Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Temani tamu di VIP room


__ADS_3

"Ini mulut kenapa sih, jujur banget ngomong nya sama bang Hendra."


Aku bergumam sembari menepuk-nepuk pelan bibir ku sendiri. Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat, waktu untuk pergi bekerja pun tiba.


Sesampainya di lokasi kerja, aku segera mengisi absen, dan bergabung bersama teman-teman lain nya.


"Kau udah makan belum, Ndah?" tanya Ririn.


"Belum, Rin. Emang nya kenapa?" tanya ku balik.


"Kita makan sekarang, yok! Mumpung belum ada tamu yang datang." ajak Ririn.


"Oke, ajak Rara juga lah! Pasti dia belum makan juga, tuh." balas ku.


Aku menunjuk ke arah Rara, yang sedang sibuk berdandan di samping Ririn.


"Ra, kau udah makan belum?" tanya Ririn sambil menepuk lengan Rara.


"Belum," jawab Rara.


"Ke kantin, yok! Kita makan bertiga sama si Indah." ajak Ririn pada Rara.


"Duluan aja, Rin! Nanti aku nyusul kesana, laginanggung nih. Entar lagi juga siap kok." jawab Rara sambil terus memoles wajah nya.


"Oh, ya udah deh. Kami duluan ya." balas Ririn.


"Oke," jawab Rara.


Setelah selesai berbincang dengan Rara, Ririn langsung menoleh pada ku, dan menarik tangan ku untuk berjalan bersama nya menuju kantin.


"Ayo, Ndah! Rara nanti nyusul kata nya." ujar Ririn.


"Iya," balas ku.


Sampai di kantin, aku dan Ririn duduk berhadapan. Tak lama kemudian, sang pelayan kantin pun datang menghampiri meja kami berdua.


"Mau pesan apa, kak?" tanya si pelayan.


Ririn langsung menatap kepada ku, dan bertanya...


"Kau mau makan apa, Ndah?"


"Ayam penyet sambal terasi aja, Rin!" jawab ku.


"Oh, oke." balas Ririn.


Setelah mendapatkan jawaban dari ku, Ririn kembali menoleh kepada si pelayan kantin.


"Mbak, ayam penyet nya dua porsi. Trus, minum nya teh hangat dua. Cepat ya, mbak! Gak pake lama." pinta Ririn sembari menyunggingkan senyum.


"Oke, kak." jawab si pelayan dan berlalu pergi dari meja kami.

__ADS_1


Sambil menunggu makanan tiba, aku mulai membuka ponsel dan bermedia sosial. Sedang fokus melihat berita terbaru, tiba-tiba ponsel yang sedang aku pegang itu pun berdering.


Kring kring kring...


Aku tidak langsung menerima panggilan itu, aku malah terpaku sambil terus menatap nama yang tertera di layar ponsel, yang sedang memekik kuat di tangan ku.


"Kok gak di angkat, Ndah? Siapa yang nelpon, cowok mu ya?" tanya Ririn heran.


"Bukan, Rin. Ini tamu VIP room, yang pernah aku ceritakan sama mu tempo hari." jawab ku.


"Hah, serius kau, Ndah? Mau ngapain dia telpan-telpon kau lagi?" tanya Ririn semakin penasaran.


"Tadi siang dia datang ke kos ku, Rin. Katanya malam ini dia mau datang sama teman-temannya, mereka mau minum disini." jelas ku.


"Loh, kok dia bisa tau alamat kos mu? Trus, mau ngapain dia datang-datang ke kos mu segala?" tanya Ririn lagi.


Ririn menatap ku penuh curiga. Dia tampak sangat penasaran, ingin mendengar kan cerita ku. Melihat tatapan tajam dari Ririn, aku pun menghela nafas sejenak, kemudian aku kembali melanjutkan cerita nya.


"Dia datang membawakan makanan untuk ku, Rin. Terus..."


Aku menjeda kata-kata ku, dan itu berhasil membuat Ririn, semakin bertambah besar rasa curiga nya pada ku.


"Terus apa an, Ndah?" lanjut Ririn.


"Hhmmm, terus kami berdua melakukan nya lagi, Rin." jawab ku lirih.


"Apa? Seriusan, Ndah! Trus, cowok mu gimana? Apa dia gak marah, kalau kau berhubungan intim dengan lelaki lain?" selidik Ririn.


"Oh, iya juga ya, hehehe." balas Ririn cengar-cengir salah tingkah.


"Emang nya dia ngasih uang banyak ya, Ndah? Maka nya kau mau di ajak begituan lagi dengan nya." tanya Ririn.


"Iya, Rin. Ya lumayan lah, buat ngirim ayah ku di kampung. Udah dapat uang, dapat kenikmatan lagi. Mubasir kalo di tolak, Rin. Hahaha!" ujar ku sambil tertawa ngakak.


"Huuuu, dasar edan! Eh, tapi iya juga sih. Sayang kalo di tolak. Udah lah orang nya ganteng, banyak uang pulak." balas Ririn.


"Apa lagi kalo permainan ranjang nya hebat. Wow, gak bisa terbayangkan oleh ku, betapa bahagianya mendapatkan lelaki seperti itu." tambah Ririn lagi.


"Nah, tu tau. Maka nya aku mau di ajak melakukan nya lagi, Rin." balas ku.


"Hehehe, iya sih juga sih, Ndah. Aku juga pasti mau, kalo seperti itu ceritanya." ujar Ririn.


Karena terlalu asyik bercerita dengan Ririn, aku sampai lupa mengangkat panggilan dari bang Hendra, yang sedari tadi masih berdering di tangan ku.


"Itu di angkat dulu lah, Ndah! Kasian dari tadi dia nelpon, gak di angkat-angkat." ujar Ririn.


"Oh iya, aku lupa." jawab ku.


"Halo assalamualaikum, bang."


"Wa'laikum salam, sayang. Kamu udah sampai di tempat kerja kan, Ndah?" tanya bang Hendra.

__ADS_1


"Udah, bang. Ini lagi makan di kantin." jawab ku.


"Oh oke, abang kesana sekarang ya!" balas bang Hendra.


"Oke, bang. Aku tunggu." jawab ku sembari menutup panggilan.


"Gimana, Ndah? Jadi mereka kesini?" tanya Ririn.


"Jadi, Rin. Nanti kau temani aku ya, kita temani mereka di VIP room." ujar ku.


"Oke, Ndah." balas Ririn.


Setelah selesai berbincang panjang lebar dengan Ririn, makanan yang kami pesan pun tiba, dan sudah tertata rapi di atas meja.


Tanpa basa-basi lagi, aku dan Ririn pun langsung memakan makanan itu dengan santai, tanpa percakapan apa pun lagi.


Selesai makan, kami berdua kembali bergabung bersama teman-teman lain nya di bangku panjang.


Baru saja mendudukkan diri di bangku, mobil bang Hendra pun muncul, dan parkir tepat di depan gedung karaoke kami. Bang Hendra dan kedua teman nya langsung turun dari mobil, dan berjalan menghampiri ku.


"Ayo, kita masuk, Ndah!" ajak bang Hendra yang sudah berdiri di hadapan ku.


"Iya, bang." jawab ku.


Aku langsung berdiri dan menoleh kepada Ririn dan Rara.


"Kalian berdua ikut aku, yok!" ajak ku pada kedua teman resek ku itu.


"Oke siap, Ndah." jawab Ririn dan Rara serempak.


"Lis, kami di VIP room, ya." ujar ku pada Lisa sang kapten.


"Oke, Ndah." jawab Lisa sambil mengacungkan jempol nya.


"Ayo, bang!" ujar ku sembari menggandeng lengan bang Hendra, untuk masuk ke dalam ruangan.


Setelah memesan minuman di meja kasir, Aku Ririn dan Rara pun langsung membawa semua minuman itu ke lantai empat. Begitu juga dengan bang Hendra dan kedua teman nya.


Mereka juga ikut membantu kami untuk membawa kan minuman itu ke atas. Sesampainya di VIP room, kami para wanita pun langsung menuangkan minuman itu ke dalam gelas.


Setelah selesai, kami bertiga segera duduk di samping pasangan masing-masing.


"Abang kangen banget dengan mu, sayang." bisik bang Hendra.


Bang Hendra melingkar kan kedua tangan nya di pinggang ku. Dia juga menenggelamkan wajah nya di ceruk leher ku. Mendapat perlakuan seperti itu dari bang Hendra, aku pun membalas nya dengan mengelus-elus pipi nya, yang masih setia menempel di leher ku.


"Tadi siang kan kita udah jumpa, kenapa masih kangen?" tanya ku.


"Abang terbayang-bayang terus dengan permainan kita tadi siang, Ndah. Abang ingin mengulangi nya lagi dengan mu."


Bang Hendra menghentikan kata-kata nya, beberapa menit kemudian, dia pun kembali melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Apakah kamu mau menemani abang di hotel malam ini, sayang?" bisik bang Hendra lagi.


__ADS_2