Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Kucing Garong Nakal


__ADS_3

Setelah melihat anggukan kepala ku, Haris langsung tersenyum sumringah dan mulai melancarkan aksinya kembali.


Haris membelai dan dan mencumbui ku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dengan semangat yang menggebu-gebu, Haris pun terus berpacu di atas tubuh dengan gerakan cepat.


Setelah mencapai puncak kenikmatan, dia pun langsung terkulai lemas. Kemudian dia menjatuhkan diri nya di atas tubuh ku, dengan keringat yang mengucur di sekujur tubuh nya.


"Mandi yok, bang!" ajak ku.


"Loh, kok mandi lagi sih, kita kan baru siap mandi tadi?" tanya Haris heran.


"Kita harus mandi lagi, kan baru siap bertempur jadi harus membersihkan diri lagi." jawab ku.


Aku menghela nafas panjang saat mendengar jawaban lelaki ku itu. Aku mulai beranjak dari atas kasur dan melilitkan handuk di dada ku. Tanpa bersuara apa pun lagi, aku segera bergegas berjalan menuju ke kamar mandi.


Melihat aku masuk ke kamar mandi, Haris pun turut mengekori langkah ku dari belakang, dengan handuk yang melilit di pinggang nya.


Sampai di kamar mandi, Haris pun langsung menempel kan tubuh nya pada ku. Dan dengan secepat kilat, aku melepaskan diri dari Haris dan sedikit menjaga jarak dari nya.


"Eits, mau ngapain lagi?" tanya ku.


Aku membuka handuk dan menggantung kan nya di samping pintu kamar mandi, sambil merentangkan tangan ku ke depan Haris. Bukan nya menjawab, Haris malah semakin menjadi-jadi dengan kelakuan nya.


Dia mendekati ku dengan senyum yang menyeringai. Melihat gelagat Haris yang mencurigakan, aku langsung siap siaga dengan gayung yang ada di tangan ku.


"Kalo berani macam-macam, aku ketok pakai ini nanti." ancam ku sambil mengarahkan gayung itu pada Haris.


"Hahaha, coba aja kalo tega!" tantang Haris.


Haris sama sekali tidak menghiraukan ancaman ku. Dia masih terus mendekati ku, dengan tatapan yang sangat menakutkan, hingga akhirnya...


TOK...


Satu ketokan gayung mendarat indah di kepala Haris. Dia langsung memekik kesakitan sambil memegangi kepala nya.


"ADOOOH! Sakit banget, Ndah." pekik Haris.


"Sokor, makanya jangan bandel kalo di bilangin. Kena batu nya sendiri jadi nya, hihihi." balas ku.


Aku cekikikan sendiri melihat Haris yang meringis sambil mengelus-elus kepala nya. Mendengar cekikikan ku, Haris pun ikut tertawa terbahak-bahak sambil membuka handuk yang melilit di pinggang nya.


"Hahaha, abang pikir cuma ngancem aja. Eeehh, ternyata beneran. Awas ya, abang akan balas nanti!" ancam Haris balik.


"Ya, aku akan tunggu balasan dari abang secepatnya." jawab ku tak mau kalah.


Setelah melewati perdebatan sengit dengan Haris, kami berdua pun mulai melakukan ritual mandi yang sempat tertunda akibat ulah nakal Haris.


Setelah selesai dengan urusan kamar mandi, aku dan Haris masuk kembali ke dalam kamar dan memakai pakaian santai masing-masing.

__ADS_1


"Kapan mulai masuk kerja, Ndah?"


Haris bertanya sambil menyisir rambut nya di depan cermin, dan menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh nya.


Aku yang sedang menggantungkan handuk di belakang pintu pun, langsung menoleh pada nya.


"Besok malam, bang. Malam ini aku mau istirahat dulu." jawab ku.


"Oh, berarti malam ini kita bisa jalan-jalan dong?" tanya Haris.


"Mau jalan-jalan kemana? Badan ku capek banget nih mau istirahat disini aja." balas ku.


Aku berdiri sejajar di samping Haris, sambil menyisir rambut yang masih sedikit basah. Setelah itu, aku memoles wajah dan membaluri handbody ke tangan dan kaki ku.


Setelah selesai, aku duduk kembali di depan kotak Bika Ambon dan memakan nya sepotong.


"Ya kemana aja lah, sayang. Yang penting kita jalan-jalan, gimana mau gak?" tanya Haris lagi.


Haris duduk bersila di samping ku, dia juga mengambil sepotong Bika Ambon lalu memakan nya. Aku masih diam, dan terus memakan makanan khas kota Medan tersebut.


"Kok gak di jawab sih, sayang? Gak mau ya jalan-jalan sama abang?" tanya Haris.


"Iya, baweeel. Nanti habis shalat isya kita berangkat." jawab ku.


Setelah mendengar jawaban ku, Haris langsung memeluk ku dan mendarat kan kecupan nya di kening ku, sambil berkata...


"Ya udah, sekarang kita bobok yok! Mata ku udah ngantuk berat nih." ajak ku pada Haris.


"Oke, sayang." balas Haris.


Aku menyimpan kotak Bika Ambon itu ke dalam bufet, kemudian aku dan Haris pun mulai beranjak dari tempat duduk masing-masing, dan membaringkan diri di atas kasur.


"Eh, aku belum ngabarin Lisa kalau aku udah pulang dari kampung."


Aku bergumam sembari merentangkan tangan ke atas meja untuk meraih ponsel. Setelah mendapatkan nya, aku segera menghubungi Lisa.


Tut tut tut...


"Halo assalamualaikum, Lis."


Aku langsung mengucap kan salam setelah Lisa menerima panggilan ku. Sedangkan Haris, dia memeluk separuh tubuh ku dari sisi kanan. Dia juga meletakkan kepala nya di bahu ku, sambil sesekali menciumi leher dan juga pipi ku.


"Wa'laikum salam, ada apa, Ndah?" tanya Lisa.


"Gak ada apa-apa Lis, aku cuma mau ngabarin aja kalau aku udah balek dari kampung." jawab ku.


"Oh, trus kapan mau masuk kerja lagi?" tanya Lisa.

__ADS_1


"Besok malam, Lis." jawab ku.


"Iiihhhh, ini tangan nya diem dulu kenapa sih! Gangguin terus dari tadi." gerutu ku pada Haris.


Aku menepis tangan nakal Haris yang sedari tadi terus saja menggerayangi tubuh ku. Tanpa ku sadari, ternyata Lisa mendengar semua ucapan ku barusan.


"Tangan siapa, Ndah?" tanya Lisa bingung.


Aku langsung gelagapan seketika, saat mendengar pertanyaan Lisa. Aku pun langsung menoleh pada Haris dengan mata yang membulat, sambil menempelkan jari telunjuk ku di bibir Haris.


"Ssstttt, diem!" cicit ku pelan pada Haris.


"Oh itu, Lis. Tangan si kucing garong, dari tadi nakal terus dia. Mau minta jatah makan kata nya." jawab ku asal.


"Hahaha, kucing garong kepala hitam ya." ledek Lisa.


Lisa meledek sambil tertawa terbahak-bahak, setelah mendengar alasan ku yang tidak masuk akal menurut nya.


"Hehehe, tau aja." balas ku.


Aku tersenyum malu mendengar ocehan atasan ku itu. Kemudian aku menoleh pada Haris, yang masih sibuk sendiri dengan kegiatan-kegiatan nakal nya di tubuh ku.


"Udah dulu ya, Lis. Aku mau ngasih makan kucing garong ku dulu!" pamit ku.


"Oke, Ndah. Selamat bersenang-senang dengan kucing garong mu itu ya, bye!" goda Lisa.


"Oke, Lis." jawab ku sambil menutup panggilan dengan sang kapten Lisa.


Setelah panggilan berakhir, aku meletakkan ponsel kembali di atas meja. Lalu memiringkan tubuh ku dan memeluk si kucing garong, yang sedari tadi terus saja mengganggu ku.


"Udah, gak usah jahil lagi! Sekarang kita bobok ya." bisik ku pada Haris.


"Tapi abang mau ini, sayang." pinta Haris dengan wajah memelas.


Haris kembali memegangi pangkal paha ku, dan mengelus-elus nya dengan lembut. Tatapan mata nya tampak sayu, akibat gairah yang sudah mulai naik sampai ke ubun-ubun, dan nafas yang sedikit ngos-ngosan.


"Gak ada tapi-tapian lagi, sekarang kita istirahat aja dulu! Nanti malam kita lanjutkan lagi olahraga nya." balas ku tetap kekeuh menolak permintaan nya.


"Iya, sayang. Abang ngalah deh, dari pada nanti gak di kasih jatah, mendingan ngalah aja." jawab Haris pasrah.


Aku hanya tersenyum melihat wajah Haris yang berubah masam, akibat penolakan ku barusan.


Aku pun kembali memeluk tubuh nya, dan menenggelamkan wajah ku di ceruk leher nya. Kemudian aku meletakkan satu kaki ku di atas perut nya.


"Gak usah, ngambek! Nanti malam kita akan main sepuasnya. Tapi sekarang, kita bobok dulu ya!" bisik ku di telinga Haris.


"Oke, sayang." balas Haris dengan senyum yang merekah.

__ADS_1


Aku dan Haris pun mulai memejamkan mata, dengan posisi yang saling berpelukan di atas kasur. Tak butuh waktu lama, akhirnya kami berdua pun terlelap dengan damai dan tenang.


__ADS_2