Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Tingkah Kedua Sahabatku


__ADS_3

"Oh iya, aku lupa." jawab Rara dengan santai nya.


"Huuuu, dasar pikun!" cibir Ririn sembari menoyor jidat Rara saking geram nya.


"Cepetan mandi sana! Biar kami tungguin disini. Jangan lama-lama mandi nya! Takut nya nanti ketiduran pulak kau di dalam kamar mandi, hihihi!" ledek ku terkikik geli.


"Hehehe, ya gak lah, Ndah. Mana mungkin aku ketiduran di kamar mandi. Aneh-aneh aja kau itu." balas Rara sembari menggaruk-garuk kepala nya.


"Ada bener nya juga yang di omongin Indah tadi. Kau kan ada kurang-kurang nya dikit." sambung Ririn membenarkan ucapan ku.


"Halah, beda tipis aja nya sama kau, Rin." ledek ku pada Ririn.


"Mana pulak? Banyakan dia lah, kalo aku sih masih lumayan dari pada dia." balas Ririn mau kalah.


"Udah udah, kok malah jadi ribut sih! Tunggu bentar ya, aku mau mandi dulu!" ucap Rara menengahi perdebatan kami berdua.


"Ya, cepat lah! Kami nunggu di depan gerbang aja." balas Ririn.


"Oke," jawab Rara.


"Ayo, Ndah! Kita nungguin nya di depan sana aja." ajak Ririn.


Ririn menunjuk ke arah ujung lorong, lalu dia langsung menggandeng lengan ku. Dan kami berdua pun berjalan beriringan menuju pintu gerbang.


Sesampainya di depan, aku dan Ririn duduk di kursi rotan yang tersedia di pojok pintu.


"Aku lagi pusing sekarang, Rin." ucap ku membuka perbincangan kembali.


"Pusing kenapa?" tanya Ririn.


"Soal permintaan ayah ku, Rin." jawab ku lirih.


"Emang nya ayah mu minta apa? Minta uang lagi ya?" tebak Ririn.


"Iya," balas ku.


"Loh, kan baru beberapa hari yang lalu kau nyuruh ku, untuk mentransfer uang lima juta kepada ayah mu. Kenapa sekarang udah minta lagi?" tanya Ririn heran.


"Ah entahlah, Rin. Aku juga bingung dengan ayah ku sendiri. Dia sama sekali tidak memikirkan nasib ku di tanah perantauan ini." jawab ku.


"Yang dia tau hanya uang, uang, dan uang aja." lanjut ku.


"Ya, di omongin baik-baik lah sama ayah mu, Ndah! Di suruh berhemat dikit, jangan boros-boros kali make duit tu." ucap Ririn.


"Di kira gampang apa nyari duit disini!" gerutu Ririn kesal.


"Aku udah ngomong baik-baik, Rin. Tapi ayah ku sama sekali gak perduli. Yang penting, aku harus memenuhi permintaan nya itu." jawab ku.


"Emang ayah mu minta uang berapa?" tanya Ririn lagi.


"Tiga juta lima ratus ribu." jawab ku pelan sembari menunduk kan kepala.

__ADS_1


"Waduhh, banyak betul, Ndah!" pekik Ririn.


"Tu lah, maka nya aku jadi pusing mikirin nya." balas ku.


Ririn tampak berpikir sejenak, kemudian dia pun kembali membuka suara nya.


"Hmmmm, sebenarnya aku mau nanya sesuatu dengan mu. Tapi kau jangan tersinggung ya, Ndah?" ucap Ririn ragu.


"Ya, tanya lah! Apa yang ingin kau ketahui, dari seorang wanita malang seperti ku ini?" tanya ku balik.


"Heleh, lebay banget sih lu!" cibir Ririn menepuk bahu ku.


"Hahahaha, habis nya muka mu lucu kalo lagi serius gitu." aku tergelak melihat ekspresi wajah Ririn yang tampak kesal.


"Emang nya kau mau nanya apa an sih, dodol?" tanya ku lagi.


"Hhhmmm, uang yang di kasi bang Hendra udah habis, ya?" tanya Ririn dengan nada sedikit takut.


"Masih ada kok, emang kenapa?" tanya ku.


"Kalau masih ada, kenapa kau harus pusing mikirin uang untuk ngirim ayah mu?" selidik Ririn.


"Aku pusing bukan karena gak ada uang, Rin. Aku cuma heran aja dengan sikap ayah ku. Dia memperlakukan seperti anak tiri aja. Jauh beda dengan kedua adik ku itu." jelas ku.


"Maksud nya beda gimana? Beda dalam hal apa?" tanya Ririn penasaran.


"Dalam segala hal, Rin. Ayah ku selalu memaksa kan keinginan nya dengan ku. Kalau ayah ku minta uang buat kebutuhan sekolah dan kebutuhan sehari-hari, aku harus segera mengirim kan uang itu secepatnya." jelas ku panjang lebar.


"Lah trus, kalo kau sedang gak megang uang, gimana coba?" tanya Ririn bingung.


"Loh, kok maksa gitu sih? Kalau kau memang benar-benar lagi gak megang uang, masa ayah mu gak bisa ngertiin dikit sih, aneh banget!" gerutu Ririn.


Aku menghela nafas panjang, setelah mendengar penuturan Ririn barusan. Aku juga tidak tahu lagi, harus bersikap seperti apa kepada ayah kandung ku itu.


Kalau tidak dituruti, aku takut di bilang anak durhaka. Tapi kalau aku turuti terus, lama-lama aku bisa gila karena memikirkan nya.


"Kalau saran aku sih, lebih baik kau kirim aja sekedar nya, Ndah! Jangan di turuti kali kemauan ayah mu itu. Kita disini kan juga butuh makan, butuh biaya, butuh pegangan." ucap Ririn.


"Iya, Rin. Aku sih mau nya gitu, tapi..."


"Tapi, apa?" tanya Ririn semakin penasaran.


"Tapi ayah ku pasti marah, kalau aku mengirimkan uang tidak sesuai dengan permintaan nya." jawab ku lirih.


"Oalah, ya susah juga kalau begitu ceritanya, Ndah." ucap Ririn.


Sedang serius berbincang dengan Ririn, tiba-tiba terdengar suara pekikan Rara, yang cukup memekakkan telinga kami berdua.


"HAI, guys! Sorry ya agak lama. Soal nya tadi perut ku mules banget." ucap Rara sembari meringis memegangi perut nya.


"Halah, modus! Bilang aja kalau kau tadi ngambil jatah dulu dengan cowok mu itu, iya kan?" tuduh Ririn.

__ADS_1


"Hehehe, kok tau sih? Kau ngintip tadi, ya?" tebak Rara.


"Cih, gak sudi. Bikin sakit mata ku aja!" cibir Ririn.


"Dasar kamvret kau, Ra. Bisa-bisanya dia ngambil jatah dulu di waktu sempit gini!" gerutu ku ikut kesal.


"Maaf ya, Ndah. Aku khilaf, aku gak bisa menolak kenikmatan itu." jawab Rara santai.


"Kenikmatan kepala mu itu! Lama-lama bikin emosi juga nih bocah." umpat Ririn geram.


Ririn mencubit kuat lengan Rara, hingga membuat Rara langsung terpekik kesakitan. Rara kembali meringis sambil mengelus-elus lengan nya, yang tampak memerah akibat perbuatan Ririn.


"Udah ah, nanti aja di lanjutin berantem nya! Sekarang kita berangkat, yok! Takut nya nanti kesorean pulak pulang nya." oceh ku.


"Oke, yok!" jawab Rara dan Ririn bersamaan.


"Kita pesan taksi online aja ya, Ndah! Biar gak ribet." usul Ririn.


"Iya, terserah kau aja." jawab ku.


Setelah meminta pendapat ku, Ririn langsung mengotak-atik ponsel nya untuk memesan taksi online.


"Udah, Ndah! Ntar lagi taksi nya datang." ucap Ririn.


Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Sedangkan Rara, dia malah sibuk dengan ponsel nya sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Heh, udah gilak kau ya, senyam senyum terus dari tadi?" sindir Ririn sembari menyenggol bahu Rara.


"Enak aja kau bilangin aku gilak. Orang aku lagi berbalas pesan dengan pacar ku kok. Sirik aja kau, dodol!" umpat Rara kesal.


"Apa kau bilang tadi, aku sirik? Amit-amit jabang bayi deh, kalau aku sirik dengan mu." bantah Ririn.


Ririn mengerucut kan bibir nya, lalu dia juga melipat kedua tangan nya di atas perut. Aku hanya menggeleng-geleng kan kepala, melihat tingkah kekanak-kanakan dari kedua sahabat koplak ku itu.


"Ck, kalian berdua ini apa-apaan sih? Bikin malu aku aja tingkah nya." omel ku.


"Ririn yang mulai duluan, Ndah." adu Rara.


"Sembarangan, kan kau tadi yang mulai duluan." bantah Ririn tidak terima, jika dirinya di salahkan oleh Rara.


"Aaagghhh, berisik! Di bilangin bukan nya tambah diem, malah tambah kuat pulak suaranya." pekik ku semakin kesal.


Aku menatap tajam wajah kedua sahabat ku itu secara bergantian, dengan mata yang membulat sempurna.


"Eh, itu taksi nya udah datang, Ndah. Ayo kita kesana!" ajak Ririn mengalihkan perhatian ku.


"Iya iya, pintar kali kau melarikan diri, kalau lagi di omelin kayak gini." cibir ku.


"Hihihi," Ririn hanya cekikikan sendiri menanggapi ocehan ku barusan.


Ririn dan Rara menggandeng lengan kiri dan kanan ku, untuk masuk ke dalam mobil taksi yang di pesan nya tadi. Aku dan Rara duduk di jok tengah, sedangkan Ririn, dia duduk di samping kemudi menemani sang sopir.

__ADS_1


"Sesuai alamat ya, bang!" ucap Ririn kepada sopir lelaki yang ada di sebelah nya.


"Oke, kak." jawab sang sopir.


__ADS_2