
Setelah puas mentertawai ku, Ririn dan Rara kembali berjalan dan duduk di samping kiri dan kanan ku.
Selesai bercanda ria bersama mereka berdua, sebuah mobil berwarna merah maroon pun datang, dan parkir di depan gedung karaoke kami.
"Eh, ada tamu datang, Ndah." ujar Rara sembari menyenggol lengan ku.
"Iya tau, aku juga lihat, dodol. Emang nya kau kira mata ku ini rabun, gak bisa lihat mobil segede itu?" balas ku sewot.
"Hehehe, mana tau mata mu rada-rada korslet." ledek Rara.
"Sembarang, mata mu tuh yang korslet." balas ku tak mau kalah.
"Ssstttt, berisik banget sih, dua hantu ini!" omel Ririn sembari menempel kan telapak tangan nya, di mulut ku dan juga mulut Rara.
"Apa an sih, tangan mu itu bau terasi tau gak!" ujar Rara.
Rara langsung menurunkan tangan Ririn dari mulut nya dengan kasar. Begitu juga dengan ku, aku menepis tangan Ririn dan menempel kan telapak tangan nya itu, ke mulut nya.
"Iya nih, gak sopan banget. Tuh, rasain bau tangan mu sendri." sambung ku menimpali ucapan Rara.
"Iya iya, maaf. Tadi aku memang makan pake sambal terasi, hehehe." balas Ririn cengar-cengir.
"Udah, gak usah pada berdebat. Lihat tuh, tamu nya ada tiga orang!" ujar Rara.
Rara menunjuk ke arah tiga lelaki, yang baru saja keluar dari dalam mobil nya. Mereka bertiga berjalan masuk ke dalam ruangan karaoke, dan di ikuti oleh Lisa sang kapten para waiters.
Sepuluh menit kemudian, Lisa kembali keluar dan memanggil tiga wanita, untuk menemani ketiga lelaki itu di dalam.
"Indah, Rara, Ririn, kalian bertiga masuk! Temani tamu nya, sana!" perintah Lisa.
"Oke siap, Lis." jawab kami serempak.
Kami bertiga pun langsung bergegas masuk ke dalam ruangan, dan menghampiri ketiga lelaki itu, yang sudah duduk anteng di tempat nya.
"Hai, apa kabar, Ndah?" tanya salah satu lelaki itu.
Aku mengerutkan kening, mendengar pertanyaan lelaki itu. Aku berusaha untuk mengingat nama lelaki, yang sedang menanyakan kabar ku tersebut.
"Udah lupa sama abang ya, Ndah?" tanya lelaki itu lagi.
"Hehehe, iya aku lupa, bang." jawab ku salah tingkah.
Lelaki itu tersenyum, melihat gelagat ku yang sedang salah tingkah, sambil cengengesan di depan nya.
__ADS_1
"Ya udah gak papa. Sini, temani abang duduk!" panggil lelaki itu, sambil menepuk-nepuk sofa yang masih kosong di samping nya.
"Oke, bang." jawab ku.
Aku mendudukkan diri di samping lelaki itu, dan menuangkan minuman ke dalam gelas nya. Sedangkan Rara dan Ririn, mereka berdua duduk di depan ku, menemani lelaki lain nya.
"Abang nama nya siapa, ya? Aku beneran lupa soal nya?" tanya ku membuka percakapan.
"Nama abang Heru, Ndah." jawab lelaki itu.
"Astaga, ternyata bang Heru! Kok aku bisa lupa, ya?" balas ku.
Mata ku langsung terbelalak, sembari menutup mulut dengan kedua tangan ku. Melihat reaksi ku seperti itu, bang Heru malah tertawa lepas sambil memeluk tubuh ku.
"Maaf ya, bang. Aku bener-bener gak ingat tadi." ujar ku.
"Iya gak papa, sayang. Lupa sama nama nya, tapi sama orang nya masih ingat kan?" tanya bang Heru.
"Iya, bang. Sama wajah abang, aku masih ingat. Cuma lupa nama nya aja, hihihi." jawab ku.
"Huuuu, cantik-cantik kok pikun." ledek bang Heru sembari mencubit pelan hidung ku.
"Maklum lah, bang. Setiap malam, lelaki yang kami temani itu kan gonta-ganti terus. Jadi ya, gak bisa di ingat semua nama-nama nya." jelas ku.
"Guys, ayo kita bersulang!" pekik Rara.
Rara berdiri dari tempat duduk nya, dan mengangkat gelas nya ke udara. Mendengar ajakan Rara, kami berlima pun langsung berdiri, dan mengangkat gelas masing-masing.
"Cheers," ucap kami serempak. Lalu, kami pun meminum minuman itu sampai tandas satu gelas. Selesai bersulang, Rara mengambil kertas kecil dan pena, yang terletak di dalam kotak tisu.
"Ada yang mau nyanyi gak, guys?" tanya Rara.
Rara celingukan menatap kami satu persatu, sambil memegangi kertas dan pena di tangan nya. Aku langsung menoleh kepada bang Heru, dan bertanya...
"Abang mau nyanyi gak?" tanya ku.
"Gak usah, Ndah. Biar mereka aja yang nyanyi. Kita duduk santai aja disini!"
"Oh, ya udah kalo gitu." balas ku.
Bang Heru menjawab sembari menggelengkan kepala nya. Kemudian, dia melingkar kan satu tangan nya di pinggang ku, dan menyandarkan kepala nya di bahu ku.
"Kalian berdua mau nyanyi gak, Ndah?" tanya Rara.
__ADS_1
"Gak, Ra. Kalian aja yang nyanyi!" balas ku.
"Oh, oke." balas Rara.
Setelah itu, Rara mengantarkan kertas kecil yang berisikan judul-judul lagu itu ke ruangan DJ. Tak lama kemudian, Rara kembali lagi ke tempat duduk nya sambil membawa dua buah microfon di tangan nya.
"Ini mic nya, bang!" ujar Rara menyerahkan satu mic itu ke tangan lelaki yang di temani nya.
"Oke makasih, dek." jawab lelaki itu.
Setelah lagu yang mereka minta di putar oleh DJ, mereka berdua pun mulai bernyanyi bersama sambil sesekali meneguk minuman nya.
Sedang asyik mendengarkan suara cempreng Rara dan lelaki pasangan nya, tiba-tiba bang Heru membuka percakapan kembali.
"Ndah, ada yang ingin abang tanya kan dengan mu. Tapi jangan marah, ya!" ujar bang Heru.
"Iya, aku gak akan marah. Emang nya abang mau nanya apa?" tanya ku.
Aku menoleh sedikit ke arah wajah bang Heru, yang masih tampak anteng bersandar di bahu ku.
"Setelah minuman ini habis, kamu mau gak nemani abang ke hotel?" tanya bang Heru.
Bang Heru menggenggam erat tangan ku. Kemudian, dia mencium punggung tangan ku dengan lembut.
Aku memejamkan mata sejenak, mendengar pertanyaan dari bang Heru. Setelah menghela nafas panjang, aku pun mulai menjawab pertanyaan nya.
"Maaf, bang. Aku gak bisa." jawab ku lirih.
Mendengar jawaban ku, bang Heru mengangkat kepala nya dari bahu ku. Dia menatap mata ku dengan serius, lalu bertanya kembali.
"Gak bisa kenapa, Ndah? Apa alasan nya? Apa masalah bayaran, atau ada masalah lain?" selidik bang Heru sambil terus menatap mata ku.
Aku melihat tatapan mata bang Heru, yang tampak sangat berharap dengan ku. Dia juga mengeratkan genggaman tangan nya pada ku.
"Kenapa gak di jawab, Ndah? Di jawab dong, sayang! Jangan diam aja, biar abang tau alasan mu?" desak bang Heru.
"Ada hati yang harus aku jaga, bang." jawab ku lirih.
Setelah mendengar penuturan ku, bang Heru langsung reflek melepaskan genggaman tangan nya.
"Kamu sudah ada pacar ya, Ndah?" tanya bang Heru lagi.
Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaan nya. Lalu, aku menatap wajah bang Heru yang terlihat sangat kecewa, dengan kata-kata tadi.
__ADS_1
"Iya, bang. Aku sudah punya pacar." jawab ku.