
"Jadi, abang gak bisa masuk lah ya?" tanya bang Hendra.
"Yupz, betul sekali. Kecuali..." aku sengaja menggantung kata-kata ku, agar bang Hendra semakin penasaran.
"Kecuali apa?" desak bang Hendra sambil menautkan kedua alisnya.
"Kecuali abang berubah jadi perempuan, baru bisa masuk, hihihi." jawab ku sembari terkikik geli.
Bang Hendra langsung terkejut dan membelalakkan mata nya, saat mendengar jawaban nyeleneh ku itu.
"Hah, yang bener aja dong! Masa abang di suruh jadi bencong? Aneh-aneh aja. Apa gak ada cara yang lain, agar abang bisa masuk ke dalam?" tanya bang Hendra masih tetap kekeuh, ingin berkunjung ke kos baru ku.
"Gak ada, cuma itu aja cara nya." jawab ku santai.
"Yaaaahh, sayang banget ya. Padahal abang pengen banget masuk kedalam." tutur bang Hendra dengan wajah kecewa.
Aku hanya diam dan tersenyum miring menanggapi keluhan bang Hendra, yang terdengar sedikit lucu menurut ku.
"Kenapa gak cari tempat yang bebas aja sih, Ndah? Kayak kos mu yang lama." tanya bang Hendra.
"Males, nanti banyak hantu yang datang ke kos ku." jawab ku asal.
"Hantu? Hantu yang gimana maksudnya?" tanya bang Hendra bingung.
"Ya hantu, hantu kepala hitam kayak abang ini." jawab ku sambil menunjuk ke arah bang Hendra dengan dagu ku.
Mendengar jawaban ku yang cukup aneh, tawa bang Hendra pun langsung pecah seketika.
"Oalah, kirain hantu beneran tadi. Ternyata hantu berekor toh, hahaha." gelak bang Hendra.
"Naaah, tu tau, hihihi." balas ku kembali terkikik.
Selesai berhaha-hihi dengan bang Hendra, aku pun pamit untuk masuk ke dalam kos.
"Aku masuk dulu ya, bang. Badan ku capek banget nih, mau istirahat di dalam." ujar ku sambil menggeliat kan badan.
"Oh oke, masuk lah. Abang juga mau balek nih." balas bang Hendra.
Kemudian dia pun mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dalam dompet nya, lalu menyerahkan nya ke tangan ku sambil berucap...
"Nah, ini uang jajan mu. Makasih ya, udah mau nemani abang semalaman suntuk." tutur bang Hendra.
__ADS_1
"Iya sama-sama, bang. Aku juga makasih untuk uang jajan nya." balas ku lalu mencium punggung tangan nya takzim.
Mendapat perlakuan seperti itu dari ku, bang Hendra pun langsung tersenyum dan menarik tubuh ku ke dalam dekapan nya. Dia membelai rambut panjang ku, lalu mendaratkan kecupan mesra nya di kening dan juga pipi ku.
Setelah beberapa saat memeluk ku, bang Hendra pun mulai merenggang kan kedua tangan nya dari tubuh ku, lalu mencium kilat bibir ku.
Aku langsungmenunduk dan tersipu malu, akibat ulah nakal bang Hendra barusan. Setelah itu, aku pun kembali mendongak sambil berkata...
"Oke lah, aku masuk dulu ya, bye!" pamit ku.
Aku bergegas keluar dari mobil dan berdiri di depan gerbang kos. Aku pun tersenyum manis sambil melambaikan tangan ke arah nya.
"Hati-hati ya, bang." pekik ku kuat.
"Iya, sayang." balas bang Hendra sembari membalas lambaian tangan ku.
Setelah itu dia pun mulai menjalankan mobil nya ke jalan raya, dan menghilang dari pandangan ku. Setelah kepergian bang Hendra, aku pun segera membuka pintu gerbang dan melangkah masuk ke dalam.
Sesudah mengunci pintu itu kembali, aku pun berjalan dengan langkah cepat menuju tempat hunian ku.
Setelah melewati lorong yang cukup panjang, akhirnya aku pun tiba di depan kamar. Dengan gerakan yang sedikit terburu-buru, aku merogoh saku celana untuk mengambil kunci.
Setelah mendapatkan nya, aku pun segera membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam, sambil mengucapkan salam.
Sesudah mengunci pintu, aku langsung mencampakkan tas ke atas kasur, dan berlari kecil menuju kamar mandi.
"Hufff, lega nyaaaa." ujar ku sambil menghela nafas panjang.
Selesai membuang air kecil, aku pun langsung keluar dari kamar mandi, dan duduk selonjoran di lantai dengan punggung yang menyandar di dinding.
"Ah, ganti baju dulu lah. Siap tu langsung bobok." gumam ku.
Aku pun membuka lemari pakaian yang berada di samping kasur, lalu mengambil setelan tidur yang sangat tipis dan seksi kemudian memakainya.
Selesai berganti pakaian, aku langsung merebahkan diri di atas kasur dengan posisi telentang. Sambil menatap langit-langit kamar, aku pun kembali merenung tentang Haris.
"Sedang apa dia sekarang ya? Apa lagi kerja? Atau malah lagi happy-happy dengan wanita nya itu?" gumam ku menduga-duga.
Sedang asyik-asyiknya mengkhayal, tiba-tiba aku tersentak kaget saat mendengar gedoran pintu yang cukup kuat.
Dor dor dor...
__ADS_1
"Ndah, buka pintu nya! Tamu agung mau masuk nih." pekik Ririn dengan suara cempreng nya.
Mendengar pekikan teman koplak ku itu, aku pun memutar bola mata malas dan segera bangkit dari ranjang. Dengan langkah yang ogah-ogahan, aku pun berjalan menuju pintu sambil menggerutu kesal.
"Ck, mau ngapain lagi sih sundel gila satu ini? Ganggu istirahat orang aja kerjaan nya." umpat ku.
Ceklek...
Setelah pintu terbuka lebar, nampak lah sesosok makhluk halus yang sedang cengar-cengir di depan ku.
Aku menyandar di depan pintu, lalu melipat kedua tangan di atas perut. Dengan mata membulat seperti jengkol, aku pun mulai bertanya tentang maksud kedatangan nya.
"Mau ngapain kau kesini?" tanya ku ketus.
"Ya, mau silaturahmi lah. Emang nya mau ngapain lagi, aneh? Ada tamu datang bukan nya di suruh masuk, malah di pelototi kayak gitu. Bikin merinding aja." gerutu Ririn.
"Heh, kamvret! Kau kira aku ini demit apa, pake acara merinding segala?" omel ku sambil menoyor jidat nya.
Mendapat toyoran dari ku, Ririn pun kembali cengar-cengir sambil menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal.
"Bukan demit lagi, tapi nenek moyang nya demit, hahaha." jawab Ririn.
Ririn tertawa terpingkal-pingkal, lalu nyelonong masuk ke dalam kamar ku. Dia melewati ku begitu saja, tanpa permisi atau pun meminta izin terlebih dahulu.
"Heh heh heh, kok main nyelonong aja nih bocah! Siapa yang nyuruh kau masuk, hah?" tanya ku sembari mengikuti langkah Ririn dari belakang.
"Oalah, biyung... biyung... Punya kawan kok gini amat ya medit nya. Baru aja masuk, udah ngomel-ngomel muncung nya. Apa lagi kalau aku minta makan? Mungkin bakalan di seret aku dari sini." oceh Ririn panjang lebar.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala, mendengar ocehan receh Ririn. Setelah itu, aku pun mendudukkan diri di tepi kasur, lalu kembali mengomel pada sahabat karib ku tersebut.
"Udah tau gitu pun, masih aja datang kesini, heran!" omel ku lagi.
"Ya... Habis gimana lagi? Cuma kau satu-satunya kawan ku disini. Mau gak mau, ya harus tetap mau, hehehehe." balas Ririn sembari nyengir kuda.
"Ngomong apa sih? Kok belepotan gitu kata-kata nya?" tanya ku bingung.
Aku sama sekali tidak mengerti, dengan maksud ucapan Ririn barusan. Aku memandangi wajah pucat nya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Udah ah, lupain aja. Perut ku laper nih, ada nyimpan makanan gak?" tanya Ririn sambil celingukan kesana kesini.
"Gak ada. Kalau laper, pesen online aja! Biar nanti aku yang bayar." usul ku.
__ADS_1
"Oh, oke lah." balas Ririn.
Dia pun mulai mengotak-atik ponsel nya, untuk memesan beberapa makanan ringan dan juga berat.