Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Harus Cepat Pulang


__ADS_3

Aku dan Haris berjalan beriringan menuju lantai satu, dan terus berjalan sampai ke parkiran. Setelah masuk ke dalam mobil, Haris bertanya kepada ku sambil menyalakan mesin kendaraan nya.


"Kita mau makan dimana, Ndah?" tanya Haris.


"Terserah abang mau dimana, aku ngikut aja." jawab ku.


"Baik, tuan putri." balas Haris.


Haris menoleh sekilas pada ku sambil tersenyum manis. Aku pun langsung memeluk lengan nya dari samping, sambil membalas senyuman maut nya.


Sepuluh menit kemudian, Haris membelokkan mobil nya di sebuah rumah makan seafood. Setelah memarkirkan mobil, aku dan Haris segera keluar dan melangkah menuju etalase besar yang ada di depan rumah makan tersebut.


"Mau pesan apa, mas, mbak?" tanya si pelayan dengan ramah.


"Kepiting saus tiram dua porsi ya, mbak. Trus es teh nya dua juga ya!" balas Haris.


"Oke siap, mas. Di tunggu ya!" balas si pelayan.


"Oke," jawab Haris


Setelah selesai memesan makanan, aku dan Haris berjalan menuju meja lesehan yang berada di pojok ruangan.


Kami berdua langsung duduk berhadapan sambil terus saling pandang-pandangan. Setelah beberapa saat suasana hening, Haris pun mulai membuka suara nya.


"Jadi besok jam berapa berangkat nya, Ndah?" tanya Haris.


"Check in nya jam sepuluh pagi, jadi aku harus berangkat dari kos sekitar jam sembilan." jawab ku.


"Oh, gitu. Besok abang aja yang antar ke bandara ya!" pinta Haris.


"Iya, bang."


Tak lama berselang, pelayan pun tiba membawa makanan dan minuman yang di pesan Haris tadi.


Setelah semua makanan terhidang rapi di atas meja, aku dan Haris pun mulai memakan makanan itu dengan santai.


Selesai makan, kami berdua berjalan menuju meja kasir untuk membayar tagihan makanan yang sudah kami makan tadi.


Setelah itu, aku dan Haris kembali berjalan ke parkiran mobil. Kami pun langsung bergegas masuk ke dalam kendaraan roda empat tersebut. Sampai di dalam Haris kembali bertanya pada ku.


"Mau kemana lagi, Ndah?" tanya Haris.


"Balek ke kos aja, bang!" balas ku.


"Gak mau jalan-jalan dulu ya?" tanya Haris lagi.

__ADS_1


"Gak usah, kita balek aja!" balas ku masih tetap kekeuh ingin kembali ke kos.


"Oh, oke lah kalo gitu." balas Haris.


Haris pun mulai menyalakan mesin mobil nya, dan melajukan kendaraannya kembali ke jalan raya dengan kecepatan sedang.


Di sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam dan menatap lurus ke jalanan. Begitu juga dengan Haris, dia tidak bertanya apa pun lagi pada ku. Tak butuh waktu lama, kami pun tiba di depan gerbang kos.


Setelah turun dari mobil, Haris langsung menggenggam erat tangan ku dan kami berdua pun mulai berjalan masuk ke dalam. Menapaki anak tangga satu persatu dengan terus bergandengan tangan.


Sampai di depan pintu kamar, aku langsung merogoh saku celana panjang ku untuk mengambil kunci.


Setelah mendapat kan nya, aku segera membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar sambil mengucapkan salam.


"Assalamualaikum," salam ku.


"Wa'laikum salam." jawab Haris.


Haris menyahuti salam ku sembari mengekori langkah ku dari belakang. Setelah menutup pintu, aku merebahkan diri di atas kasur sambil berguling-guling ria.


"Huh, capek nyaaa." gumam ku pelan.


"Belum pun di mulai permainan nya, capek dari mana?" tanya Haris.


"Permainan apa?" tanya ku pura-pura bingung sambil mengerutkan kening.


"Hahaha, pura-pura lugu pulak sayang ku ini." balas Haris.


Haris tertawa ngakak saat mendengar pertanyaan ku barusan. Dia pun langsung menindih dan mengungkung tubuh ku dengan kedua tangan nya. Haris menatap mata ku dalam-dalam sambil tersenyum.


"Aku kan memang lugu, imut, dan juga menggemaskan." balas ku santai.


Aku menjawab dengan kepedean tingkat tinggi, sambil memasang wajah seimut mungkin di hadapan Haris.


"Ya ya ya, bukan cuma itu saja, sayang. Tapi juga cantik, baik hati, dan penyayang." balas Haris.


Haris menimpali ucapan ku sambil mengecup kening ku dengan lembut dan mesra. Aku pun langsung tersipu malu setelah mendengar kata-kata nya tersebut.


"Nah, tu tau." balas ku.


"Hahaha, air laut ngasin sendiri ya." ledek Haris.


Haris kembali terkekeh geli mendengar jawaban ku. Aku hanya tersenyum melihat reaksi nya. Aku sangat bahagia melihat dia tertawa lepas seperti itu.


"Lah, kan emang bener sih, bang. Air laut kan emang udah asin dari sono nya, abang ku sayaang." balas ku gemas.

__ADS_1


"Iya iya, abang ngalah deh. Dari pada nanti gak di kasi jatah." gumam Haris.


Haris bergumam pelan, tapi masih tetap terdengar oleh telinga lancip ku. Aku pun langsung menggoda nya dengan berpura-pura tidak mendengar ucapan nya tadi.


"Hah, ngomong apa tadi, bang? Coba di ulang sekali lagi, tadi aku gak dengar abang ngomong apa?" tanya ku.


"Oh, itu. Tadi ada maling jemuran numpang lewat." balas Haris asal.


Haris menjawab sambil cengar-cengir salah tingkah. Dia menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal. Melihat gelagat nya seperti itu, aku pun semakin mendesak nya untuk berkata yang sejujurnya pada ku.


"Iiihhh, apaan sih. Serius lah, bang!" rengek ku manja.


"Gak ada ngomong apa-apa, sayang. Salah dengar mungkin telinga mu itu. Udah ah, lupain aja!" balas Haris.


"Kalo udah otot-ototan dengan mu, gak akan pernah bisa menang. Jangan kan menang, seri aja susah. Lebih baik abang ngalah aja." lanjut Haris.


Haris membaringkan tubuhnya kembali di samping ku. Begitu juga dengan ku, aku memiringkan tubuh ku untuk menghadap pada Haris, dan menjalarkan jari-jari nakal ku di dada bidang nya.


"Udah tau gitu pun masih aja mau otot-ototan dengan ku, hihihi." ledek ku.


Aku cekikikan melihat wajah masam Haris, dia memanyunkan bibirnya di depan ku. Dan itu berhasil membuat ku semakin gemas, ingin terus menggoda nya sambil menggelitik pinggang nya.


"Ciyeee, merujak niyeee!" ledek ku.


"Merajuk, Indaaah. Bukan merujak, ralat kata-kata mu itu!" pekik Haris.


Haris memprotes ucapan ku sambil menggeliat-geliat kan badan nya. Dia sangat kegelian karena mendapatkan gelitikan dari jari-jari jahil ku.


"Oh, salah ya? Maaf lah, bang. Tadi lidah ku keseleo waktu ngucapin nya, hihihi." balas ku.


Aku kembali terkikik geli melihat wajah Haris yang semakin masam seperti jeruk purut.


Setelah capek ber haha hihi dengan Haris, suasana pun langsung hening sesaat. Tak lama kemudian, Haris kembali mengeluarkan suara nya.


"Jangan lama-lama di sana ya, Ndah!" pinta Haris.


Dia memiringkan tubuh nya dan menopang kan kepala nya di atas telapak tangan kanan nya.


"Belum juga pergi, malah udah di wanti-wanti suruh cepat pulang." balas ku.


"Pokoknya jangan lama-lama di sana, titik! Gak pake koma dan sudah harga mati, tidak bisa di tawar-tawar lagi!" tegas Haris.


"Bah, sadis betul lelaki ku ini." balas ku.


Aku tersenyum sumringah melihat tingkah Haris. Aku terus saja menatap wajah nya yang terlihat sedih dan buram di hadapan ku.

__ADS_1


__ADS_2