ya, Ndah! Habis sholat zhuhur, kau harus datang ke kos ku. Awas kalau gak datang, aku akan bikin perhitungan dengan mu!" ancam Ririn.


"Sukak mu lah situ! Mau bikin perhitungan kek, mau bikin perkalian kek. Mbok los, aku ora urus!" balas ku memakai bahasa Jawa.


"Hah, apa artinya itu, Ndah? Kau pun aneh-aneh aja lah pulak. Masa bahasa mu campur aduk gitu, kayak gado-gado aja." gerutu Ririn.


"Tanya aja sama mbah google, kalau kau mau tau artinya, hahaha." jawab ku asal.


Aku tergelak sembari melangkah pergi, meninggalkan Ririn yang masih terlihat bingung dan terpaku, di tempat nya berdiri.


"Dasar, lampir edaaan!" pekik Ririn kesal.


"Biarin, week!" pekik ku sembari menjulurkan lidah pada Ririn.


Aku terus saja berjalan meninggalkan Ririn dengan langkah cepat, menuju kos tempat tinggal ku. Beberapa menit kemudian, aku pun sudah tiba di depan gedung kos.


Dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal, aku masuk ke dalam gerbang, dan mulai menapaki anak tangga satu persatu. Setelah berjalan melewati dua lantai, aku pun tiba di depan pintu kamar.


"Huh, akhirnya sampai juga." gumam ku menghela nafas berat karena kecapekan.


Sesampainya di dalam kamar, aku langsung berganti pakaian dan membersihkan diri ke kamar mandi. Setelah itu, aku langsung menjatuhkan diri di atas kasur.


"Uuuhh, pegel nya pinggang kuuu!" gumam ku sembari menggeliat kan badan.


Setelah capek menggeliat ke kanan dan ke kiri sampai berulang-ulang, aku mulai memejamkan mata sambil memeluk guling.

__ADS_1


Baru saja hendak terlelap, tiba-tiba ponsel ku berdering nyaring di atas meja.


Haduuuh, siapa sih nelpon-nelpon jam segini? Gak tau apa, kalo aku mau istirahat?" gerutu ku kesal.


Aku duduk di tepi kasur, dan segera mengambil ponsel yang sedang memekakkan telinga itu. Dengan pandangan yang sedikit buram, aku membaca nama yang tertera di layar ponsel.


"Ayah,"


Aku bergumam, sembari mengucek-ngucek mata yang terasa sangat perih, akibat menahan kantuk dan lelah.


"Kira-kira ada perlu apa ya, ayah menghubungi ku subuh-subuh gini, hoam?" gumam ku lagi sembari menguap lebar.


Dengan mata yang tertutup, aku kembali merebahkan diri di atas kasur, lalu menerima panggilan dari ayah.


"Halo assalamualaikum, yah." salam ku.


"Wa'laikum salam, udah pulang kerja, Ndah?" tanya ayah.


"Udah, yah. Baru aja nyampe di kos. Ini aku lagi baring di kasur, baru aja mau tidur." jawab ku jujur.


"Oh," balas ayah.


"Ada apa, yah? Tumben-tumbenan ayah nelpon aku jam segini?" selidik ku.


"Ini, Ndah. Ayah perlu uang buat bayar kontrakan, sama belanja bulanan." jawab ayah.


"Loh, kan belum ada seminggu, aku ngirim uang untuk ayah lima juta. Kemana habis nya semua uang itu?" tanya ku kesal.


Mata ku yang tadi nya tertutup, kini langsung terbelalak lebar. Aku sangat terkejut mendengar ucapan ayah barusan.


"Uang itu...Uang itu udah habis, Ndah." jawab ayah ragu.


"Hah, masa uang sebanyak itu udah habis, dalam waktu beberapa hari aja?" pekik ku semakin terkejut.


"Sebenarnya, yang ayah makan sehari-hari itu apa, nasi atau emas?" tanya ku kesal.


"Ya nasi lah, Ndah. Gak mungkin lah ayah makan emas, aneh-aneh aja." balas ayah mulai sewot.


"Kalau ayah memang makan nasi, uang lima juta itu pasti cukup, buat makan sama bayar kontrakan ayah selama dua bulan." jelas ku.


Aku kembali mendudukkan diri di tepi kasur, sambil menyalakan rokok. Rasa kantuk yang tak tertahankan tadi, tiba-tiba mendadak hilang, akibat mendengar penuturan ayah.


"Ya, mau bagaimana lagi, Ndah. Untuk biaya sekolah Ridwan, sama biaya kuliah Anisa aja masih kurang. Kalo cuma uang segitu, mana cukup untuk memenuhi semua nya." jawab ayah dengan santai nya.


"Ya Allah, yah. Uang lima juta, ayah bilang cuma?" balas ku sembari mengelus dada.


Tanpa ku sadari, air mata ku langsung jatuh membasahi kedua pipi ku. Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran ayah.


"Andai ayah tau, bagaimana cara ku untuk mendapatkan uang itu. Apakah ayah masih sanggup, menyepelekan uang lima juta itu." jerit ku dalam hati.


Aku menangis dalam diam, sambil terus mendengarkan celotehan ayah.


"Ya, kan tadi udah ayah bilang. Kalo cuma uang segitu, mana cukup untuk memenuhi semua kebutuhan kami disini." balas ayah mengulangi kata-kata nya.


"Kau ada pegang uang berapa sekarang, Ndah?" tanya ayah.


"Emang nya kenapa, yah?" tanya ku balik.


"Kirim kan semua uang mu itu besok pagi, ya! Ayah butuh kali uang itu buat bayar kontrakan, sama biaya Ridwan dan Anisa." perintah ayah.


"Aku cuma ada uang satu juta aja sekarang, yah." bohong ku.

__ADS_1


"Hah, masa cuma satu juta aja? Gak mungkin, kau pasti bohong sama ayah kan?" selidik ayah.


"Gak, yah. Aku gak bohong, uang ku memang ada satu juta aja sekarang. Itu pun untuk bayar kos-kosan besok." bohong ku lagi.


__ADS_2